Jodoh Di Kejar Dateline

Jodoh Di Kejar Dateline
09


__ADS_3

Aletta terbangun dari tidurnya, ia merasa tangannya di genggam oleh seseorang, dilihatnya mama April tengah terlelap sambil memegang tangan kanannya yang dipasang infus.


wajah wanita itu terlihat lelah namun tak mengurangi kadar kecantikannya yang sudah memasuki usia hampir setengah abad itu. wanita yang menyayanginya seperti ibu kandungnya sendiri


"ma"


Mama April terkesip ia tak sengaja terlelap ketika menjaga putrinya "Kamu udah bangun sayang?" Tanya mama April sambil mengusap rambut Aletta, "mau sesuatu? Ale haus? mau minum sayang?"


Aletta menggeleng pelan, lalu melirik kesebelah kiri ada ayahnya yang sedang duduk di sofa mengalihkan pandangannya dari layar datar yang dipangkunya kini menatap putrinya dengan tatapan cemas.


"Ma, Pa, maafin Ale ya udah bikin mama sama papa khawatir." Sesal Aletta


Mama April menyentuh pipi Aletta, "Aletta sayang, kamu jangan bilang begitu. Setiap orangtua akan selalu mengkhawatirkan anaknya apalagi kalo anaknya jauh dari mereka dan sekarang anaknya lagi sakit kaya gini pasti orangtuanya khawatir sayang."


Aletta beralih menatap papa Ferdi "Maafin Ale juga udah ngecewain Papa, padahal Ale pengen bikin papa bangga dengan prestasi Ale."


Papa Ferdi menghampiri putrinya itu mengecup kening Aletta, "sayang kamu gak mesti jadi juara nasional atau ngasih papa mendali emas untuk bisa bikin papa bangga sama kamu, karena papa akan selalu bangga sama anak-anak papa selama mereka menjadi anak yang baik dan ga melakukan perbuatan tercela."


"Ale jangan mikir macem-macem ya sayang, sekarang yang terpenting buat mama dan papa adalah kesembuhan kamu." Jelas mama April


Aletta mengangguk, matanya mulai berkaca-kaca, ia berusaha agar air matanya tidak tumpah dan menangis di depan kedua orangtuanya.


"Al, loe udah bangun..."


Aletta menengok dibalik pelukan mama April, Alea muncul dari balik pintu dengan membawa kantong plastik berisi makanan.


"Gimana keadaan loe?" tanya Alea menghampiri adiknya itu


"Maafin kelakuan gue tadi ya Le, gue...."


"gue ngerti kok, wajar loe kalut. kalo gue di posisi loe mungkin gue juga sama frustasinya" sela Alea


"Anak papa udah gadis.. rasanya baru kemarin papa liat kalian baru bisa jalan" celetuk papa Ferdi sambil merangkul Alea


"papa sih sibuk kerja mulu, ga sadar kalo Lea sama Ale udah gede sekarang malah udah disuruh nikah sama Eyang." sahut Alea


"mama ga ikhlas loh pa, anak- anak nikah muda. mama pengen mereka lanjut kuliah lagi, berkarir dan menikmati masa muda mereka." kata mama April menatap kedua putrinya bergantian


"mama kaya ga tau Ibu kaya gimana. kalo udah bertitah ga bisa dibantah" papa Ferdi pun sebenarnya tidak menyetujui rencana ibunya yang ingin menjodohkan kedua putrinya dengan salah satu kolega bisnis mereka. pria itu paham rasanya menikah tanpa didasari rasa cinta, ia sudah mengalaminya dan tidak ingin kedua putrinya ikut merasakannya.


Beruntung jika lelaki itu orang baik yang akan menyayangi putrinya sebagaimana ia merawat dan membesarkan putri- putrinya dengan penuh cinta. ia tidak bisa membayangkan jika putrinya dijodohkan dengan lelaki yang tidak bertanggung jawab dan tempramental. membayangkannya saja papa Ferdi tak rela.

__ADS_1


ia ingin putrinya menikah dengan lelaki yang mencintai mereka sepenuh hati dan bertanggung jawab.


"papa kok nangis?" Tanya Aletta yang menyadari pria paruh baya itu menitikkan air matanya


"papa cuma sedih aja ngebayangin kalian bakal nikah dan ninggalin papa.."


"aaaaa papa..." ucap ketiga wanita cantik berbeda generasi itu memeluk pria paling tampan diantara mereka.


