
Nathan mengajak Alvaro masuk ke dalam ruangannya agar mereka lebih nyaman untuk ngobrol.
Nadira menunduk tidak berani menatap wajah Alvaro, lelaki itu tidak menunjukkan ekspresi apapun
Nadira yakin Alvaro pasti marah padanya.
"Loe bisa jelasin semuanya sekarang Nad" ucap Nathan berusaha menjadi penengah
Nadira menarik nafasnya sebelum memulai bercerita, "Namanya Bryan, dia pacar gue waktu di London. Kami sudah pacaran selama 5 tahun."
"Beberapa bulan yang lalu bokap gue ngenalin gue sama calon istrinya" Nadira memejamkan matanya bersamaan dengan air matanya yang mengalir, "ternyata calon istrinya itu nyokap nya Bryan." Nadira langsung terisak tak sanggup melanjutkan ceritanya
Nathan melirik Alvaro, lelaki itu mengangguk paham, ia mengerti sekarang. Nathan berusaha menenangkan Nadira dengan menepuk pelan bahu gadis itu.
"Maafin gue Var.." lirihnya
Alvaro tak menyahut, ia bingung harus bersikap bagaimana.
"Harusnya loe bisa jelasin ini ke dia Nad, gue yakin cowok loe pasti ngerti." Ucap Nathan
"Gue ga tau Nat, gimana cara jelasin ke dia.. gue ga mungkin ngorbanin perasaan papa demi kebahagiaan gue sendiri"
Nathan paham, ini situasi yang tidak mudah bagi Nadira. Tapi bagaimana pun juga kekasih Nadira harus tau yang sebenarnya.
"Var..." Nathan memanggil Alvaro yang sedari tadi hanya diam
"Gue ga tau Nat.."
"Gue yakin Aletta pasti ngerti. Mending loe omongin ini ke dia sebelum dia tau dari orang lain" kata Nathan
"Gimana caranya gue ngejelasin ke dia" Alvaro menghela nafasnya
"Nadira loe harus bantu Varo buat jelasin ini ke Aletta biar Aletta ga salah paham sama Varo" Nathan beralih menatap Nadira yang masih menangis
"Bukan Aletta yang gue takutin Nat gue percaya Aletta bisa ngerti, tapi cowoknya Nadira. Gimana kalo dia tau gue mau nikah sama Aletta sementara Nadira ngakunya gue calon suami dia.."
Nathan menepuk keningnya ini benar-benar situasi yang sulit.
Ponsel Alvaro berbunyi, ada panggilan dari rumah sakit yang mengharuskannya datang ke sana sekarang.
"Gue harus ke rumah sakit sekarang." Pamit Alvaro yang langsung pergi
Nadira hanya bisa menangis menatap punggung Alvaro yang sama sekali tidak menggubris permintaan maafnya.
__ADS_1
"Alvaro lagi bingung Nad dia diposisi yang serba salah sekarang. Dia pasti bingung gimana cara jelasin semuanya ke Aletta , tapi loe tenang gue yakin dia ga marah sama loe dia hanya butuh waktu buat mencari jalan keluarnya" ucap Nathan mencoba menenangkan Nadira.
"Ini semua salah gue Nat.. kalian udah baik sama gue tapi gue malah bikin kalian dapet masalah."
"Udahlah loe ga usah nyalahin diri loe, semua udah terjadi yang penting sekarang kita cari solusi buat masalah ini."
Nadira mengangguk masih dengan air mata yang tidak mau berhenti mengalir.
*****
Aletta baru selesai memeriksa laporan bulanan, beberapa kali ia menguap hingga akhirnya ia memutuskan untuk pergi ke pantry membuat secangkir kopi sebelum melanjutkan kegiatannya meeting bersama beberapa divisi keuangan.
"Mbak Aletta butuh sesuatu?" Tanya seorang wanita paruh baya dengan seragam office girl
"Saya pengen kopi Bu"
"Kenapa ga telpon aja mbak, nanti dibikinin terus dianter ke ruangan mbak Aletta"
"Gak apa-apa bu, saya lagi pengen jalan-jalan butuh cuci mata biar melek"
Si Ibu bernama Ati tadi terkekeh "Mbak Aletta bisa aja, sebentar saya buatkan mbak"
"Tolong ya Bu, terima kasih"
"Hai"
Aletta mendongak, "Bryan"
"Kamu lagi ngapain disini?" Tanya Bryan penasaran
"Aku ngantuk jadi butuh sedikit kafein sebentar lagi mau meeting. Kamu?"
"Mau bikin kopi juga buat temen-temen yang lain pada nitip"
"Kenapa murung begitu?" Tanya Aletta yang melihat wajah Bryan tidak seceria biasanya
"Aku tidak apa-apa" elak Bryan
"Ada masalah di kantor? Kalo ada masalah cerita aja mungkin aku bisa bantu"
"Bukan soal kantor.."
"Soal pacar kamu?"
__ADS_1
Bryan mengangguk
"Kamu udah ketemu sama pacar kamu?" Tebak Aletta
Bryan mengangguk lagi, "aku bertemu dengannya kemarin, tapi dia bilang sebentar lagi dia akan segera menikah"
Aletta tidak tahu harus berkata apa, "kamu yang sabar ya mungkin dia bukan jodohmu, aku yakin Tuhan sudah menyiapkan yang terbaik untukmu"
"Terimakasih kasih Aletta"
Aletta mengangguk
"Mbak Aletta ini kopinya" kata ibu Ati meletakkan secangkir kopi dimeja
"Makasih Bu"
"Mas ganteng butuh apa?" Tanya Bu Ati pada Bryan
"Saya butuh 8 cangkir kopi Bu"
"Sebentar saya buatkan"
"Terimakasih Bu"
"Aku yakin kamu akan segera mendapatkan penggantinya" kata Aletta
"Entahlah, kami sudah pacaran 5 tahun lamanya, aku tidak yakin semudah itu melupakannya."
"Apa kalian ada masalah? Maksudku apa dia di jodohkan atau bagaimana?"
Bryan menghela nafas
"Kamu ga perlu cerita kalo ga mau"
"Aku tidak tau Al, dia memutuskan hubungan kami begitu saja dan langsung pulang ke Indonesia."
"Kamu selingkuh kali" ucap Aletta dengan nada bercanda
Bryan tersenyum samar, "aku pria setia"
"Mungkin dia punya alasan Bry, tidak mungkin dia berbuat sesuatu tanpa alasan apalagi itu menyangkut perasaan kamu dan dirinya."
"Entahlah Al, aku tidak tau."
__ADS_1
******