
#Terjebak Gairah Sang Mafia 2
Saya tanggung jawab
•
•
Fritzy akhirnya menghela nafas lega, Alden tak lagi curiga padanya dan malah pergi begitu saja menemui seseorang di depan sana. Disaat Fritzy hendak pergi, tiba-tiba tangannya dicekal oleh seseorang dari belakangnya.
"Tunggu Fritzy!" sang empu terkejut dan reflek membalikkan tubuhnya, ia melihat Jeevan lah yang berdiri disana memegang tangannya.
"Bos? Bos udah bangun?" tanya Fritzy dengan gugup dan sedikit cemas.
Jeevan mengangguk sembari memegangi kepalanya dengan satu tangan, sepertinya ia masih merasa pusing akibat alkohol yang ia konsumsi sebelumnya. Memang Jeevan tak pernah minum sebanyak itu, dan baru semalam lah Jeevan minum dengan dosis banyak sehingga ia kehilangan kesadarannya.
"Eee apa bos masih sakit? Mau saya ambilkan sesuatu?" tanya Fritzy mencoba tenang.
"Gak Fritzy, saya mau bicara sama kamu dan tanya sesuatu ke kamu," ucap Jeevan.
"Bos mau bicara apa? Lebih baik bos istirahat aja dulu, soalnya bos kelihatan masih lemas banget kayak gini," ujar Fritzy.
"Saya gapapa kok, saya bisa kuat dan tahan semuanya. Ayo kamu ikut saya dulu!" ucap Jeevan.
Fritzy hanya bisa menurut dan mengikuti Jeevan berjalan ke sofa, mereka berdua duduk berdampingan disana. Suasana canggung menyelimuti keduanya, terlebih Fritzy yang masih terbayang akan kejadian tadi dimana Jeevan melecehkan dirinya secara paksa.
"Fritzy, saya cuma mau minta maaf ke kamu atas apa yang saya lakukan tadi. Saya benar-benar gak sadar saat saya pakai tubuh kamu, kamu gak marah kan sama saya?" ucap Jeevan.
Fritzy tampak gugup dan gelagapan, ia bingung sendiri harus menjawab apa saat ini. Jujur saja Fritzy marah, wanita mana yang tidak marah saat dirinya dilecehkan secara paksa meski itu oleh bosnya sendiri. Namun, Fritzy juga tak tega jika ia mengatakan semua itu secara jujur.
Fritzy pun menggeleng menatap wajah bosnya, "Gapapa kok bos, saya tahu tadi bos gak sadar karena pengaruh alkohol," jawabnya.
__ADS_1
"Kamu beneran gak marah? Saya kan sudah ambil paksa kesucian kamu, gini deh kamu minta apa biar saya kasih apapun yang kamu minta sebagai bentuk tanggung jawab saya!" ujar Jeevan.
Fritzy terdiam, entah mengapa ia merasa direndahkan dengan perkataan pria itu. Jeevan yang melihatnya merasa heran sebab Fritzy tak kunjung menjawab pertanyaan darinya, justru wanita itu malah memalingkan wajahnya dan tampak menahan sesuatu di dalam dirinya.
"Hey, kamu kenapa Fritzy? Kalau memang kamu mau marah sama saya, silahkan aja! Kamu juga boleh kok tampar saya dan pukul saya, itu hak kamu Fritzy!" ujar Jeevan.
Fritzy menggeleng, "Enggak kok bos, saya diam karena saya bingung aja harus bicara apa. Lagian percuma juga saya marah ke bos, itu gak bakal membalikkan kesucian saya kan?" ucapnya.
Jeevan tersenyum dan menggeser posisi duduknya lebih dekat seraya merangkul Fritzy, ia masih merasa tidak enak dengan apa yang sudah ia lakukan sebelumnya pada wanita itu, apalagi selama ini Fritzy sudah banyak membantunya dalam mengurus bisnis yang ia jalan.
"Maafin saya ya Fritzy? Saya tadi benar-benar gak sadar, yang saya lihat kamu itu Queen bukan Fritzy," ucap Jeevan menyesal.
"Iya bos, saya paham kok semuanya," ucap Fritzy lirih.
"Mulai hari ini, apapun yang kamu mau pasti saya turuti. Saya akan bertanggung jawab atas apa yang saya lakukan ke kamu," ucap Jeevan.
