Jodoh Di Kejar Dateline

Jodoh Di Kejar Dateline
66


__ADS_3

Gara- gara postingan Alvaro yang melamar Aletta, satu rumah sakit langsung heboh. Pasalnya dokter yang mereka idolakan bahkan sudah mereka gadang- gadang berpasangan dengan si ini dan si itu pupus sudah.


Alvaro sudah menentukan pilihannya sendiri. Benar-benar cara gantle untuk mematahkan gosip yang beredar tantang beritanya dengan Vanessa.


"Var, apa berita ini benar?" Tanya Vanessa yang langsung masuk ke ruangan Alvaro menunjuk chat di grup para dokter yang ramai membahas postingan media sosial milik Alvaro


"Iya"


"Kenapa harus dia? Kamu tau kan selama ini aku cinta sama kamu?" Vanessa meluapkan amarahnya


Beberapa waktu lalu ia sempat mencari tahu tentang pacar Alvaro yang ternyata masih anak ingusan baginya.


Dengan kekuatan koneksi milik sang ibu ia memanfaatkan media sosial untuk membuat berita tentang kedekatannya dengan Alvaro dan membangun image wanita yang sempurna, terbukti semua orang di rumah sakit mendukung hubungannya dengan Alvaro.


Ia sengaja membayar orang untuk membuat akun palsu menyebarkan komentar- komentar yang membandingkan dirinya dengan gadis itu.


Tujuannya agar gadis itu kehilangan rasa percaya diri dan meninggalkan Alvaro dengan sendirinya tanpa ia harus turun tangan merusak hubungan mereka.


"Kenapa Varo?" Tanya Vanessa nyaris berteriak


"Karena aku yang memilihnya."


"Apa bagusnya dia Varo? Dia hanya anak kemarin sore yang terlahir dari keluarga kaya raya, dia ...."


"Cukup Vanessa!! Berhentilah membandingkan dirimu dengan orang lain. Belajarlah menerima, masih banyak pria diluar sana yang menyukainmu, aku yakin ada pria yang lebih pantas untukmu"


Vanessa tertawa, "ya memang banyak pria di luar sana tapi tidak ada yang sama sepertimu Varo. Aku cuma mau kamu. Hanya kamu"


"Keluarlah Vanessa, ada banyak pekerjaan yang harus dilakukan." Ucap Alvaro


Vanessa mendengus kesal, ia keluar sambil membanting pintu. Alvaro menghela nafasnya berat, semoga saja Vanessa sadar dan tidak mengganggunya lagi


*****


"pak ini laporan terakhir yang harus ditanda tangani" Nadira menyerahkan berkas yang baru selesai dikerjakannya


Nathan memeriksa laporan yang di berikan Nadira sebelum menandatangani berkas itu, "makasih Nadira."


"Besok ada jadwal apa ?" Tanya Nathan


"Besok..." Ponsel Nadira berdering di sakunya. Ia lupa untuk mengubah mode senyap di handphonenya, "maaf pak" Nadira langsung menolak panggilan dari nomor yang tidak dikenal


"Besok ada jadwal dengan rumah sakit Medical Center pak, mereka ingin membuat..." Lagi- lagi ponsel Nadira berdering membuat Nadira tak enak hati dengan bosnya


"Angkat aja siapa tau penting"


Nadira mengangguk lalu mengangkat telpon dari nomor tidak dikenal itu, "halo"


"......."


"Iya benar saya anaknya. Maaf ini siapa ya?"


"........."


"Apa???? Baik, saya segera ke sana."


"Nat .."


"Kenapa Nad?" Tanya Nathan yang melihat wajah Nadira berubah tegang


"Nyokap gue kecelakaan"


"Yaudah ayo kita ke rumah sakit sekarang."


"Nat gue naik taxi aja"


"Udah jangan ngebantah, buruan kita ke rumah sakit sekarang"


Nadira yang panik hanya bisa mengangguk pasrah lalu mengemasi barang- barangnya mengikuti Nathan masuk ke mobilnya menuju rumah sakit


****

__ADS_1


Alvaro baru saja selesai memeriksa pasien terakhirnya, ia melirik jam tangannya sebentar lagi waktunya pulang.


Tok.. tok


"Permisi dok, dokter Bima meminta saya memangil dokter ada pasien korban tabrak lari di UGD, kondisinya cukup parah dok"


Alvaro langsung bangkit mengikuti perawat yang memanggilnya tadi berjalan menuju UGD.


"Aletta"


"Hai,..."


"Kamu kenapa?" Alvaro panik ketika melihat kekasihnya berada di depan UGD dengan noda darah di bajunya


"Aku gak apa-apa, jelasinnya nanti aja. Buruan kamu ke dalem gih" Aletta mendorong Alvaro masuk ke dalam ia tidak berani masuk ada banyak musuh bebuyutannya si jarum suntik.


Aletta duduk menunggu, sejak tadi ia sudah melihat tiga pasien masuk ke ruang UGD membuatnya bergidik ngeri karena takut.


"Kamu yang telpon saya tadi..."


Aletta kaget begitu melihat seorang wanita menghampirinya dengan wajah cemas, "iya, tadi saya yang telpon. Ibu anda sedang di tangani dokter "


"Aletta"


"Nathan"


"Loe bisa disini?"


