
#Terjebak Gairah Sang Mafia 2
Menggoda
•
•
"Gapapa bos, kita udah ajuin surat pengunduran diri kok dari bisnis itu. Sekarang kita bebas dari perusahaan manapun bos," ucap Alden.
"Iya bos, boleh ya kita ikut sama bos sekarang?" sahut Fritzy.
"Yasudah, terserah kalian aja. Tapi, bantu saya buat cari tempat penginapan yang murah di dekat sini ya? Soalnya saya masih bingung nih mau tinggal dimana malam ini," ucap Jeevan.
"Ah siap bos! Saya kebetulan kenal orang yang punya tempat penginapan, nanti saya hubungi dia deh bos," ucap Fritzy sambil tersenyum.
"Nah boleh tuh, sekalian juga cari makanan yang enak di dekat sini," pinta Jeevan.
"Eee kalo gitu saya boleh bantu bawa barang-barang punya bos Jeevan kan? Soalnya kelihatan bos kayak keberatan gitu bawanya," tawar Alden.
"Boleh boleh," Jeevan mengangguk setuju dan memberikan tas yang ia bawa itu kepada asistennya.
Akhirnya Jeevan memang membiarkan Alden serta Fritzy ikut bersamanya, meskipun awalnya ia ragu untuk membawa mereka karena khawatir papa atau mamanya tidak akan mengizinkannya. Namun, Jeevan juga merasa butuh bantuan orang untuk mengurusi kehidupannya.
"Bos, kita istirahat aja dulu bos di depan sana tuh. Kelihatannya bos juga capek banget, biar sekalian nanti saya beliin minum," ucap Alden.
"Iya bos, ini teman saya juga masih belum balas pesan dari saya," sahut Fritzy.
"Okay, kalo gitu Alden beli minum dan kamu temani saya disini Fritzy," ucap Jeevan.
"Siap bos!" ucap Alden dan Fritzy bersamaan.
Setelah Alden pergi membeli minum, tak lama seorang pria muncul menghampiri Jeevan dan Fritzy yang sedang terduduk berdua.
"Halo mister Jeevan!" sapa pria itu pelan.
Sontak Jeevan dan Fritzy menoleh ke asal suara, mereka terkejut bukan main melihat sosok pria tersebut berdiri menatap ke arah mereka. Bahkan Jeevan langsung reflek bangkit dari duduknya.
"Oh tuan Erick, kita ketemu lagi disini. Apa kabar?" ucap Jeevan mencoba ramah.
"Tidak usah basa-basi, saya ingin bertanya apa kamu sudah bertemu dengan Tom dan Dinda? Dimana mereka sekarang?" ujar Erick.
"Hahaha, selalu saja itu yang anda tanyakan tuan Erick. Saya sampai bosan loh dengarnya, apa gak ada pertanyaan lain?" ucap Jeevan.
"Sudahlah kamu jawab saja dan kasih tahu saya dimana mereka!" pinta Erick.
"Saya gak tahu, saya juga sudah tidak ada urusan lagi dengan mereka. Lebih baik anda cari tahu saja sendiri dimana mereka, karena saya tidak pernah bertemu mereka lagi sejak lama," ucap Jeevan.
"Jangan bohong kamu Jeevan! Saya tidak senang dengan orang pembohong!" tegas Erick.
Jeevan menggeleng seraya membuang muka, "Buat apa saya bohong? Anda lihat kan sekarang saya disini sama siapa? Dia anak buah saya, dan kami sudah tidak ada hubungannya lagi dengan bisnis haram itu," ucapnya.
Fritzy sontak bangkit dan mendekati kedua pria itu, ia mencoba membantu Jeevan meyakinkan Erick bahwa mereka memang sudah tidak menjadi bagian bisnis papanya Jeevan.
"Iya betul pak, bos Jeevan sudah keluar dari bisnis itu. Bapak percaya aja sama bos Jeevan," sahut Fritzy dengan wajah serius.
"Kamu gausah ikut campur, kamu cuma anak buah yang pastinya ikutin perintah atasan kamu. Jadi, ya saya tetap gak percaya sama kalian!" ucap Erick.
