
Sepulang dari makan siang Angga langsung mengurung dirinya si kamar, ia membatalkan janjinya dengan Alvaro di rumah sakit.
Matanya terpejam, ingatannya kembali mundur pada kejadian beberapa hari yang lalu saat keputusan terbesar dalam hidupnya dipertaruhkan
Flashback on
Angga meraup wajahnya frustasi ia bru saja pulang dari rumah sakit tangannya masih menggenggam selembar kertas putih berisi hasil pemeriksaannya
"Gimana caranya gue bisa bertahan sama Andin kalo gue aja ga normal kaya gini" setetes air mata Angga lolos
Setelah berperang dengan pikirannya Angga langsung keluar dari kamarnya bergegas pergi ke rumah Andin.
Ditengah perjalanan ia bertemu dengan seorang wanita yang berteriak minta tolong. Tanpa membuang waktu Angga langsung menolong wanita itu yang hampir saja dilecehkan oleh seorang pria.
"Mbaknya gak apa- apa?"
Wanita itu menggeleng masih dengan wajah ketakutan, "saya gak apa- apa. Makasih udah nolongin saya.."
Angga melepas jaketnya lalu memakaikannya di pundak wanita itu karena bajunya sobek, "ayo mbak saya antar pulang"
Wanita itu sedikit ragu, tapi begitu melihat ketulusan Angga dan yakin kalau lelaki didepannya itu bukanlah orang jahat ia pun mengangguk.
"Sarah"kata wanita itu
Angga mengangguk sambil fokus menyetir, "Angga"
"Makasih Angga kamu sudah menolong saya, kalo enggak saya ga tau apa jadinya."
Angga kembali mengangguk, "pria tadi apa ga sebaiknya dilaporkan ke kantor polisi?"
Sarah menggeleng, "dia itu calon suami saya, orang yang mau di jodohkan sama saya tapi saya ga mau karena dia pria tempramental"
Angga kembali mengangguk, tidak ingin berkomentar lebih jauh.
"Apa saya boleh minta tolong sekali lagi."
Angga menaikan sebelah alisnya, 'apa?"
"Apa kamu mau pura- pura jadi pacar saya supaya saya bisa membatalkan perjodohan ini?"
Angga menatap Sarah sejenak sebelum akhirnya ia mengangguk, "baiklah, tapi sebelum itu kamu harus membantuku lebih dulu."
Angga akhirnya meminta bantuan Sarah, ia tidak menjelaskan lebih detail alasannya tapi ia meminta Sarah menjadi tunangannya, wanita yang menjadi pilihan orangtuanya .
Angga sengaja mengajak Andin bertemu lalu membawa Sarah bersamanya.
"Hai Andin"
Andin mengerutkan keningnya, aneh tidak biasanya kekasihnya itu memanggil namanya, "hai"
"Andin, gue sengaja ngajak loe ketemuan.. gue cuma mau ngenalin dia.."
Andin menoleh ke arah yang ditunjuk Angga, seorang wanita cantik bertubuh tinggi dengan rambut panjang sepinggang wajah oval dengan mata bulat, hidungnya mancung dengan bibir tipis yang selalu mengembangkan senyum, terlihat cantik. itulah kesan yang pertama Andin lihat
__ADS_1
"Dia siapa?"
"Calon istri pilihan orangtua aku..."
Deg
Andin tersenyum samar, "aku ngerti. Selamat buat kalian berdua." Setelah mengatakan itu Andin langsung pergi menggalkan Angga dan Sarah.
"Kamu yakin Ngga?" Tanya Sarah yang melihat mata Angga memerah ia merasa sudah menjadi wanita yang jahat
"Ini yang terbaik"
Angga mengepalkan tangannya berusaha menahan diri, meyakinkan dirinya kalau inilah yang terbaik bagi hubungan mereka.
Maafin aku Andin...maaf ini semua demi kebaikan kamu..
Flashback off
Angga masuk ke kamar mandi mengguyur tubuhnya di bawah shower berharap itu akan sedikit lebih baik untuknya.
