
#Terjebak Gairah Sang Mafia 2
Bertemu Musuh
•
•
"Oh iya, namaku Aulia kak. Salam kenal ya?" ucap Aulia.
Victor terkejut, nama gadis itu sangat mirip dengan nama adiknya. Victor pun semakin yakin jika yang berdiri di hadapannya ini adalah Alia, adiknya yang telah lama hilang.
"Oh Alia, apa ini benar kamu sayang?" batin Victor.
Melihat Victor yang hanya terdiam, Aulia pun kebingungan dan coba menyadarkan pria itu dari lamunannya.
"Hey, halo! Kamu kenapa ya? Ada yang salah sama nama aku?" tegur Aulia.
"Ah iya iya, maaf aku tadi kagum aja sama nama kamu. Aulia, mau kan ikut sama aku sebentar? Aku cuma mau ngobrol aja kok," ucap Victor gugup dan coba menahan air matanya.
"Eee gimana ya? Sebetulnya sih aku gak bisa, karena aku ada kelas sebentar lagi," ucap Aulia.
"Yah ayo dong Aulia, kamu mau ya ngobrol sama aku sebentar aja!" bujuk Victor.
"Umm.." Aulia terlihat kebingungan sambil melihat ke sekeliling dan menghentak-hentak kakinya.
"Aku janji gak akan apa-apain kamu, aku cuma mau bicara sama kamu Aulia. Kita bicaranya gak jauh dari kampus kok," ucap Victor.
"Yaudah deh, aku mau bicara sama kamu. Tapi, kita ngobrolnya di taman depan sana aja ya?" ucap Aulia.
"Okay, dimana pun aku siap kok. Kalo gitu ayo kita kesana sekarang!" ucap Victor yang tanpa sadar menggandeng tangan Aulia.
"Eh kenapa pake digandeng segala?" heran Aulia.
"Hah??" Victor tersentak kaget, lalu reflek melepas pergelangan tangan gadis itu darinya.
"Ma-maaf ya Aulia? Tadi itu aku beneran gak sengaja," sambungnya.
"Iya gapapa kok," singkat Aulia.
Victor tersenyum tipis, kemudian mengajak Aulia pergi dari sana setelah pamit pada teman-temannya. Akan tetapi, tiba-tiba seorang lelaki meneriaki nama Aulia dari belakang dan membuat keduanya terkejut.
__ADS_1
"AULIA!" mereka berdua kompak menoleh dan menghentikan langkahnya.
"Alif?" lirih Aulia begitu menatap wajah pria yang mendekat ke arahnya.
"Kamu kenal sama dia Aulia?" tanya Victor pada gadis di sebelahnya itu.
Aulia mengangguk, "Ya dia teman kampus aku, sebentar ya aku mau bicara dulu sama dia?" jawabnya.
"Oke." Victor mengangguk mengizinkan.
Lalu, Aulia bergerak maju mendekati Alif dan mereka pun berhadap-hadapan saat ini. Langsung saja Aulia menanyakan apa maksud Alif memanggilnya seperti tadi dan mengagetkannya.
"Ada apa? Ngapain lu teriak-teriak kayak tadi?" tanya Aulia ketua.
"Lu kok mau pergi sama orang asing sih Lia? Lu gak takut diculik gitu?" ujar Alif.
"Heh! Lu gausah sok perduli deh, dah sana pergi!" usir Aulia.
"Kenapa lu jutek gitu dah ke gue? Emang gue punya salah apa sih sama lu, Lia?" heran Alif.
"Lo lupa ya? Lo kan yang udah bikin gue sama teman-teman gue waktu itu diculik, jadi sekarang lu gausah sok perduli sama gue!" ucap Aulia.
Alif sontak menunduk merasa bersalah, "Maafin gue ya Aulia? Saat itu gue benar-benar dibutakan oleh uang, gue sampai mau kerjasama sama si Tom buat jebak lu dan yang lain," ucapnya.
"Eh ja-jangan dong Lia! Lu gak mikir apa gimana perasaan keluarga gue kalo gue di penjara nanti?" ucap Alif memelas.
"Terus lu mikirin perasaan keluarga gue sama yang lain gak waktu itu? Enggak kan? Buat apa gue harus mikirin keluarga lu?" sentak Aulia.
