Jerat Cinta Sang Mafia

Jerat Cinta Sang Mafia
Bab 102. Selamat


__ADS_3

#Terjebak Gairah Sang Mafia 2


Selamat




Fritzy menurut saja dan mengikuti langkah kaki Jeevan, mereka pun mulai memasuki rumah besar itu dengan perlahan-lahan. Tak lupa Jeevan juga mengucap salam terlebih dulu dan bergerak mencari orangtuanya di dalam sana, ia terus berteriak karena tak kunjung menemukan mereka.


Barulah saat Jeevan dan Fritzy tiba di dekat tangga, keduanya bertemu dengan Aqila yang baru keluar dari kamarnya dengan pakaian seksi. Seolah tahu apa yang baru mamanya lakukan, Jeevan terkekeh kecil seraya menundukkan wajahnya tak kuasa menahan gelak tawa di dalam dirinya.


"Ada apa Jeevan? Kenapa kamu ketawa kayak gitu? Apa yang lucu dari mama?" tanya Aqila menegurnya.


"Eee gak ada ma, papa mana ma? Aku mau bicara dong sama mama dan papa," ucap Jeevan.


"Ohh, papa masih di dalam lagi mandi. Kamu emang ngapain sih datang kesini? Setelah kamu kemarin mempermalukan mama sama papa di depan orang tua Caitlyn, masih berani kamu datang kesini lagi?" ujar Aqila.


"Maaf ma, aku kesini pengen bicara hal penting aja ke mama sama papa," ucap Jeevan pelan.


"Hal penting apa? Terus kenapa si Fritzy kamu bawa kesini juga? Kamu mau bahas urusan bisnis?" tanya Aqila.


"Bukan kok ma, ini masalah pribadi. Terkait masa depan aku," jawab Jeevan sambil tersenyum.


Aqila sontak membelalakkan matanya, "Hah? Masa depan kamu maksudnya gimana? Mama gak ngerti deh, coba kamu jelasin sekarang!" ujarnya.


"Iya ma, aku sama Fritzy mau menikah. Aku juga sudah memutuskan untuk menolak Caitlyn dan tidak menerima perjodohan itu," jelas Jeevan.


"Apa??" Aqila terkejut bukan main mendengar pernyataan putranya.


Tak lama kemudian, Dean muncul dari dalam kamar saat mendengar suara keributan di luar sana. Lelaki itu ikut penasaran melihat reaksi Aqila yang seperti itu, ia pun menghampiri ketiganya dengan wajah bingung, terutama saat ia melihat kehadiran Fritzy di rumahnya.


"Ini ada apa sih? Kenapa kalian pada kumpul disini, bukannya di ruang tamu aja? Terus tumben juga kamu datang sama Fritzy, ada masalah sama bisnis kita Jeevan?" tanya Dean kebingungan.


Jeevan menggeleng, "Enggak pa, aku bukan mau bahas soal bisnis. Aku kesini karena aku pengen bilang ke papa dan mama kalau aku akan menikahi Fritzy secepatnya," jawabnya jelas.


"Apa? Kamu sudah gila ya Jeevan? Kenapa kamu malah mau menikahi wanita ini? Lalu bagaimana dengan pernikahan kamu dan Caitlyn nanti?" tanya Dean tak percaya.


"Aku gak gila kok pa, aku cinta sama Fritzy dan aku mau menikahinya," jawab Jeevan mantap seraya merangkul Fritzy.


"Cinta? Kamu bilang kamu cuma cinta sama Queen, kenapa sekarang tiba-tiba kamu mengatakan kalau kamu mencintai Fritzy? Semudah itukah kamu berpaling?" tanya Dean.


"Tidak pa, aku masih tetap mencintai Queen di dalam hatiku. Tapi, aku juga sangat menginginkan Fritzy. Lagipun, aku dan Queen sudah berpisah dan sulit bagi kamu untuk bersatu," ucap Jeevan.


"Bagus kalau kamu sadar, jadinya kamu bisa melupakan wanita itu. Tetapi mengapa kamu malah memilih menikah dengan Fritzy? Padahal ada Caitlyn yang lebih dari segalanya," ujar Dean.


