
Alea menemani Nathan balapan di sirkuit, lelaki itu sepertinya sudah sedikit lebih baik terbukti senyum sudah menghiasai wajahnya.
"Thanks ya Le" Ucap Nathan
"Sama-sama" balas Alea ikut bahagia melihat lelaki itu sudah ceria seperti biasanya
"Le lo laper ga?"
Alea mengangguk, perutnya memang sudah merasa lapar sejak tadi. Bahkan cacing- cacing di perutnya sudah melakukan konser, untung saja keadaan disekitar terlalu bising sehingga tidak ada yang mendengar bunyi perutnya yang keroncongan.
"Disana ada tukang nasi goreng. Lo.mau gak?"
Alea kembali mengangguk, ia bukan pemilih, ia pemakan segalanya apa saja yang penting makanan itu halal , bersih dan enak. Hehe
"Jalan kaki apa naik motor?"
"Jalan kaki aja, tangan gue pegel nih seharian megang stang motor terus"
Nathan mengangguk keduanya berjalan dalam hening hingga tiba didepan penjual nasi goreng.
"Bang, nasi gorengnya dua ya" ucap Nathan pada abang tukang nasi goreng
Alea memilih duduk lesehan di saung yang disediakan. Ia meluruskan kakinya yang terasa pegal.
Gue capek banget, rasanya pengen langsung rebahan di kasur, batin Alea
Nathan duduk berhadapan dengan Alea setelah memesan nasi goreng. Lelaki itu diam- diam memperhatikan Alea yang tengah memijit kakinya. Tanpa sadar ia tersenyum melihat tingkah Alea.
Alea yang sadar dirinya diperhatikan menoleh merasa aneh dengan sikap lelaki didepannya itu, "Nat"
"Hmmm"
"Lo ga lagi kesurupan kan?" Tanya Alea was- was
"Kenapa?"
"Lo dari tadi cengar cengir ga jelas kaya orang gila. Gue jadi ngeri sendiri ngeliatnya.."
Nathan terkekeh mendengar ucapan Alea ia sengaja memajukan wajahnya lebih dekat ke arah gadis itu, "lo ngeri apa terpesona?"
Alea mematung seketika begitu wajah Nathan begitu dekat dengannya bahkan ia bisa merasakan hembusan nafas lelaki itu diwajahnya.
Astaga jantung gue, kenapa jadi mendadak dugem begini sih.
"Permisi mas.. mbak.. ini pesanannya..."
Alea menghembuskan nafas lega ketika Abang penjual nasi goreng datang mengantar pesanan mereka membuat Nathan kembali ke posisinya semua.
Fiuhhh... Makasih bang karena sudah menyelamatkan saya dari momen yang membuat jantung saya mendadak dugem kalo berhadapan sama dia.
"Silahkan dinikmati mas... Mbak.."
__ADS_1
"Makasih pak" ucap keduanya bersamaan
"Eumm... Nasi gorengnya enak.." komentar Alea sambil mengunyah makanannya
Nathan mengangguk menyetujui ucapan Alea. Lelaki itu diam- diam memperhatikan gadis bersurai hitam itu yang sedang makan dengan lahapnya.
"Ehm... Le bentar deh, .." Nathan menyentuh sudut bibir Alea ,"ada nasi nempel" ucapnya sambil menunjuk nasi ditangannya
Alea menenggang seketika dengan perlakuan Nathan yang tiba- tiba bahkan jantungnya pun sudah berdegup kencang.
Astaga bisa pendek umur gue deket nih cowok.. astaga Alea lo kenapa sih...
"Le, kenapa lo diem?" Tanya Nathan yang merasa aneh dengan sikap Alea yang mendadak diam sambil menatapnya
Alea hanya menggelengkan kepalanya pelan, "gue gak papa..." Ucapnya lalu kembali melanjutkan kegiatannya
Fix, gue sakit kalo didekat nih cowok, batinnya
💖💖💖💖
Alvaro mengajak Aletta ke taman kota setelah mereka melaksanakan shalat magrib di mushola yang letaknya tak jauh dari area pemakaman.
"Gimana udah lebih tenang?" Tanya Alvaro sambil menyodorkan sebotol air mineral ditangannya
Aletta menerima botol mineral itu lalu menenggaknya perlahan, "lumayan..." Ucapnya lirih lalu menatap lelaki yang kini duduk disebelahnya dengan mata sembab, "makasih ya dok.. lagi- lagi saya nangis didepan dokter.. ga tau deh yang ke berapa kali.. padahal saya ga pernah nangis didepan orang lain.."
Alvaro mengangguk, "kamu kenapa?"
"Gak usah dijawab kalo emang kamu ga mau." Lanjut Alvaro
"Saya cuma bingung aja.."
"Kenapa?"
"Pas saya tau kalo kecelakaan tempo hari yang bikin tangan saya cedera itu karena disengaja, jujur saya marah. Ya kesel.. ya kecewa.. pengen bales tuh orang tapi setelah dipikir- pikir ahh sudahlah semua sudah terjadi tangan saya juga udah sembuh tinggal pemulihan... Hanya saja kesempatan saya udah ga ada."
