
Aletta menggeliat pelan sebelum membuka matanya perlahan, kepalanya masih terasa sakit efek obat bius. ia melihat sekelilingnya ruangan bernuansa putih ini adalah kamar tempat dimana ia dirawat.
Gadis itu meraba bahu kirinya yang kini sudah ada penyangga yang melekat ditubuhnya.
Berapa lama gue ga sadar? keluhnya karena merasakan tubuhnya begitu lemas.
Aletta mengingat kembali percakapannya dengan dokter Alvaro disaat- saat terakhir kesadarannya sebelum obat bius itu membuat dirinya terlelap.
janji kalo tangan saya sembuh dokter mau gak jadi calon suami saya?
"Astaga Aletta" pekiknya seraya bangkit dari tempat tidur
Aletta loe bego banget sih, loe kenapa bisa ngomong kaya gitu didepan dokter Alvaro, hadeeh kalo ketemu gue kudu bersikap kaya gimana coba? Semoga aja Dokter Alvaro gak nanggepinnya serius.
Tunggu dulu.. gimana kalo sebenernya dokter Alvaro itu udah punya isteri? Haduhh Aletta bertambah sudah kebodohan loe, tadi loe mikir apa coba sampe ngomong kaya gitu, secara ga langsung loe ngelamar dokter Alvaro , astaga
Aletta mengacak- acak rambutnya frustasi dengan kekonyolan yang ia perbuat hari ini, mau ditaruh dimana mukanya saat bertemu dengan lelaki itu.
"Al loe udah bangun?" Tanya Alea yang baru saja keluar dari toilet terkejut melihat adiknya sudah duduk dengan rambut acak- acakan, " Al loe kenapa? Ada Sakit? Gue panggilin dokter Varo ya" Alea yang khawatir langsung menekan tombol darurat
"Jangan di pencet gue gak papa kok..." Cegah Aletta
Alea nyengir seketika karena tangannya sudah lebih dulu menekan tombol itu sebelum Aletta sempat mencegahnya, "loe telat udah gue pencet"
Mati gue, mati... Haduhh gimana kalo dokter Alvaro dateng.. gimana kalo dia bahas omongan ngelantur gue tadi..
ingin rasanya Aletta kabur dari rumah sakit atau ganti dokter sekalian biar tak perlu bertemu dokter Alvaro lagi.
Tenang Aletta.. tenang... Percaya deh kalo dokter Alvaro ga bakal ngebahas omongan ga berbobot loe itu, yakin aja.. yang loe harus lakuin sekarang adalah pura- pura lupa.. anggap loe ngehalu tadi.. okay.. rileks...
Aletta mencoba menenangkan dirinya, diliriknya pintu kamar diketuk beberapa kali lalu muncullah dokter Alvaro bersama asistennya ditemani kedua orangtuanya yang ikut masuk karena panik.
__ADS_1
"kamu sudah bangun Aletta? Apa ada yang dirasa sakit atau tidak nyaman?" Tanya Alvaro
"Sayang kenapa? Ada yang sakit? Yang mana yang sakit nak bilang sama dokter biar langsung diobatin" berondong mama April yang ikut panik melihat keadaan putrinya
Aletta buru- buru menggeleng "Al gak papa kok ma" sambil tersenyum lalu beralih menatap lelaki berjas putih itu, "emm... Saya izin pulang boleh ga dok?" Tanya Aletta
Alvaro yang sedari tadi menunggu jawaban gadis itu menaikan sebelah alisnya, "kenapa?"
lidah Aletta kelu, pikirannya blank ia bingung harus memberi alasan apa agar lelaki berjas putih itu mengizinkannya untuk pulang.
"Lo kenapa Al lo kan masih belom pulih, baru aja diobatin masa lo minta pulang sih." Protes Alea
"Iya sayang, kamu dirawat disini dulu semalem aja. Kalo kondisi kamu udah baikan baru kita pulang." Timpal mama April yang masih cemas dengan kondisi putrinya
"Tapi ma Al udah gak papa kok, Al pengen pulang ma, Al ga betah dirumah sakit..." ucap Aletta dengan wajah memelas
"Al yang mama bilang ada benarnya sayang, kamu baru aja dapet penanganan, baru sadar juga.. kamu belum pulih sayang.. dirawat dulu semalem aja disini , papa janji nanti papa bicara sama dokter supaya besok kamu bisa pulang." Sela papa Ferdi
Aletta mengigit bibir bawahnya, "tapi pa.."
