Jerat Cinta Sang Mafia

Jerat Cinta Sang Mafia
Bab 95. Main berulang kali


__ADS_3

#Terjebak Gairah Sang Mafia 2


Main berulang kali




Fahrul mengangguk setuju, lalu mereka pun melangkah menuju tempat parkir bersama-sama. Sesampainya disana mereka langsung masuk ke mobil Fahrul dan memasang seat belt, Queen tersenyum menatap wajah Fahrul yang sedang mengendarai mobilnya.


"Kenapa kamu senyum-senyum gitu? Naksir sama aku?" tanya Fahrul sedikit menggoda.


"Hah apaan? Sembarangan aja kalo ngomong, aku—" ucapan Queen terjeda karena tiba-tiba Fahrul menginjak rem secara mendadak.


Ciiittt


"Ya ampun Fahrul! Kamu tuh kenapa sih ngerem mendadak? Ada apaan?" protes Queen.


"Maaf Queen, tapi itu tuh si Andro tiba-tiba nongol di depan!" ucap Fahrul menunjuk ke depan.


"Hah??" Queen reflek mengarahkan pandangannya ke tempat yang ditunjuk Fahrul, dan benar saja terdapat Andro tengah berdiri disana sembari merentangkan tangannya.


"Mau ngapain sih tuh orang? Jangan-jangan dia tahu lagi kalau aku ada disini," gumam Queen.


"Kayaknya iya, mending kamu turun deh terus temuin dia dan bicara langsung!" usul Fahrul.


Queen mengangguk pelan menyetujui usul dari Fahrul itu, lalu ia turun dari mobil untuk menemui Andro yang sudah berdiri di depannya. Andro langsung tersenyum lebar melihat Queen muncul, ia pun ikut bergerak mendekati wanita itu sambil berupaya membelai rambutnya.


Namun, dengan cepat Queen menghindar karena ia sudah bersumpah tidak mau lagi disentuh atau dipegang oleh lelaki itu. Semenjak kejadian tadi pagi, Queen sudah tidak ingin dekat dengan Andro walau hanya sebentar. Queen merasa Andro bukan lah lelaki yang baik dan suka menipunya.


"Kamu kenapa menghindar sih Queen? Kamu masih marah sama aku gara-gara kejadian tadi?" tanya Andro sambil menghela nafasnya.


"Kayaknya gak perlu aku jawab deh, kamu pasti udah tau apa alasannya. Jadi, sekarang kamu mending minggir karena aku mau pulang!" ucap Queen.


"Oh kamu mau pulang, kenapa gak bareng aku aja Queen? Tadi aja kamu berangkatnya sama aku, masa pulangnya malah sama si Fahrul itu?" ucap Andro sedikit jengkel.


Queen memutar bola matanya dan hendak pergi, tetapi Andro malah mencekal lengannya. Queen pun emosi dan langsung menghentak tangannya sampai telapak tangan Andro terlepas, ia menatap tajam wajah pria itu seolah menunjukkan betapa emosinya dirinya saat ini.


"Kamu kenapa kayak gitu sih Queen? Aku minta maaf soal tadi, aku gak ada niatan buat jebak kamu kok. Tolong ya kamu jangan marah sama aku, aku gak bisa hidup tanpa kamu!" mohon Andro.


"Cukup ya Andro, aku gak mau dengar apa-apa lagi dari kamu sekarang! Aku harus pulang, jangan halangi aku!" ucap Queen.


"Tunggu Queen!" tampaknya Andro tak mau membiarkan Queen pergi begitu saja, lelaki itu kembali menahan lengan Queen dan mencengkram dengan kuat seolah tak ingin melepasnya.


"Kamu mau apa sih Andro? Aku gak mau pulang sama kamu, jangan maksa dong!" sentak Queen.


"Iya okay, aku gak maksa kamu buat pulang bareng aku. Tapi, kamu jangan bareng Fahrul dong Queen!" ucap Andro.


"Kenapa? Apa salah Fahrul sampai kamu larang aku bareng dia?" tanya Queen heran.