"Iya Jeevan, mama lebih setuju kalau kamu menikah dengan Caitlyn dibandingkan sekretaris kamu ini sayang!" sahut Aqila.


"Itu kan menurut papa sama mama, kalau aku beda lagi ma. Aku maunya nikah sama wanita pilihan aku, bukan pilihan mama ataupun papa," ucap Jeevan tetap kekeuh menolak.


"Haish, terus apa alasan lain kamu menikahi Fritzy? Gak mungkin cuma karena cinta kan? Pasti ada apa-apa nih diantara kalian," ujar Aqila curiga.


"Iya ma, Fritzy memang sudah hamil anak aku sekarang," jawab Jeevan dengan santai.


Seketika Aqila dan juga Dean terkejut bukan main mendengar pengakuan dari mulut Jeevan, sungguh mereka tak menyangka jika putra mereka itu akan melakukan hal seburuk itu pada wanita.




Dinda terdiam sesaat, matanya seketika menatap ke arah perutnya dan membayangkan keadaan sang anak yang ada di dalam sana. Sungguh Dinda juga tidak mau terjadi sesuatu pada calon anaknya itu, tapi entah kenapa rasanya sulit sekali untuk bisa memaafkan Tom dari semua kesalahannya.


"Gimana Dinda? Kamu mau kan ikut tinggal sama aku?" tanya Tom lagi.


Lagi-lagi Dinda hanya terdiam, Tom yang sudah tak sabar pun mencengkram erat lengan Dinda dan berniat membawanya pergi. Namun, Dinda yang tidak terima langsung berontak berusaha melepaskan diri dari genggaman Tom. Akan tetapi, usaha wanita itu sia-sia sebab tenaganya kalah kuat jika dibandingkan dengan Tom.


"Lepasin aku Tom, aku gak mau!" sentak Dinda dengan keras.


"Kamu harus ikut sayang, kamu gak boleh tolak atau bantah! Kamu itu lebih aman kalau sama aku, dibanding sama si cowok mesum itu!" geram Tom.


"Gak! Aku gak mau!" kesal Dinda.


Tanpa diduga, pundak Tom dipegang oleh seseorang dari belakang. Saat pria itu menoleh untuk mencari tahu, tiba-tiba wajahnya dipukul oleh seseorang tersebut sampai ia reflek melepas tangan Dinda dan beralih memegangi wajahnya yang terkena pukulan itu.


Bugghhh


Tom terhuyung ke belakang menahan rasa sakitnya, ia menatap wajah orang yang tadi memberi pukulan padanya. Seketika matanya terbuka lebar melihat sosok Queen berdiri di dekat Dinda, ia tak menyangka jika bisa bertemu dengan wanita itu disana.

__ADS_1


"Dinda, lu gapapa kan? Sumpah gue cemas banget sama lu sejak lu pergi dari rumah, gue gak nyangka akhirnya kita bisa ketemu disini!" ucap Queen.


"Iya Queen, gue juga gak nyangka. Gue senang banget bisa ketemu sama lu lagi, tolongin gue Queen! Gue gak mau ikut sama dia, tapi dia terus maksa gue!" ucap Dinda panik seraya menunjuk Tom.


Sontak Queen beralih menatap Tom, "Lo lagi lu lagi, mau sampai kapan sih lu gangguin Dinda terus? Gak puas apa lu udah nyakitin dia?" ujarnya.


"Saya tidak berniat menyakiti Dinda, justru saya ingin menyelamatkannya. Saya yakin Dinda pasti tersiksa tinggal dengan Erick, maka dari itu saya rela berkorban untuk membawa pergi dia dari si lelaki mesum itu!" ucap Tom membela diri.


"Laki-laki mesum? Kayaknya julukan itu pantasnya buat lu deh Tom, karena lu yang udah perkosa Dinda sampai dia hamil!" ucap Queen.


Tom menundukkan wajahnya, memang benar dirinya lah yang sudah merenggut kesucian Dinda secara paksa sampai membuat wanita itu mengandung anaknya. Namun, saat itu ia masih dalam kondisi yang buruk sehingga tidak dapat mengontrol gairahnya sendiri.


