Jerat Cinta Sang Mafia

Jerat Cinta Sang Mafia
Bab 84. Debat lagi


__ADS_3

#Terjebak Gairah Sang Mafia 2


Debat lagi




Selang dua hari setelah hari dimana sang ayah meninggal, kini Queen pun telah memakamkan papanya meski dengan berat hati. Queen masih belum dapat melepas kepergian papanya, terbukti ia terus menangis di depan makam sang papa yang masih basah itu. Ia ditemani oleh Jeevan juga ketiga temannya yang ikut bersedih disana.


Queen tak henti-hentinya menangis sembari memeluk nisan sang ayah, wajahnya bahkan sudah dipenuhi air mata sebab dari semalam ia terus menangis karena kepergian papanya. Jeevan dan yang lain pun berusaha menenangkan wanita itu, tetapi Queen seolah tak mendengar dan malah terus menangis semakin deras.


Akhirnya Jeevan ikut berjongkok di sebelah Queen dan menyentuh pundak wanita itu secara perlahan, ia berusaha menenangkan Queen agar tidak terus larut dalam kesedihan, apalagi ini sudah hampir dua jam dari prosesi pemakaman tadi. Bahkan orang-orang yang ikut mengantar jenazah Salman sudah pergi dari sana meninggalkan mereka.


"Queen, kamu sabar ya! Aku tahu pasti rasanya sedih banget kehilangan sosok ayah di hidup kita, tapi aku tahu kamu kuat dan kamu pasti bisa melewati ini semua!" ucap Jeevan.


Wanita itu terisak, ia menoleh ke arah Jeevan yang ada di sampingnya sambil mengusap air matanya. Tanpa diduga Queen justru menyingkirkan tangan Jeevan dari pundaknya, seolah ia tak suka dengan apa yang dilakukan pria itu. Jeevan hanya bisa tersenyum pasrah melihat kelakuan Queen.


"Tolong jangan ambil kesempatan disaat aku lagi sedih! Kamu pikir aku mau terima kamu gitu karena kamu ada disini? Enggak ya, keputusan aku gak akan berubah!" ucap Queen ketus.


"Ya Queen, aku ngerti kok semuanya. Aku juga gak mau bahas soal itu dulu, karena sekarang kan kamu lagi berduka," ucap Jeevan.


"Yaudah, terus ngapain kamu masih disini? Aku tetap gak mau terima kamu lagi, meskipun kamu udah bantuin aku urus jenazah papa sampai pemakaman!" ujar Queen.


"Aku gak ngarep apa-apa kok, aku tulus ikhlas bantuin kamu urus semuanya," ucap Jeevan.


"Makasih," singkat Queen yang kembali menatap makam papanya.


Tiba-tiba saja Aulia menarik tubuh Jeevan memaksa pria itu untuk berdiri, Jeevan menurut saja karena tak tahu apa yang hendak dilakukan gadis itu sebenarnya.


"Ada apa? Kenapa kamu tarik-tarik saya kayak gitu?" tanya Jeevan sedikit kesal.


"Gapapa, tapi kayaknya lebih baik lu bangun terus pergi dari sini. Biar Queen sama kita aja disini," jawab Aulia.


"Saya gak mau tinggalin Queen gitu aja, saya pengen temani dia," ucap Jeevan.


"Iya gue ngerti, tapi lu lihat kan tadi reaksi Queen gimana waktu lu deketin dia? Dia kelihatan gak suka banget sama lu, jadi mending lu pergi dulu deh supaya gak terjadi keributan lagi disini. Ini semua demi kebaikan Queen juga," ucap Aulia.


"Iya Jev, lu ngerti dong perasaan Queen yang lagi berduka! Biar kita disini yang coba buat hibur dia," timpal Lova.


Jeevan berpikir sejenak, matanya menatap tubuh Queen yang masih terisak di depan makam sang ayah sembari memeluk nisan itu. Jeevan merasa sangat kasihan dan tidak tega, tetapi memang benar apa yang dikatakan teman-teman Queen barusan.


"Ya kalian benar juga sih, walaupun saya agak berat buat tinggalin Queen gitu aja. Saya titip Queen sama kalian ya? Hibur dia dan jangan sampai dia sedih terus!" ujar Jeevan.

