Jodoh Di Kejar Dateline

Jodoh Di Kejar Dateline
86


__ADS_3

Sebulan berlalu akhirnya Andin kembali dari Paris, ia tidak bisa terus menghindar seperti ini. Ia harus melanjutkan karirnya, ia masih muda, masih banyak hal yang bisa ia raih.


"Andin!!!!!!!!!"


Andin menoleh tersenyum mendapati kedua sahabatnya


"Gue kangen sama loe" kata Alea


"Loe lama banget di Paris personil kita kurang tau ga sih" ucap Aletta


"Gue juga kangen sama loe berdua, maaf ya gue pergi ga bilang- bilang."


"Gak papa Ndin, justru kita yang ngerasa bersalah karena ga ada disaat loe sedih." Sahut Alea


"Gue udah ikhlas kok, mungkin bukan jodoh gue"


"Yaudah dari pada galau mending kita have fun hari ini."


"Hayok!!!?"


Ketiga gadis itu akhirnya pergi ke salah satu pusat perbelanjaan terbesar di ibukota. Puas berkeliling dan mendapatkan apa yang mereka cari, kini waktunya untuk beristirahat mengisi amunisi untuk kegiatan selanjutnya.


"Gimana kabar loe berdua?" Tanya Andin sambil menyeruput orange juicenya


"Kaya biasa jadi ibu rumah tangga dan jadi wanita karir." Jawab Aletta


Alea mengangguk "Kalo gue sama sih cuma ada sedikit tambahan latihan lagi di sirkuit"


"Hah? Serius loe Le, loe balik lagi? Bukannya Nathan ngelarang loe ya?" Kata Andin agak kaget


"Masih boleh tahun ini tahun terakhir gue, abis itu gue pensiun dan Nathan ngasih syarat kalo gue hamil gue harus berhenti" jelas Alea


"Terus kalian berdua udah tekdung belom?" Goda Andin sambil menaik turunkan alisnya


Kedua gadis itu menggeleng, "belom waktunya mungkin" Kata Aletta


"gak apa-apa Al itu artinya kalian disuruh nikmatin waktu pacaran setelah menikah lagian loe pada baru juga tiga bulan nikah" hibur Andin


"bener banget, masih ada impian yang mau gue kejar" sahut Alea


"kalo gue sih santai sedikasihnya ajalah" ujar Aletta pasrah


*****


Alvaro, Angga dan Nathan tengah dirumah sakit menunggu hasil pemeriksaan Angga, sudah sebulan lamanya Angga menjalani pengobatan.


Ia harus sembuh dan melanjutkan masa depannya dengan siapapun pasangannya nanti.


"Hari ini Andin pulang dari Paris" kata Nathan membuka suara


Angga hanya menanggapinya dengan senyuman. Jangan ditanya bagaimana perasaan Angga rasanya hidupnya hampa, bagai sayur tanpa garam alias hambar. Tapi menyesal tidak ada gunanya ia sudah menyakiti gadis itu, ia tidak akan menggangu Andin lagi meskipun hati dan pikirannya tidak sejalan.


"Loe masih sama dokter Sarah?" Tanya Alvaro yang tau tentang Sarah karena baru saja dipindahkan ke rumah sakit dimana tempatnya berkerja


Angga mengangguk, mereka masih menjalani skenario pacaran pura- pura sampai nenek Sarah sembuh.


Mamy Alda keluar bersama seorang pria paruh baya dari ruangannya.


"Gimana dokter Neil?" Tanya Alvaro


"Ini hasil pemeriksaan kalian bertiga" dokter Neil menyerahkan tiga buah amplop bertuliskan nama mereka masing- masing

__ADS_1


"Ini maksudnya gimana dokter?" Tanya Angga bingung


"dari hasil pemeriksaan ada perkembangan baik, saya yakin 1-2 bulan ke depan kamu pasti sembuh asal tetap menjalani kesepakatan kita di awal pola hidup sehat , minum obat teratur dan jangan lupa yang paling utama adalah berdoa" kata dokter Neil


Angga mengusap wajahnya mengucap syukur, perjuangannya tidak sia- sia selama ini, "makasih dokter, makasih mamy"


Dokter Neil dan Mamy Alda tersenyum


Alvaro dan Nathan ikut senang mendengarnya, mereka pun lega karena hasil pemeriksaan mereka baik- baik saja.


"Kamu punya PR ngasih mamy cucu" Goda mamy Alda


Alvaro menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, "mamy, kita ga buru-buru Aletta masih muda mih"


Mamy Alda hanya geleng- geleng kepala, ia tidak memaksa putranya untuk segera punya anak, lagi pula ia sudah menimang cucu dari kedua kakak Alvaro jadi mamy Alda tidak begitu ngotot mengharuskan Alvaro harus segara punya anak


"Alea gimana Nat, masih sibuk latihan?" Tanya Angga


Nathan mengangguk, "masih, sebenernya gue ga begitu suka kalo dia balik lagi ke sirkuit tapi gimana...."


