Jerat Cinta Sang Mafia

Jerat Cinta Sang Mafia
Bab 16. Penyiksaan


__ADS_3

#Terjebak Gairah Sang Mafia 2


Penyiksaan




Setelah mendengar kabar dari anak buahnya mengenai keberadaan mata-mata di markasnya, Jeevan langsung marah besar dan tidak habis pikir bagaimana bisa ada penyusup yang masuk ke tempatnya tanpa sepengetahuan dirinya.


Jeevan bergegas menemui Toyib di ruang penyiksaan, tampak pria itu sudah duduk bersimpuh dengan kedua tangan terikat rantai dan tubuh penuh luka akibat siksaan yang diberikan oleh orang-orang disana.


Jeevan menyeringai, menatap penuh amarah seolah hendak membunuh pria di hadapannya. Namun ia coba berpikir jernih, ia ingin memanfaatkan penyusup itu untuk memberinya banyak informasi penting mengenai musuh yang tengah ia hadapi saat ini.


"Wah wah, satu lagi pengkhianat yang saya temukan di markas ini. Kamu memang cukup berani memasuki tempat saya, tapi sayangnya kamu terlalu bodoh!" ucap Jeevan.


Toyib terdiam dengan kedua tangan terikat oleh rantai, ia sudah pasrah saat ini dan menerima apapun hukuman yang harus ia dapatkan. Tapi, tentu Jeevan tak semudah itu menghukumnya sebelum dia mendapatkan informasi mengenai kelompok musuhnya.


"Sekarang kamu katakan ke saya, siapa yang sudah menyuruh kamu untuk menyusup di markas saya!" sentak Jeevan.


"Gue gak akan kasih tahu apa-apa ke lu Jeevan, jadi jangan mimpi kalau lu bisa korek informasi dari gue!" ucap Toyib dengan lemas.


"Kurang ajar!" Jeevan emosi dan reflek memukul wajah Toyib hingga mengeluarkan darah.


Bughh


"Kamu mau mati disini Toyib? Ingat ya, saya tidak pernah main-main dengan ucapan saya. Kalau kamu gak mau jawab, maka saya akan kirim kamu ke neraka!" ancam Jeevan.


"Gue gak perduli, lu mau bunuh gue ya udah bunuh aja! Intinya gue tetap tak akan cerita apa-apa ke lu!" ucap Toyib.


Alden menghampiri Jeevan dan berbisik di telinganya, "Bos, apa saya habisi saja pria ini? Dia sepertinya sangat setia pada atasannya dan tidak mau buka mulut." Jeevan langsung memberi pelototan tajam ke arah Alden.


"Tidak Alden, dia belum harus mati sekarang. Kita berikan dia siksaan yang paling pedih disini, supaya dia tahu betapa kejamnya seorang Jeevan!" titah Jeevan.


"Baik bos!" ucap Alden patuh.


Jeevan kembali beralih menatap Toyib, "Gimana Toyib? Masih gak mau cerita juga sama saya soal siapa yang suruh kamu?" tanyanya.


"Jawaban gue tetap sama, gue gak akan pernah buku mulut karena gue ini setia!" ujar Toyib.

__ADS_1


"Okay, tapi sayang kesetiaan kamu dengan bos kamu itu yang akan bikin kamu tersiksa hari ini. Kalian semua, berikan siksaan terbaik di tempat ini sampai dia kapok!" ucap Jeevan.


"Siap bos!" ucap para anak buahnya patuh.


Karena tak mendapat apa yang ia inginkan, Jeevan memilih pergi terlebih dahulu dan membiarkan anak buahnya menyiksa Toyib sampai pria itu mau membuka mulut dan memberitahu semua kepadanya.


"Aaaakkkhh!!" jeritan kesakitan Toyib masih terdengar di telinga Jeevan saat ia melangkah ke luar dari ruangan itu.




Aulia, Nina dan juga Lova tengah menikmati hidangan makan siang yang disajikan Queen di rumahnya. Memang ketiga gadis itu memutuskan datang kembali ke tempat Queen untuk sekedar bernostalgia, sebab cukup lama mereka tidak bertemu ketika ketiganya ditahan oleh Jeevan.


"Gimana guys makanannya? Enak gak?" tanya Queen sambil tersenyum.


"Mmhhh ini enak sih, enak banget malah!" jawab Lova dengan mulut penuh makanan.