"Ya aku gak suka aja, nanti yang ada si Fahrul itu kesenangan kalau dia bisa antar kamu. Mending kamu naik taksi aja," ucap Andro.


"Kamu siapa berani atur-atur aku? Kita cuma teman, dan itu juga baru. Jadi, kamu gak berhak buat larang aku pulang bareng sama Fahrul!" ucap Queen.


"Ya aku—" ucapan Andro terpotong karena Fahrul turun dari mobilnya dan berteriak keras.


"Queen, ayo cepat kita pulang!" ucap Fahrul yang membuat Andro tampak emosi.


Sementara Queen menoleh ke arah Fahrul dan meminta lelaki itu membantunya, ia cukup sulit melepaskan diri dari genggaman Andro yang memang cukup kuat mencengkram lengannya. Andro pun tak mau lengah dan terus memberikan cengkraman kuat pada lengan Queen.


"Fahrul, tolongin aku Rul! Si Andro udah gak waras!" pinta Queen pada Fahrul.

__ADS_1


"Kamu kenapa bicaranya begitu sih Queen? Aku masih waras loh, buktinya aku gak rela kamu diantar pulang sama dia," ucap Andro.


"Waras darimana? Kalau kamu waras, ya kamu lepasin aku dong Andro!" ucap Queen.


Andro malah menggeleng kuat, "Gak mau, nanti kamu pergi sama si Fahrul. Aku tuh pengennya kamu sama aku, Queen!" ucapnya dengan tegas.


"Tuh kan kamu emang udah gak waras Andro, aku takut ah sama kamu!" ujar Queen.


Fahrul yang sedari tadi hanya diam, akhirnya memilih melangkah maju mendekati keduanya. "Andro, ayolah lepasin Queen! Kamu jangan kayak gini, Queen kan bukan siapa-siapa kamu!" ucapnya.


"Kata siapa? Queen itu sahabat aku, jadi biar aku aja yang antar Queen pulang. Kamu mending pergi sana dan jangan ganggu kami!" ucap Andro posesif.


"Kamu memang sudah gila Andro!" ucap Fahrul.


Andro yang kesal menatap tajam ke arah Fahrul masih dengan tangan mencengkram erat lengan Queen, tapi Queen berhasil memanfaatkan sedikit kelengahan di tubuh Andro dan mampu membuatnya lepas dari cengkraman lelaki itu. Ya sontak Andro terkejut dan beralih menatap Queen yang sudah berlari mendekati Fahrul.


"Queen, kenapa kamu lari dari aku? Harusnya kamu itu pulang sama aku Queen, bukan dia! Kamu gak boleh ikut sama dia!" sentak Andro.


Queen kini telah berada di dekat Fahrul, wanita itu menatap wajah Andro dengan kesal sembari meraih satu tangan Fahrul dan menggenggamnya. Fahrul reflek terkejut, ia menoleh ke arah Queen dengan bingung dan tak tahu harus melakukan apa untuk merespon kelakuan wanita itu.


"Mulai sekarang kamu udah bukan teman aku, Andro. Aku gak mau lagi kenal sama kamu dan dekat sama kamu, jadi tolong kamu jangan dekati aku lagi!" ucap Queen tegas.


"Aku gak bisa jauh dari kamu Queen, mana mungkin aku bisa lakuin itu?" protes Andro.


"Kalaupun kamu gak bisa, pasti nanti lama-lama juga kamu bakal bisa kok," ucap Queen.


Queen pun kembali menatap pria di sampingnya, "Rul, ayo bawa aku pergi dari sini! Aku males lama-lama ada disini bicara sama dia," ucapnya.


"Iya Queen, sekarang aku tahu apa alasan kamu gak mau pulang sama dia. Ternyata dia orangnya aneh banget ya?" ucap Fahrul.


"Heh! Jangan sembarangan ya kamu kalau bicara!" sentak Andro tiba-tiba.


"Udah ayo Rul, gausah ladenin lagi dia mah!" ajak Queen.


Di dalam mobil, Fahrul terlihat masih memandang ke arah Andro yang berdiri di depan sana. Sedangkan Queen tampak mendengus kesal seolah meminta Fahrul untuk segera membawanya pergi, ia sudah tak tahan ingin cepat-cepat pergi karena malas sekali ia melihat wajah Andro.




