Jerat Cinta Sang Mafia

Jerat Cinta Sang Mafia
Bab 12. Bodyguard


__ADS_3

#Terjebak Gairah Sang Mafia 2


Bodyguard




Selang seminggu setelah kepulangannya ke rumah, Lova kini kembali berangkat ke kampusnya karena sudah cukup lama ia tidak datang dan tertinggal akibat peristiwa mengenaskan itu. Lova bertekad untuk bisa menjadi sarjana dan lulus dengan nilai terbaik dari kampus itu, maka dari itu Lova pun memutuskan datang ke kampus meski kedua orangtuanya melarang.


Akan tetapi, ada sesuatu yang berbeda dari diri Lova saat ini. Jika biasanya ia hanya datang bersama sang supir, kali ini berbeda sebab ia juga harus ditemani oleh seorang pria yang ditugaskan Rio untuk mengawalnya, sebut saja pria itu Arul sang bodyguard yang akan mengawalnya kemanapun ia pergi.


"Mari nona, saya antar kan sampai ke dalam!" ucap Arul selepas membukakan pintu mobil untuk Lova.


"Gausah, udah lu pulang aja sana! Gue kan mau kuliah, buat apa lu ngikut?" ketus Lova.


"Maaf nona, tapi ini perintah dari tuan Rio. Saya harus menjaga nona dimana pun dan kapanpun," ucap Arul santai.


"Tapi, gue gak mau. Gue bisa diejek teman-teman gue kalo ke kampus bareng lu," ujar Lova.


"Tidak masalah nona, yang penting nona aman kalau bersama saya. Tidak ada penolakan nona, saya akan tetap antar Nina," ucap Arul memaksa.


"Lo pemaksa ya? Gue udah bilang gak mau, masih aja maksa!" kesal Lova.


"Saya cuma menjalankan perintah nona," ucap Arul sambil tersenyum.


"Nyenyenye.." Lova mencebikkan bibirnya merasa kesal dengan sikap Arul.


Akhirnya Lova terpaksa masuk ke area kampus bersama Arul yang memang ingin selalu menemani Lova kemanapun, Arul tidak mau kecolongan dan membuat bosnya marah nanti jika terjadi sesuatu pada Lova.


"Udah, lu sampe sini aja ya? Biar gue masuk ke dalamnya sendiri aja," pinta Lova.


"Tidak bisa nona, saya akan temani nona sampai depan kelas. Itu perintah dari tuan Rio," ucap Arul.

__ADS_1


"Hah? Lu udah gila kali, bisa abis dicengin gue sama teman-teman gue kalo gitu!" ujar Lova.


"Itu lebih baik kan nona, daripada nona diculik lagi seperti empat bulan lalu," ucap Arul.


Lova memutar bola mata, berjalan cepat meninggalkan Arul menuju gedung fakultas nya. Lova berulang kali menoleh ke belakang, berharap Arul pergi dan tidak mengikutinya lagi. Namun, tampaknya pria itu memang sangat patuh pada perintah ayahnya sehingga tidak ingin pergi jauh darinya dan terus mengikutinya.


"Haish, tuh cowok gila kali ya? Bukannya pergi malah ngikutin gue terus sampe sini, semoga aja gak ada yang lihat deh!" batin Lova.


Sesuatu yang tidak diinginkan olehnya pun terjadi, ya ia malah bertemu dengan Aulia serta Nina disana yang tentu saja ia khawatir kalau mereka akan meledeknya karena melihat ia datang ke kampus ditemani seorang bodyguard tampan.


"Eh eh eh, halo Lova teman kita yang paling ngeselin!" Aulia menyapanya dengan ramah disertai senyuman tipis.


"Halah gue ngeselin tapi ngangenin kan?" ucap Lova dengan pede.


"Huweekk, terserah lu aja deh. Omong-omong lu datang sama siapa tuh? Pacar lu?" ujar Aulia menatap heran ke arah Arul.


"Wih iya gue baru nyadar, ternyata lu udah punya cowok aja ya Va? Kalah gue sama lu," ujar Nina.


"Apaan sih? Dia bukan cowok gue, dia tuh bodyguard yang ditugasin bokap buat ngawal gue," jawab Lova.




