Jodoh Di Kejar Dateline

Jodoh Di Kejar Dateline
95


__ADS_3

Setelah memeriksa Oma Sarah, Alvaro langsung pergi mencari Aletta karena suster Intan bilang ia tidak berhasil menemukan Aletta.


"Kamu dimana sih Al..." Alvaro memijit pelipisnya pening, hari sudah gelap ia sudah mencari Aletta kemana- mana, ke apartemen, ke rumah mertuanya, rumah Andin, makam mama Jani namun semuanya nihil ia tidak menemukan istrinya disana.


Alvaro sudah meminta batuan Angga dan Nathan untuk membantunya mencari Aletta tapi mereka mengatakan mereka tidak menemukan Aletta ditempat biasa gadis itu kunjungi.


Tujuan terakhirnya kini adalah rumah orangtuanya. Alvaro tiba di rumah orangtuanya dan langsung masuk. Ada papy Albert dan mamy Alda sedang duduk di ruang tengah.


"Mih, pih Aletta ke sini ga?" Tanya Alvaro


"ada apa Varo tumben malam- malam kamu ke sini ?' tanya mamy Alda yang melihat putranya yang begitu cemas


"Jawab dulu mih ada enggak?"


"Aletta ada disini tadi..."


"Terus sekarang dimana mi?" Tanya Alvaro


"Udah pergi lagi."


"Kemana mi? Sama siapa?" Cerar Alvaro


"Kalian bertengkar?"


"Enggak mih, Aletta salah paham"


"Apa karena hubungan kamu sama dokter Sarah?" Tebak papy Al


Alvaro sedikit terkejut bagaimana bisa papynya tahu, "papy tau dari mana?"


"Berita itu sudah menyebar dirumah sakit."


"Var kamu ga selingkuh dari menantu mamy kan?" Tanya mamy Alda


"Enggak mih, semua salah paham" Alvaro lalu menjelaskan kejadian dirumah sakit tadi siang pada kedua orangtuanya.


"Astaga... Kamu harus selesaikan ini secepatnya kalo Ferdi sampai tau papy ga ikut campur" kata papy Al


"Iya pih"


"Tapi kamu beneran ga selingkuh kan? Ga nyakitin menantu mamy kan?"


"Enggak mih" Alvaro menghela nafas sudah jam 10 malam ia harus mencari Aletta kemana lagi, "mih, pih Varo pamit ya"


"Mau kemana ini udah malem?"


"Cari Aletta mih"


"Kamu mau cari kemana lagi? Semua tempat udah kamu datengin. Kasih Aletta waktu sendiri. Mamy yakin nanti kalo dia udah baikan dia pasti hubungin kamu"


"Tapi mih..."


"Bener kata mamy Var, lebih baik kamu istrirahat. Ga baik berkendara dalam keadaan kaya begini"


"Tapi pih Varo ga tenang kalo belum tau Aletta dimana"


"Aletta lagi pergi sama Alice"


"Kenapa mamy ga bilang dari tadi. Pergi kemana mih?"


"Mamy ga tau, Alice bilang mau ngehibur Aletta. Karena tadi pas dateng ke sini dia nangis"


"Mih..."

__ADS_1


"Kamu tunggu aja nanti mereka juga pulang"


Alvaro menghela nafas, "tapi ini udah malem mih"


"Kamu tenang aja... "


Alvaro menghela nafas pasrah, setidaknya ia tahu Aletta bersama dengan kakaknya. Ia pun mengeluarkan ponselnya mencoba menghubungi Alice


"Var, mamy ke kamar dulu ya udah malem. Kamu mending mandi terus istirahat mamy yakin sebentar lagi mereka pulang"


"Alvaro nunggu di sini aja mih"


Mamy Alda dan papy Al pergi ke kamar mereka menyisakan Alvaro yang masih setia menunggu Aletta pulang.


"Angkat kak, loe dimana... Ini udah malem" gumam Alvaro karena sudah beberapa kali menelpon Alice namun tidak diangkat


Bosan menunggu didalam Alvaro keluar menunggu di teras rumah. Rasa lelah mulai menyerang Alvaro, ia kembali melirik jam tangannya sudah hampir tengah malam tapi belum ada tanda- tanda istri dan kakaknya pulang


"Kamu dimana sih Al, jangan bikin aku khawatir begini..." Alvaro kembali menghubungi Alice untuk yang kesekian kalinya


"Halo"


"Astaga kak, loe dimana sih dari tadi ditelpon juga"


"Sorry ga denger. Kenapa sih telpon tengah malam gini ganggu orang tidur tau ga?"


"Loe sama Aletta dimana?"


"Gue sama Aletta pergi ke Puncak. Mungkin besok baru pulang"


"Apa!!! Loe ngajak istri gue tapi ga izin sama gue"


"Salah loe sendiri, loe ga kasian apa sama istri loe bikin sensasi mulu sih loe'


'udah ya gue ngantuk mau tidur. Bye"


"Kak, halo.... Halo kak" ingin rasanya Alvaro mengumpat tapi ia tahan, kakaknya benar- benar keterlaluan bagaimana bisa mengajak istrinya pergi tanpa meminta izin darinya


Alvaro menghela nafas panjang, ia sudah lelah seharian mencari istrinya yang ternyata sedang pergi ke Puncak. akhirnya ia putuskan untuk masuk ke dalam . Ia ingin mandi supaya bisa menenangkan pikirannya dan menemukan solusi untuk masalah yang baru saja melandanya.