Sementara itu, Tom membawa pergi Dinda ke apartemen yang ia sewa. Pria itu sengaja mengajak Dinda kesana agar Erick tidak bisa mengetahui dimana mereka, meskipun Dinda tak mau ikut bersama Tom karena masih kesal. Namun, Dinda tak memiliki pilihan lain selain mengikutinya.


"Tom, kenapa kamu bawa aku kesini sih? Ini tempat siapa coba?" tanya Dinda.


Tom tersenyum dan duduk di sofa sembari menopang dagu menggunakan kedua tangannya, ia menatap wajah Dinda dari tempatnya terduduk saat ini sembari mengedipkan matanya. Dinda yang diperhatikan begitu merasa tidak nyaman, ia membuang muka seolah tak suka.


Namun, kemudian Tom menarik tangan Dinda untuk mendekat ke arahnya secara paksa. Dinda yang tak siap pun mau tidak mau pasrah saja, meskipun ia terus menampakkan wajah kesalnya. Tom meraih dua tangan Dinda dan menggenggamnya, mengecup punggung tangan wanita itu dengan lembut disertai senyuman tipis.


"Kamu tuh kalau lagi cemberut kayak gini makin tambah imut deh, sini yuk duduk samping aku dan kita ngobrol biar enak!" ucap Tom.


Dinda manggut-manggut pelan, lalu mengikuti perintah Tom dengan duduk di sampingnya. Tom tersenyum tanpa melepaskan tangan Dinda dari genggamannya, ia juga berulang kali mengecupnya membuat Dinda makin merasa risih. Dinda pun berusaha menarik paksa tangannya itu, tetapi tak berhasil sebab tenaga Tom sangat kuat.


"Lepasin ah Tom, kamu jangan pegang-pegang kayak gini deh! Kita itu bukan siapa-siapa, jadi kamu harus tahu diri dong!" kesal Dinda.


"Apa salah aku? Aku kan cuma pegang tangan kamu," ucap Tom membela diri.


"Tetap aja aku gak suka, jadi tolong lepasin aku ya!" pinta Dinda.


"Okay." Tom menurut dan melepaskan tangan Dinda sesuai permintaan wanita itu.


"Mulai sekarang aku bakal nurut terus sama kamu, tapi kamu harus tinggal lagi sama aku disini. Aku mau pengen merasakan tinggal satu atap sama kamu lagi sayang," ucap Tom.

__ADS_1


"Kamu gausah lebay deh, biasanya juga dari dulu kamu kan tinggal sendiri. Aku lagian udah jadi milik mister Erick, dia kan beli aku dari bos kamu si Jeevan itu. Jadi, kamu gak bisa main bawa kabur aku kayak gini," ucap Dinda.


"Bisa dong, aku juga punya hak atas kamu. Anak yang kamu kandung itu kan anak aku sayang," ucap Tom sambil tersenyum.


"Hubungannya apa? Walaupun dia anak kamu, tapi aku tetap gak bisa sama kamu. Lebih baik kamu biarin aku pergi sekarang, sebelum mister Erick nanti datang kesini dan hajar kamu," ucap Dinda.


"Cie, berarti tandanya kamu perhatian ya sama aku? Kamu gak mau aku kenapa-napa kan?" goda Tom.


"Apa sih? Ya aku cuma gak pengen aja ada keributan nanti, jujur aku lebih suka hidup aku yang sebelumnya, aman dan tentram tanpa ada gangguan apapun dari orang-orang kayak kamu," ucap Dinda.


"Kenapa kamu jadi salahin aku sih? Kan bos Jeevan yang bikin kamu dan teman-teman kamu begini," ucap Tom.


Dinda memalingkan wajahnya sembari mendengus kesal, namun Tom kembali menarik dagunya lalu mengusap pipinya dengan lembut dan sensual disertai senyuman seringai. Tom mendekat ke telinga Dinda dan menggigit kecil disana, membuat Dinda memejamkan mata.


