Jerat Cinta Sang Mafia

Jerat Cinta Sang Mafia
Bab 23. Jeevan marah


__ADS_3

#Terjebak Gairah Sang Mafia 2


Jeevan marah




"Tom!!" sang pemilik nama terkejut saat seseorang menyapanya, ia spontan menoleh dan menemukan Queen bersama para temannya tengah menuju ke arahnya.


Sontak Tom panik, ia sedikit khawatir kalau Queen akan memarahinya sebab sudah pernah bekerjasama dengan Jeevan untuk menangkap teman-temannya dulu. Meski sudah berubah dan tidak lagi bekerja untuk Jeevan, tetapi Tom tetap saja cemas Queen belum bisa menerimanya.


"I-i-iya Queen, ada apa ya panggil saya? Kamu mau marah sama saya gara-gara kejadian waktu itu? Saya minta maaf ya sama kamu," ucap Tom.


"Gue udah lupain itu kok, lagian Dinda juga udah jelasin semuanya kalau lu sekarang udah berubah dan gak kerja buat si Jeevan lagi, ya kan?" ucap Queen dengan santai.


"Ah iya itu benar Queen, saya memang sudah lama berhenti bekerja dengan bos Jeevan. Saat itu saya ketahuan menyembunyikan Dinda, lalu bos Jeevan menganggap saya pengkhianat dan saya langsung dihukum," ucap Tom.


"Terus kenapa lu masih panggil dia bos? Katanya lu udah gak kerja lagi sama dia," heran Queen.


"Oh iya, saya sudah terbiasa sih jadi susah buat hilangin kata bos saat memanggil nama dia. Tapi, benar kok saya sudah gak kerja lagi sama dia," ucap Tom.


"Iya iya, gue percaya kok. Gue cuma mau bilang makasih sama lu, karena lu udah bela-belain berkhianat dari Jeevan buat bebasin Dinda," ucap Queen tersenyum lebar.


"Sama-sama Queen, itu semua saya lakukan juga sebagai bentuk tanggung jawab saya. Karena kan saya yang bawa pergi Dinda kala itu," ucap Tom.


"Baguslah, mulai hari ini Dinda tinggal sama gue. Lu tolong bawain aja barang-barang punya Dinda dari tempat lu kesini!" ucap Queen.


Seketika Tom terbelalak mendengar ucapan Queen barusan, ia reflek menatap wajah Dinda seolah tak terima jika gadis itu harus pergi darinya. Tom benar-benar sayang pada Dinda, ia sungguh belum bisa berjauhan dari Dinda.


"Lo kenapa kayak kaget gitu? Gak terima sama keputusan gue? Dengar ya Tom, ini demi kebaikan Dinda juga! Dia harus ada di tempat yang aman supaya gak dikejar-kejar lagi," ucap Queen.


"Ya Queen, saya tahu. Tapi, saya kan juga bisa jaga Dinda dengan baik," ucap Tom.


"Iya gue ngerti, cuma gue kurang yakin aja sama lu Tom. Sejak gak kerja lagi sama Jeevan, emangnya lu masih punya pasukan?" ucap Queen.


"Eee saya..."


"Enggak kan? Udah deh, Dinda biar tinggal disini sama gue. Gue bisa jamin keselamatan dia, lu gak perlu khawatir lagi!" potong Queen.

__ADS_1


Akhirnya Tom mengangguk dengan terpaksa, meskipun ia sebenarnya masih berat untuk melepas Dinda.




Jeevan kembali ke markasnya setelah mendapat kabar dari Alden terkait penyerangan yang dilakukan kelompok walters sebelumnya, ia tampak sangat marah mendengar kabar itu. Caitlyn yang masih ada di sampingnya pun hanya bisa menatap bingung ke arah sang lelaki.


"Jev, ini ada apa sih? Kok kamu malah balik lagi kesini? Katanya kamu ada urusan di luar, terus kenapa kamu malah pulang sekarang?" tanya Caitlyn penasaran.


"Jangan tanya sekarang dulu Caitlyn! Saya lagi ada banyak masalah ini," sentak Jeevan.


Pria itu langsung turun dari mobil dan meninggalkan Caitlyn begitu saja, sehingga gadis itu pun merasa kesal dengannya.


"Ish, nyebelin banget sih Jeevan!" kesalnya.


