
"Nathan!!!!"
Aletta memarkirkan motornya sembarangan lalu berlari bersama Nadira menyusul Nathan yang berdiri diatas rel kereta
"Nathan!!!!!"
Begitu tiba kedua gadis itu langsung mendorong Nathan dari Rel sesaat sebelum kereta Api melintas di atasnya.
"Gila loe ya mau bunuh diri!!!!!"
"Kalo gue sama Aletta ga lewat sini gimana? Loe udah tinggal nama. Ya kalo loe mati kalo loe cacat gimana?"
"Mikir dong Nat, semua masalah ada solusinya. Gue ga abis pikir ternyata loe orangnya pendek akal..."
Aletta dan Nadira terus memarahi Nathan hingga Nathan merasa kesal dibuatnya
"Stop!!!!" Bentak Nathan
Aletta dan Nadira mingkem seketika
"gue ga bunuh diri gue cuma mau nolongin ini" seekor anak kucing keluar dari dalam jas milik Nathan
Aletta dan Nadira terduduk lemas, rasanya jantung mereka nyaris berhenti saat lewat tadi melihat Nathan berdiri diatas rel kereta api.
Nathan merangkul kedua gadis itu" gue ga bakal bunuh diri kok... Gue masih waras,, masih inget bunuh diri itu dosa."
"Gue bakal nyesel seumur hidup kalo loe mati Nat" isak Nadira
"Udah jangan nangis..." Nathan mengacak- acak rambut Nadira dan Aletta bergantian
"Nat..."
'gue gak apa- apa Al..."
Tanpa diminta Nadira langsung menjelaskan Alea yang salah paham padanya karena kalung yang dipakai Nadira.
Nathan menghembuskan nafasnya, "gak apa- apa Nad, ini bukan salah elo "
"Tapi Nad..."
"Kata orang cobaan mau nikah itu silih berganti, ya mungkin ini cobaan gue.. kalo Alea jodoh gue ya gimanapun sulitnya kami akan bersatu nantinya kalo bukan ya gue yakin Tuhan bakal nyiapin yang terbaik buat gue."
"Nad, kayanya Nathan geger otak deh gara- gara kita dorong tadi ..." Kata Aletta
Nathan langsung menjitak kepala Aletta, "gue lagi serius loe malah ngatain gue..."
Aletta terkekeh, "gue ga suka liat loe melow..."
Nathan tersenyum, ia beruntung memiliki sahabat seperti mereka, "maksih ya loe berdua udah care sama gue"
kedua gadis itu mengangguk sambil tersenyum
__ADS_1
"Yaudah kita balik" ajak Nathan ke mobilnya
"Eh iya gue bawa motor tadi." Kata Aletta
"Disa na .." Aletta menunjuk ke tepi jalan yang tak jauh dari rel kereta
"Loh kok motornya ga ada?" Tanya Aletta panik ia yakin memarkirkan motor pak Salim dipinggir jalan sebelum menyebarang menuju rel kereta api
"Tadi di sini"
"Kok ga ada"
Nadira dan Aletta saling bersautan, mereka yakin turun dari motor ditempat ini lalu kemana kendaraan roda dua itu.
"Jangan- jangan....."
Ketiganya saling pandang, lalu panik bersamaan saat tahu motor milik pak Salim sudah tidak ada disana.
"Maling!!!!!!!"
*****
Alvaro tiba di kantor Nathan berpapasan dengan Angga yang panik menadapat kabar pertengkaran Alea dan Nathan.
"Gimana Var?" Tanya Angga
"Cuma salah paham "
"Terus mereka dimana?"
Angga ikut khawatir, "yaudah kita cari lagi gimana? Biar gue yang nyetir loe coba hubungin mereka bertiga dimana"
Alvaro mengangguk, mereka langsung berangkat dengan mobil Alvaro.
"Angkat Aletta" gumam Alvaro yang mulai cemas pasalnya ia tadi mendengar kata 'bunuh diri' bagaimana kalau terjadi sesuatu dengan mereka bertiga
Alvaro mencoba menghubungi Nadira untuk kesekian kalinya.
"Halo"
"Nadira kalian dimana? Kalian baik- baik aja kan?"
"Kita di kantor polisi Var..
"Apa!!!! Kantor polisi?"
Angga yang sedang fokus menyetir menoleh, "kenapa di kantor polisi?"
"Ceritanya panjang. Kata Aletta kita ketemu di gemilang group aja ya.."
"Oke.."
__ADS_1
"Mereka kenapa Var?" Tanya Angga setelah Alvaro selesai telpon
"Ga tau,katanya kita di suruh nunggu di kantor Aletta aja."
"Oke deh"
*****
Angga dan Alvaro tiba lebih dulu di Gedung pencakar langit milik Gemilang Group. Belum ada tanda- tanda Nathan, Nadira dan Aletta di sana.
Saat ini keadaan kantor sedang ramai karena jam pulang kerja. Beberapa karyawan yang berjenis kelamin perempuan memperhatikan keduanya karena penampilan dan wajah mereka menarik perhatian.
"Ihh siapa tuh ganteng banget."
"Kalo punya atasan kaya mereka gue betah disuruh lembur"
"Sayangnya yang ganteng di sini udah pada punya pawang"
"Kenalan yuk, berani ga?"
"Huss!! Sembarangan kalian ga kenal apa yang pake kemeja hitam itu calon suaminya anak bos. Kalian mau di pecat gara- gara nikung calon menantu bos"
"Serius? Mbak Aletta atau mbak Alea?"
"Kalo ga salah mbak Aletta deh."
"Mundur deh kalo gitu, tapi yang satunya juga ganteng, senyumnya manis ada lesung pipinya lagi"
"Dia mana mau sama loe"
Bosan menunggu di Lobby karena jadi pusat perhatian Alvaro mengajak Angga menunggu di luar.
"Nadira udah jelasin ke loe belom soal yang di cafe waktu itu ?" Tanya Angga
"Udah, cowok itu....."
"Dasar Brengsek!!!!!!"
Alvaro terhuyung beberapa langkah saat ada yang menyerangnya dari belakang secara tiba tiba
"Woi gila loe ya?" Belum sempat Angga menolong Alvaro pria itu lebih dulu menyerang Alvaro.
Kedua lelaki itu terlibat adu jotos, hingga Angga dibantu pak Salim mencoba menahan pria yang sedari tadi memukuli Alvaro tanpa henti
"Brengsek!!!" Maki pria itu
"Bro! Loe salah paham" kata Angga yang membantu Alvaro berdiri. Ia ingat pria itu adalah kekasih Nadira
"Salah paham? cih" Bryan tidak terima jelas- jelas ia mendengar beberapa karyawan tadi membicarakan lelaki itu dan Bryan juga melihat di media sosial milik Aletta bahwa keduanya menjalin hubungan dan akan segera menikah.
Bryan yang tau hal itu langsung marah, ia tidak terima jika Nadira dan Aletta di permainkan oleh lelaki brengsek itu. bagaimana bisa seorang laki- laki mempermainkan perempuan dengan iming- iming pernikahan.
__ADS_1
Pak Salim kewalahan menahan tubuh Bryan yang lebih besar darinya, pria itu kembali menyerang Alvaro
"Bryan stop it!!!!!"