Jerat Cinta Sang Mafia

Jerat Cinta Sang Mafia
Bab 63. Caitlyn diculik?


__ADS_3

#Terjebak Gairah Sang Mafia 2


Caitlyn diculik?




"Hah??" Nina langsung menganga lebar terkejut bukan main setelah mendengar jawaban pria itu.


Gadis itu pun beralih menatap wajah Aulia, seolah meminta penjelasan darinya terkait perkataan yang dilontarkan Victor. Tentunya Nina masih tak percaya jika Victor adalah kakak dari Aulia, padahal selama ini Aulia tidak pernah bercerita kalau dia memiliki seorang kakak yang tampan.


"Aul, seriusan yang dibilang si Victor ini? Emang dia kakak lu?" tanya Nina penasaran.


"Enggak Nin, itu baru dugaan dia aja. Gue masih belum yakin kalau dia saudara gue," jawab Aulia.


"Tapi saya yang yakin kalau kamu emang adik saya, Aulia. Saya juga yakin dugaan saya ini gak salah, karena kamu memang adik yang selama ini saya cari-cari," sela Victor.


"Iya Vic, tapi kan kamu belum ada bukti yang menunjukkan kalau aku emang adik kamu. Jadi, wajar dong kalau aku belum percaya?" ucap Aulia.


"Untuk kali ini gapapa, nanti aku akan cari bukti yang kuat supaya kamu percaya kalau kamu itu adik aku. Sekarang kamu mau kan ikut sama aku sebentar aja?" ucap Victor.


"Umm, iya mau kok. Kita bicara di tempat kemarin kan?" tanya Aulia.


Victor hanya mengangguk sebagai jawaban, lalu Aulia pun tersenyum dan berjalan ke dekat Victor untuk ikut bersama pria itu. Namun, tiba-tiba Nina menahan tangan Aulia seolah tak membiarkan gadis itu untuk pergi meninggalkannya.


"Ih Aul, lu mau kemana sih? Masa gue ditinggal gitu aja? Gak solid banget lu jadi kawan!" protes Nina.


"Eee..." Aulia pun terlihat bingung.


"Aulia cuma mau bicara sama saya sebentar aja, please ya kamu ngertiin dia! Abis itu nanti dia bakal balik lagi kok temuin kamu," sela Victor coba memberi penjelasan pada Nina.


"Yah yaudah deh gapapa, asal lu jangan apa-apain sohib gue ini ya!" ucap Nina.


"Pasti dong, mana berani saya apa-apakan Aulia? Dia itu kan adik saya, jadi ya saya sebagai kakak harus selalu jaga dia dong," ucap Victor.


"Iyain, yaudah gue cabut duluan ya Aul? Kalo lu butuh gue, cari aja gue di tempat biasa!" ujar Nina.


"Sip!" Aulia mengacungkan jempolnya dan mengedipkan mata ke arah sang sahabat.


Lalu, Nina pun pergi setelah berpamitan pada Aulia serta menitipkan gadis itu pada Victor. Meski Nina sebenarnya penasaran sekali ingin tahu apa yang dibicarakan kedua orang itu, tapi tentunya Nina tak mau terlalu ikut campur.


"Aulia, yuk kita pergi sekarang mumpung Nina udah jauh!" ajak Victor.


"Iya kak," singkat Aulia yang langsung membuat Victor meremang sendiri.


Baru kali ini Victor merasakan bulu kuduknya berdiri disaat Aulia memanggilnya dengan sebutan kak, sungguh Victor hampir ingin meneteskan air mata jika ia tidak bisa menahannya.


"Kenapa kak?" tanya Aulia bingung.


"Eh eee gak kok, aku cuma kaget aja dengar kamu panggil aku kak. Biasanya kan kamu panggil aku nama aja," jawab Victor.


"Ahaha, iya maaf kak soalnya aku baru sadar kalau langsung panggil nama tuh gak sopan," ujar Aulia.


"Makasih ya Aulia?" ucap Victor dengan mata berkaca-kaca.


Aulia mengernyit heran, "Makasih untuk apa ya kak?" tanyanya tak mengerti.


"Makasih karena kamu sudah mau bikin aku senang dengan cara kamu panggil aku kak, seperti dulu adik aku kalo manggil aku," jelas Victor.