"Okay, memang saya yang sudah mengambil mahkota berharga milik Dinda. Tapi disini saya mau bertanggung jawab, apa salah kalau saya ingin menebus kesalahan saya?" ujar Tom.


"Gak salah sih, cuma cara lu itu yang terlalu memaksa dan malah bikin Dinda ketakutan. Lu paham kan kata-kata gue?" ucap Queen.


"Iya, saya paham," jawab Tom singkat.


"Baguslah, kalau begitu silahkan lu pergi dan jangan pernah balik lagi! Sekali aja gue lihat lu sentuh Dinda, gue akan bikin lu menderita seumur hidup!" ucap Queen mengancam.


Tom tak memiliki pilihan lain, ia pun terpaksa pergi dari sana dan merelakan Dinda bersama Queen. Walau tentu saja perasaan Tom saat ini benar-benar kacau, seolah dirinya tidak ingin meninggalkan wanita itu. Tom sangat mencintai Dinda, ia tidak mungkin bisa melupakan wanita itu begitu saja dari dalam pikirannya.


Setelah Tom pergi, kini hanya tinggal Queen dan Dinda seorang yang tampak saling berpelukan disana. Dinda meluapkan tangisannya di dalam pelukan sahabatnya itu, ia sangat sedih karena harus terjebak ke dalam masalah yang berat seperti ini, belum lagi ia juga tidak bisa bertemu dengan keluarganya di Indonesia sana.


"Hiks hiks, gue bingung banget Queen. Kenapa ya hidup gue menderita kayak gini? Kenapa Tuhan gak adil sama gue, Queen? Padahal selama ini gue taat beribadah dan mengikuti aturannya, tapi yang gue dapat malah penderitaan!" ujar Dinda.


Queen tak dapat berbicara banyak, sejujurnya ia sendiri juga sempat kecewa pada Tuhan karena merasa hidupnya terlalu banyak dirundung masalah yang tak selesai-selesai. Queen pun hanya bisa menenangkan Dinda sampai wanita itu terlihat benar-benar tersenyum seperti biasa.


Fahrul yang sedari tadi mengikuti kemana Queen pergi, kini telah sampai di tempat dua wanita itu berada. Fahrul sontak mendekat dan terlihat bingung melihat Queen tengah memeluk seorang wanita cantik yang belum pernah ia temui sebelumnya, ia pun sangat penasaran siapa sebenarnya wanita tersebut.


"Hey Queen! Kamu kenapa tinggalin aku sih tadi? Sampe capek aku ngejarnya," tegur Fahrul.


Seketika Queen terkejut dan reflek melepas pelukannya dengan Dinda, ia menoleh ke arah Fahrul yang tampak tersenyum menatap wajah dua gadis tersebut secara bergantian. Dinda langsung menghapus air mata di wajahnya, tentu ia tidak mau terlihat cengeng di hadapan orang lain.


"Yah elah Rul, masa cuma ditinggal sebentar aja rewel amat sih? Aku kan lagi cari sahabat aku, dan beruntungnya sekarang aku berhasil ketemu sama dia nih," ucap Queen.


"Oh ya? Jadi, ini sahabat kamu itu Queen? Waw dia cantik banget ya!" puji Fahrul.


"Iya Rul, kenalan gih sama teman gue ini! Dia namanya Dinda, anaknya emang cantik banget!" ucap Queen.


"Apa sih Queen? Kamu lebay deh! Masih lebih cantik kamu kali daripada aku," ucap Dinda malu-malu.


"Yeh main suka suka aja kamu, kenalan dulu!" ketus Queen.


"Iya iya.." Fahrul tersenyum lebar dan lalu mengarahkan tangannya ke Dinda. "Hai, aku Fahrul temannya Queen disini!" ucapnya.


"Dinda." wanita itu meraih dan menggenggam tangan Fahrul dalam jabat tangan yang halus.


"Nama kamu bagus banget, sesuai sama orangnya yang cantik," gombal Fahrul.


"Jangan gombal deh kamu! Dinda ini teman aku, jaga omongan!" tegur Queen.


"Ya ampun Queen, masa cuma begitu aja gak boleh? Kamu gak kasihan apa sama aku yang jomblo sebatang kara ini?" ujar Fahrul.