"Loe takut ga di kasih jatah ya ..." ledek Angga


"Pikiran loe cetek banget.. gue masih punya perjanjian kok kalo dia hamil dia harus berenti so gue harus kerja keras tiap malem nyebar benih supaya Alea cepet hamil dan stop ikut balapan lagi. Jahat ga sih gue?" Tanya Nathan


"Enggak sih, yah wajarlah loe khawatir jadi pembalap lumayan beresiko, dan gue setuju sih loe harus bikin keponakan buat gue biar Alea pensiun" kata Angga diiringi tawa


"Gue pasti kerja keras tiap malem" sahut Nathan bersemangat.


*****


Aletta melirik jam di ponselnya sudah jam 10 malam dan Alvaro masih belum pulang. Padahal tadi pagi lelaki itu berjanji akan mengajaknya pergi dinner.


Kesal? Bisa di bilang Aletta lumayan kesal, pasalnya suaminya itu tidak memberi kabar. Harusnya kalau memang tidak bisa Alvaro harusnya memberi kabar jadi Aletta tidak harus menunggu tanpa kepastian seperti ini. Rasanya menyebalkan


Dengan perlahan Alvaro mengangkat Aletta memindahkannya ke kamar mereka, "maafin aku ya Al..." Alvaro mengecup kening Aletta lalu menyelimutinya hingga sebatas dada


Setelah itu ia masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri.


Aletta terbangun saat mendengar suara gemericik air dari dalam kamar mandi, "kenapa aku ada dikamar perasaan tadi di sofa deh... Apa kak Varo udah pulang ya?"


Alvaro keluar dari kamar mandi sambil mengeringkan rambutnya, "kok bangun?"


Aletta hanya mengangguk, "kamu udah makan?"


Alvaro menggeleng, ia baru saja akan membuat makanan setelah mandi.


"Tunggu, aku panasin makanan dulu"


Alvaro hanya mengangguk pasrah e


Aletta memanggil Alvaro saat makanan sudah siap. Keduanya makan dalam diam, tidak ada percakapan seperti biasanya.


"Al..."


"Iya?"


"Maaf"


"Iya"


"Aku lupa ada jadwal operasi karena Minggu depan Aku harus keluar kota ada seminar"

__ADS_1


"Kemana?"


"Surabaya selama 3 hari"


"Hmm"


Alvaro tidak mengatakan apa-apa lagi hingga keduanya selesai makan dan kembali ke kamar.


"Al" Alvaro menahan Aletta yang baru saja ingin masuk ke kamar mandi untuk mengganti pakaiannya


Aletta menatap Alvaro tanpa ekspresi apapun.


"Aku minta maaf sayang, aku Bener-bener lupa. Please jangan marah"


"Aku mau ganti baju."


Alvaro tetap menahan Aletta mengunci pergerakannya istrinya dengan memeluknya, "kamu kecewa sama aku?"


"Enggak"


"Marah?"


"Enggak"


"Terus?"


"Kesel"


"Terus aku harus apa supaya kamu ga kesel lagi sama aku?"


"Ga ada"


"Al"


"Kenapa lagi?"


"Please Jangan kesel lagi" bujuk Alvaro dengan puppy eyes-nya


Aletta berusaha untuk tidak luluh, ia bahakan sampai mengigit lidahnya supaya tidak tertawa walaupun sulit karena Alvaro terlihat sangat lucu.


"Sayang..." Alvaro memasang wajah memelas agar Aletta tak lagi kesal dengannya


Aletta tidak tahan lagi akhirnya mencubit kedua pipi Alvaro dengan gemas.


"Ga ngambek lagi kan?"


"Masih.. udah kak lepasin aku mau ganti baju, udah ngantuk nih"


"Aku bakal lepasin kalo kamu udah ga ngambek lagi sama aku. Tapi kalo masih ngambek aku ga bakal lepasin"


"Kalo aku ngambeknya sampe besok gimana?"


"Yaudah kita begini sampe besok"


"Kamu mah ga romantis masa ngebujuk orang ngambek mak...."


Alvaro langsung mencium Aletta mesra cukup lama hingga Aletta menepuk dada bidang suaminya karena kehabisan nafas.


"Masih ngambek?"


"Aku bakal maafin kamu kalo aku ikut ke Surabaya"

__ADS_1


"As you wish Mrs. Alvaro"


__ADS_2