"Gue nolongin ibunya mbak ini yang jadi korban tabrak lari dijalan tadi "


Nadira mengusap wajahnya, ia cemas bagaimana keadaan ibunya. Padahal ibunya baru saja sembuh dari gejala tipes beberapa hari yang lalu.


"Terus sekarang gimana?" Tanya Nathan


"Belom tau, tapi Varo ada di dalem kok"


Nathan mengangguk, berusaha menenangkan Nadira.


"Varo gimana keadaan nyokap gue?" Tanya Nadira


"Tante Elma gak apa- apa Nad, Alhamdulillah cederanya ga begitu parah jadi ga perlu operasi "


Nadira bisa bernafas lega setelah mengetahui keadaan ibunya, "syukurlah..Gue mau liat boleh?"


Alvaro mengangguk mempersilahkan Nadira masuk ke ruang UGD.


Aletta memperhatikan keduanya lelaki didepannya, ia butuh penjelasan siapa wanita tadi mengapa begitu akrab dengan keduanya.


"Namanya Nadira, temen kecil aku sama Nathan yang baru pulang dari luar negeri" jelas Alvaro


"Oh" Aletta mengangguk paham, "aku pulang ya..."


"Bareng aja, aku pulang sebentar lagi kok"


Aletta menggeleng, "aku bawa mobil, aku..."


"Dokter Varo"


Aletta dan Nathan ikut menoleh padahal yang dipanggil Alvaro.


"Iya"


"Hai Nathan"


"Hai Ness"


Aletta ingat wanita ini, ahh iya dokter Vanessa


Vanessa melirik sinis ke arah Aletta, lalu kembali fokus pada Alvaro dengan senyuman manisnya "dokter Varo ada yang mau saya bahas."


"Tentang?" Jika itu masalah pribadi Alvaro tidak ingin meladeni

__ADS_1


"Pasien VVIP kamar nomor tiga."


"Oh itu, dokter Fian sudah menangani pasien itu."


"Bukankah dokter Bambang memilih dokter Varo untuk menanganinya?"


"Sebelumnya iya, tapi sekarang sudah di ambil alih sama dokter Fian"


"Apa kamu lagi menghindar dari aku?"


Alvaro menggeleng, untuk apa menghindar dari Vanessa pikirnya, "tidak"


"Lalu kenapa ...."


"Jadwalku sudah penuh, makanya dokter Bambang meminta dokter Fian untuk mengambil alih"


Aletta mengalihkan pandangannya, sepertinya Vanessa sengaja membuat Aletta cemburu. Nathan berdecak kesal melihat tingkah Vanessa pun tersenyum jahil.


mari kita lihat siapa yang panas disini, pikir Nathan


"Gue penasaran deh gimana loe dilamar Varo kemaren?" Tanya Nathan dengan suara agak keras


"Kepo loe.."


"gue lagi nyari inspirasi buat ngelamar Alea. Gimana romantis ga Varo ngelamar loe?"


"Ck! Gue ga perlu cowok romantis apalagi yang cuma bisa obral janji manis"


"Waseeekk!!! Quote loe tjakep" Nathan mengacungkan kedua jempolnya, "mana gue liat cincinnya?" Nathan menarik tangan kiri Aletta yang mengenakan cincin pemberian Alvaro


"Astaga, mungil sekali. Gue kira loe bakal di kasih berlian lima karat sama Varo" cibir Nathan


"Heh!!! Imut- imut gini dia bikin sendiri tau. Ini tuh limited edition karena cuma ada satu di dunia"


"Serius loe?" Nathan menoleh pada Alvaro," loe bikin khusus buat Aletta Var?"


Alvaro mengangguk


"Gila, ini sih. Gue harus cari cara buat ngelamar Alea lebih spektakuler dari loe berdua"


"Kapan loe mau ngelamar dia?" Tanya Aletta penasaran


"Cooming soon lah. Loe berdua bantuin gue ya"


"Sorry Nat gue sibuk" kata Aletta


"Emang dasar ga ada akhlaknya jadi Adek ipar" Nathan menjitak kepala Aletta hingga gadis itu memekik


"Nat!!!!!" Aletta balas memukul Nathan namun lelaki itu berhasil menghindar, hingga Aletta melepaskan sebelah sepatunya , "awas loe ya!!!"


Nathan menjulurkan lidahnya, senang sekali rasanya meledek Aletta.


Alvaro hanya tertawa melihat keduanya bertengkar. Beberapa perawat yang lewat langsung mengabadikan momen langka melihat Alvaro tertawa.


"Seumur- umur kerja dirumah sakit baru kali ini liat Dokter Varo ketawa, ya Gusti ganteng banget"


"Iya selama ini cuma senyum doang. Tapi senyum aja udah ganteng sih.. sayang udah ada yang punya


"Itu kan pacarnya dokter Varo"


"Eh iya itu, astaga ternyata udah sering liat tapi baru tau kalo itu pacarnya. Cantik juga"


"kamu ga cemburu Var liat Nathan sama calon istri kamu sedekat itu?" tanya Vanessa


Alvaro menggeleng, "gak, lagi pula mereka memang seperti itu."


"tapi itu ga wajar Varo"


"aku kenal mereka, dan aku percaya sama mereka" ucap Alvaro lalu pergi meninggalkan Vanessa ikut bergabung bersama Aletta dan Nathan


Vanessa mengepalkan tangannya menahan kesal.

__ADS_1


__ADS_2