Jerat Cinta Sang Mafia

Jerat Cinta Sang Mafia
Bab 44. Jambak-jambakan


__ADS_3

#Terjebak Gairah Sang Mafia 2


Mencari Aulia




Queen terkejut, ia baru teringat kembali dengan peristiwa itu. Oh ia sungguh menyesal karena harus bertemu lagi dengan wanita yang sangat menyebalkan seperti dia, ya siapa lagi dia kalau bukan Caitlyn.


"Oh iya, saya ingat banget kok mbak peristiwa itu. Apa kabar mbak?" ucap Queen ramah.


"Gausah basa-basi ya kamu, dari kejadian tadi aja udah ketahuan kalau kamu itu lalai dan emang selalu gak pernah fokus!" ujar Caitlyn.


"Ih maksud mbak apa sih? Tadi dan waktu itu jelas beda dong, mana bisa disamain gitu aja?" heran Queen.


"Sudahlah, saya malas bicara sama orang seperti kamu yang gak tahu diri!" ucap Caitlyn.


Queen benar-benar tak mengerti dengan ucapan Caitlyn, ia sangat heran mengapa Caitlyn berkata seperti itu. Disaat mereka hendak bubar, tiba-tiba saja Aqila datang tanpa diduga dan membuat Queen terkejut bukan main. Lagi-lagi Queen harus berhadapan dengan ibu dari Jeevan tersebut.


"Loh Caitlyn, kamu kok bisa sama dia sih? Ngapain kamu harus berurusan sama dia sayang?" tanya Aqila terheran-heran.


"Eh tante, emangnya tante kenal sama dia?" Caitlyn malah balik bertanya pada Aqila terkait Queen.


"Ya pasti lah tante kenal, dia ini Queen wanita yang dikejar-kejar Jeevan," ucap Aqila.


"Apa??" sontak Caitlyn sangat terkejut mendengar perkataan Aqila, ia menatap Queen dan terlihat semakin emosi.


"Iya benar, perempuan ini yang selalu disebut-sebut Jeevan dan bikin dia gak mau nikah sama kamu Caitlyn. Buat apa kamu dekat sama dia?" ujar Aqila.


"Enggak tante, aku aja benci kok sama dia. Dia ini selalu bikin aku susah, tante tau gak dia pernah hampir nabrak mobil aku loh!" ucap Caitlyn.


Aqila membulatkan matanya, "Serius kamu sayang? Kapan kejadiannya?" tanyanya kaget.


"Waktu itu tante, terus tadi dia juga nabrak aku sampai belanjaan aku jatuh. Kayaknya dia ini emang pembawa sial deh, gak bener banget jadi orang! Kok bisa Jeevan tertarik sama dia?" jawab Caitlyn dengan sinis.


"Ohh, kamu itu benar-benar keterlaluan ya Queen! Kamu sudah menyakiti perasaan saya, lalu sekarang kamu juga ingin membuat Caitlyn tersakiti?" geram Aqila pada Queen.


Queen yang terus disudutkan seperti itu hanya bisa diam menahan emosi, ia tidak bisa melawan karena hanya akan membuang-buang waktu dan tenaganya. Dinda pun terus berusaha membuat Queen tenang, ia menepuk-nepuk bahu Queen berharap agar wanita itu bisa sabar.


"Queen, lu yang sabar ya! Gue bakal selalu ada buat lu disini," bisik Dinda.


Queen manggut-manggut menanggapi ucapan Dinda, ia menghela nafasnya agar tidak terpancing emosi saat berhadapan dengan Caitlyn dan Aqila. Ia tahu kedua wanita itu sangat benci padanya dan akan terus memancingnya, apalagi setelah ia tahu bahwa Caitlyn adalah gadis yang dijodohkan dengan Jeevan.


"Heh! Kenapa lu diam aja? Lo gak berani ngomel lagi kayak waktu itu? Ayo dong, keluarin kata-kata lu yang banyak! Jangan jadi pengecut Queen!" sentak Caitlyn.

__ADS_1


"Maaf ya mbak Caitlyn, saya gak pernah lakuin apa yang mbak tuduhkan ke saya barusan. Jadi, tolong mbak jangan fitnah saya di depan tante Aqila! Sangat jelas kok, waktu itu mobil mbak yang salah dan hampir nabrak saya," ucap Queen.