"Ohh, iya sama-sama kak. Kalo gitu ayo kita pergi sekarang kak!" ujar Aulia.


"Ah iya iya.." Victor mengusap air matanya dan beranjak pergi bersama Aulia untuk berbincang berdua.




Dinda mengangguk kecil sambil tersenyum tipis, lalu melangkah bersama Reza ke luar dari rumah. Dinda sudah menyiapkan segalanya, hari ini ia ingin membeli barang yang lupa ia beli sebelumnya saat belanja bersama Queen. Sedangkan Reza juga tampak sangat siap untuk mengantar wanita itu.


Saat melaju ke luar dengan mobil yang dikendarai Reza, tiba-tiba saja Dinda justru melihat sosok Tom tengah berdiri di dekatnya dan seolah menghalangi laju mobil mereka. Tentu saja Dinda merasa jengkel dan tidak suka dengan keberadaan Tom disana, ini kesekian kalinya pria itu mengganggu hidupnya.


"Ish, ngapain sih tuh orang masih aja datang kesini? Gue heran deh, padahal gue udah usir dia berulang kali dan minta dia buat gak datang kesini!" geram Dinda dengan tangan terkepal.


"Sabar nona! Biar saya aja yang turun dan seret dia pergi dari rumah ini," ucap Reza.


"Ja-jangan!" Dinda malah mencegah Reza yang hendak turun menemui Tom.


"Loh kenapa nona? Bukannya nona tidak ingin bertemu dengan pria itu?" tanya Reza heran.


"Ya emang iya, tapi gausah diseret juga. Gue aja yang turun deh temuin dia, semoga aja dia bisa diajak bicara baik-baik!" jelas Dinda.


"Nona yakin?" tanya Reza ragu.


"Yakin lah, gue udah biasa kali bicara sama dia!" jawab Dinda mantap.


Akhirnya Dinda turun dari mobil dan melangkah mendekati Tom, tampak Tom langsung tersenyum lebar lalu turut berjalan ke arah Dinda. Keduanya berhenti dan saling menatap satu sama lain selama beberapa detik, sebelum akhirnya Tom yang memulai pembicaraan lebih dulu.


"Hai Dinda! Kamu mau kemana?" ucap Tom.


"Aku mau kemana itu bukan urusan kamu Tom, kamu gak perlu tau. Sekarang mending kamu pergi dan jangan pernah temui aku lagi!" ujar Dinda.


"Kamu itu kenapa sih Dinda? Kayaknya kamu benci banget sama aku, padahal aku udah berulang kali minta maaf sama kamu loh. Ayolah, kamu jangan begini terus dong sayang!" ucap Tom.

__ADS_1


"Apanya? Kamu sendiri kan yang bikin aku benci sama kamu? Buat apa lagi aku maafin kamu coba?" ucap Dinda kesal.


"Ya aku tahu Dinda, tapi aku kan udah minta maaf dan menyesali semua perbuatan aku. Masa iya kamu gak bisa maafin aku?" ucap Tom.


"Aku udah gak punya perasaan lagi ke kamu Tom, dan buat aku, kamu ya cuma cowok yang nyebelin dan bikin aku kesal. Lebih baik kamu pergi sekarang, atau aku akan suruh orang buat usir kamu!" ujar Dinda.


"Kamu mau pergi kemana Dinda? Biar aku antar kamu ya?" ucap Tom mengalihkan pembicaraan.


"Apa sih? Aku gak butuh perhatian dari kamu, aku bisa pergi sendiri tanpa bantuan kamu! Kamu udah kecewain aku, dan aku gak akan semudah itu maafin kamu!" tegas Dinda.


"Okay, gini deh gimana caranya supaya kamu bisa maafin aku?" tanya Tom.


Dinda menggeleng pelan, "Gak ada satupun cara yang bisa kamu lakukan untuk dapat maaf dari aku, karena sampai kapanpun aku gak akan pernah maafin kamu!" ucapnya.


Tom tersentak mendengarnya, rasanya sangat sakit saat Dinda berkata seperti itu. Sedangkan Dinda tak perduli sama sekali dan memilih berbalik lalu berniat pergi, namun Tom kembali menahan wanita itu dengan mencekal lengannya.


"Tunggu dulu Dinda! Kamu jangan pergi!" ucap Tom dengan tegas.