"Ah kagak kagak, udah lepasin tuh tangan Dinda kasihan!" geram Queen.


Fahrul pun melakukan apa yang diperintahkan Queen, ia melepas tangan Dinda walau masih terus memandangnya sambil tersenyum dan merapihkan rambutnya.




Disisi lain, Lova mengajak Arul ke sebuah bar bersama Aulia serta Nina. Tampak gadis itu telah mengenakan pakaian mininya yang menunjukkan aset miliknya dengan leluasa, sontak saja Arul tak suka dengan penampilan nona nya yang seperti itu karena bisa mengundang gairah dari para lelaki hidung belang di dalam sana.


Namun, layaknya remaja pada umumnya Lova pun tak perduli dengan apa yang dikatakan Arul dan memilih masuk begitu saja ke dalam bar tersebut untuk menemui teman-temannya. Arul juga hanya bisa menggelengkan kepala melihat kelakuan nona nya yang ditinggal kedua orangtuanya itu.


"Hai guys!" Lova menyapa kedua temannya itu dengan gembira.


"Eh Lova, waw you look so beautiful!" ucap Nina memuji penampilan Lova malam ini yang terlihat begitu seksi.


"Ahaha, iya nih walau baru pertama kali gue pake baju kayak gini," ucap Lova.


"Wih keren sih lu, Va! Gue aja gak berani terlalu terbuka kayak gitu," ujar Aulia.


"Ah lu mah cemen Aulia! Apalagi semenjak ada kakak lu itu, lu jadi berubah drastis gak sebarbar dulu!" sela Nina.


"Apaan sih? Gausah bawa-bawa kakak gue deh, dia itu orang yang paling gue sayangi tau!" ucap Aulia.

__ADS_1


"Iya iya, gue minta maaf ya Aulia? Yaudah, sekarang kita duduk aja yuk! Biar si Lova juga bisa ngerasain minuman disini," ucap Nina.


"Lebay lu ah! Gue kan dah sering kali minum kayak gini, udah biasa gue mah!" ucap Lova menantang.


"Eh ini beda Lova, kadar alkoholnya lebih tinggi dibanding yang biasa. Berani gak lu minumnya?" ucap Nina tersenyum lebar.


"Eee..." Lova terlihat ragu saat hendak menjawab tawaran sahabatnya itu.


"Jangan nona! Tolong, nona jangan minum minuman berbahaya itu!" sentak Arul yang tiba-tiba maju mendekati nona nya.


"Hah? Lo kesini sama pengawal lu ini Va?" kaget Nina saat menyadari keberadaan Arul disana.


"I-i-iya, emangnya kenapa? Gue gak boleh bawa dia ya? Abisnya dia maksa mau anterin gue sih tadi," ucap Lova.


"Ya gapapa sih, tapi kalau bisa dia jangan diajak masuk juga! Nanti yang ada dia cuma jadi pengacau lagi disini," ucap Nina.


"Bener tuh, lu suruh aja pengawal lu ini tunggu di luar Lova!" sahut Aulia.


"Gak bisa, saya akan tetap disini buat juga nona Lova. Kalian berdua tidak bisa usir saya, dan tolong jangan coba-coba merusak nona Lova dengan menawarkan dia minuman gak bener itu!" ucap Arul dengan tegas.


Sontak Lova merasa malu mendengarnya, "Arul, ayolah lu gausah lebay deh! Gue dah biasa kok main di tempat kayak gini dan minum alkohol, santai aja kali!" ucapnya.


"Iya nona, tapi itu dulu sebelum ada saya. Sekarang saya adalah pengawal nona, jadi saya harus menjalankan tugas saya dengan baik, yakni mengawal dan menjaga nona," ucap Arul tegas.


Nina dan Aulia kompak memutar bola mata mereka, sedangkan Lova sendiri tampak menunduk malu karena sekarang orang-orang di dalam bar itu terlihat mengamatinya setelah mendengar ucapan Arul yang terlalu protektif kepadanya.


"Maaf ya nona, tapi sebaiknya kita pulang sekarang. Saya tidak setuju nona datang ke tempat ini, apalagi dengan pakaian seperti itu," ucap Arul.


