Jodoh Di Kejar Dateline

Jodoh Di Kejar Dateline
102


__ADS_3

Tangan Alvaro mengusap inkubator yang berisi sepasang bayi kembar buah cintanya dengan Aletta, setelah mengadzani putra dan putrinya tangis Alvaro pecah, melihat kondisi mereka membuat hatinya perih karena merasa gagal menjadi suami dan ayah yang baik untuk mereka.


"Kalian harus kuat ya" kata Alvaro disela tangisnya


Tubuh keduanya sangat kecil, karena memang belum waktunya mereka untuk lahir. Dunia Alvaro rasanya hancur seketika saat istrinya dinyatakan koma dan tidak ada yang tahu kapan Aletta akan membuka matanya.


"papa liat mama dulu ya, nanti papa b balik kesini lagi ya nak" Alvaro mencium kaca inkubator seolah ia sedang mencium kedua anaknya


Langkah Alvaro terhenti saat melihat Alea berdiri didepan ruangan Aletta. Amarah Alvaro seketika menguasai dirinya saat melihat tangan gadis itu berniat membuka kenop pintu.


"Loe ga boleh masuk"


Alea tersentak kaget saat mendengar suara Alvaro yang terdengar dingin.


"Tapi gue..."


Alvaro mengangkat sebelah tangannya tanda ia tidak mau mendengarkan apapun yang Alea ingin katakan. Alvaro menoleh pada Angga, "Ngga tolong bawa dia pergi sini."


Angga mengangguk paham, Angga yang sedari tadi menemani Andin langsung bangkit menghampiri Alea, "Le, mendingan loe pulang dulu ya. Kondisinya lagi ga memungkinkan"


Alea menepis tangan Angga, "loe ngomong begitu seolah- olah gue yang jadi penyebab dia kecelakaan. Gue kakaknya gue berhak..."


"Berhak apa?" Sela Alvaro menatap tajam Alea, "ga ada yang nyalahin loe ini semua salah gue yang ga becus jagain istri dan anak gue, ini salah gue harusnya pas Nathan ngajak Aletta pergi gue ngelarang mereka. ini salah gue harusnya gue ga usah ikutin saran Aletta buat ngejar Nathan bareng Angga dan biarin dia pulang sama Andin. ini salah gue harusnya gue ada di samping dia, nenangin dia karena ibu hamil itu sensitif. semua ini salah gue ga ada yang nyalahin loe "


Alea terdiam untuk pertama kalinya ia melihat seorang Alvaro marah sekaligus terluka, "Var


Alvaro menarik nafas untuk meredakan emosinya, "lebih baik loe pergi sekarang sebelum gue bertambah muak sama loe, dan jangan pernah loe muncul di hadapan Aletta lagi " Alvaro berniat langsung masuk ke dalam ruang rawat istrinya


"Siapa loe yang berhak ngelarang gue, dia adik gue..."


Alvaro berdecih pelan, "adik? Maaf ya loe salah orang Aletta anak tunggal dia ga punya saudara ataupun kakak."


"Loe-"


"Bukannya loe sendiri yang bilang loe benci sama dia karena dia ada di keluarga loe? Selamat ya Alea harapan loe terkabul doain aja yang enggak- enggak." Sela Andin sarkastik


"Andin loe-"


"Mending loe pulang, disini cuma tempat orang yang bersalah yang jadi penyebab sahabat gue celaka bukan buat tempat orang suci yang hatinya di penuhi iri dengki"

__ADS_1


Alea menatap nanar pada Andin, ia tidak menyangka Andin akan berkata begitu padanya, apa salahnya? Kecelakaan itu terjadi karena truk oleng, yang harus disalahkan adalah sopir truk bukan dirinya.


****


Alea pergi dengan perasaan marah, benci dan kesal yang bercampur jadi satu, semua orang menyalahkan dirinya, ia tidak sepenuhnya salah tapi keadaan yang memicu amarahnya hingga ia mengeluarkan isi hatinya. Apa ia salah karena merasa semua orang tidak memperhatikannya? Apa ia salah kalau ia ingin mengejar impiannya? Mengapa tidak ada satupun yang mendukungnya, mengerti keinginannya..