Aletta menghela nafas menatap sang papa dengan wajah memelasnya mencoba membujuk sang papa namun papa Ferdi tak bergeming membuat Aletta akhirnya mengangguk pasrah jika papanya sudah memanggil namanya depannya secara lengkap itu artinya kalimat perintah tanpa bisa dibantah.
"Nah gitu dong... Makasih ya udah nurut sama papa."
Aletta mengangguk lemah, 3 lawan satu mana bisa menang dia. Ahh sudahlah, mari kita berpura- pura seolah kejadian diruang fisioterapi tidak pernah terjadi.
"Baiklah, kalau sekiranya tidak ada keluhan saya izin pamit" ucap Alvaro setelah memastikan keadaan Aletta baik- baik saja.
"Dokter terima kasih sudah merawat putri saya dengan baik." Ucap papa Ferdi sebelum Alvaro berlalu meninggalkan ruang rawat Aletta
"Sama- sama pak, tidak perlu sungkan. Sudah menjadi kewajiban saya melakukan yang terbaik untuk pasien ." Kata Alvaro
__ADS_1
"Terima kasih juga dokter udah bantu menenangkan Aletta, saya ga bisa ngebayangin gimana histerisnya anak itu masuk rumah sakit tadi tanpa didampingi keluarganya." Ucap mama April tulus sambil menatap putrinya yang tercengang tak menyangka jika ibunya tau ada adegan drama hospital tadi.
Siapapun tolong bawa gue ke rawa- rawa,, gue udah malu banget. Teriak Aletta dalam hati
Alvaro melirik Aletta, wajah gadis itu merah padam menahan malu. Entah mengapa terlihat sangat menggemaskan dimata Alvaro
"Maaaaaaaaa...." Protes Aletta sudah cukup banyak aibnya hari ini janganlah diumbar kembali, ia sudah sangat malu jika berhadapan dengan lelaki bertitle dokter dihadapannya ini.
"Aletta paling anti sama rumah sakit dok, dia pasti bakal kabur kalo mama atau papa ngajak dia ke rumah sakit.. apalagi kalo tau bakal disuntik pasti dia bakal ngamuk dan biasanya baru anteng kalo papa udah turun tangan.." curcol Alea
"Aleeaaaaaaaaaa" pekik Aletta kesal. Mengapa semua orang harus membuka aibnya sih.
Alvaro menahan dirinya untuk tidak tertawa mengingat kejadian di UGD tadi siang "Gak kok, tadi Aletta anteng-anteng aja." Ucap Alvaro sambil menatap gadis itu yang kini sudah menundukkan kepalanya karena malu
Apanya yang anteng-anteng dok, kalo aja bukan karena omongan dokter yang menghipnotis saya dan pelukan dokter yang menenangkan saya, mungkin saya udah pencak silat atau kaya kuda lumping kesurupan saking takutnya, batin Aletta
"Sekali lagi terima kasih ya dokter.." ucap mama April tulus
"Sama- sama ibu saya izin pamit karena masih ada pasien yang harus saya kunjungi." Pamit Alvaro kepada kedua orangtua Aletta , "Obatnya jangan lupa di minum ya Aletta"
Aletta hanya mengangguk tanpa berani menatap lelaki itu. Nyalinya ciut mengingat dengan tidak tahu malunya ia melamar lelaki itu tadi.
"Dokter Varo, terima kasih ya"ucap Alea tulus
"Sama- sama Alea" balas Alvaro
Aletta mengangkat sedikit kepalanya memperhatikan sikap Alea pada lelaki berjas putih itu bagaimana mata gadis itu berbinar menatap lelaki berparas blesteran itu. dirinya teringat obrolan tengah malam mereka beberapa hari yang lalu.
Jangan bilang kalo dokter yang ditaksir Alea itu dokter Varo
Aaaaaaaaaa kenapa jadi begini sih!!!! ingin rasanya Aletta meneriaki kebodohan.
__ADS_1
semoga dokter Varo ga anggap serius omongan gue dan Alea berjuanglah gue bakal dukung hubungan kalian.
Bersambung