"Udah ya jangan debat lagi! Mulai saat ini dan detik ini, kamu tinggal disini sama aku! Jadi, kita bisa main berulang kali lagi kayak dulu," ucap Tom pelan.


Deg!


Dinda terkejut bukan main dan membelalakkan matanya begitu mendengar ucapan Tom.




Jeevan membuka matanya, ia melirik jam sembari menguap dan bangkit terduduk di ranjangnya sembari memegangi perutnya. Entah kenapa ia tiba-tiba merasa lapar, padahal jam baru menunjukkan pukul tiga pagi yang mana semua orang masih tertidur pulas.


Akhirnya lelaki itu beranjak dari ranjang dan berjalan ke luar kamar untuk mencari makanan di dapur, begitu sampai disana ia sedikit kaget karena melihat lampu dapur menyala dan terdengar suara bising dari arah sana. Karena penasaran, ia pun melangkah menghampiri seseorang yang terlihat tengah berkutat di dapur sendirian itu.


"Ehem!" Jeevan berdehem keras yang membuat sosok wanita itu terkejut, dia menoleh lalu terbelalak melihat keberadaan Jeevan disana.


"Bos Jeevan?" ucap si wanita yang ternyata adalah Fritzy, ya wanita hamil itu berada di dapur karena juga tiba-tiba merasa lapar.


"Kamu lagi apa disini? Ini masih malam loh, kok kamu gak tidur?" tanya Jeevan sembari mendekat dan merengkuh pinggang Fritzy yang tampak gugup.


"Umm, justru aku baru bangun tadi. Aku lapar dan pengen makan, makanya aku kesini buat bikin makanan. Bos sendiri ada apa jam segini bangun dan pergi ke dapur?" ucap Fritzy.


"Saya juga lapar seperti kamu, kebetulan kamu masak jadinya saya bisa sekalian makan bareng kamu. Boleh kan Fritzy?" ucap Jeevan.


"Ya boleh dong bos, masa iya saya tolak perintah bos saya sendiri? Bos mau makan apa? Biar sekalian saya masakin," ucap Fritzy sambil tersenyum.


"Gausah, samain aja sama kamu biar gampang. Saya juga apapun saya makan kok, asalkan itu makanan dan rasanya enak. Tapi karena saya tahu masakan kamu pasti enak, jadi saya gak perlu bilang untuk itu," ucap Jeevan.


"Ih bos bisa aja, yaudah saya masak dulu ya bos? Tapi, boleh gak tolong bos jangan terlalu dekat sama saya! Bukan gimana-gimana bos, geli aja gitu rasanya kena deru nafas bos," ucap Fritzy.


"Hahaha, lucu ya kamu Fritzy? Apa karena kamu lagi hamil jadi tambah lucu ya?" goda Jeevan.


"Maaf bos, saya lagi masak takut gosong. Kalau bos godain saya terus, nanti saya susah buat masaknya," ucap Fritzy.


"Gapapa, saya suka wangi tubuh kamu. Entahlah sepertinya saya mulai candu sama wangi kamu yang ini," ucap Jeevan seraya mengendus leher Fritzy.


"Mmhhh.." Fritzy tanpa sadar merasakan nikmat saat Jeevan melakukan itu, dan berhasil membuat Jeevan menyeringai di sela-sela kegiatannya.


"Kamu suka juga kan?" goda Jeevan.


Fritzy membuka matanya dan menoleh, tapi saat itu juga Jeevan memagut bibirnya dengan lembut sehingga membuat Fritzy terkejut bukan main. Tapi lambat laun, Fritzy menikmati juga apa yang dilakukan Jeevan padanya saat ini dan mulai membalas permainan bibir pria itu.


"Loh pak bos?" keduanya dikejutkan dengan suara seorang pria yang tiba-tiba terdengar.


Jeevan reflek mengakhiri ciumannya, ia menoleh ke asal suara dan menemukan Alden berdiri disana menatap bingung. Sontak Fritzy menyembunyikan wajahnya di balik tubuh Jeevan, ia merasa malu dan tak bisa berbuat apa-apa saat melihat keberadaan Alden disana.


...~Bersambung~...

__ADS_1


...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...


__ADS_2