"Tapi pak, bos Jeevan emang udah gak di bisnis itu lagi. Bapak bisa pegang kata-kata saya kalau bapak mau," ucap Fritzy tegas.
"Sudahlah, saya gak mau dengar ucapan itu lagi dari mulut kalian. Sekarang saya minta kamu buat serahkan Dinda ke saya dalam 24 jam, kalau tidak akan saya ratakan markas kamu itu!" ucap Erick mengancam.
Jeevan pun terkejut mendengarnya, Erick tampaknya memang tak main-main dengan ucapannya.
•
•
Disisi lain, Aulia masih bersama Victor hingga hari sudah malam. Mereka baru saja selesai menikmati makan malam dan juga berbelanja di sebuah mall sesuai ajakan Victor, tentu Aulia mau-mau saja mengikuti semuanya sebab ia memang senang sekali belanja seperti itu.
Kini mereka pun kembali ke mobil, Victor menatap bahagia ke arah Aulia yang tengah tersenyum melihat barang-barang belanjaannya. Victor sungguh senang sekali bisa bersama Aulia seperti sekarang, apalagi ia masih yakin kalau gadis itu adalah adiknya yang selama ini ia cari-cari.
"Aulia, kamu senang gak aku ajak belanja dan makan malam kayak gini? Kalau iya, kapan-kapan mau ya ikut sama aku lagi?" tanya Victor.
"Umm aku sih senang banget kak, apalagi dibelanjain begini. Mana banyak banget lagi yang kamu beliin, makasih banyak ya kak Victor ganteng!" jawab Aulia.
"Hahaha, bagus deh kalau kamu suka. Kapan-kapan mau kan ikut aku lagi?" ucap Victor.
Aulia mengangguk sambil tersenyum, "Iya mau, tinggal bilang aja kapan kamu mau ajak aku pergi. Nanti pasti aku ikut deh sama kamu," ucapnya.
"Oh ya, rumah kamu dimana? Biar aku antar kamu pulang sekarang, soalnya udah malam nih gak baik perempuan di luar terus," ucap Victor.
"Eee aku tinggal gak jauh kok dari sini, nanti aku arahin sambil jalan kak," ucap Aulia.
"Okay, boleh gak nanti aku ketemu sama orang tua kamu? Aku mau kenalan aja sama mereka gitu," tanya Victor.
"Buat apa kak? Kamu mau tanya ke orang tua aku apa aku adik kamu atau bukan?" ujar Aulia.
"Ah gak kok, aku cuma pengen kenalan aja. Kamu gausah khawatir Aulia, aku gak akan bahas soal itu ke mereka secepat ini. Aku pasti harus coba akrab dulu sama orang tua kamu," ucap Victor.
__ADS_1
"Oh yaudah, tapi ada satu hal yang mau aku kasih tahu ke kamu kak," ucap Aulia.
"Apa itu?" tanya Victor penasaran.
"Iya jadi tuh aku bukan anak kandung orang tua aku yang sekarang, kak. Aku sebenarnya dulu tinggal di panti asuhan dan aku diadopsi," jawab Aulia.
Victor langsung terkejut mendengar pernyataan Aulia, seketika dugaannya kalau Aulia adalah adiknya semakin kuat. Namun, Victor masih belum bisa meyakini dirinya sendiri bahwa gadis di sampingnya itu memang benar-benar adiknya.
"Oh begitu, terus kamu di panti asuhan itu sejak umur berapa? Kamu ingat gak Aulia?" tanya Victor.
"Eee agak-agak lupa sih kak, soalnya waktu itu aku masih kecil. Tapi, kayaknya sekitar lima atau enam tahun deh," jawab Aulia.
"Lima atau enam tahun? Terus kamu dibawa ke panti asuhan itu sama siapa?" tanya Victor lagi.
"Gak tahu sih kak, tiba-tiba pas bangun waktu itu aku udah disana. Makanya aku juga bingung kenapa aku bisa ada di panti asuhan," jawab Aulia.
"Ohh, tapi kamu beneran gak ingat siapa keluarga kandung kamu?" tanya Victor.
