
#Terjebak Gairah Sang Mafia 2
Jeevan terkejut
•
•
Queen menggeleng, "Aku malas sama dia, jadi dia tuh tadi ngerjain aku tau. Dia gak bilang kalau cowok cewek berangkat bareng ke kampus itu dianggap pacaran, padahal kan aku sama dia gak ada hubungan apa-apa," ucapnya.
"Serius kamu gak pacaran sama Andro? Aku malah ngiranya begitu loh, soalnya udah beredar kemana-mana tuh berita," ucap Fahrul.
"Hah? Ya ampun, kok bisa secepat itu sih kesebarnya?" kaget Queen.
"Ya begitulah disini Queen, ada kabar heboh apapun itu pasti cepat kesebar. Apalagi Andro kan idola kampus," ucap Fahrul.
"Sialan emang tuh orang! Awas aja kalo aku ketemu lagi sama dia nanti!" geram Queen.
"Sabar Queen! Gimana kalau kamu pulang bareng aku aja? Tenang, kalo pulang mah gak akan disangka pacaran kok!" ucap Fahrul menawarkan.
"Seriusan nih kamu mau antar aku pulang? Ada bayarannya gak?" tanya Queen.
Fahrul terkekeh dan menggeleng pelan, "Ya gak ada lah Queen, kamu kira aku ini supir taksi apa yang suka minta bayaran? Tenang aja, aku antar kamu gratis kok!" ucapnya.
"Oke, awas ya kalo nanti tiba-tiba kamu minta bayaran sama aku!" ucap Queen mengancam.
"Santai Queen, kamu kayak baru kenal aku beberapa hari aja!" ucap Fahrul.
"Ya emang kan? Baru juga sekitar tujuh hari kita kenalan," ucap Queen.
"Hehe, iya juga ya? Tapi, aku ini orangnya gak pernah minta bayaran kalau aku anterin orang lain. Apalagi kamu itu teman aku," ucap Fahrul.
"Yaudah, ayo buruan dah kamu anterin aku sebelum Andro muncul!" pinta Queen.
Fahrul mengangguk setuju, lalu mereka pun melangkah menuju tempat parkir bersama-sama. Sesampainya disana mereka langsung masuk ke mobil Fahrul dan memasang seat belt, Queen tersenyum menatap wajah Fahrul yang sedang mengendarai mobilnya.
"Kenapa kamu senyum-senyum gitu? Naksir sama aku?" tanya Fahrul sedikit menggoda.
"Hah apaan? Sembarangan aja kalo ngomong, aku—" ucapan Queen terjeda karena tiba-tiba Fahrul menginjak rem secara mendadak.
Ciiittt
"Ya ampun Fahrul! Kamu tuh kenapa sih ngerem mendadak? Ada apaan?" protes Queen.
"Maaf Queen, tapi itu tuh si Andro tiba-tiba nongol di depan!" ucap Fahrul menunjuk ke depan.
"Hah??" Queen reflek mengarahkan pandangannya ke tempat yang ditunjuk Fahrul, dan benar saja terdapat Andro tengah berdiri disana sembari merentangkan tangannya.
"Mau ngapain sih tuh orang? Jangan-jangan dia tahu lagi kalau aku ada disini," gumam Queen.
"Kayaknya iya, mending kamu turun deh terus temuin dia dan bicara langsung!" usul Fahrul.
Queen mengangguk pelan menyetujui usul dari Fahrul itu, lalu ia turun dari mobil untuk menemui Andro yang sudah berdiri di depannya. Andro langsung tersenyum lebar melihat Queen muncul, ia pun ikut bergerak mendekati wanita itu sambil berupaya membelai rambutnya.
__ADS_1
Namun, dengan cepat Queen menghindar karena ia sudah bersumpah tidak mau lagi disentuh atau dipegang oleh lelaki itu. Semenjak kejadian tadi pagi, Queen sudah tidak ingin dekat dengan Andro walau hanya sebentar. Queen merasa Andro bukan lah lelaki yang baik dan suka menipunya.
"Kamu kenapa menghindar sih Queen? Kamu masih marah sama aku gara-gara kejadian tadi?" tanya Andro sambil menghela nafasnya.
"Kayaknya gak perlu aku jawab deh, kamu pasti udah tau apa alasannya. Jadi, sekarang kamu mending minggir karena aku mau pulang!" ucap Queen.