Fritzy tiba-tiba menyingkirkan tangan Jeevan dari pundaknya dan bergeser menjauh, "Maaf bos, tapi itu gak perlu dilakukan. Saya juga gak minta apa-apa dari bos kok," ucapnya.
"Kamu kenapa Fritzy? Apa saya salah bicara?" tanya Jeevan keheranan saat melihat sikap Fritzy barusan.
•
•
"Tapi Din—" ucapan Queen terhenti saat sebuah mobil hitam berhenti di dekatnya dan sosok pria berkumis keluar dari dalam mobil tersebut.
"Si-siapa itu??" lirih Queen.
Dinda pun sangat kaget melihat pria tersebut muncul di depannya dengan senyum seringai, begitu juga dengan Tom yang langsung reflek berdiri melindungi Dinda dari orang yang hendak mendekati mereka itu. Tentunya Tom tak mau kehilangan Dinda untuk kesekian kalinya.
"Mister Erick??" lirih Dinda dengan rahang gemetar menahan ketakutannya.
__ADS_1
"Halo Dinda sayang! Apa kabar? Akhirnya ya kita bisa ketemu lagi disini, saya benar-benar rindu sama kamu cantik!" ucap Erick.
"Ka-kamu mau apa? Kenapa kamu datang lagi kesini? Darimana kamu tau tempat ini?" tanya Dinda sambil melangkah mundur.
"Hahaha, tentu saja saya kesini karena saya ingin jemput kamu Dinda. Dan asal kamu tahu, saya tahu keberadaan kamu itu dari lelaki yang ada di dekat kamu. Dia yang beritahu saya kalau kamu ada disini sayang," jawab Erick menunjuk ke arah Tom.
"Hah??" Dinda terkejut dan sontak menatap wajah Tom seolah tak percaya.
"Kamu, jadi ternyata kamu masih tega berkhianat dari aku Tom? Ini yang katanya kamu udah berubah?" ujar Dinda.
Tom langsung panik dan berusaha menjelaskan pada Dinda, tetapi wanita itu sudah terlanjur emosi dengan apa yang dilakukan Tom. Ini kedua kalinya Tom berkhianat darinya dan tentu sangat sulit bagi Dinda untuk bisa menerima Tom kembali di hidupnya, apalagi ikut bersamanya.
"Sayang, kamu dengerin aku dulu! Semua yang dia bilang itu gak bener, aku aja gak pernah ketemu dia sebelum ini sayang!" ucap Tom.
Plaaakk
Tanpa diduga, Dinda justru menampar wajah Tom dengan keras sampai memerah. Wanita itu tampak sangat emosi terlihat dari raut wajahnya saat ini, sedangkan Queen yang menyaksikan itu cukup terkejut sebab tak biasanya Dinda sampai semarah ini dan menampar seorang lelaki.
"Kamu masih berani panggil aku sayang setelah semua pengkhianatan yang kamu lakukan ke aku? Dimana otak kamu Tom? Dimana?!" sentak Dinda penuh emosi.
"Okay, aku paham kamu marah karena aku udah kasih tau alamat rumah Queen ke Jeevan. Tapi, kali ini aku serius sayang, bukan aku yang kasih tahu tempat ini ke dia! Kamu masa lebih percaya dia dibanding aku?" ucap Tom membela diri.
"Eh Tom, lu gausah ngelak terus deh. Mending lu ngaku aja sekarang sama kita!" ujar Queen.
"Tolong kamu jangan ikut campur Queen! Bukan saya yang beritahu dia, kenapa sih kalian gak percayaan banget sama saya?" ucap Tom kesal dan beralih menatap ke arah Erick berada.
"Heh anda! Kenapa anda sebut nama saya, ha? Apa maksud anda bilang begitu? Anda mau memecah belah saya dengan Dinda?" sambungnya sambil menunjuk wajah Erick.
Erick tersenyum datar, "Kamu tidak usah berkelik Tom, kamu kan memang yang kasih tahu saya tempat Dinda berada sekatang," ucapnya.
"Kurang ajar!" Tom menggeram emosi, dengan tangan terkepal ia maju mendekati Erick dan berniat menghajar pria itu.
__ADS_1
...~Bersambung~...
...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...