__ADS_1


"Iya iya, kita pasti bakal jagain dia kok. Udah sana lu pergi aja dulu!" usir Aulia.


Jeevan mengangguk pelan, dengan berat hati ia pun melangkah dari pemakaman tersebut tanpa berpamitan pada Queen.




Saat di luar pemakaman, Jeevan justru bertemu dengan kedua orangtuanya yang tampak sudah menunggu sedari lama disana. Sontak saja Jeevan terkejut, ia tak mengira akan kembali bertemu mereka apalagi di tempat seperti ini. Pastinya mereka akan berdebat lagi saat ini.


Melihat Jeevan yang baru keluar dari tempat itu, Aqila serta Dean langsung saja menghampiri putra mereka tersebut dan meminta Jeevan untuk berhenti sejenak. Jeevan menurut saja walau dengan terpaksa, sejujurnya ia sudah malas berbincang dengan mama atau papanya.


"Ada apa lagi sih ma, pa? Aku bingung deh sama kalian, kenapa kalian masih aja ganggu hidup aku? Aku kan udah bilang, aku mau hidup bebas ma!" ucap Jeevan ketus.


"Jaga bicara kamu Jeevan! Harusnya kamu tahu siapa yang ada di depan kamu ini!" sentak Dean.


"Ya aku tahu pa, terus kenapa? Aku harus hormat gitu sama orang yang udah bikin aku hancur?" cibir Jeevan.


"Kamu ini memang anak tidak tahu diuntung! Papa nyesel sudah pernah bantu kamu!" kesal Dean.


"Pa, sudah pa jangan malah ribut kayak gitu! Tujuan kita kesini mau minta Jeevan buat kembali ke rumah, papa turunin sedikit dong ego papa!" ucap Aqila melerai keduanya.


"Gimana papa gak kesal, ma? Mama dengar sendiri kan tadi yang dibilang sama Jeevan? Dia itu benar-benar kurang ajar!" ucap Dean.


Dean terdiam sejenak memikirkan perkataan istrinya, memang saat ini ia butuh Jeevan untuk kembali ke dalam bisnisnya karena setelah ditinggal Jeevan bisnis yang mereka kelola jadi semakin terpuruk, untuk itu Aqila menyarankan agar membawa Jeevan kembali kesana.


"Ma, pa, kalian dengar ya kata-kata aku sekarang! Aku gak akan pernah mau balik ke rumah ataupun bisnis papa!" sentak Jeevan.


"Jeevan, kamu maafin mama sama papa ya? Kami sadar selama ini kami terlalu mengekang kamu, bahkan kami juga sampai memaksa kamu untuk menikah dengan Caitlyn. Tapi, sekarang ini kami sudah tahu diri kok sayang," ucap Aqila.


"Tahu diri gimana maksud mama? Apa mama papa setuju aku nikah sama Queen?" tanya Jeevan.


"Ya kalau itu satu-satunya cara supaya kamu balik lagi ke rumah, oke deh mama terpaksa kasih restu kamu buat nikahin Queen. Tapi, kamu kembali ke rumah ya sayang?" jawab Aqila.


"Entahlah ma, aku masih belum percaya sama mama dan papa," ucap Jeevan.


Dean terlihat semakin emosi, "Mau kamu itu sebenarnya apa Jeevan? Kami sudah mau merestui hubungan kamu dengan Queen, tapi kamu masih aja kayak gini!" ucapnya.


"Aku takut aja ini cuma permainan mama dan papa, nanti setelah aku kembali ke rumah, eh mama papa tarik kembali omongan mama barusan," ucap Jeevan tersenyum tipis.


"Kamu gak perlu takut sayang, mama gak akan menarik semua yang mama ucapkan kok. Lagipun, kami juga sudah bersedia menerima Queen di keluarga kita. Apalagi setelah papanya meninggal," ucap Aqila.


"Kita bicarakan ini nanti aja ma, aku sekarang harus pergi. Tunggu aja kabar dari aku ya?" ucap Jeevan pamit.

__ADS_1


Jeevan pun pergi begitu saja meninggalkan kedua orangtuanya disana.