Bukannya menjawab, Lova justru langsung pergi begitu saja melintasi Arul dan meninggalkan teman-temannya. Tampaknya Lova sangat kesal dan emosi kepada pengawalnya itu.




Dinda tampak senang sekali karena saat ini ia bisa bertemu dengan Queen dan diajak tinggal bersama di tempat Fahrul, ya sebelumnya Fahrul memang sudah memberi izin pada Queen untuk membawa serta Dinda tinggal disana. Ya walaupun Fahrul harus mati-matian nantinya menahan diri, karena ia akan tinggal satu atap bersama dua perempuan.


Kini Dinda terduduk di sofa ruang tamu dengan Queen di sampingnya, tampak juga dua cangkir minuman telah tersedia di atas meja. Queen pun masih berusaha membujuk Dinda agar tidak sedih lagi dan melupakan semua kejadiannya, meskipun akan sangat sulit sebab Dinda terlihat trauma.


"Dinda, gue mau tanya deh sama lu. Emangnya apa sih yang udah dilakuin mister Erick selama lu tinggal sama dia disini?" ujar Queen.


Dinda menggeleng pelan, "Gak kok, mister Erick gak ngelakuin apa-apa ke aku selama ini," jawabnya lirih.


"Masa sih? Seriusan dia gak apa-apain lu? Terus kenapa lu trauma kayak gini? Pasti ada yang lu sembunyiin kan?" tanya Queen memastikan.


"Gak ada Queen, ngapain aku sembunyiin sesuatu dari kamu sih? Emang mister Erick gak ngapa-ngapain tau, dia baik sama aku malah dan sering belanjain aku," jawab Dinda.


"Ah yang bener? Kok bisa dia kayak gitu sama lu? Pasti ada yang dia pengen tuh dari lu, makanya dia baik sama lu," ujar Queen.


"Kamu kenapa mikir begitu sih Queen? Aku kan disini jadi tambah takut, harusnya kamu bantu tenangin aku dong!" ucap Dinda kesal.


"Oh iya ya, maaf aku lupa Dinda. Yaudah, kamu yang tenang aja ya disini! Sekarang kamu udah aman, kamu gak mungkin ketemu lagi sama Tom ataupun mister Erick!" ucap Queen.


"Kamu yakin aku aman disini? Apa enggak sebaiknya aku balik ke tempat mister Erick aja?" tanya Dinda.


"Hah? Kamu jangan aneh-aneh deh Dinda! Udah kamu disini aja sama aku, biar kamu aman dan gak ketangkap lagi sama salah satu diantara mereka!" ucap Queen dengan tegas.


"Iya deh, tapi aku boleh minta sesuatu gak?" tanya Dinda lagi.


"Apa?" Queen terlihat penasaran, tapi kemudian ia mengerti apa maksud Dinda saat wanita itu memegang perutnya yang berbunyi.


"Ohh, kamu lapar ya? Pasti kamu mau makan kan?" tebak Queen.


Dinda tersenyum dan lalu menganggukkan kepalanya, Queen pun mengerti dengan apa yang diinginkan sahabatnya itu. Tak mau terlalu lama menunggu, akhirnya Queen bergerak mengambil makanan untuk disantap oleh Dinda. Sedangkan Dinda tetap menunggu disana seorang diri.


"Ehem ehem.." Fahrul berdehem pelan menegur gadis yang sedang duduk di sofanya itu.


"Fahrul?" Dinda terkejut lalu spontan bangkit dari duduknya, akan tetapi Fahrul menahannya untuk tetap disana.


"Eh eh, udah gausah bangun. Kamu duduk aja lagi, kasihan kamu capek kalo berdiri terus!" ucap Fahrul sambil tersenyum.


Akhirnya Dinda kembali duduk disana, sedangkan Fahrul tampak celingak-celinguk seperti mencari seseorang sembari ikut terduduk di samping wanita itu. Fahrul tersenyum menatap wajah Dinda dari arah samping, entah mengapa ia seakan kagum sekali pada kecantikan Dinda.


"Umm, Queen kemana Dinda?" tanya Fahrul.


"Tadi dia ke belakang mau ambil makanan buat aku," jawab Dinda pelan.


"Ohh.."

__ADS_1


...~Bersambung~...


...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...


__ADS_2