Jerat Cinta Sang Mafia

Jerat Cinta Sang Mafia
Bab 85. Pamitan


__ADS_3

#Terjebak Gairah Sang Mafia 2


Bukti dari Victor




Seminggu setelah peristiwa pemakaman, kini Aulia kembali ke kampus bersama kedua temannya. Meski sampai saat ini mereka belum lagi bertemu dengan Queen, tapi mereka tetap berharap dan mendoakan yang terbaik untuk wanita itu agar bisa cepat kembali seperti dulu dan tidak berlarut-larut ke dalam kesedihan.


Ketiga gadis itu tengah berkumpul di kantin kampus, mereka berbincang-bincang riang sampai sebelum Victor datang menemui mereka dengan wajah tergesa-gesa. Kehadiran Victor disana sontak membuat Lova dan Nina merasa tak senang, mereka tidak mau jika Aulia terpengaruh dan malah terjebak dengan omong kosong Victor.


"Halo semuanya! Aku cari-cari kalian loh daritadi, eh ternyata kalian ada disini," ucap Victor terengah-engah.


"Yakin lu cari kita? Bukannya lu cuma cari si Aulia?" tanya Nina dengan ketus.


"Hehe, iya sih sebenarnya gue cuma pengen ketemu sama Aulia. Ya tapi sekalian aja gue ngobrol sama kalian juga gapapa kali," jawab Victor.


"Hadeh, tumbenan lu kayak gitu. Biasanya lu kalo pengen ngobrol sama Aulia selalu berdua dan gak mau diganggu," ujar Lova.


"Sekarang ini kan beda dari biasanya," kekeh Victor.


"Umm, udah yuk kak kita ke taman aja! Ngobrolnya enakan disana daripada disini, takut nanti mereka malah pada ganggu," ajak Aulia.


"Oh kamu serius Aulia? Kalau mau disini juga gapapa kok," ucap Victor.


"Kita ke taman aja kak, biar mereka berdua ini gak pada kepo sama urusan kita," kekeh Aulia.


"Ish, jahat banget sih lu Aulia! Masa sama temen sendiri kayak gitu?" ujar Lova.


"Biarin, ini kan urusan gue sama kak Victor." Aulia bangkit dari duduknya dan langsung menggandeng tangan Victor. "Yuk kak!" sambungnya disertai senyuman tipis.


Victor agak terkejut melihat tangannya digandeng oleh Aulia, matanya tak berhenti memandang tangan Aulia yang menyentuh lengannya itu.


"Kenapa kak?" tanya Aulia keheranan.

__ADS_1


"Eee gapapa, aku grogi aja digandeng begini sama kamu. Gak biasanya kan kayak gini," jawab Victor.


"Ohh hehehe.." Aulia tertawa kecil.


"Heleh gayanya lu pake grogi segala! Padahal lu seneng kan digandeng Aulia begitu? Gausah muna deh jadi cowok, siapa sih yang gak seneng digituin cewek?!" cibir Nina.


"Apa sih Nina? Lo jangan julid deh sama kak Victor! Dia itu beda dari cowok lainnya tau," ucap Aulia.


"Ya ya ya, belain aja terus tuh cowok aneh! Awas ya kalo nanti lu nyesel!" ucap Nina.


"Gue gak bakal nyesel, gue tahu kok kak Victor orangnya emang baik," ucap Aulia.


Nina dan Lova pasrah saja mendengar perkataan Aulia barusan, mereka membiarkan Aulia pergi bersama Victor walau agak ragu karena khawatir terjadi sesuatu pada gadis itu. Namun, Aulia sendiri tidak merasa cemas dan percaya seratus persen pada Victor untuk saat ini.


Kini mereka sampai di taman kampus, Victor langsung terduduk bersama Aulia disana berdampingan sambil tersenyum. Aulia tampak menoleh ke arah pria itu sembari bertanya-tanya ada apa, ia sungguh penasaran mengapa Victor sampai datang ke kampusnya hari ini.


"Kak, ada apa kamu ke kampus aku sekarang?" tanya Aulia penasaran.


"Aku mau tunjukin sesuatu ke kamu Aulia, aku yakin kamu pasti senang," jawab Victor.


Victor tersenyum dan menunjukkan sebuah kalung di tangannya kepada gadis itu, seketika Aulia terperangah mengetahui kalung tersebut adalah miliknya saat tinggal di panti asuhan. Ya Aulia masih ingat betul, sebab kalung itu memang lain daripada yang lain dan mungkin hanya satu di dunia.


"Hah? I-itu kok kayak kalung punya aku ya sewaktu tinggal di panti? Kenapa bisa sama kamu kak? Seingat aku, kalung itu aku tinggal di panti deh," ucap Aulia terheran-heran.