Alvaro menaiki tangga menuju kamarnya dilantai dua. Ia membuka pintu dan mendapati kamarnya yang gelap gulita, dengan perlahan mencari sakelar lampu dan


" SURPRISE!!!!??"


Alvaro terkejut mendapati istri, kakak, kedua orangtuanya, dan beberapa asisten rumah tangga ikut berkumpul di kamarnya yang sudah di hias sedemikian rupa.


"Ini maksudnya..."


"Happy birthday Alvaro Wiliam"


Alvaro mengusap wajahnya, saking paniknya ia tidak ingat dengan hari ulangtahunnya. Ia bahkan tidak bisa berkata apa-apa saking kagetnya dan tidak menyangka akan di beri kejutan seperti ini.


Aletta mendekat sambil membawa kue ditangannya.


"Al... Kamu..."


"Make a wish dulu" sela Aletta


Ingin rasanya ia menerkam istrinya saat itu juga namun ia tahan, sambil memejamkan matanya Alvaro berdoa untuk dirinya dan semua orang yang ia sayang.


Selesai mendoakan harapannya, Alvaro meniup lilin yang bertuliskan Angka 27 tahun usianya saat ini sudah bertambah satu.


"Selamat ulangtahun tahun ya sayang, doa terbaik untuk anak mamy" ucap mamy Alda mencium kening dan kedua pipi putranya.

__ADS_1


"Selamat ulangtahun anak Papy" Papy Al merangkul putra bungsunya itu


"HBD my lil bro... " Alice memeluk adiknya itu bergantian dengan Alanna setelah itu Daniel dan Diwangga


"Makasih semuanya... " Kata Alvaro kini masih menunggu ucapan dari seseorang didepannya itu


"Kenapa liat-liat?" Tanya Aletta


"Ga mau say something gitu?"


"Happy birthday kak Varo"


"Gitu aja?"


"Iya maunya?"


"Kamu masih marah sama aku?"


"Enggak juga"


"Terus kenapa pergi tadi? Ngilang tanpa kabar ga bisa dihubungi dan loe juga kak ngakunya ke Puncak"


Alice terkekeh, "hahah puas gue ngerjain loe"


Alvaro memutar bola matanya masih sedikit kesal dengan kakaknya itu.


"Gak apa-apa sih, biar drama dikit biar dokter Sarah ngerasa bersalah gitu lagian aku dari tadi disini, dikamar ini menghias kamar bikin surprise party buat kamu" jawab Aletta


"Kamu tau ga sih Al aku tuh..."


"Iya aku tau, kamu khawatir. jangan marah lagi ya ini kan hari spesial kamu... nih aku punya hadiah buat kamu" Aletta menyodorkan sebuah kotak berwarna hitam lengkap dengan pita berwarna silver diatasnya


"Kecil banget"


"Protes mulu kaya emak- emak komplek, mau enggak, kalo ga mau aku ambil lagi" Aletta hendak menarik kotak pemberiannya kembali tapi ditahan oleh Alvaro


"Becanda Al, makasih ya sayang..." Ucap Alvaro sambil mengecup kening istrinya


"Buka deh..."


"Buka? Nanti aja lah..."


"Buka sekarang atau kita keroyok masal" ancam Alanna


Alvaro menghela nafas, melihat cukup banyak personil yang hadir bisa-bisa babak belur dirinya di keroyok semua anggota keluarganya. akhirnya Alvaro membuka kotak pemberian istrinya itu.



Tangannya bergetar saat melihat isi kotak itu, bahkan matanya langsung berkaca- kaca, "ini..."


"Yes Daddy" jawab Aletta sambil tersenyum


Alvaro langsung membawa Aletta ke pelukannya, menghujani istrinya dengan ciuman hampir diseluruh wajah Aletta. Tidak bisa diungkapkan bagaimana perasaannya sekarang. Ia akan menjadi seorang ayah, keluarga kecil mereka kini lengkap dengan hadirnya buah hati.


Sekarang Alvaro mengerti dengan sikap Aletta yang aneh kadang manja, kadang sensitif dan mood yang berubah-ubah itu semua karena istrinya tengah hamil.


"Makasih sayang.. terima kasih ini kado terindah yang pernah aku dapet"


"Selamat ya sayang... Sekarang kamu sudah menjadi calon Daddy, kamu harus lebih extra jagain Aletta" kata mamy Alda


"Siap mamy"


Aletta menghapus air mata yang mengalir di pipi Alvaro, "jangan nangis Daddy" cicitnya dengan suara anak kecil

__ADS_1


Alvaro mengangguk, ini bukan tangisan sedih ia hanya terharu dan tentu saja sangat bahagia.


__ADS_2