Alif kembali terdiam, sedangkan Victor yang sedari tadi mendengarkan percakapan itu terlihat sangat bingung dan tak mengerti apa sebenarnya yang sedang mereka bicarakan.
•
•
Sementara itu, Queen datang ke rumah sakit untuk menjenguk papanya. Ia membawa serta Jeevan sebab pria itu memang ingin bertemu dengan papanya dan melihat kondisinya, Jeevan sadar bahwa dia perlu melakukannya agar Queen mau percaya dan kembali ke dalam dekapannya.
Keduanya memasuki ruangan tempat Salman dirawat, terlihat pria itu masih terbaring lemah dengan mata terpejam. Queen pun berhenti tepat di sebelah tubuh papanya, ia tatap sang papa dengan wajah sedih seperti hendak menangis. Sedangkan Jeevan juga tampak tidak tega melihatnya.
"Halo pa! Maaf ya aku baru bisa datang sekarang buat jenguk papa? Sekarang papa lagi istirahat, jadi aku belum bisa ngobrol sama papa deh. Tapi, gapapa aku bakal tunggu papa," ucap Queen lirih.
"Queen, papa kamu cuma tidur kan? Maksud aku, papa kamu bukan koma atau pingsan kan?" tanya Jeevan cemas.
__ADS_1
"Iya Jev, tadi kan suster udah bilang. Lagian kenapa kamu khawatir banget kayak gitu? Kamu perduli sama papa aku? Bukannya kalian musuhan ya?" ucap Queen terheran-heran.
"Aku sama papa kamu mungkin emang musuh, tapi untuk kali ini aku juga gak tega lihat papa kamu terbaring lemah kayak gini. Apalagi aku kan sebentar lagi bakal nikah sama kamu," ucap Jeevan.
"Percaya diri banget kamu ya? Emangnya siapa yang mau nikah sama kamu coba?" heran Queen.
"Aku harus percaya diri sayang, supaya aku gak kehilangan kamu," ucap Jeevan tersenyum.
"Tapi, aku yang gak mau nikah sama kamu karena kamu orang jahat!" tegas Queen.
"Sekali lagi aku bilang sama kamu, aku bukan orang jahat Queen sayang. Aku bakal buktikan ke kamu kalau aku benar-benar tulus sama kamu!" ucap Jeevan penuh yakin.
"Masa sih? Aku tetap sulit percaya sama kamu Jeevan, apalagi kemarin kamu langsung sentuh aku gitu aja dan bawa aku ke ranjang," ucap Queen.
"Lah kok kamu jadi salahin aku? Perasaan kamu sendiri yang ajak aku dan paksa aku buat puasin kamu, apa kamu lupa tentang itu sayang?" ucap Jeevan sambil tersenyum tipis.
"Emang iya, tapi kamu kalau emang tulus sama aku harusnya bisa tahan diri dong!" ucap Queen.
"Mana bisa aku tahan kalau sama kamu? Kamu itu menggoda banget sayang, lagian kalau aku gak gituin kamu nanti kamu tersiksa sendiri," ujar Jeevan.
"Yaudah, gausah dibahas lagi. Aku mau fokus jaga papa sampai papa sadar," ucap Queen.
"Kamu duluan yang bahas soal itu, aku mah udah lupain kejadian kemarin itu kok," ucap Jeevan.
"Iyain aja deh, mending kamu keluar dulu sana daripada bikin aku darah tinggi!" usir Queen.
"Kamu usir aku? Aku kesini kan mau jenguk papa kamu, masa aku malah disuruh keluar?" protes Jeevan.
"Bodoamat, suruh siapa kamu ngeselin banget dan selalu bikin aku emosi?!" kesal Queen.
Jeevan menangkup wajah Queen sambil mengecup keningnya dengan lembut, "Aku minta maaf ya? Aku emang selalu bikin kamu emosi, tapi aku janji setelah ini aku akan selalu bahagiakan kamu sayang!" ucapnya penuh ketulusan.
Queen hanya diam menatap wajah Jeevan yang berada sangat dekat dengannya, jujur saja jantungnya saat ini berdetak tidak aman karena perlakuan manis lelaki itu.
"Uhuk uhuk uhuk.." tiba-tiba suara batuk yang berasal dari Salman mengejutkan keduanya.
...~Bersambung~...
...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...
...•...
__ADS_1
...KOMEN WOI KOMEN!...