"Lo nyalahin gue? Emang perempuan gak tahu diri!" Caitlyn bergerak maju dan menjambak rambut Queen begitu saja.


"Rasain ini sialan!" sambungnya yang terus menarik rambut Queen dengan kuat.


Queen tak bisa menahan diri lagi, ia membalas dan ikut menjambak rambut Caitlyn sehingga terjadi perkelahian disana. Dinda berusaha memisahkan mereka, namun apa daya ia tidak cukup kuat melerai perkelahian antara kedua gadis yang tengah emosi itu.




Jeevan sedang kelimpungan di dalam mobilnya untuk mencari pengganti Gatra sesuai perintah papanya, ia tak tahu kiranya siapa yang cocok untuk memimpin wilayah timur agar tidak mengecewakan seperti Gatra. Pasalnya saat ini pikirannya juga terbagi menjadi dua, sebab ia harus memikirkan cara untuk membawa Queen pergi.


"Aaarrgghh!!! Siapa ya yang saya harus jadikan pimpinan di wilayah timur? Pusing banget kepala rasanya, papa lagian kenapa gak cari orangnya sendiri aja sih?!" gumam Jeevan sangat kesal.


Disaat ia sedang bingung memikirkan pengganti Gatra, tiba-tiba saja sebuah mobil menyalipnya dan berhenti tepat di hadapannya. Sontak Jeevan terkejut, lalu menginjak rem secara mendadak. Ia benar-benar kaget sekaligus kesal pada si pemilik mobil di depan sana.


Jeevan pun menekan klakson berkali-kali, berharap mobil tersebut pergi dari sana agar ia bisa lanjut melaju. Namun, bukannya pergi mobil itu malah tetap diam seolah menunggu sesuatu. Tak lama, si pemilik keluar dari dalam mobil dan membuat Jeevan tercengang melihatnya.


"Itu kan si tua Erick, hadeh pasti dia mau tanya soal Dinda lagi. Gimana ya saya harus hadapi dia? Bingung banget saya soalnya," gumam Jeevan.


Akhirnya Jeevan memutuskan keluar dari mobilnya saat Erick dan beberapa anak buahnya sudah berdiri tepat di depan sana, Jeevan tak memiliki pilihan lain selain menghadapi mereka walaupun sebenarnya ia sedang malas berurusan dengan Erick yang hanya memikirkan Dinda itu.


"Kalian itu mau apa lagi sih? Mister Erick, saya sudah bilang saya gak tahu dimana Dinda. Kenapa anda masih saja ganggu saya? Kalau anda mau cari dia, ya silahkan aja cari sendiri!" ujar Jeevan.


"Ya saya ngerti, tapi saya beneran gak tahu apa-apa soal dia yang bawa kabur Dinda dari anda. Jadi, anda tidak bisa menyalahkan saya!" tegas Jeevan.


"Anda mungkin memang tidak terlibat, tapi tetap saja anda harus tanggung jawab atas semua yang Tom lakukan!" ucap Erick.


"Kenapa bisa anda bicara begitu? Jangan asal bicara ya! Buat apa saya tanggung jawab kalau saya sendiri gak tahu apa-apa?" protes Jeevan.


"Simpel aja, kalau anda gak mau tanggung jawab dan membantu saya dalam menemukan Tom dan Dinda, maka saya akan bikin hidup anda menjadi lebih menyedihkan dari sekarang tuan Jeevan!" ucap Erick mengancam.


"Anda mengancam saya, mister Erick? Kalau iya, anda salah orang. Memangnya anda tidak tahu saya ini siapa? Justru saya yang bisa bikin anda semua mati sekarang juga!" ujar Jeevan.


Erick menyeringai, "Apa anda tidak sadar kalau anda sedang sendiri saat ini?" ucapnya.


"Lalu kenapa? Anda pikir saya takut? Ayo, maju saja kalian semua jika kalian memang bisa menangkap saya!" tantang Jeevan.


"Sial! Serang dia!" perintah Erick.


