Jodoh Di Kejar Dateline

Jodoh Di Kejar Dateline
82


__ADS_3

Setelah seminggu berlibur untuk berbulan madu, kini mereka kembali ke aktivitas masing-masing seperti biasanya.


Sore itu Alvaro baru pulang dari rumah sakit, apartemennya terlihat sangat sepi. ia meletakan tas kerjanya lalu mencari keberadaan istrinya.


"Al...."


Beberapa kali Alvaro memanggil nama Aletta namun tidak ada sahutan dari sang pemilik nama. Ia sudah mengecek semua ruangan yang ada di apartemennya tapi tidak menemukan keberadaan istrinya.


"Masa iya belum pulang dari kantor? Perasaan tadi ngabarin kalo udah pulang dari siang" gumam Alvaro


Alvaro mengeluarkan ponselnya mencoba menghubungi Aletta. Terdengar deringan ponsel milik Aletta dari dalam kamar, buru- buru Alvaro mengecek kamarnya.


Hanya ada ponsel Aletta yang tergeletak di atas kasur, lalu dimana istrinya itu?


"Kak... Kamu udah pulang?"


Alvaro keluar dari kamar, terlihat Aletta baru saja masuk sambil menenteng kantung belanjaan ditangannya


"Kamu dari mana?"


"Minimarket" Aletta meletakkan kantong yang dibawanya diatas meja dapur


"Kenapa ga bawa handphone sih Al, aku pulang rumah sepi, telpon kamu handphonenya di kamar. Bikin panik aja"


Selesai mencuci tangan Aletta menghampiri suaminya itu, "ughhh kamu nyariin ya" Aletta langsung mengecup pipi kanan Alvaro sebagai permintaan maafnya, " maaf ya aku tadi buru- buru karena lupa belanja"


"Iya gak apa-apa"


"Yaudah aku mau masak dulu." Aletta langsung beranjak kembali ke dapur mengeluarkan bahan-bahan yang tadi di belinya


"Kamu mau ngapain?" Tanya Aletta saat melihat Alvaro melepas kemejanya menyisakan kaos dalamnya yang berwarna hitam


"Masak"


Aletta mendorong Alvaro, "kamu istirahat aja kan capek baru pulang, biar aku aja yang masak. Ini kan tugas aku"


Alvaro menahan tangan Aletta, "aku nikah sama kamu bukan buat jadiin kamu pembantu yang harus ngelakuin kerjaan rumah sendiri. Kita berkomitmen untuk menikah dan membangun rumah tangga berdua jadi semua kerjaan rumah ya di kerjain bersama. Kan kamu juga capek abis ngantor. Jadi biar adil kita lakuin sama-sama"


Aletta tersenyum tidak akan menang berdebat dengan suaminya itu, "ya sudah, kalo gitu kamu tolong susun ini ke kulkas ya aku mau bersihin sayuran dulu."


Alvaro mengangguk, ia mulai menyusun bahan-bahan makanan, Snack dan minuman ke dalam kulkas. Setelah itu mengambil baju kotor dari dalam kamar dan memasukkannya ke dalam mesin cuci tak lupa menambahkan detergen ke dalamnya.


Masakan sudah matang dan sudah ditata diatas meja. Alvaro yang baru selesai mandi keluar dari kamar masih dengan handuk yang melingkar di lehernya


"Aku mandi dulu ya" Aletta langsung masuk ke kamar untuk membersihkan diri


Bel pintu apartemen Alvaro berbunyi ia langsung membukanya.

__ADS_1


Nathan tersenyum memamerkan gigi putih menawannya yang tersusun rapi, "hai adik ipar" sapanya


Alvaro hanya geleng-geleng kepala melihat, Nathan masuk tanpa disuruh.


"Bosen gue di apartemen sendiri, Alea belum pulang" ucap Nathan tanpa ditanya


Nathan membeli satu unit apartemen yang sama dengan Alvaro bedanya Nathan ada di lantai sembilan sementara Alvaro di lantai tujuh.


Alvaro dan Aletta tinggal sementara waktu di apartemen, mereka belum pindah ke rumah barunya karena masih dalam tahap renovasi dan baru selesai bulan depan.


"Alea kemana?"


Nathan menggeleng, "katanya ketemu klien"


"Oh"


Aletta keluar dari kamar dengan handuk yang bertengger di atas kepalanya " eh ada kakak ipar"


"Al, Alea meeting Dimana sih?" Tanya Nathan


"Di restoran Daily Godmother" jawab Aletta sambil memberikan makanan pada Ziggy, "hayo makan"


"Ayo Nat" ajak Alvaro


Rejeki anak Soleh, datang di waktu yang tepat saat perutnya mulai keroncongan.