"Oh kamu mau pulang, kenapa gak bareng aku aja Queen? Tadi aja kamu berangkatnya sama aku, masa pulangnya malah sama si Fahrul itu?" ucap Andro sedikit jengkel.
Queen memutar bola matanya dan hendak pergi, tetapi Andro malah mencekal lengannya.
•
•
Disisi lain, Jeevan tak sengaja berpapasan dengan Fritzy serta Alden yang baru kembali dari rumah sakit memeriksa kondisi wanita itu. Jeevan pun menatap bingung ke arah mereka berdua, ia tak mengerti apa yang terjadi pada Fritzy sampai harus dituntun oleh Alden.
Sementara Fritzy dan Alden belum menyadari keberadaan Jeevan disana, mereka terus berjalan dengan tangan Alden memegangi pinggang serta telapak tangan Fritzy untuk membantunya dalam berjalan. Barulah ketika hendak masuk, mereka sadar bahwa Jeevan tengah berdiri di depan sana.
"Eh bos Jeevan?" Alden mendongak lalu tersenyum ketika Jeevan memberikan tatapan tajam kepadanya.
"Kalian pada abis darimana? Terus kenapa Fritzy pake kamu tuntun segala? Emangnya dia gak bisa jalan sendiri apa?" Jeevan langsung melontarkan cukup banyak pertanyaan pada mereka.
"Eee iya bos, Fritzy emang lagi sakit. Kita baru aja dari rumah sakit buat cek kondisi Fritzy," jawab Alden.
"Sakit? Kamu sakit apa Fritzy? Kenapa gak ada yang kasih tahu saya sebelumnya?" tanya Jeevan tampak panik.
"Tenang bos, saya gapapa kok!" ucap Fritzy.
"Enggak bos, beneran saya baik-baik aja. Saya juga masih bisa kerja kok," ucap Fritzy.
"Ngaco aja kamu! Udah biar saya yang bawa Fritzy ke kamar, Alden kamu urus aja pekerjaan Fritzy karena dia harus istirahat!" perintah Jeevan.
"Baik bos!" Alden menurut dan menyerahkan Fritzy sepenuhnya kepada Jeevan, meski Fritzy tampak malu-malu saat Jeevan merangkulnya.
Setelah Alden pergi, kini Fritzy menundukkan wajahnya yang memerah karena Jeevan masih merangkul serta menatapnya. Entah kenapa Fritzy merasa sangat gugup saat Jeevan menatap wajahnya dari jarak dekat seperti ini, seketika rasa mual yang ia rasakan pun hilang.
"Kamu sebenarnya sakit apa Fritzy? Sampai kamu kelihatan pucat dan lemas kayak gini, kasih tau aja ke saya biar saya bisa bantu rawat kamu!" ucap Jeevan.
Deg!
Jantung Fritzy berdebar sangat kencang mendengar kalimat perhatian yang dilontarkan pria itu padanya, ia masih tak menyangka kalau Jeevan akan mengatakan itu. Fritzy pun semakin salah tingkah dibuatnya, ia bergetar sampai Jeevan bisa merasakan getaran itu.
"Kenapa kamu malah gugup begini? Saya kan cuma tanya, kamu ya tinggal jawab!" ucap Jeevan.
"Ma-maaf bos, saya beneran gak sakit apa-apa kok. Saya tadi cuma masuk angin aja kata dokter, selebihnya saya baik-baik aja," ucap Fritzy.
"Kamu gausah bohong, katakan aja yang sejujurnya sama saya Fritzy!" sentak Jeevan.
"Umm, ta-tapi saya sudah jujur kok pak. Saya juga gak mungkin berani bohongin bos," ucap Fritzy.
Jeevan memutar bola matanya, "Yasudah, ayo saya gendong kamu ke kamar!" ucapnya tiba-tiba.
"Hah? Ge-gendong...??" Fritzy melongok lebar seolah tak percaya, tapi sesaat kemudian tubuhnya sudah melayang di atas tubuh Jeevan yang menggendongnya dengan ala bridal style.
__ADS_1
"Bos, kenapa bos pake gendong saya segala? Sa-saya masih bisa jalan sendiri kok," ucap Fritzy.
"Udah jangan banyak bicara! Saya cuma gak pengen kamu kenapa-kenapa, jadinya saya gendong kamu!" ucap Jeevan.
