
Nathan kembali disibukan dengan bisnisnya yang ia bangun sendiri sejak ia masih duduk di bangku kuliah. di keluarga besarnya, semua merintis bisnis dari yang tadinya kecil- kecilan hingga seiring waktu berjalan, berkat usaha dan kerja keras bisnis mereka pun menjadi besar, sukses dan terkenal.
sejak kecil Nathan di didik untuk bisa mandiri, apalagi ia anak laki-laki. kelak jika ayahnya pensiun dirinyalah yang akan mengurus perusahaan sang papa.
meskipun begitu Nathan tetap memiliki bisnisnya sendiri yang Nathan bangun dari nol.
Berawal dari kecintaan dengan kopi membuat Nathan yang masih remaja memilih mendirikan cafe dengan konsep kekinian bernama Cofeedia.
siapa sangka bisnis iseng- iseng itu kini telah memiliki puluhan outlet yang tersebar di penjuru pulau Jawa, Sumatra dan Bali.
sepulang dari negeri Jiran ia membagi waktunya untuk membantu sang papa di bengkel dan juga mengurus bisnisnya sendiri.
hari ini ia tengah disibukan memeriksa laporan keuangan dari outlet miliknya yang berada di luar pulau, rencananya ia akan membuka cabang baru lagi di beberapa kota lainnya.
drrrrttt... drrrttt
Nathan melirik ponselnya yang bergetar, ada panggilan masuk dari kekasihnya Alea.
"halo, kenapa yank?"
"kamu sibuk ga nanti malem?"
"kalo nanti malem enggak, kenapa?"
"jalan yuk, aku lagi suntuk nih.."
"boleh.. nanti malem aku jemput"
"makasih sayang.."
"yaudah aku lanjut kerja lagi ya. kamu juga yang fokus kerjanya. "
"iyaaa.. jangan lupa makan siang "
"kamu juga.. aku tutup ya. bye"
"bye"
panggilan berakhir Nathan kembali fokus menyelesaikan pekerjaannya.
***
setelah berkutat seharian penuh dengan laporan keuangan yang harus di periksa sedetail mungkin akhirnya pekerjaan Aletta selesai sudah hari ini.
Aletta berdiri untuk meregangkan tubuhnya yang terasa pegal karena berjam- jam hanya duduk. Rasanya kaku sekali
Tok... Tok
"Masuk"
"Permisi mbak, ini ada berkas yang harus diperiksa sebelum ditanda tangani oleh pak Ferdi" kata Stefani meletakkan beberapa map di meja Aletta
"Hah? Masih ada lagi?" Aletta melirik jam tangannya yang sudah menunjukkan pukul empat sore.
"Kenapa mbak?" Tanya Stefani bingung
"Bisa dikerjain besok ga, saya ada janji" cicit Aletta
"Santai kok mbak, besok juga gak papa" kata Stefani dengan senyum manisnya
"Okey kamu tolong pegang dulu besok baru dikasih ke saya. Makasih ya" ucap Aletta
"Sama- sama mbak" sahut Stefani yang langsung pamit meninggalkan ruangan Aletta
__ADS_1
Drrrrttt.. Drttt
Ada pesan masuk di ponsel Aletta, ia langsung membukanya. Sudut bibirnya melengkung ketika membaca pesan di aplikasi chat miliknya.
Alvaro
Udah di lobby 😌
^^^Aletta^^^
^^^On the way^^^
Setelah membalas chat Alvaro, Aletta langsung mengemasi barang-barang miliknya dan meja kerjanya.
Ia keluar dari ruangan menuju lift. Ada beberapa orang karyawan kantor disana mengangguk sopan pada Aletta, meskipun usianya lebih muda tapi statusnya di kantor bukan kaleng- kaleng.
Setengah berlari Aletta keluar dari lift, ia melihat Alvaro tersenyum menunggunya di dekat meja resepsionis.
"Udah lama?"
Alvaro menggeleng, "belom satu jam" kekehnya
"Dasar!! Kita mau kemana?"
"Hmm terserah kamu aja mau kemana"
"Hmm kalo nonton gimana?"
Alvaro mengangguk mengiyakan. tanpa membuang waktu keduanya langsung meluncur ke salah satu mall terbesar dikota.
45 menit kemudian mereka tiba di salah satu pusat perbelanjaan terbesar di kota, Aletta sudah melakukan searching di google rekomendasi film terbaru di bioskop agar mereka tidak perlu bingung lagi mau nonton apa.
Dan pilihan mereka jatuh pada film bergenre komedi. Kenapa? Soalnya kalo nonton yang romantis nanti baper. kalo udah baper siapa yang mau tanggung jawab coba?
Aletta mengangguk, ia duduk di salah satu kursi sambil membuka akun media sosial miliknya di handphone.
Puas berselancar di dunia Maya, Aletta melihat Alvaro berjalan ke arahnya, "filmnya udah mau mulai kita beli popcorn sama minuman dulu"
Aletta mengekor dibelakang Alvaro mereka membeli Popcorn dan minuman, setelah itu kedua langsung masuk dan memberikan tiket pada penjaga.