"Kesempatan?" Alvaro ingat kejadian dirumah sakit tempo hari gadis itu mengatakan jika ini kesempatan terakhirnya
Aletta mengangguk, "ada tradisi di keluarga saya kalo anak gadis harus menikah sebelum usia mereka 21 tahun"
"Maksudnya kamu sama Alea bakal dijodohin gitu?"
Aletta kembali mengangguk, "iya, tapi Eyang masih kasih waktu 6 bulan buat nyari calon pilihan sendiri"
"Terus udah dapet calonnya?" Tanya Alvaro penasaran
Aletta menggeleng, "udah 3 bulan lebih tapi ga nemu..." Aletta terkekeh jika mengingat betapa frustasinya ia dan Alea mencari calon suami hingga kini ia hanya bisa pasrah menerima calon pilihan Eyang
"Masih ada waktu, kamu ga mau berusaha dulu?"
Aletta menghela nafas, "kalo pun saya dateng bawa laki- laki yang jadi pilihan saya, Eyang pasti bakalan menentang dengan alasan bibit bebet bobot ga jelas dan lain- lain. Semuanya harus sesuai yang Eyang mau.. jadi mending saya pasrah aja dok.."
__ADS_1
"Apa kamu ga punya pacar atau orang yang kamu suka gitu yang pengen kamu perjuangin buat jadi teman hidup kamu?"
Aletta menggeleng, "untungnya belom ada dok, saya ga mau berakhir sakit hati kalo nantinya hubungan saya ditentang sama Eyang. Lebih baik saya belajar mencintai calon yang sudah Eyang siapkan nantinya."
Alvaro mengangguk paham "Satu hal yang harus kamu tau Al... Seseorang yang sudah ditakdirkan jadi pasangan hidup kamu kemanapun kamu pergi, sesulit apapun rintangan yang bakal kamu hadapi buat bersatu sama dia. Akan selalu ada jalan untuk saling menemukan jalan pulang. Karena tulang rusuk tidak akan pernah salah mengenali pasangannya."
Aletta berdecak kagum mendengar ucapan lelaki disebelahnya itu, "wow dokter kata- katanya menyentuh sekali udah kaya bapak motivator Alvaro Teguh." Ucap Aletta sambil membayangkan lelaki disebelahnya ini versi salah satu motivator terkenal dengan kata- kata supernya
Alvaro tersenyum samar ia juga tidak menyangka bisa berkata sebijak itu, "jangan bayangin saya yang aneh- aneh"
Aletta terkekeh mendengar ucapan lelaki itu, "oh ya dokter kita selalu ketemu diarea pemakaman. Kalo boleh saya tau dokter ngunjungin siapa?"
Alvaro tak langsung menjawab, ia menimbang sejenak haruskah menjawab pertanyaan gadis disebelahnya itu.
Cukup lama hingga akhirnya ia membuka suara "Hmm... tunangan saya..." Jawabnya lirih
Degg
Aletta menelan salivanya, bibirnya kelu untuk bertanya lebih jauh. Ada perasaan tidak nyaman yang mengalir dihatinya perlahan rasa itu membuat dadanya sesak.
"Dia meninggal dua tahun lalu karena kelainan jantung yang dideritanya sejak masih kecil..."
Aletta menatap lelaki disebelahnya itu, kayaknya Varo cinta banget deh sama tunangannya, kayanya dia juga belom bisa move on .. Le perjuangannya lo buat dapetin Varo harus extra, batin Aletta
"Dokter yang sabar ya dok..."ucap Aletta sambil menepuk bahu lelaki itu pelan, "mungkin ini sudah jalannya, sekarang tunangan dokter udah bahagia di sana, dia ga perlu ngerasain sakit dan harus minum obat setiap harinya.. iya kan dok?"
Alvaro balas menatap gadis itu, mata mereka saling bertemu untuk beberapa saat, "ya kamu bener dia udah bahagia di sana..."
Hening
Aletta bingung harus mengatakan apa lagi, akhirnya ia memutuskan untuk diam.
Alvaro melirik gadis disebelahnya itu lalu tersenyum teringat sesuatu ,"kamu berhutang penjelasan ke saya?"
"Eh... Penjelasan apa dok?" Tanya Aletta gugup
Jangan bilang ni orang mau bahas insiden drama hospital gue diruang fisioterapi lagi, batin Aletta
"Pernyataan kamu diruang fisioterapi tempo hari" jawab Alvaro menatap Aletta
Mama tolong ..batin Aletta meronta
ingin rasanya ia kabur atau ia pura- pura pingsan aja kali ya, tapi sayangnya ia tidak bisa membodohi seorang dokter.
Aletta mengigit bibir bawahnya sebelum menjawab pertanyaan lelaki itu, tangannya yang dingin sibuk meremas ujung baju kemejanya, "saya halu dok.. dokter ga mungkin anggap serius ucapan saya tempo hari kan?"
"Kalo saya anggap serius tawaran kamu waktu itu gimana?" Tanya Alvaro sambil menatap Aletta yang kini wajah sudah pucat pasi
DEGG
Tuhan, boleh minta tolong kirimin Naruto ke sini ga sih pengen minta ajarin jurus menghilang, batin Aletta
__ADS_1
Bersambung