******
"Al... Ayo masuk...diluar dingin nanti kamu sakit" Alvaro menyentuh baru Aletta yang tengah berdiri di balkon kamar mereka
Sejak insiden tadi siang Aletta lebih banyak diam, ia memikirkan keadaan Andin. Rasanya ia merasa gagal sebagai seorang sahabat bagaimana bisa ia tidak tahu masalah yang Andin hadapi. Mengapa Andin memilih diam dan pergi? Mengapa Andin tidak memberi tahunya?
"Apa kedatangan Angga waktu itu ke rumah ada hubungannya sama putusnya mereka?" Tanya Aletta
"Kenapa?"
"Soal itu Angga pasti punya alasan sendiri Al"
"Alasan apa sampe dia harus mutusin Andin dan malah milih perempuan itu?"
Alvaro menggeleng, "aku ga tau kalo soal itu, aku bahkan baru tau tadi kalo Angga udah punya yang baru."
"Tapi..."
"Al, aku tau kamu ga terima perlakuan Angga sama Andin tapi aku yakin Angga punya alasan kenapa dia begitu walaupun aku ga membernarkan caranya. Kita ga bisa ikut campur terlalu jauh, yang bisa kita lakuin sekarang adalah berdoa semoga mereka bahagia dengan keputusan mereka."
"Tapi aku kepikiran Andin, gimana dia disana.. dia pasti sedih..."
"Sedih udah pasti, tapi kamu tau kan Andin itu kuat.. dia mungkin terlihat paling lemah lembut dari kalian tapi dia gadis yang tangguh.. percaya deh Andin pasti baik- baik aja beberapa hari lagi dia pasti pulang dan ga bakal terlihat sedih."
"Kenapa kamu yakin begitu?"
"Kenapa kamu pesimis begitu?" Tanya Alvaro balik
"Tapi kan perempuan itu perasa, aku ga tau gimana cara Angga mutusin Andin tapi pasti sakit.. apalagi kalo sampe Angga bawa perempuan tadi... Pasti .. pasti... Andin sakit hati...."
"Kenapa kamu jadi nangis..." Alvaro mengusap air mata Aletta, "Andin pasti baik- baik aja." Alvaro menarik Aletta ke pelukannya menenangkan istrinya yang menangis, "masuk yuk di luar dingin kayanya mau turun hujan..."
"Gendong"
__ADS_1
Alvaro hanya tersenyum, "ugh... Kamu ternyata lumayan berat ya"
Aletta menepuk lengan Alvaro, "jadi kamu secara ga langsung ngatain aku gendut gitu?"
"Aku ga bilang"
"Tadi kamu bilang aku berat..."
"Kamu ringan sayang lebih ringan dari Ziggy"
"Ini namanya pembohongan publik.."
Alvaro terkekeh membawa Aletta masuk ke dalam kamar mereka.
****
"Yank... Kamu kok ngediemin aku sih?" Nathan memijit pelipisnya pening sepulang dari restoran tadi siang Alea mendiami Nathan karena kesal dengan Angga
"Kesel aku sama sahabat kamu.."
",Kamu kan kesel sama Angga kenapa aku yang kena imbasnya?"
"Yaialah kamu pasti tau kan alasan Angga putus sama Andin.."
"Maaf yank aku ga tau..."
Maaf ya Alea aku udah janji sama Angga buat ga ngasih tau siapapun termasuk Andin. Padahal aku pengen banget ngasih tau tapi aku udah janji
"Bohong, kamu pasti tau kan? Sejak kapan dia jalan sama cabe- cabean itu?"
Nathan mengerutkan keningnya, "cabe- cabean?"
"Tunangan dia yang baru, yang dokter itu?"
"Hah? Tunangan yang baru? Sejak kapan kok ga ngundang- ngundang?"
"Kamu ga tau yank?"
Nathan menggeleng, "aku baru tau dari kamu yank..."
"Ck!" Alea berdecak sebal
"Udahlah yank, kita ga bisa ikut campur terlalu jauh .. kita cuma bisa support mereka.. dan mendoakan yang terbaik"
"Tapi aku...."
"Udah ya yank... Udah malem mending kita tidur besok kamu harus kerja.. aku juga ada meeting pagi- pagi besok.."
"Yank.. jangan tidur dulu .."
Nathan langsung merebahkan dirinya ke atas kasur bersiap berlayar ke alam mimpi
"Ck! Nathan nyebelin awas aja minta jatah"
__ADS_1