"Ya Aulia, aku yang ambil ini dari Bu panti tempat kamu dirawat. Ini adalah bukti kalau kamu adik aku," jawab Victor.


Aulia terbelalak tak percaya mendengar jawaban pria itu, bagaimana bisa kalung tersebut dijadikan sebagai barang bukti yang menyatakan bahwa dirinya adalah adik dari Victor. Ia sungguh tak mengerti apa yang dimaksud pria itu.




Disisi lain, Jeevan telah sampai di lokasi yang Queen minta sebelumnya. Ya wanita itu entah kenapa tiba-tiba menghubungi Jeevan dan mengajak pria itu bertemu di sebuah danau, tentu saja Jeevan sangat bahagia dan tidak sabar untuk segera bertemu dengan Queen disana dan berbicara padanya.


Setelah menunggu kurang lebih sepuluh menit, akhirnya sosok perempuan yang ia tunggu-tunggu pun tiba. Queen datang dengan pakaian seksinya, melangkah mendekati Jeevan yang berdiri di pinggir danau dengan tatapan dingin. Jeevan tersenyum tipis melihat kehadiran Queen, ia ingin sekali memeluk wanita itu, tetapi rasanya ia masih ragu untuk melakukan itu saat ini.

__ADS_1


"Hai Queen! Akhirnya kamu datang juga, aku kira kamu cuma pengen ngerjain aku. Soalnya setahu aku, kamu itu kan gak suka lihat aku," ucap Jeevan.


"Udah gausah basa-basi, aku ajak kamu kesini cuma buat pamitan kok," ucap Queen ketus.


Sontak Jeevan terkejut bukan main, "Maksud kamu apa? Pamitan? Memangnya kamu mau kemana Queen?" tanyanya penasaran.


"Besok aku udah harus terbang ke new York, disana aku mau lanjutin kuliah aku dan menjalani hidup baru sebagai seorang wanita biasa," jawab Queen.


"Hah? Kamu gak bercanda kan Queen? Kamu seriusan mau ninggalin aku?" tanya Jeevan.


"Iyalah, aku udah pikirin ini matang-matang. Aku mau belajar ikhlas dan melupakan papa, kalau terus disini rasanya itu sulit buat aku lakukan. Makanya aku putusin buat ke new York dan tinggal disana," jelas Queen.


"Ta-tapi Queen, gimana dengan aku? Lalu pernikahan kita? Apa kamu tega tinggalin aku sendirian sayang? Kamu itu cinta mati aku loh," ujar Jeevan.


"Gausah lebay, kamu kan masih punya Caitlyn yang bisa kamu ajak nikah," ucap Queen.


Jeevan menangis seketika, ia mengusap wajahnya kasar seolah masih tak percaya jika Queen mengatakan itu padanya. Ia benar-benar tak siap ditinggal oleh wanita yang sangat ia cintai, padahal Jeevan baru saja bahagia karena telah mendapat restu dari orangtuanya untuk menikahi Queen.


"Ka-kamu jangan pergi Queen! Aku baru aja senang loh hubungan kita direstui, masa kamu udah mau tinggalin aku gitu aja?" ucap Jeevan terisak.


"Aku gak punya pilihan lain Jeevan, ini semua aku lakuin supaya aku bisa tenangin diri. Kamu tenang aja, mungkin suatu hari nanti kita bisa ketemu lagi kalau diberi umur panjang!" ucap Queen.


Jeevan menggeleng cepat dan langsung menggenggam tangan Queen, "Enggak Queen, aku mohon jangan tinggalin aku!" ucapnya memohon.


Namun, Queen malah menghentak tangannya hingga lepas dari genggaman Jeevan. Tampaknya keputusan Queen sudah bulat, ia akan meninggalkan Indonesia demi bisa memulai hidup baru di new York. Tentu saja ini bukan keputusan yang mudah, sebab Queen akui jika ia juga berat untuk meninggalkan Jeevan disana.


"Gak bisa Jev, aku harus pergi. Aku duluan ya? Maaf kalau aku kecewain kamu, semoga kamu bisa dapat wanita yang lebih baik daripada aku dan bahagia sama dia!" ucap Queen.


Setelah mengatakan itu, Queen pun berbalik dan pergi dari sana.


"QUEEN, AKU CINTA SAMA KAMU!" teriakan Jeevan yang lantang itu membuat langkah Queen terhenti, tapi tak lama sebab setelahnya wanita itu kembali lanjut pergi dan menghilang dari pandangannya.


Jeevan pun ambruk disana, ia menangis deras sembari berteriak keras dan memukul-mukul rumput yang ia duduki.


...~Bersambung~...

__ADS_1


...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...


__ADS_2