"Ale belom bakal nikah sekarang kok pah,, masih lama.." lirih Aletta


"Lea juga pa.. jadi papa tenang aja selamanya Alea sama Aletta itu putri kecil papa.. kita ga bakal ninggalin papa meskipun nanti kita udah nikah.." timpal Alea


"janji ya kalian ga bakal ninggalin papa? walaupun kalian udah nikah kalian bakal tetep tinggal dirumah papa." papa Ferdi mengacungkan kedua jari kelingkingnya


"janji" sahut kedua gadis itu sambil menautkan jari kelingking mereka dengan sang papa


"mama ga di ajak nih?" kata Mama April memasang wajah sendu


"cie mama cemburu tuh pa..." ledek Alea


"mama iri ya?" goda Aletta


anggota keluarga Ferdinan itu saling berpelukan dengan Aletta yang menjadi pusatnya.


"Permisi." Seorang perawat masuk setelah mendapat sahutan dari papa Ferdi sambil mendorong kursi roda dan Aletta mengenali perawat itu. yaa.. suster Intan, asisten dokter Alvaro yang sedari tadi membantunya


"Iya suster ada apa?" Tanya papa Ferdi


"Maaf menganggu pak, saya di perintahkan dokter untuk membawa nona Aletta untuk penangan lebih lanjut." Jelas Suster Intan yang tak enak membubarkan acara keluarga itu


"Baiklah suster, silahkan" ucap Papa Ferdi


Suster Intan menghampiri Aletta dibantu papa Ferdi yang mengangkat tubuh putrinya itu dari atas ranjang dan mendudukkannya di kursi roda.


"Makasih pah"


Alea mendorong kursi roda Aletta ditemani, Mama April dan Papa Ferdi yang ikut mengantar Aletta ke ruang fisioterapi dimana dokter Alvaro sudah menunggunya


"Al masuk dulu ya ma, pa, Le."


"Aletta semangat ya sayang, kalo kamu takut nanti mama sama papa minta izin ke dokter buat nemenin kamu" Ucap mama April sambil mencium kening Aletta

__ADS_1


"Al berani kok ma, " Aletta berusaha meyakinkan kedua orangtuanya


"Kalo takut bilang ya sayang, jangan di paksa.. ga usah sok kuat. Papa tau kamu kaya gimana" papa Ferdi ikut mencium kening putrinya


"Gue temenin ya Al?" Alea khawatir melihat adiknya menawarkan diri untuk menemani gadis itu.


Aletta menggeleng," ga usah, loe temenin mama sama papa aja.. lagian didalam nanti gue juga dibius ga bakal sadar juga jadi gue ga bakal ngamuk atau kesurupan didalem" cerocos Aletta meyakinkan kakaknya itu untuk tidak mengkhawatirkan dirinya walaupun sebenarnya ia juga takut tapi ia harus berani setidaknya didepan keluarganya.


"Gue masuk ya" Aletta tersenyum lalu melambaikan tangan kanannya begitu suster Intan mendorong kursi rodanya masuk ke dalam ruang fisioterapi yang sangat dingin. bau obat- obatan yang begitu menyengat menusuk rongga hidungnya.


Okeh Aletta,.loe kuat... Loe bisa, tekadnya


Aletta yang gugup merasa kedua telapak tangannya dingin, ditambah suhu ruangan yang dingin terasa mencekam rasanya Aletta ingin lari saja saking takutnya.


"Kamu sudah siap Aletta?"


Aletta yang sedari tadi meremas tangannya mengalihkan pandangannya, ia mengenali suara itu, dokter Alvaro.


"Saya akan melakukan beberapa tes ditangan kamu, dan memastikan tulang kamu di posisi yang benar kalo terasa sakit kamu teriak aja sekencang-kencangnya, gak perlu di tahan." Jelas Alvaro


Aletta mengangguk lalu Alvaro memulai menyentuh tangan gadis itu, dilihatnya Aletta mulai meringis kesakitan.


"Dokter..." Panggil Aletta sambil menahan sakitnya


"Kenapa?"


"Mau janji gak?"


"Janji apa?"


"Janji Kalo tangan saya sembuh dokter mau gak jadi calon suami saya?" Kata Aletta di sela-sela rasa sakitnya


Hening


Alvaro tersenyum mendengar ucapan Aletta, baru kali ini ia bertemu pasien unik bin ajaib kali ini seorang dokter di lamar langsung oleh pasiennya sendiri.


Alvaro selesai memasangkan penyangga di bahu Aletta, dan setelah pertanyaan cukup konyol yang lontarkan gadis itu, Alvaro tak mendengar suara gadis itu lagi sampai selesai pengobatannya.


Apa jangan-jangan guyonan buat ngilangin rasa sakitnya ya atau saking takutnya dia jadi berhalusinasi,... ahh sudahlah, pikir Alvaro


Bersambung..... 💕💕💕

__ADS_1


Happy reading guys...🤗🤗🤗


__ADS_2