Aqila hanya mengangguk pelan, Queen pun kembali ke dalam kamar rawat itu meninggalkan Aqila disana tanpa menutup pintu dengan rapat. Queen langsung menemui Jeevan yang masih terpaku di tempatnya sembari mengusap wajahnya.


"Jev!" panggil Queen, seketika Jeevan terkejut lalu menoleh ke arahnya.


"Ah Queen, gimana? Siapa yang datang di depan?" tanya Jeevan penasaran.


"Mama kamu, dia minta ketemu sama kamu. Sana gih kamu keluar temui dia!" jawab Queen santai.


"Apa??" Jeevan tersentak kaget.


"Iya Jev, mama kamu itu ada di depan. Buruan deh kamu keluar dan ketemu sama dia, sebelum dia teriak-teriak lagi terus ganggu papa!" ucap Queen.


"Queen, kamu bilang kalau aku ada disini?" tanya Jeevan tampak panik.


"Iya, emang kenapa? Kan emang bener kamu disini," jawab Queen santai.


"Aduh Queen! Kamu gimana sih? Harusnya kamu jangan kasih tau kalau aku ada disini! Pasti mama bakal marah besar sama aku," ujar Jeevan.


"Salah sendiri kamu pergi gak izin dulu sama mama kamu, jadinya begini kan? Makanya lain kali tuh izin Jev!" ucap Queen.


"Ya aku kan mau ketemu kamu Queen, pasti gak bakal diizinin lah," ucap Jeevan.


"Terus sekarang gimana? Kamu gak mau temui mama kamu gitu?" tanya Queen.


"Eee aku takut aja sayang, mending kamu yang temui mama aku dan bilang kalau aku tuh gak ada disini!" suruh Jeevan.


Queen menggeleng, "Apaan sih? Mana bisa coba kayak gitu? Aku kan udah terlanjur bilang kamu ada disini," ucapnya.


"Gak mau, pokoknya aku gak mau bohong yang nantinya bakal ngeribetin aku sendiri!" tegas Queen.


"Aduh!" Jeevan pun gelisah dan menepuk dahinya memikirkan cara untuk bisa lepas dari amarah sang mama.


Namun, mereka dikejutkan dengan pintu yang didorong dan terbuka lebar. Disana lah sosok Aqila berada, wanita itu memaksa masuk dan meneriaki nama putranya yang membuat kedua orang itu terkejut bukan main.


Braakk


"Jeevan! Kamu benar-benar kelewatan!" teriak Aqila dipenuhi emosi.


Jeevan pun hanya bisa menunduk pasrah sembari menggaruk kepalanya yang tak gatal, sedangkan Queen tampak panik khawatir kalau papanya akan terganggu akibat teriakan Aqila.


"Tante, kenapa sih tante malah masuk kesini? Aku kan udah bilang, tunggu dulu di luar sampai aku balik lagi buat panggil Jeevan!" ucap Queen.


"Diam kamu Queen! Saya gak bicara sama kamu, tolong ya kamu jangan ikut campur urusan saya dengan Jeevan!" sentak Aqila.


"Aku gak akan ikut campur, kalau tante sama Jeevan gak ada disini. Aku cuma gak mau papa terganggu, ayolah tante paham dong!" ucap Queen.


"Iya ma, kita bicara di luar aja ya? Kasihan om Salman kalau terganggu nanti istirahatnya, aku gak mau itu terjadi," sahut Jeevan.


"Ohh, kamu sekarang perduli sama musuh kamu itu Jeevan? Luar biasa!" ucap Aqila sembari menggeleng heran.


"Iya aku perduli sama om Salman, ma. Sekarang ayo ikut sama aku dan kita bicara di luar! Mama jangan ganggu om Salman yang lagi istirahat!" ucap Jeevan.


"Okay, mama keluar sekarang." Aqila menurut dan berbalik pergi dari ruangan itu, disusul oleh Jeevan yang melangkah di belakangnya.


Sementara Queen tetap disana, ia beralih menatap sang papa dan duduk di dekatnya.




Lova tiba di kampus, ia turun dari mobil dan langsung pergi begitu saja tanpa bicara sepatah katapun pada Arul. Tampaknya Lova masih kesal dengan perkataan Arul sebelumnya yang meminta ia untuk menjauh dari teman-temannya, tentu saja Lova tidak mau menuruti itu.


