Jodoh Di Kejar Dateline

Jodoh Di Kejar Dateline
98


__ADS_3

"APA LOE BILANG??? PIL KB?"


"Nat pelanin suara loe nanti semua orang bangun" kata Alvaro


"Tadi loe bilang apa, pil KB?"


Alvaro mengangguk," iya"


"Loe serius Var?"


Alvaro mengangguk yakin, ia tidak mungkin salah walaupun ia dokter spesialis tapi ia juga pernah menjadi dokter umum sebelumnya. Apalagi pil seperti itu sering ia jumpai diruang praktek ibunya.


Nathan mendudukan dirinya di kursi, kaki lemas. Mengapa Alea harus mengkonsumsi obat itu tanpa diskusi padanya, apa Alea menyembunyikan sesuatu darinya?


"Nat loe baik- baik aja kan?" Tanya Aletta


Nathan tak menyahut, ia masih terlalu shock dan larut dalam pikirannya.


"Kamu udah selesai belom? Kalo udah ke kamar dulu ya.. nanti aku nyusul." Kata Alvaro


Aletta mengangguk, ia langsung pergi ke kamarnya yang kini berada dilantai bawah memberikan ruang untuk kedua lelaki itu bicara.


"Apa ini salah satu obat pencegah kehamilan?" Tanya Nathan menatap kosong ke arah botol yang berisi obat itu, Nathan tidak bodoh sampai tidak tahu apa fungsi dari obat itu


"Iya"


Nathan meraup wajahnya, ia tidak tau harus bersikap seperti apa. Ia pernah membahas keinginannya untuk segera punya anak tapi ia tidak ingin memaksa karena Alea bilang dirinya belum siap.


Dan selama ini pula Nathan selalu bermain aman, ia selalu menggunakan pengaman tapi ia tak percaya jika Alea bertindak sejauh ini dan tanpa berdiskusi dengannya terlebih dahulu.


"Selesain dengan kepala dingin Nat, jangan emosi gue tau loe kecewa"


"Gue ga ngerti Ro, gue paham Alea belom siap punya anak mungkin karena di masih muda dan gue ga maksa itu. Selama ini gue juga main aman walaupun sesekali gue berharap ada yang jadi. Tapi gue ga nyangka kalo ...." Nathan menghela nafas panjang ada rasa kecewa menyelinap di hatinya saat ini


"Mungkin Alea punya alasan Nat"


"Apapun itu Ro, gue suaminya apa dia ga bisa lebih jujur sama gue.. .alasan apa yang dia sembunyin dari gue"


Alvaro menepuk bahu Nathan pelan, "gue mungkin ga pernah di situasi kaya loe sekarang, tapi gue harap loe bisa obrolin ini sama Alea saat loe udah lebih tenang. kalo loe emosi yang ada bakal nambah masalah baru."


Nathan menghela nafas pasrah, "gue ga janji, tapi gue bakal berusaha"


****


Keesokan paginya Alea terbangun dan mendapati sebelah tempat tidurnya kosong. Apa Nathan udah bangun pikirnya


Alea bergegas ke kamar mandi dan bersiap untuk pergi ke kantor. Ia turun ke bawah tapi tidak ada seorangpun dimeja makan.


"Mbok pada kemana?"

__ADS_1


"Pada pergi jalan pagi non" jawab Mbok Sum sambil menyiapkan sarapan


Alea mengerutkan keningnya, mengapa tidak ada yang membangunkannya,pikir Alea


Selesai sarapan Alea berangkat ke kantor ia berpapasan dengan papa Ferdi, Eyang, mama April dan Aletta


"Kamu mau berangkat ke kantor nak?" Tanya mama April


"Iya mah"


Mama April dan Eyang langsung masuk ke dalam, menyisakan papa Ferdi dan Aletta yang masih duduk di teras.


"Nathan mana Al?" Tanya Alea yang tidak melihat keberadaan suaminya itu


"Nathan udah pergi dari jam 6 pagi tadi bareng kak Varo. Loe ga tau?" Tanya Aletta heran


Alea menggeleng, "gue baru bangun"


"Mungkin Nathan ga tega bangunin loe kali"


Alea mengangguk, "mungkin, yaudah gue berangkat ya, pa Alea berangkat"


Setelah mencium tangan papa Ferdi Alea berangkat menuju kantornya.


Seperti biasa Alea akan menyelesaikan pekerjaannya sebelum jam makan siang kemudian berangkat latihan ke Sentul.


Aneh


Itulah yang di rasakan Alea, tidak biasanya Nathan begini, biasanya sesibuk apapun Nathan, suaminya itu akan selalu mengabarinya.


"Alea"


Alea menoleh saat ada yang memanggil namanya, "pak Tommy, ada apa pak? Apa ada sesuatu yang penting sampai bapak datang ke kantor saya?" Tanya Alea heran


"Iya, saya tidak sabar menunggu kamu datang makanya saya langsung ke sini sekalian lewat. Saya mau menyerahkan ini" pak Tommy memberikan sebuah map pada Alea


Alea menerima map itu membukanya perlahan, matanya langsung berbinar, "kontrak kerja sama..."


"Iya, selamat Alea sekarang kamu sudah resmi di kontrak oleh London Racing Team. Bulan depan kamu sudah bisa berkarir di sana"


Senyum Alea mengembang sempurna, rasanya ini seperti mimpi. Akhirnya impiannya terwujud, "makasih pak, terima kasih banyak atas bantuan bapak selama ini."


"Sama- sama Alea saya ikut senang."


Alea tidak sabar ingin segera memberitahu Nathan dan keluarganya nanti.


****


Aletta duduk di sofa, mengedarkan pandangannya rumah orangtuanya tampak sepi. semua orang sibuk, sementara dirinya tidak tahu harus melakukan apa.

__ADS_1


Setelah dinyatakan hamil Aletta tidak diperbolehkan untuk bekerja baik oleh suaminya maupun orangtuanya.


Ia meraih ponselnya mencoba menghubungi Alvaro, Aletta benar-benar bosan sekarang.


"Iya sayang, ada apa?"


"Kak, pulangnya masih lama gak?"


"Setengah jam lagi. Kenapa? Mau makan sesuatu?"


"Pengen ek krim.."


"Yaudah nanti pulang aku beliin"


"Enggak, aku maunya makan di kedai sekalian jalan-jalan. Bosen"


"Yaudah tunggu aku bentar lagi ya.. kamu siap-siap aja nanti aku pulang kita langsung berangkat"


"Makasih Daddy"


"Aku lanjut lagi ya"


"Okehhh... Semangat kerja Daddy"


"Bye Momma"


"Bye Daddy" Aletta meletakkan kembali ponsel di meja.


"Kenapa Al?"


Aletta menoleh ke arah pintu Nathan baru saja pulang dari kantor, "apanya yang kenapa?"


"Muka loe suntuk banget"


"Bete gue dirumah,.."


"Mau jalan-jalan?"


"Loe ngajak gue?"


Nathan mengangguk, "ayo gue temenin, katanya loe mau makan es krim.."


"Tapi..."


"Udah kita jalan duluan ke sana biar nanti Varo nyusul. Buruan siap-siap biar gue kabarin Varo"


Aletta tersenyum lebar, "makasih Nat"


"Apa sih yang enggak buat ponakan gue"

__ADS_1


__ADS_2