Singkat cerita, Queen telah kembali ke rumahnya diantar oleh Aulia serta kedua temannya. Mereka berempat kini duduk di sofa, tampak Queen masih saja bersedih dan wajahnya terus dipenuhi air mata yang tak henti-hentinya mengalir. Queen belum bisa melupakan papanya yang sangat ia sayangi, ini adalah sebuah kehilangan terbesar di dalam hidupnya setelah kepergian sang ibu.


Aulia, Lova dan juga Nina terus berupaya menenangkan Queen sesuai janji mereka kepada Jeevan tadi. Ketiga gadis itu pun merangkul dan mengusap tubuh Queen secara bersamaan sembari membujuknya untuk tenang, tetapi Queen hanya diam terbengong dengan tatapan kosong sambil terisak pelan.


"Queen, ayolah lu harus kuat! Gue ngerti lu sedih karena ditinggal bokap lu, tapi lu masih punya kehidupan disini Queen!" ucap Aulia.


"Iya Queen, lu gak boleh terus larut dalam kesedihan! Bokap lu pasti udah bahagia disana, lu ikhlasin dia ya supaya dia juga gak ikutan sedih lihat lu kayak gini," sahut Nina.


"Bener apa yang dibilang Nina, kita yakin kok bokap lu pasti dapat tempat terbaik disisi Tuhan. Makanya lu gak boleh sedih lagi Queen," timpal Lova dengan tangan mengusap bahu sohibnya.


Perlahan Queen menoleh ke arah teman-temannya itu, "Kalian bertiga gak tahu kesedihan yang gue rasain sekarang ini, orang tua kalian kan masih lengkap semua," ucapnya.


"Sedangkan gue, gue udah gak punya siapa-siapa sekarang. Mami gue udah pergi, terus sekarang papa juga nyusul mami. Gimana gue gak sedih coba?" sambungnya.


Aulia, Lova dan Nina pun tertunduk lesu. Jujur mereka ikut merasakan kesedihan yang dialami sahabat mereka itu.


"Maaf ya Queen, kita emang gak ngerasain kehilangan orang tua kayak lu. Tapi, kita tahu kok betapa sedihnya yang lu rasain saat ini. Makanya kita bertiga hadir disini buat hibur lu, udah ya jangan nangis lagi!" ucap Lova.


"Dan asal lu tahu Queen, orang tua gue yang sekarang ini bukan orang tua kandung gue. Mereka cuma adopsi gue dari panti, gue aja gak tahu siapa ortu kandung gue sampai sekarang," ucap Aulia yang mulai bersedih.


"Hey, Aul kok lu malah jadi ikutan sedih sih? Kita disini kan mau bujuk Queen supaya gak nangis lagi, ayo dong lu harus kuat demi sohib kita!" ucap Lova keheranan.


"Ya sorry guys, gue kebawa suasana pas Queen bilang ortu kita masih lengkap," ucap Aulia terisak.


"Udah udah jangan pada ribut! Queen bilang begitu karena dia lagi sedih aja tadi, lu harus maklumi dia ya Aul!" sahut Nina.


"Iya iya, gue minta maaf. Sekarang lu makan aja dulu yuk Queen!" ucap Aulia.


Queen menggeleng tanpa melihat wajah ketiga sahabatnya itu, menurutnya saat ini ia sedang tidak ingin apa-apa termasuk makan. Kepergian sang ayah tentunya membuat Queen malas melakukan apapun, ia hanya ingin merenung dan mendoakan papanya agar hidup bahagia di alam sana.


"Ayolah Queen, masa lu gak mau makan sih?! Nanti lu sakit loh, emang lu mau bokap lu sedih di atas sana gara-gara lihat lu sakit?" bujuk Lova.


"Gue lagi gak mau ngapa-ngapain, kalian pulang aja sana jangan ganggu gue!" sentak Queen yang langsung bangkit lalu pergi begitu saja.


Ketiga gadis itu pun tampak terkejut terheran-heran melihat reaksi Queen barusan, mereka menggeleng pelan sambil terus memandangi tubuh Queen yang perlahan menghilang karena menaiki tangga.


...~Bersambung~...

__ADS_1


...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...


__ADS_2