Selesai makan Alvaro dan Nathan duduk diruang tengah sementara Aletta membersihkan meja dan mencuci piring, lalu membuatkan kopi untuk kedua lelaki itu.


Bel pintu kembali berbunyi, Aletta langsung membukanya. Angga tersenyum samar saat melihatnya


Aneh, biasanya Angga paling heboh kok jadi kalem begini, pikir Aletta


"Alvaro ada Al?"


"Ada di dalem, Nathan juga ada. Ayo masuk"


Angga mengangguk lalu masuk ke dalam menemui kedua sahabatnya itu.


"Angga my Bro. Kemana aja loe ngilang tanpa kabar" cecar Nathan


Bukannya menjawab Angga hanya menatap kedua sahabatnya dengan ekspresi yang sulit di artikan.


"Loe kanapa?" Tanya Alvaro yang melihat Angga tidak seperti biasanya


"Boleh ngomong ga sama loe berdua?"


"Lah kan loe lagi ngomong" kata Nathan

__ADS_1


"Ngomong aja.." ucap Alvaro


Angga melirik Aletta yang berada tak jauh dari mereka, Alvaro paham lalu mengajak keduanya masuk ke dalam ruang kerjanya.


"Al aku diruang kerja ya..."


Aletta mengangguk, jika sudah begitu mungkin saja urusan laki-laki. Akhirnya ia memilih masuk ke dalam kamar, mari kita nonton!!!


Di ruang kerja Alvaro ketiga lelaki itu duduk di sofa. Angga masih diam tak mengeluarkan sepatah katapun.


"Loe kenapa?" Tanya Nathan ia yakin sahabatnya itu sedang dalam masalah. Ia hafal betul sifat Angga cenderung pendiam saat punya masalah berbeda dengan Nathan yang hobinya melampiaskan dengan marah- marah pada benda disekitarnya


Angga masih diam, membuat Alvaro sedikit kesal dengan kebiasaan lelaki itu, "Angga, gue bukan cenayang yang bisa baca pikiran loe. Kalo ada masalah cerita jangan diem kaya gini."


Angga mengeluarkan surat dari dalam saku jaketnya lalu menyodorkannya pada Alvaro.


Dengan sebelah alis terangkat Alvaro menerima surat itu lalu membacanya.


"Surat apa Var?" Nathan yang penasaran ikut membacanya, Nathan tercengang saat membaca surat hasil pemeriksaan medis milik Angga


"Gue ga tau harus gimana."


Nathan menyenggol Alvaro, jika kasusnya begini biarlah Alvaro sebagai dokter yang memberikan Jawaban yang bijak, "Var.."


"Gue pesimis bisa nikah sama Andin. Kalo gue maksa gue ga bisa ngasih keturunan buat Andin. Gue bingung" Angga menarik rambutnya frustasi


"Gue tau ini berat buat loe, tapi ini masih bisa sembuh Angga, jangan pesimis gue bakal bantu loe sebisa gue." kata Alvaro


"Tapi dokter bilang ini permanen Var ga bisa di sembuhkan."


"Jangan nyerah Ngga, gue yakin loe pasti bisa sembuh. Sekarang teknologi serba maju, semua udah canggih, gue yakin pasti ada solusinya." Timpal Nathan


"Gue pesimis..."


"Angga gue tau ini berat Kalo gue yang ada di posisi loe pasti gue frustasi kaya loe gini. Tapi kalo loe kaya begini apa iya bisa menyelesaikan masalah, enggak yang ada loe malah terpuruk." Sela Nathan


"Gue harus apa?" Lirih Angga, ia benar- benar putus asa setelah divonis mengidap infertilitas, rasanya ia tidak punya kebanggaan sebagai seorang laki-laki.


"Besok loe temuin gue di rumah sakit, kita temuin mamy, gue yakin mamy punya temen dokter spesialis kandungan yang ahli dalam bidang ini. Loe harus yakin kalo loe bisa sembuh. Dan gue harap loe ga ngelakuin hal bodoh dengan mutusin Andin begitu aja"


Angga menunduk mendengar kalimat terakhir yang di ucapkan Alvaro.


Nathan refleks menunjuk Angga tak percaya jika sahabat akan membuat keputusan seperti itu, "ga mungkin..."


"Gue udah ngebatalin pertunangan gue sama dia dan putus sama dia..."


Jawaban Angga membuat Alvaro dan Nathan mengeram marah.

__ADS_1


__ADS_2