Sementara itu, Dinda mendatangi Tom di ruang tamu sembari membawakan secangkir kopi hitam yang ia buat sendiri. Dinda tersenyum lalu menaruh cangkir di atas meja dan ikut duduk di sebelah sang lelaki seraya memandangnya, ya sudah hampir seminggu Dinda memang tinggal di rumah Tom tanpa mengabari orang rumahnya.


Sebenarnya Dinda sangat merindukan keluarganya, terutama sang ayah dan ibu yang amat ia sayangi. Namun, di situasi seperti ini Dinda tidak mau mengambil resiko dengan pulang ke rumah dan malah membahayakan mereka. Ia tahu kabur dari Erick bukanlah sesuatu yang baik, pastinya pria itu masih tak terima dan akan terus mengejarnya.


"Makasih ya kopinya Dinda, harum banget nih udah kerasa sih bakal enak rasanya," ucap Tom.


"Ah kamu bisa aja Tom, itu kan kopi udah jadi yang tinggal aku sedih," ujar Dinda.


"Ya tetap aja rasanya bakal beda tergantung dari tangan orang yang buatnya," ucap Tom.

__ADS_1


"Masa gitu? Bukannya bakal sama aja ya? Kan sama-sama kopi bubuk," heran Dinda.


"Beda Dinda, pokoknya kopi buatan kamu itu yang paling mantap deh. Jangan bantah ya!" ujar Tom.


Dinda tersenyum lebar dan wajahnya memerah, "Kamu tuh ya paling bisa bikin aku senang, makasih atas semua yang udah kamu lakuin ke aku Tom!" ucapnya lembut.


"Gak perlu terimakasih begitu Dinda, aku lakuin semuanya tulus karena aku sayang sama kamu. Aku juga senang lihat kamu senang," ucap Tom.


"Tapi, soal Jeevan—"


"Udah gausah dibahas lagi, Jeevan gak akan bisa ganggu kamu selagi ada saya di sisi kamu. Dan saya juga janji sama kamu, kalau saya gak akan pernah tinggalin kamu lagi!" sela Tom.


Lagi-lagi Dinda dibuat tersenyum lebar akibat ucapan manis Tom di pagi hari ini. Kadang kali memang Dinda merasa ada perasaan aneh yang muncul di dalam hatinya ketika bersama Tom, walau ia masih belum paham perasaan apa itu.


"Mungkin Jeevan gak akan ganggu aku, tapi soal mister Erick gimana? Dia pasti bakalan marah besar karena aku gak balik lagi," ucap Dinda.


"Kamu tenang aja, baik Jeevan maupun Erick gak akan ada yang bisa sentuh kamu selagi ada saya di sisi kamu!" ucap Tom dengan santai.


"Gaya banget sih kamu, emang kamu bisa hadapin pasukan mereka yang banyak itu? Kamu aja cuma sendirian," ucap Dinda ragu.


"Saya gak butuh pasukan apapun sayang, kan udah ada kamu yang jadi penambah semangat saya. Berapapun yang harus saya hadapi, gak akan berpengaruh apa-apa," ucap Tom.


"Okay, aku percaya sama kata-kata kamu. Makasih juga ya udah izinin aku buat tinggal di rumah kamu," ucap Dinda tersenyum lebar.


"Sama-sama, tapi apa kamu gak kangen sama orang tua atau saudara kamu gitu? Mereka pasti masih pusing banget nyariin kamu," ucap Tom.


"Sejujurnya aku kangen sama mereka Tom, malah kangen banget. Tapi, aku gak mau pulang kesana karena khawatir mereka akan terkena masalah seperti yang aku hadapi sekarang," ucap Dinda.


"Kamu memang anak yang berbakti, saya yakin orang tua kamu pasti bangga banget punya anak seperti kamu!" ucap Tom.


"Bisa aja kamu," Dinda tersipu malu.


Tom langsung merangkul Dinda dan menarik dagu gadis itu, tanpa aba-aba ia mengecup bibirnya lalu mulai melu-mat nya dengan ganas dan rakus. Dinda hanya memejamkan mata menikmati permainan Tom yang cukup memuaskannya.

__ADS_1


...~Bersambung~...


...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...


__ADS_2