Namun, Arul yang merasa bersalah mencoba mengejar gadis itu dan menahannya. Ya Arul berhasil mencekal lengan Lova dari belakang, sehingga Lova pun terpaksa berhenti lalu berbalik menatap Arul. Bukan tatapan anggun seperti biasa yang didapatkan Arul, melainkan sebuah tatapan tajam penuh kemarahan dari mata sang nona.


"Apa lagi sih? Lo boleh pulang sekarang, gue gak mau diantar sama lu lagi karena lu udah bikin gue kesel!" ujar Lova.


"Nona, saya mohon maafkan saya! Tadi saya bicara begitu atas perintah tuan, tuan gak mau nona terus berada dalam bahaya. Harusnya nona paham dong dengan permintaan ayah nona," ucap Arul.


"Gue ngerti kekhawatiran papa, tapi gak gini juga kali. Gue sama teman-teman gue kan udah kenal dari lama, mana mungkin mereka celakai gue atau lukai gue?" ucap Lova tegas.


"Iya nona, saya paham dan saya ngerti banget perasaan nona seperti apa. Saya pasti juga gak mau kalau harus dijauhkan dari teman-teman saya, tapi ini semua demi kebaikan nona," ucap Arul.

__ADS_1


"Halah kebaikan apanya? Terus kalau gue menjauh dari mereka, gue mau temenan sama siapa lagi? Lu gitu? Dih ogah banget!" ujar Lova.


"Gak saya juga nona, kan bisa cari teman lain di kampus ini," ucap Arul.


"Ah tau ah, gue males berdebat sama lu! Lepasin tangan gue sekarang atau gue teriak!" geram Lova.


"Jangan nona! Saya cuma akan lepaskan tangan nona, kalau nona mau menurut sama saya. Ini semua demi kebaikan diri nona sendiri," ucap Arul.


"Terus aja ngomong demi kebaikan, gue sampe bosen dengarnya. Udah ah gue mau ke kelas dulu!" sentak Lova.


Lova berusaha melepaskan diri dari cengkraman Arul, tetapi pria itu seolah tak mau melepaskan tangan Lova dan malah mencengkram kuat tangan gadis itu. Tentu saja Lova merasa geram, ia menatap tajam dan mencoba mendorong tubuh Arul.


"Ish lepas!" pinta Lova emosi.


"Lova!" teriak Nina yang tak sengaja melihat keberadaan sohibnya itu di depan kampus, Nina tampak heran ketika lengan Lova dicengkeram kuat oleh Arul dan gadis itu terlihat memberontak.


"Va, lu kenapa dah? Kok lu marah-marah gitu sama si Arul?" tanya Nina keheranan.


"Gimana gue gak marah coba? Lihat aja nih, tangan gue dipegang terus sama dia. Gue udah minta lepas eh gak dilepasin!" jawab Lova.


"Hah? Eh Rul, lu apa-apaan sih? Lepasin gak tangan Lova!" ucap Nina pada Arul.


"Maaf, saya hanya akan melepaskan tangan nona Lova setelah nona mau menuruti permintaan saya dan juga tuan," ucap Arul.


"Emangnya permintaan apaan sih?" tanya Nina.


"Si sialan ini minta gue buat jauh-jauh dari lu sama yang lain! Gimana coba perasaan lu? Sedih kan?" sahut Lova menjelaskan pada sohibnya.


"Apa??" Nina terkejut bukan main mendengar jawaban Lova, matanya terbelalak tak percaya dan mengarah ke wajah Arul.




Disisi lain, Caitlyn tengah bersama teman-temannya di sebuah mall yang besar. Caitlyn ingin menghilangkan rasa sedihnya setelah gagal mendapatkan hati Jeevan, itu sebabnya ia mengajak beberapa teman sekolahnya dulu ke sebuah mall dan pergi bersama-sama.


Marina, Eva dan juga Syahnaz adalah tiga wanita yang diajak Caitlyn untuk menemaninya pergi ke mall saat ini. Mereka berempat kompak berbelanja cukup banyak dan menikmati aktivitas di dalam mall yang luas dan dingin, bahkan Caitlyn berhasil melupakan sejenak Jeevan dengan kesenangan yang ia rasakan kali ini.