Aulia menggeleng dengan wajah cemberut, Victor pun menghela nafas memaklumi kondisi Aulia yang belum bisa mengingat masa kecilnya. Victor juga tak mau memaksakan Aulia untuk mengingat semuanya, karena ia khawatir gadis itu justru malah merasa terganggu dengannya.
•
•
Keesokan harinya, Queen terkejut melihat Dinda keluar dari kamarnya dengan pakaian rapih dan membawa tas tenteng di tangannya. Queen pun bangkit dari sofa, lalu menghampiri Dinda dengan wajah penasaran, tak biasanya Dinda berpakaian rapih seperti itu seolah hendak pergi.
"Eh Din, lu mau kemana dah rapih banget kayak gini? Pengen pergi lu?" tanya Queen penasaran.
"Ah iya nih Queen, gue gak enak banget udah ngerepotin lu terus selama ini. Gue kayaknya mau cari tempat penginapan dekat sini aja deh buat tidur," jawab Dinda.
"Hah apa??" Queen terkejut bukan main, ia tak mengira Dinda akan pergi dari rumahnya seperti ini.
"Lo jangan ngada-ngada deh Dinda ah! Gue gak izinin pokoknya kalo lu mau pergi dari rumah gue!" tegas Queen.
Dinda tersenyum santai, "Gue makasih banget sama lu Queen karena lu udah sering bantu gue, tapi serius kali ini gue mau pergi dari sini," ucapnya.
"Haish, ayolah jangan kayak gini Dinda! Sumpah deh gue gak suka banget lu mau pergi, udah sih lu disini aja sama gue elah!" ucap Queen.
"Gak bisa Queen, gue gak mau ngerepotin lu terus. Apalagi Tom juga sering banget datang kesini, itu yang bikin gue gak betah Queen," ucap Dinda.
"Ohh, jadi alasannya gara-gara si cowok ngeselin itu?" tanya Queen memastikan.
Dinda mengangguk lemah, "Itu salah satunya Queen, tapi yang utama ya gue gak mau bikin lu repot terus karena harus ngurus gue," jawabnya.
"Lu gak perlu bicara begitu, gue gak repot kok kalo harus jagain lu," ucap Queen.
"Gak gak gak, pokoknya gue tetap gak bakal izinin lu buat pergi dari sini! Titik gak pake koma!" tegas Queen.
"Tapi Queen—" ucapan Dinda terpotong karena tiba-tiba Jago datang menemui mereka.
"Permisi nona, gawat nona ada masalah di depan!" ucap Jago dengan nafas terengah-engah.
Queen sontak terkejut dan menampakkan wajah cemasnya, "Hah? Masalah apa?" tanyanya penasaran.
"I-i-iya non, itu si Tom maksa masuk ke dalam buat ketemu sama nona Dinda," jawab Jago.
"Lah jadi ternyata dia balik lagi kesini terus maksa buat masuk? Ya ampun, tuh orang emang gak ada kapoknya ya! Yaudah, suruh dia masuk biar kita yang bicara sama dia!" ucap Queen.
"Baik nona!" ucap Jago patuh.
Setelahnya, Jago langsung pergi ke luar menemui Tom yang sudah berteriak-teriak meminta untuk masuk ke dalam rumah itu agar bisa menemui Dinda. Sedangkan Dinda sendiri merasa heran dengan keputusan Queen, ia pun beralih menatap wanita itu dan menunjukkan wajah herannya.
"Queen, lu kenapa malah suruh si Jago buat bawa Tom masuk? Kalau dia macam-macam gimana?" tanya Dinda.
"Udah santai aja, gue bakal hadapin tuh cowok supaya dia gak ganggu lu terus!" ucap Queen dengan pede.
Dinda manggut-manggut saja dengan ucapan Queen, lalu tak lama Tom muncul dan langsung meneriaki namanya sembari berjalan mendekati ke arahnya.
"Dinda!" teriak Tom dengan lantang yang membuat kedua wanita itu terkejut.
•
•
TOK TOK TOK...
"Misi bos!" Fritzy mengetuk pintu kamar bosnya dari luar, ia membawa nampan berisi makanan serta minuman untuk bosnya itu.