"Bagus deh, tadinya kalo gak enak gue pengen ganti aja chef nya sama yang baru. Tapi karena kalian bilang enak, yaudah gajadi," ucap Queen.


"Hahaha, gak perlu diganti Queen ini makanannya udah super duper enak kok!" ucap Aulia.


"Kan cuma wacana guys, soalnya gue takut kalian gak suka sama makanannya," ucap Queen.


"Yah elah, kita mah makanan apa juga suka kali, asalkan gratis tentunya," sarkas Lova.


"Bisa aja lu, tapi ini semua gak gratis ya? Kalian harus bayar nanti selesai makan," ucap Queen.


"Hah? Serius Queen??" kaget Aulia.


Queen terkekeh melihat tiga temannya terkejut dan berhenti mengunyah makanan mereka, "Kalian itu serius banget sih pada? Gue cuma bercanda kali, santai aja!" ucapnya sambil menahan tawa.


"Hadeh, kebiasaan lu Queen! Dari dulu sampe sekarang gak pernah berubah, bercanda terus!" kesal Aulia.


"Yeh gapapa kali, kan itung-itung mengenang masa lalu. Emang kalian gak kangen apa sama jaman dimana kita masih sering kumpul dulu?" ujar Queen.


"Ya kangen sih, tapi kan sekarang juga kita udah bisa kumpul," ucap Aulia.


"Belum Aul, masih kurang Dinda. Gue gak tahu dah tuh kabar dia gimana sekarang," ucap Queen.

__ADS_1


Seketika suasana disana langsung berubah hening, keempat gadis itu menunduk sedih memikirkan nasib sahabat mereka yang masih belum ditemukan hingga sekarang. Mendadak selera makan Lova dan yang lainnya pun hilang saat Queen membahas Dinda.


"Yah gue jadi gak selera makan nih guys, kita disini bisa enak-enak makan begini. Dinda gimana ya? Dia udah makan apa belum?" ujar Lova.


"Gue juga mikir begitu Va, ya kita doain aja semoga Dinda disana baik-baik aja!" ucap Nina.


"Aamiin," ucap Lova, Queen dan Aulia bersamaan.




Sementara itu, Dinda masih bersama Tom di rumah pria tersebut. Belum ada niatan bagi Dinda untuk pulang ke rumahnya hingga kini, meskipun ia juga sudah merindukan pihak keluarga dan teman-temannya.


Tom pun cukup senang dengan keputusan Dinda untuk menetap di rumahnya, tentu saja karena ia jadi lebih memiliki banyak waktu berdua bersama wanita itu. Tom memang mencintai Dinda, itu ia rasakan setelah ia memperkosa Dinda di rumah pohon dekat markas Jeevan.


"Dinda, kamu kenapa melamun aja begitu? Lagi mikirin apa cantik?" tanya Tom penasaran.


"Eee aku cuma rindu sama keluarga aku dan juga teman-teman aku," jawab Dinda pelan.


"Ohh, kamu kangen nih ceritanya sama mereka? Kalo gitu kenapa kamu gak temuin aja mereka?" usul Tom.


"Gimana caranya Tom? Aku aja gak tahu sekarang mereka ada dimana," tanya Dinda.


"Aku bisa bantu kamu cari tahu kok, ya itu juga kalau kamu mau. Gimana sayang?" ucap Tom.


"Apa sih kamu? Kenapa pake sayang segala coba?" protes Dinda.


"Hahaha, iya iya maaf. Kita kan udah dekat banget loh sekarang, apa salahnya kalau kita menjalin hubungan?" ucap Tom.


"Kita bicarakan ini nanti aja ya Tom? Sekarang gimana caranya aku bisa ketemu sama teman-teman aku?" ucap Dinda.


"Kamu tenang aja, aku bakal minta bantuan anak buah aku buat cari mereka!" ucap Tom.


Dinda mengangguk, "Aku tunggu kabar baiknya, semoga kamu berhasil ya Tom! Aku janji kalau kamu berhasil temuin mereka, maka aku mau jadi pacar kamu!" ucapnya.


Sontak Tom menganga lebar, ia jadi semakin semangat untuk bisa membantu Dinda bertemu dengan teman-temannya.


...~Bersambung~...

__ADS_1


...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...


__ADS_2