"Araghhhh" Alea berteriak kesal


ia benci keadaanya saat ini, saat kebanggan karir dan prestasinya berada dipuncak bukan apresiasi yang ia dapat malah cacian juga kebencian.


Alea memberhentikan mobilnya di dekat danau, ia ingin menenangkan dirinya. Saking kesalnya Alea menendang botol yang menghalangi jalannya.


"Awww!!!!" Terdengar teriakan setelah botol itu melayang, Alea yang kaget langsung menghampiri orang itu.


"Maaf" lirih Alea


"Sialan loe ya ngelempar botol sem-, Alea?"


Alea yang sama terkejutnya pun memekik pelan, "Nadine"


"Kakak ipar laknat" cibir Nadine


"Sorry., Sorry.. loe liat nih benjol"


"Nad, sumpah gue lagi ga mood berantem sama loe, nih uang buat loe ke rumah sakit buat ngobatin benjol loe" Alea mengeluarkan sepuluh lembar uang berwarna merah lalu menyerahkannya pada Nadine


Nadine berdecih, "loe kira gue semiskin itu sampe dikasih duit sama loe. Orangtua gue, abang gue masih mampu ngebiayain hidup gue"


"Terus loe maunya apa?"


"Duduk situ." Perintah Nadine


Alea menurut ia sudah tidak punya tenaga untuk berdebat. Lama keduanya hanya duduk berdiam diri sambil memandang air danau yang begitu tenang.


"Gue tau loe berantem sama kakak gue, dan keluarga loe." Kata Nadine setelah cukup lama keduanya hanya diam


Alis Alea terangkat, tak berniat membahasnya.


"Gue ga bakal ikut campur tapi gue cuma mau bilang perbaiki semuanya sebelum terlambat."

__ADS_1


"Maksud loe?"


"Loe sadarkan loe juga salah, dari awal loe ga jujur soal loe diem-diem masih latihan padahal loe udah janji mau berenti"


ya, Alea akui ia salah karena diam- diam tanpa sepengetahuan Nathan ia masih aktif latihan seminggu 2 sampai 3 kali.


"Loe tau seberapa kecewanya kakak gue ke loe?"


Alea mengangguk, ia sudah melihatnya tadi tatapan penuh kekecewaan Nathan padanya. Bodohnya Alea ia masih saja berkelit.


"Loe tau kan selama nikah kakak gue jauh berubah, Nathan yang tempramen berubah jadi Nathan yang super pengertian. Gue bukan mau muji atau nge- bangain kakak gue tapi loe pasti ngerasain perubahan itu kan?"


Alea mengangguk lagi, Nathan jauh berubah menjadi lelaki yang sangat pengertian. Alea ingat selama menikah Nathan hanya pernah mendiaminya sekali itu pun sudah lama dan hari ini ia kembali membuat lelaki itu marah bukan sekedar marah tapi Nathan juga kecewa padanya.


Alea mendongak ketika Nadine tiba-tiba berdiri, "gue balik ya, pacar gue udah nunggu."


"Heh, loe-"


"Gue bukan Aletta yang bakal bela-belain loe buat baikan sama kakak gue. Loe yang bikin salah dan loe sendiri yang harus cari jalan keluar buat masalah loe sendiri "


Ucapan Nadine membuat Alea terpaku, selama ini Aletta selalu membantunya kalau ia dalam masalah baik dengan orangtuanya, di kantor maupun dengan Nathan.


Seketika ingatan Alea kembali menampar dirinya.


Gue benci sama loe Al"


"Sama gue juga.. bisa-bisanya loe punya pikiran begitu sama gue. Salah gue sama loe apa sih?"


"Salah loe adalah terlahir diantara keluarga gue"


Alea menutup mulutnya, ucapannya terakhir kali pada Aletta sangat keterlaluan. Ia sudah melukai hati Aletta bahkan hati papa Ferdi karena secara tidak langsung ia sudah menghina mendiang istri papanya itu.


"Maafin gue Al... Maafin gue" isak Alea


****


bentar lagi tamat nih, kalian usah siap buat pindah ke lapak tetangga belom ? sebentar lagi ada tetangga baru,.pasangan muda lagi. hehe siap-siap buat menyambut tetangga baru ya


see you

__ADS_1


__ADS_2