Tak lama kemudian, Jeevan pun membuka pintu dan keluar menemui Fritzy. Namun, Fritzy sangat kaget melihat kondisi Jeevan yang saat ini sedang mabuk berat dan meracau tidak jelas.
"Eengghh ada apa? Kamu tahu gak sih kalau kamu tuh ganggu momen istirahat saya?" ujar Jeevan.
"Umm, ini bos saya cuma mau bawakan sarapan buat bos. Pasti bos lapar kan baru bangun tidur? Makanya saya antar kesini," ucap Fritzy.
"Oh bagus, ayo masuk dan bawa itu ke dalam!" suruh Jeevan sembari melebarkan pintu.
"I-i-iya bos," Fritzy tampak sedikit gugup saat melangkah masuk ke kamar tempat Jeevan berada, jujur saja ia takut saat berduaan dengan pria yang sedang mabuk seperti itu.
Fritzy bertambah takut saat Jeevan menutup pintu dan menguncinya, apalagi pria itu sudah semakin mabuk seolah tak mengenali dirinya. Gadis itu masih berusaha tenang, walau suasana jantungnya sudah tak karuan akibat Jeevan. Kini mereka berada di ruang tv, tampak Jeevan langsung terduduk di sofa dan menenggak kembali minuman beralkohol di atas meja itu.
__ADS_1
"Bos, makanan sama minumannya saya taruh dimana ya?" tanya Fritzy sedikit grogi.
"Eee di meja aja, terus kamu duduk sini samping saya!" jawab Jeevan.
Fritzy mengangguk pelan, ia meletakkan nampan tersebut di atas meja dan duduk di sebelah Jeevan sesuai perintah bosnya itu. Ia menjaga jarak agar tidak terlalu dekat dengan Jeevan, tapi yang terjadi justru pria itu menariknya dan malah merangkul pundaknya.
"Kamu kenapa cantik banget sih, hm?" ucap Jeevan sembari mengusap rambut Fritzy, namun yang ada di penglihatannya saat ini adalah sosok Queen yang ia cintai.
"Bos, sa-saya pergi aja ya bos? Saya gak mau sesuatu terjadi, soalnya saya beneran belum pernah sentuhan sama cowok," panik Fritzy.
"Eits, kamu gak boleh pergi sayang. Kamu harus tetap disini sama saya, pokoknya saya akan bikin kamu puas Queen!" ucap Jeevan yang sudah mengecup pipi Fritzy.
Seketika Fritzy melongok, belum pernah ada pria yang menciumnya sebelum ini. Jujur saja ia bingung harus apa, di satu sisi ia senang dengan sentuhan ini, tetapi ia juga kecewa karena ternyata Jeevan melihatnya bukan sebagai Fritzy, tapi sebagai Queen.
"Bos, saya bukan nona Queen. Saya ini Fritzy anak buah bos, nanti kalau bos apa-apain saya takutnya bos nyesel loh," ucap Fritzy berusaha berontak.
Namun, Jeevan malah semakin mendekapnya dengan erat dan terus menciumi lehernya. Fritzy sudah mulai merasakan sensasi yang aneh, ia berontak pun percuma dan akhirnya memilih pasrah saja pada apa yang dilakukan Jeevan.
"Kamu menggoda sekali sayang, saya jadi gak tahan buat masukin kamu!" goda Jeevan.
Fritzy melongok lebar, bisa dipastikan saat ini ia benar-benar gugup. Jeevan juga langsung mengangkat tubuhnya secara paksa dan membawanya ke kamar, pria itu membaringkan tubuh Fritzy di atas ranjang dan mulai menerjangnya dengan membabi buta. Ya hilang lah keperawanan Fritzy yang sudah lama ia jaga untuk suaminya kelak.
Disaat Fritzy tengah menangis menyesali semuanya, dan Jeevan juga sudah tertidur lemas akibat pertempuran panas mereka, tiba-tiba pintu kamar itu diketuk dari luar dan suara pria membuat Fritzy seketika menghapus air matanya.
TOK TOK TOK...
