
"aku pulang ya" Aletta pamit setelah menemani Alvaro makan
"Cepet banget mau pulang?" Alvaro merapikan anak rambut Aletta yang menghalangi wajah cantik kekasihnya itu
"Ntar aku kejebak macet di jalan"
"Yaudah kalo gitu pulangnya hati- hati"
Aletta mengangguk, "iya, kamu jangan kecapean. Ga lucu kalo dokternya sakit"
"Dokter juga manusia kali Al."
Aletta tersenyum, " aku pulang ya"
"Aku anterin sampe ke depan"
"Ga usah, kamu manfaatin aja waktu senggang kamu buat istirahat.."
"Ya udah kamu hati- hati pulangnya. Nanti kabarin aku kalo udah sampe. Mungkin nanti malem aku juga udah pulang"
"Eum.. dah" Aletta melambaikan tangannya lalu keluar dari ruangan Alvaro
Alvaro merasa Aletta sedikit aneh hari ini, sepertinya ada yang sedang di pikirkan gadis itu.
"Permisi dokter"
"Iya"
Suster Intan muncul dari balik pintu "pasien di ruang VIP mencari dokter Varo"
Alvaro mengangguk paham, ia bangkit sambil mengenakan Snelli miliknya dan pergi menemui pasien.
*****
Entah apa yang ada dipikiran Aletta, ia mengendarai mobilnya menuju salah satu pusat perbelanjaan yang terkenal di ibukota
Ia melangkahkan kakinya tanpa tujuan dan berakhir di restoran untuk memesan minuman.
Apa yang ia lihat dan dengar dirumah sakit tadi cukup menyita pikirannya. Kata- kata wanita tadi yang mengatakan bahwa dia adalah kembaran tunangan Alvaro yang sudah meninggal membuat Aletta bertanya-tanya apakah Alvaro sudah benar- benar melupakan tunangannya.
Kalo dia kembarannya berarti muka mereka mirip, apa Varo bakal inget sama Valery lagi kalo kembarannya muncul
"Oiii..."
Aletta tersentak lalu mendengus kesal melihat Nadine duduk didepannya tanpa izin.
"Kenapa loe? Berantem sama Varo ya???" Ejeknya dengan wajah bahagia
Yaialah bahagia, secara Nadine itu penentang hubungan mereka garis depan. Pasti bahagia dia kalau masalah diantara keduanya
__ADS_1
"Gak, gue sama Varo baik- baik aja. Loe ngapain sih disini... Sana pergi cari kursi lain masih banyak yang kosong" usir Aletta dengan kesal karena merasa terganggu dengan kehadiran Nadine secara hubungan keduanya yang kurang akur
"Bentaran doang. Gue lagi nunggu temen gue tuh.." Nadine menunjuk seorang pria bertubuh tinggi dengan wajah bule yang sedang tersenyum ke arahnya
"Pacar loe?" Tanya Aletta yang penasaran dengan sikap keduanya
"Bukan, cuma temen doang"
"Yakin cuma temen?"
"Iya cuma temen"
"Masa sih kok gue ga percaya, kalian tuh kaya orang baru jadian tau gak.." ledek Aletta yang kini melihat wajah Nadine bersemu merah
"Kenapa loe jadi rese sih..." Nadine mulai kesal karena Aletta balas mengejeknya. Fix satu sama
Aletta tertawa puas berhasil membuat Nadine kesal.
"Btw loe sendirian aja nih?" Tanya Nadine mengalihkan pembicaraan
"Iya"
"Pacar loe mana?"
"Sibuk"
"Oh iya dia pasti sibuk, gue liat berita kemaren ada kecelakaan lalu lintas dan semua korbannya di bawa ke rumah sakit Medical Center. Pasti Varo sibuk banget. Loe yang sabar ya udah resiko loe punya pacar dokter"
"Kenapa loe ngeliatin gue kaya gitu? Gue tau gue lebih cantik dari loe..." Kata Nadine kepedean
"Loe ga abis kepentok kan? Atau kepeleset terus kepala loe kebentur gitu?"
"Loe nyumpahin gue?" Nadine mendelik kesal
"Loe aneh, beda dari biasanya."
"Kenapa?"
"Loe kan benci banget sama gue karena gue pacaran sama Varo. Secara loe kaya sepupu complex gitu"
Bukannya kesal Nadine malah tertawa mendegarnya, "ya loe bener gue emang terobsesi sama Varo, saking terobsesinya gue ga rela dia deket sama cewek manapun selain gue"
"Terus?"
"Selama ini gue salah mengartikan pehatian Varo. U know he treat me better than my brother. Bahkan kakak gue aja terbilang cuek sama gue, sementara Varo dia selalu jagain gue dan gue pikir kita cuma sepupu bisalah buat punya hubungan lebih tapi Varo cuma anggap gue sebagai adik kecilnya."
"Sekarang loe udah sadar gitu?"