"Guys, thanks banget ya kalian udah mau temenin gue hari ini buat healing! Jujur deh gue gak tahu mau minta sama siapa lagi, eh untungnya kalian bertiga mau terima ajakan gue," ucap Caitlyn.


"Santai aja kali Caitlyn, kita kan sohib lu yang paling setia. Jadi, kapanpun lu butuh kita pasti kita siap kok buat temenin lu," ucap Eva.


"Bener tuh, kita kan sahabat sejati selamanya!" sahut Syahnaz sambil tersenyum.


"Yaudah, sekarang kalian pada mau makan apa? Biar gue traktir nih mumpung gue lagi baik," tanya Caitlyn menawarkan traktiran.


"Wih asyik nih Caitlyn kalo lagi baik kayak gini, gak salah emang kita terima ajakan lu!" kekeh Eva.


"Iya iya, udah gausah banyak omong langsung aja bilang pada mau makan apa hari ini!" ucap Caitlyn.


"Umm, kita sih manut aja ya sama yang traktir. Segala jenis makanan di mall ini juga kita mau, yang namanya gratis pasti enak kok," ucap Syahnaz.


"Hooh, tapi ya kalo bisa makanan Jepang. Soalnya gue lagi kepengen banget tuh," timpal Marina.


"Yeh dasar lu hobi banget sama makanan Jepang!" cibir Eva.


"Gapapa lah, toh makanan Jepang enak-enak semua. Gimana Caitlyn? Lu mau juga kan makan di restoran Jepang?" ucap Marina.


"Ya gue terserah yang lain, pada setuju apa enggak nih sama usul Marina?" ucap Caitlyn.


"Setuju deh, abisnya gue bingung mau makan apa. Kayaknya enak juga makan sushi," ucap Eva.


"Gue juga setuju!" sahut Syahnaz.


"Oke, yuk kita ke restoran Jepang sekarang!" ajak Caitlyn.


"Gas!" jawab ketiga gadis itu serentak.


Mereka pun bergerak menuju restoran Jepang yang ada di mall tersebut, lalu keempat gadis itu makan dengan sangat lahap sampai rasa kenyang mulai melanda. Mereka semua puas dengan makanan yang mereka santap itu, terutama Marina yang memang mengusulkan makan disana.


Lalu setelah puas makan sampai kenyang, kini keempatnya memilih langsung pulang sebab sudah lumayan lama mereka berada di mall. Caitlyn meraih ponselnya dan memesan taksi online untuk mereka pulang, mereka pun menunggu kedatangan taksi di depan mall sambil membawa barang belanjaan.


"Huh capek banget ya guys? Gak nyangka keliling di mall kayak gini aja bisa bikin betis gue gede," keluh Eva memegangi lututnya.


"Hahaha, itu tuh gara-gara lu kebanyakan diam di rumah aja!" ujar Marina.


"Berisik lu! Kayak lu enggak aja, kan lu juga sama kayak gue," ucap Eva.


"Udah udah, jangan pada ribut ah malu tau didengar sama orang!" ucap Caitlyn memisahkan kedua temannya itu.


"Iya Caitlyn, terus ini dimana dah taksi kita? Belum nyampe juga?" tanya Eva.


"Bentar lagi kok, ini udah dekat nih kalo dilihat dari maps," jawab Caitlyn.


"Oh okay," singkat Eva.


Tak lama kemudian, sebuah mobil berhenti di depan mereka. Caitlyn pun mengira itu adalah taksi yang ia pesan, begitu juga dengan teman-temannya. Namun, alangkah terkejutnya mereka saat tiba-tiba dua orang bertopeng turun dari mobil dan menangkap Caitlyn dengan cepat.


"Akh siapa kalian? Lepas!" Caitlyn coba berontak tapi tidak berhasil sebab ia sudah dibekap dan didekap oleh dua orang sekaligus.


"Caitlyn, Caitlyn! Woi lepasin teman kita! Tolong tolong!!" ketiga temannya berteriak meminta tolong dan berusaha menolong Caitlyn, namun mereka juga tak bisa berbuat banyak karena ada dua orang lagi yang turun dan memegangi mereka.


Akhirnya Caitlyn berhasil dibawa ke dalam mobil, sedangkan teman-temannya tetap disana dan tampak panik memikirkan Caitlyn yang dibawa oleh orang-orang misterius.

__ADS_1


...~Bersambung~...


...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...


__ADS_2