"Bos, ini saya Alden bos. Bisa tolong buka pintunya sebentar bos?" teriak Alden dari luar.
•
•
Disisi lain, Aqila mendatangi markas bekas tempat putranya bertugas sebelum memutuskan untuk mengundurkan diri. Ia datang kesana bersama suaminya setelah mendapat kabar bahwa Jeevan telah pergi dari sana, tentu Aqila tak percaya jika Jeevan benar-benar akan pergi dan keluar dari bisnis keluarga mereka.
Keduanya tiba disana pagi ini, Aqila menatap bangunan besar tersebut dengan mata berkaca-kaca seolah menunjukkan kesedihan yang ia rasakan. Tapi tidak dengan Dean, lelaki itu malah bersikap biasa saja seolah dirinya tak merasa kehilangan sosok Jeevan.
"Ma, sudahlah mama gak perlu menangisi anak yang gak tahu diri kayak Jeevan itu! Duh, papa aja malas banget sebut namanya!" ujar Dean.
"Pa, jangan gitu dong! Biar gimanapun Jeevan itu tetap anak kandung kita," ucap Aqila.
"Itu bagi mama, tapi papa sudah gak anggap dia anak kandung papa. Coba deh anak mana yang tega tinggalin orangtuanya cuma demi perempuan? Dia tuh gak pantas disebut sebagai anak, ma!" tegas Dean.
"Mama tau, tapi kan—"
"Sudahlah ma, papa malas berdebat tentang dia. Itu gak penting tau! Lebih baik kita masuk dan cek kondisi di dalam," sela Dean.
"I-i-iya pa," Aqila menurut saja karena ia tak berani membantah ucapan suaminya.
Mereka pun masuk ke dalam, dan disana mereka bertemu dengan Surya serta Rezham yang tampak membawa sejumlah makanan juga minuman di tangan mereka masing-masing.
"Hey hey, tunggu!" ujar Dean.
"Hah bos besar? Iya bos, ada apa ya?" tanya Rezham dengan gugup.
"Itu makanan buat siapa? Terus kenapa kalian kaget gitu lihat saya datang?" ujar Dean.
"Eee gak kok bos, kita tadi kan lagi bawa makanan ini dan gak sadar kalau ada bos, jadi makanya kita reflek kaget gitu," ucap Rezham.
"Terus itu makanan buat dikasih ke siapa? Kalau mau makan, disini kan bisa," ucap Dean.
"Masalahnya ini bukan buat kita bos, tapi buat—awhh!!" ucapan Surya terpotong karena Rezham tiba-tiba menginjak kakinya.
"Lo jangan kasih tau ke bos besar, dasar bodoh!" bisik Rezham di telinga Surya.
Surya langsung terdiam begitu mendengarnya, ia merasa bersalah karena hampir saja membongkar rahasia Jeevan yang telah menyembunyikan Caitlyn di dalam rumah itu.
"Ada apa sih? Kenapa kalian bisik-bisik? Terus tadi kamu mau bilang apa Surya?" tanya Dean.
"Eee enggak kok bos, saya gak mau bilang apa-apa. Biar Rezham aja yang bicara bos," bohong Surya masih sedikit gugup.
"Yang benar? Kamu jangan sembunyikan sesuatu dari saya loh ya! Kamu tahu kan saya siapa? Saya bisa loh habisi kalian berdua disini," ucap Dean.
"I-i-iya bos, kita gak mungkin lah kayak gitu sama bos besar," ucap Rezham.
"Yasudah, sekarang jelaskan ke saya ada apa! Kenapa kalian kelihatan gugup begitu? Pasti ada sesuatu kan di tempat ini?" tanya Dean.
"Eee eee..." kedua pria itu terlihat gugup dan tak berani berbicara.
Praaangg
Tiba-tiba saja terdengar sebuah suara seperti barang jatuh dari arah kamar kosong di rumah itu, sontak Aqila serta Dean terkejut bukan main mendengar suara tersebut.
"Hah? Itu suara apa? Bukannya kamar itu kosong ya?" heran Dean.
Deg!
...~Bersambung~...
...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...
__ADS_1