"Seperti yang pernah loe bilang nyokap gue marah pas tau gue suka sama sepupu gue sendiri. Sampai kapanpun keluarga gue ga akan pernah mendukung hubungan gila itu." Nadine tertawa ketika mengingat mama Nia marah padanya saat ia bertanya mungkinkah ia dengan Varo menikah
__ADS_1
Mama Nia bahkan akan mengajak Nadine untuk di ruqyah mana tau anaknya kerasukan jin betina karena bisa- bisanya menyukai kakaknya sendiri walaupun silsilah hubungan mereka itu sepupu tapi mereka tumbuh besar bersama, membuat mama Nia menganggap Alvaro sudah seperti anaknya sendiri.
"Dan loe sadar kalo selama ini ada orang yang tulus sayang sama loe?"
Nadine mengikuti arah pandang Aletta lalu tersenyum, "dia baik dan dia yang jagain gue selama di luar negeri."
"Dia tulus sama loe, Gue yakin dia bisa bikin loe bahagia dan ngejagain loe lebih baik dari Varo.." Aletta bisa melihat ketulusan dimata pria itu dari caranya menatap Nadine
"Loe tenang aja gue ga bakal gangguin hubungan loe sama Varo lagi. Setelah gue pikir- pikir gue ga sanggup kalo punya pacar dokter, selain ga punya waktu buat pacaran mereka lebih mentingin pasien dari pada pacar sendiri."
Aletta terkekeh mendengar perkataan Nadine. Ia tidak menyangka jika gadis itu bisa asik juga jadi temen ngobrol kalo lagi mode normal.
"Jadi loe galau kenapa?" Tanya Nadine
"Siapa yang galau. Sotoy loe"
"Ck! Ga ngaku.. hei nona Alvaro gue ngeliat loe tadi pas masuk mall. muka loe ditekuk terus jalan nunduk kaya lagi nyariin duit orang yang jatoh" cibir Nadine
Aletta mengumpat, ia menarik kembali ucapannya yang mengatakan bahwa Nadine asik di ajak ngobrol.. itu fitnah. Nadine adalah orang terasik untuk diajak gelut. Itu yang benar
"Gue bercanda" Nadine tertawa melihat wajah kesal Aletta, "gue ga tau loe ada masalah apa.. tapi kalo seandainya loe jealous ke Varo itu wajar sih menurut gue secara pekerjaan dia pasti bakal banyak banget ketemu pasien cantik, perawat cantik dan rekan kerja yang cantik tapi loe tenang aja gue kenal Varo dia itu tipikal cowok setia. Cowok yang kalo udah jatuh cinta sama cewek ya bakal dia jaga perasaannya"
"Loe bener- bener berubah ternyata"
"Hahahah gue emang lumayan menyebalkan gue sadar itu, tapi setidaknya gue lebih baik sih dari Vanessa"
"Vanessa?" Aletta menaikan sebelah alisnya apakah ini orang yang sama dengan yang ia lihat dirumah sakit tadi
Nadine mengangguk, "Vanessa kembarannya Valery gue denger dia udah balik dari Amerika"
Aletta diam menunggu, jujur ia penasaran siapakah Vanessa dan ada hubungan apa dengan Alvaro
"Berhubung gue baik gue bakal cerita ke loe" sambung Nadin bersemangat, "gue, Varo, Nathan kenal Val sama Vanessa itu dari SMA. Varo jatuh cinta ke Val dan mereka jadian setelah lulus SMA. Vanessa juga suka sama Varo tapi sayang Varo cuma anggap dia temen. loe tau di depan Val dia mendukung hubungan adiknya itu tapi dibelakang Val dia berusaha buat merusak hubungan mereka."
"Really?"
Nadine mengangguk, "gue saranin loe lebih hati- hati kalo ketemu sana Vanessa karena dia itu perempuan licik. Pokoknya Apapun yang terjadi loe harus percaya sama Varo karena dia ga mungkin tega berbuat sesuatu yang menyakiti orang yang dia sayang."
"Kenapa loe ngomong begini ke gue?"
"Karena gue adiknya Varo, gue seneng liat dia bahagia kaya sekarang walaupun bukan sama gue. Yah jujur aih gue masih ga ngerti kenapa dia bisa jatuh cinta sama cewek kaya loe, apa sih bagusnya elo. body lempeng, kalo cantik kayanya masih cantikan gue "
Aletta memutar bola matanya malas, Nadine itu tipikal orang yang labil awalnya loe bakal dia puji sampe loe cukup melayang setalah itu dia bakal mencibir loe habis- habisan sampe loe jatuh ke tanah. Rasanya bukan sakit tapi kesel
"Baby, aku sudah selesai" pria bule itu kini sudah berdiri disebelah Nadine dengan menenteng plastik berisi makanan dan minuman
"Gue duluan. Inget pesen gue tadi"
"Thanks Nadine "
__ADS_1
Nadine tersenyum lalu menggandeng pacar bulenya keluar restoran.