"Ta-tapi bos.." Jeevan tak mendengarkan ucapan Fritzy, pria itu malah berjalan dan membawa Fritzy ke kamarnya.
•
•
Setibanya di kamar, Jeevan langsung menidurkan Fritzy di atas ranjang sembari memakaikan selimut di tubuhnya yang menutupi setengah tubuh wanita itu. Jeevan benar-benar memperlakukan Fritzy dengan baik, seolah Fritzy adalah istri yang harus ia beri perhatian dan kasih sayang.
Fritzy yang mendapat perlakuan selembut itu pun dibuat makin tak karuan, ia terus berusaha menyembunyikan wajah merahnya dari sang bos. Namun, tampaknya Jeevan telah mengetahui itu dan langsung tersenyum saat Fritzy menutupi wajahnya dengan telapak tangan.
"Kamu gak perlu malu gitu, wajar aja saya giniin kamu karena saya kan yang sudah merenggut mahkota kamu waktu itu. Jujur aja saya masih menyesal telah melakukan itu ke kamu," ucap Jeevan.
"Jadi, apa bos lakuin hal ini untuk menebus kesalahan bos ke saya?" tanya Fritzy memastikan.
"Ya gitu deh, tapi karena saya juga perduli sama kamu sih. Saya gak mau karyawan saya yang paling cantik dan pekerja keras ini sakit, nanti bisnis saya bisa makin terpuruk," kekeh Jeevan.
"Duh, bos jangan gitu dong kan saya jadi salting!" ucap Fritzy malu-malu.
"Kamu santai aja kali! Sekarang kamu bisa kasih tau saya apa sebenarnya sakit kamu, biar saya tahu apa yang harus saya lakuin!" ucap Jeevan.
"Eee saya emang gak sakit bos, kenapa bos terus paksa saya buat bilang saya sakit apa?!" ujar Fritzy.
"Gak mungkin kamu gak sakit, buktinya kamu lemas banget kayak gini. Kecuali kalau kamu habis main seperti waktu itu sama saya, tapi nyatanya enggak kan?" ucap Jeevan tersenyum.
"Bos yang bener aja dong, masa iya aku berbuat yang kayak gitu? Aku ini perempuan baik-baik bos, waktu itu aja kan aku bukan kepengen tapi bos yang paksa aku," ucap Fritzy cemberut.
"Hahaha, ya saya tahu itu Fritzy. Makanya saya sangat menyesal karena sudah mengambil kesucian kamu secara paksa waktu itu, maafkan saya ya Fritzy?" ucap Jeevan.
"Gapapa bos, yang berlalu biarlah berlalu. Kita sama-sama menatap ke depan aja untuk saat ini, gak perlu balik lagi kesitu," ucap Fritzy.
"Kalau begitu katakanlah apa penyakit kamu sebenarnya Fritzy! Kenapa kamu bisa sampai masuk rumah sakit dan lemas begini?" pinta Jeevan.
Fritzy pun kembali dibuat gugup, ia bingung apakah harus ia katakan yang sejujurnya pada Jeevan tentang kehamilannya atau tidak. Ia yakin sekali anak yang ia kandung ini adalah anak dari Jeevan, sebab ia tak pernah bermain dengan siapapun lagi selain Jeevan seorang.
Lalu, tanpa diduga Jeevan menemukan sebuah surat yang ada di tangan Fritzy. Karena penasaran, Jeevan mengambil surat tersebut begitu saja sampai membuat Fritzy syok. Ya itu merupakan surat dokter yang berisi keterangan mengenai kehamilan Fritzy yang berusia tiga Minggu itu.
"Ini pasti hasil tes medis kamu kan? Saya mau lihat, saya pengen tahu kamu itu sakit apa sih," ucap Jeevan.
"Bos, jangan bos!" mohon Fritzy.
"Ah diam kamu Fritzy? Saya cuma mau lihat kok, kenapa kamu kayak ketakutan gitu? Saya jadi makin penasaran tau," ucap Jeevan sembari membuka surat tersebut.
Fritzy hanya bisa pasrah saat surat itu sudah terbuka, Jeevan membacanya dan seketika matanya melotot lebar melihat isi surat tersebut.
"Ka-kamu hamil??" lirih Jeevan.
...~Bersambung~...
...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...
__ADS_1