Jeevan menemui Alden yang sedang mengurus para anak buahnya disana, ia semakin emosi melihat bagaimana pasukannya terluka seperti itu. Sungguh ia menyesal karena pergi dari sana sesaat sebelum penyerangan itu terjadi.


"Alden, kenapa ini bisa terjadi? Apa penyebab mereka serang kita?" tanya Jeevan panik.


"Eee ya bos, mereka kesini karena mau bebasin tahanan kita, yaitu Toyib. Selama ini kan Toyib itu mata-mata kelompok walters bos, jadi mungkin mereka gak terima Toyib ditangkap," jawab Alden.


"Maafin kita bos, kita sudah gagal!" lirih Alden.


Jeevan menatap tajam ke arah Alden, tangannya mengepal seperti hendak memukulnya. Namun, kedatangan Caitlyn disana membuat Jeevan mengurungkan niatnya. Ia tidak mau tentu jika Caitlyn melihat apa yang ia lakukan, pastinya bisa berbahaya juga bagi mental gadis itu.


"Jeevan, kamu kenapa tinggalin aku sih? Aku kan mau ikut sama kamu tau," ucap Caitlyn manja.


"Gausah manja deh, toh kamu juga bisa turun sendiri dan sekarang kamu udah ada disini. Gausah diributin lagi bisa kan?" tegas Jeevan.


"Iya iya, eh tapi ini kenapa sih? Kok pada luka-luka kayak gini? Abis berantem ya?" heran Caitlyn.


"Jangan kepo Caitlyn! Kamu mending pulang deh, atau masuk aja sana ke dalam dan tunggu saya disana!" ujar Jeevan.


"Kenapa sih aku gak boleh tau banget sama urusan kamu? Emang segitu rahasianya ya?" tanya Caitlyn.


"Ya itu kamu tau, udah ya tolong jangan ganggu saya dulu sekarang!" pinta Jeevan.


Caitlyn mengangguk setuju, ia pun memilih masuk ke dalam rumah Jeevan meski ia masih penasaran ada apa sebenarnya sampai Jeevan terus saja merahasiakan semua darinya.

__ADS_1


"Ini ada apa sih ya?" pikir Caitlyn dalam hati.




Caitlyn tak sengaja bertemu dengan Fritzy di dalam yang kebetulan hendak membawakan kotak obat untuk para pasukan di luar sana yang terluka, sontak Caitlyn memilih menghampiri Fritzy untuk bertanya apa yang terjadi disana. Sungguh Caitlyn sangat penasaran dengan semua itu.


"Eh eh, tunggu deh. Kamu anak buahnya Jeevan juga kan? Ini pasti kamu mau obatin orang-orang yang luka di luar ya?" tegur Caitlyn.


"Ah iya mbak, saya sekretaris disini. Ada apa ya mbak?" heran Fritzy.


"Baguslah, aku cuma pengen tanya ke kamu. Disini tuh ada apa sih tadi? Kok tiba-tiba tuh orang di depan bisa pada luka?" tanya Caitlyn.


"Ohh, mereka tadi diserang sama kelompok musuh. Yaudah ya mbak, saya harus kasih obat ini ke depan?" jawab Fritzy.


"Sebentar deh, masih ada yang mau aku tanyain ke kamu. Nanti abis antar obat, kamu balik kesini lagi ya temuin aku!" pinta Caitlyn.


"Umm, i-i-iya mbak. Kalo gitu saya ke depan dulu ya? Permisi!" pamit Fritzy.


Caitlyn mengangguk pelan, lalu Fritzy pun pergi melewatinya sembari membawa kotak obat di tangan. Gadis itu akan memberikan obat tersebut pada orang-orang yang terluka di depan, sedangkan Caitlyn sendiri tetap menunggu disana sampai Fritzy kembali.


Drrttt


Drrttt


Tiba-tiba ponselnya berdering, Caitlyn sontak mengeluarkan ponsel miliknya dari dalam tas lalu mengangkat telpon yang ternyata dari Aqila alias calon mertuanya itu.


📞"Halo tante!" sapa Caitlyn di telpon.


📞"Halo sayang! Gimana gimana, kamu udah pergi kemana aja sama Jeevan?" tanya Aqila antusias.


📞"Boro-boro tante, ini aja aku malah dibawa balik ke rumah sama Jeevan," jawab Caitlyn lemas.


📞"Hah??!" Aqila tersentak kaget mendengarnya.


...~Bersambung~...


...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...

__ADS_1


__ADS_2