Saat itu juga anak buah Erick langsung menyerang Jeevan dengan brutal, mereka berkelahi secara panas disana dan disaksikan oleh Erick yang masih memantau sambil tersenyum melipat kedua tangannya di depan. Namun, tiba-tiba seseorang bertopeng muncul dan menolong Jeevan.


"Hah? Siapa orang itu?" batin Erick.

__ADS_1


Akhirnya Erick ikut maju dan menyerang Jeevan serta seorang pria bertopeng yang tadi datang menolongnya, Erick sangat emosi sampai tak membiarkan Jeevan membalas serangan-serangan yang ia layangkan ke tubuh pria itu.




Disisi lain, Victor dan teman-temannya masih belum kenal lelah untuk bisa menemukan wanita yang mereka cari. Victor sangat yakin bahwa ia bisa bertemu kembali dengan wanita yang waktu itu tanpa sengaja ditabrak olehnya, dan ia juga yakin kalau wanita itu adalah adiknya.


Meski begitu, tetap saja Danish serta Ellia sama-sama tak percaya jika wanita yang ditemui oleh Victor kala itu adalah adiknya. Mereka kurang yakin dengan perkataan Victor, namun sebagai seorang sahabat mereka akan terus membantu Victor mencari wanita itu.


"Kemana lagi nih kita mau pergi Vic? Udah hampir sejam kita muter-muter, tapi belum ketemu juga tuh cewek," ujar Danish.


"Susah sih ini mah, apalagi kita gak ada petunjuk apapun tentang tuh cewek," sahut Ellia.


"Kalian berdua emang benar, rasanya percuma kita keliling-keliling cari tapi tanpa petunjuk apa-apa. Gue juga gak yakin bisa ketemu lagi sama tuh cewek," ucap Victor mulai pesimis.


"Lo jangan pesimis gitu dong bro! Satu-satunya cara, ya kita balik lagi ke kampus itu besok. Kan tadi kata penjaganya besok udah balik lagi aktivitas kayak semula," ucap Danish.


"Tapi, gimana kalau ternyata dugaan gue salah dan cewek itu bukan Alia adik gue? Pasti gue bakal kecewa berat bro," ucap Victor lemas.


"Lo kenapa jadi gak yakin gitu dah bro? Perasaan daritadi lu yakin banget kalau cewek itu tuh adik lu, kok bisa semudah ini lu berubah pikiran?" ujar Danish agak terkejut.


"Entahlah bro, pikiran gue emang mengarah kalau dia tuh Alia. Tapi, gue juga kan gak punya bukti apa-apa yang bisa yakinin pemikiran gue itu," ucap Victor.


"Yang sabar aja dulu Victor! Kita kan pelan-pelan juga lagi nyari buktinya," ucap Ellia.


"Iya, gue bakal selalu sabar demi bisa temuin adik yang udah lama gue cari-cari. Thanks ya buat supportnya, kalian emang the best!" ucap Victor.


"Sama-sama Vic, emang udah seharusnya sesama sahabat saling support. Ya kan Danish?" ucap Ellia sambil tersenyum.


"Hooh, tapi gue yakin lu support Victor sebagai pacar bukan sahabat!" kekeh Danish.


"Apaan sih? Lo bisa stop gak bilang kayak gitu? Lama-lama gue hajar juga lu!" geram Ellia.


"Eits, kalo gak bener jangan marah dong! Masa digituin aja marah sih?" goda Danish.


"Berisik ya lu! Vic, si Danish mah gausah didenger ya dia suka gak jelas orangnya!" ucap Ellia.


"Iya iya, gak mungkin juga lu suka sama gue. Masa iya lu yang cantik itu suka sama gue yang jelek kayak dukun ini?" ucap Victor.


"Hahaha, tumben lu nyadar diri Vic!" kekeh Danish.


"Ya gue mah realistis aja bro," singkat Victor.


Danish terus tertawa sambil menggelengkan kepalanya, sedangkan Ellia terdiam dan terus memandang Victor yang duduk di sebelah Danish itu. Ellia memang menyukai Victor sejak lama, namun dirinya selalu saja enggan untuk mengungkapkan rasa cintanya.

__ADS_1


...~Bersambung~...


...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...


__ADS_2