
Pertemuan keluarga telah dilangsungkan, setelah putusan sidang isbat bersama Eyang akhirnya ditetapkan bahwa pernikahan dilaksanakan bulan depan kurang dari 30 hari lagi menuju halal.
Segala persiapan sudah mulai dilakukan seperti foto prewedding, memesan baju pengantin, konsep pernikahan, gedung, catering dan serangkaian acara lainnya.
Sore itu Nathan, Alvaro dan Angga berkumpul di Caffedia setelah pulang kerja.
"Kerjaan gue makin banyak, belom lagi akhir- akhir ini sering ribut sama Alea gara-gara beda pendapat." Keluh Nathan
"Biasa itu Nat ujian menjelang nikah.." kata Angga
"gue udah tiga kali batal foto prewedding gara-gara sibuk dirumah sakit" ucap Alvaro yang teringat wajah kecewa Aletta saat ia membatalkan janji mereka untuk foto pre-wed
"Aletta ngambek?" Tanya Angga
Alvaro menggeleng, "ga, cuma gue tau dia pasti kecewa karena Udah tiga kali gagal"
"Loe harus bisa atur waktu Var, hmm gue rasa foto prewedding ga mesti siang deh. Malem juga bisa di studio gitu" usul Angga
Alvaro mengangguk paham, "gue coba atur waktunya nanti"
"Muka loe kenapa ikutan kusut juga?" Tanya Nathan yang melihat wajah Angga tak kalah suramnya
"Andin, uring-uringan gara-gara loe pada udah mau nikah. Sementara gue sama dia yang udah pacaran hampir empat tahun masih gini-gini aja"
"Angga, nikah itu bukan soal seberapa lama loe pacaran. Tapi lebih ke seberapa siap loe buat maju ke jenjang yang lebih serius." Kata Nathan
"Loe buru- buru nikah karena di Dateline sama keluarga pacar loe juga kan" ujar Angga
"Gue ngajak Aletta nikah bukan karena tradisi keluarganya tapi karena emang gue males aja pacaran lama- lama." Jawab Alvaro
"Sebenarnya gue pengen sih nikah sama Andin, tapi gue masih belom yakin apa gue mampu jadi kepala keluarga, jadi suami yang baik buat Andin,.."
"Kalo ragu- ragu ya jangan lah, jalanin aja dulu sampe loe siap. Pernikahan itu bukan kaya pacaran yang kalo ga cocok bisa minta putus atau bubar begitu aja.." ujar Alvaro
"Bener banget, apalagi pas ijab qobul, loe tau kan itu adalah janji pernikahan, janji kita sama Allah. Tangung jawabnya besar banget" timpal Nathan
__ADS_1
"Loe Jangan buru- buru mau nikah cuma karena semua temen loe udah pada nikah. Tapi menikahlah kalo loe ngerasa loe udah siap secara fisik dan mental" sambung Alvaro
"Dan Jangan nikah karena desakan pacar atau orang sekitar, karena yang ngejalanin itu elo, dan loe tau kan penyesalan itu selalu dateng belakangan. Jangan sampe gara- gara desakan orang loe yang nantinya bakal nyesel, kalo udah gitu loe ga bisa nyalahin orang lain karena semua keputusan itu loe yang ambil.." lanjut Nathan
Angga mengangguk paham "Thanks ya bro gue paham apa yang harus gue lakuin,.." Angga menepuk bahu kedua sahabatnya itu
"Hai"
Ketiga lelaki itu menoleh saat mendengar ada yang menyapa mereka.
"Vanessa"
Vanessa tersenyum menyodorkan paper bag coklat ke hadapan Alvaro, "tolong kasih ini ke Aletta sebagai tanda terima kasih gue ke dia"
Alvaro menaikan sebelah alisnya
"Beberapa waktu lalu dia nolongin gue dari preman yang gangguin gue."
Alvaro mengerutkan keningnya, kenapa Aletta tidak menceritakan padanya.
"Gue pamit ya mau balik ke Amerika buat ngelanjutin study gue, gue minta maaf pernah bersikap egois sama loe. Sekarang gue ngerti kenapa loe lebih milih dia, Aletta gadis yang baik Var, loe harus jaga dia."
"Kita masih bisa berteman kan?"
"Tentu, dari dulu sampai sekarang loe temen gue" kata Alvaro
"Gue pamit ya.." Vanessa pergi setelah berpamitan dengan Alvaro, Angga dan Nathan.
"Akhirnya masalah Vanessa kelar juga." Nathan menghela nafas lega, "tapi Var loe tau kejadian yang di bilang Vanessa tadi?"
Alvaro menggeleng, "Aletta ga cerita."
"Mungkin dia ga mau bikin loe khawatir kali Var... Tapi syukurlah dengan adanya kejadian itu Vanessa jadi sadar dan gak ganggu hubungan loe lagi"
****
__ADS_1
Malamnya setelah dari cafe Nathan, Alvaro menemui Aletta di rumahnya.
"Hai..." Sapa gadis itu yang mendatangi Alvaro di taman depan rumahnya
Alvaro tersenyum, menarik tangan Aletta agar duduk disebelahnya, " dari Vanessa" Alvaro menyodorkan paper bag yang dibawanya pada Aletta
Kening Aletta berkerut, "dokter Vanessa..." Ia lalu membukanya ada sebuah kotak berisi sepasang jam tangan berwarna hitam dari salah satu brand yang terkenal, "wow"
"Vanessa pamit kembali ke Amerika melanjutkan studinya."
"Hah?"
"Dia ngasih ini sebagai ucapan terima kasih karena kamu udah nolongin dia."
Aletta mengangguk paham ia melirik Alvaro yang sepertinya membutuhkan penjelasan tentang apa yang sebenarnya terjadi.
"Malam itu aku baru pulang dari kantor, ga sengaja ketemu di jalan. Dia kayanya lagi nunggu orang terus di gangguin preman gitu yaudah aku tolongin"
"Berantem?"
Aletta nyengir, " dikit soalnya mereka udah bersikap kurang ajar"
"Mereka berarti lebih dari satu?"
"Dua orang, aku cuma bela diri kok abis itu kita langsung kabur. Hehehe"
"Tapi kamu gak apa-apa kan?"
Aletta menggeleng, "aman"
Alvaro mengusap kepala Aletta, "lain kali telepon aku jangan nekat kaya begitu, gimana kalo sampai terjadi sesuatu sama kamu"
"Iya, maaf ya." Aletta langsung melingkarkan tangannya di pinggang Alvaro salah satu jurus ampuh supaya lelaki itu tidak jadi marah
"Yang kemaren juga belom di maafin udah bikin lagi.."
__ADS_1
Aletta mencibir, masih saja Lelaki itu ingat, ia kira Alvaro sudah melupakan dan memaafkan dirinya. Ternyata belum
Dasar pendendam!!!