Selama film diputar Alvaro tidak begitu menonton, ia fokus melihat kesamping. Apalagi kalo bukan menatap wajah Aletta yang tengah serius menonton film.
Sesekali gadis itu tertawa lalu menggerutu, benar- benar menggemaskan. Alvaro bahkan tidak sadar jika film yang mereka ehm ralat, film yang Aletta tonton sudah selesai.
"Kita kemana lagi?" Tanya Aletta
"Makan?"
Aletta mengangguk, ia sudah sangat lapar. bahkan Popcorn sama sekali tidak membantu untuk mengganjal perutnya.
Mereka masuk ke salah satu restoran cepat saji seperti biasa Aletta bertugas mencari meja sementara Alvaro memesan makanan.
keduanya makan sambil menceritakan kesibukan masing-masing, dimana Aletta lebih banyak berkontribusi menyuarakan cerita kesehariannya dibandingkan Alvaro yang lebih memilih menjadi pendengar yang baik.
"Kapan sidangnya?" Tanya Alvaro ketika Aletta membahas tentang kuliahnya
"3 hari lagi.."
"Kamu gugup?"
Aletta mengangguk, sejujurnya ia takut jika ia tidak menguasai materi, ia juga takut tidak bisa menjawab pertanyaan dari dosen penguji dan masih banyak ketakutan lainnya.
"positif thinking ,Kamu pasti bisa Aletta" kata Alvaro sambil menggenggam tangan Aletta yang ada diatas meja
__ADS_1
Hangat
Itu yang Aletta rasakan ketika tangannya digenggam oleh Alvaro. seketika Semburat merah jambu menjalar di pipi Aletta. Rasanya jantung Aletta mendadak dugem
"Al..."
"Iya.."
Duh kenapa jadi deg- degan begini sih, batin Aletta
Pasti mau bahas kejadian di pantai tempo hari, okeh, lo harus jelasin semuanya Al biar dokter Varo ga salah paham, tekad Aletta
"Waktu di pantai..."
Tuh kan bener,....
"Dokter" sela Aletta, "dengerin aku dulu" ucapnya yang membuat Alvaro diam , "kak Bobby itu senior aku di kampus, pernah jadi kakak kelas juga sih di SMA. tapi beneran aku sama dia ga ada hubungan apa- apa. Aku juga ga tau kenapa dia ngomong kaya gitu. tapi, aku udah bilang ke dia kalo aku ga bisa nerima perasaan dia" jelas Aletta
Sebenarnya Alvaro tidak ingin membahas tentang Bobby walaupun ia penasaran ada hubungan apa diantara mereka.
Niat Alvaro adalah mengungkapkan perasaannya yang terjeda saat itu, tapi Aletta lebih dulu menyela dan menjelaskan semuanya.
"Terus?"
"Ga ada lagi cuma itu aja sih. Terusnya lagi nunggu kelanjutannya omongan Dokter yang belum tuntas waktu itu" jawab Aletta
"Apa ya, kayanya saya udah lupa deh mau ngomong apa" kata Alvaro
Terus kalo dia lupa gue kudu gimana? Masa iya tiba- tiba gue bilang suka sama dia, batin Aletta
Alvaro tersenyum melihat ekspresi gadis didepannya itu, ia lalu menarik kedua tangan Aletta dan menggenggamnya.
Aletta sedang berusaha menetralkan detak jantungnya yang berdebar lebih cepat dari sebelumnya saat kedua tangannya di genggaman oleh Alvaro, dirinya bahkan tak berani menetap lelaki yang saat ini sedang menatapnya.
"saya suka sama kamu Al dan kamu tau itu, saya pengennya kamu jadi bagian dari hidup saya Al, bagian dari rencana masa depan saya, kamu mau kan jadi teman hidup saya?"
Aletta mengedipkan matanya berkali-kali, ia tidak salah dengar kan? dokter Alvaro benar- benar sedang menyatakan perasaannya kan?
teman hidup maksudnya pacar atau gimana sih? tanya Aletta dalam hati
"Al...." panggil Alvaro yang sedari tadi menunggu jawaban dari Aletta
" eh- "
"kamu ga perlu jawab sekarang, saya-"
"sebenarnya aku juga suka sama dokter." Cicit Aletta yang tidak berani menatap wajah Alvaro karena malu
"jadi?"
Aletta mengangguk malu- malu, "ya saya mau"
"mau apa?"
Aletta menghela nafas, kenapa harus di perjelas sih, "jadi teman hidup kamu"
Alvaro tersenyum ia benar-benar bahagia hari ini, "terima kasih, saya gak mau umbar janji tapi saya akan berusaha bikin kamu selalu bahagia"
Aletta tersenyum sambil menatap lelaki yang kini statusnya telah berubah menjadi kekasihnya itu.
Ahhh! rasanya seperti mimpi. inikah yang dinamakan kasmaran? kenapa bawaannya pengen senyum terus, pipi kok kayanya lagi semangat banget buat narik otot-otot disekitar bibir buat terus melengkung membentuk sabit.
sepertinya malam ini keduanya bakal susah tidur saking bahagianya.
__ADS_1