
Alvaro dan Nathan merasa aneh dengan rekasi kedua gadis didepannya itu.
"Kenapa kaget gitu?" Tanya Nathan heran
"Gak, cuma speechless aja." Jawab Alea
"Oke, masalah silsilah keluarganya nanti lagi dibahasnya, sekarang saya mau menjelaskan hasil pemeriksaan Aletta." Ujar Alvaro
"Jadi, saya sakit apa dok?" Tanya Aletta
"Setelah melihat hasil Rontgen, kamu diagnosis mengalami 'Fraktur Calvicula' atau biasa disebuat fraktur tulang selangka." Jelas Alvro
"Bisa tolong jelasin secara simple ga dok? emm kita kurang paham bahasa per- dokteran" pinta Alea yang khawatir dengan kondisi saudarinya itu
"Secara singkatnya Aletta mengalami patah tulang ringan dibahunya. "
"Patah tulang?" Pekik Aletta sambil meremas selimut dengan kedua tangannya perasaannya sudah tidak karuan rasanya
Alea langsung merangkul adiknya, ia tahu Aletta sangatlah takut. Jangankan mendengar kata patah tulang dan berujung di operasi , melihat jarum suntik saja sudah membuat gadis itu histeris.
"Harus dioperasi kah?" Tanya Alea ragu-ragu
"Syukurnya ga perlu di operasi, cukup di pasang penyangga untuk menopang tulang selangkanya. Biasanya pada kasus fraktur Calvicula ini tubuh kita bisa membantu menyembuhkan dirinya sendiri dibantu dengan obat-obatan dan fisioterapi." Jelas Alvaro
"Terus dok?" Tanya Aletta
"Terus nanti saya akan memasang penyangga itu untuk membenarkan posisi tulang selangka kamu, takutnya terjadi dislokasi tulang itu sangat bahaya." Jawab Alvaro
"Sembuhnya berapa lama?" Tanya Aletta lagi
Alvaro menundukkan kepalanya lalu menghela nafas perlahan. kemudian menatap Alea dan Aletta bergantian, "untuk penyembuhan itu selama 1,5 bulan sampai 2 bulan, tapi untuk pemulihannya sekitar 6 bulan. Jadi Aletta saya minta maaf selama 6 bulan kedepan kamu tidak bisa melakukan aktivitas yang berat termasuk ikut kejuaraan bela diri." Jelas Alvaro dengan wajah menyesal
Sebenarnya ia tidak enak hati ketika menjelaskan kondisi gadis itu. Tapi ini sudah menjadi tugasnya ia harus mengatakan kejujuran mengenai kondisi pasiennya.
Aletta sudah menduga bahwa ini akan terjadi, ia menundukkan wajahnya mulai menangis, Alea yang tak tega melihat adiknya itu langsung memeluknya menenangkan gadis itu.
"Loe pasti kuat Al, pasti nanti ada yang lebih baik lagi, semua pasti ada hikmahnya." Ucap Alea
"gue gagal Le... ini kesempatan terakhir gue, gue pengen banget bikin mama sama papa bangga sama gue. gue gagal Le." ucapnya sambil terbata- bata
__ADS_1
"Gue ngerti perasaan loe Al, tapi ini musibah. Kita gak pernah tau kapan musibah itu datang." Alea masih berusaha menenangkan adiknya itu
"Ro, ga bisa lebih cepet apa penyembuhannya?" Tanya Nathan sambil berbisik, dirinya tak tega melihat perempuan menangis apalagi ia mengenalnya
Alvaro menghembuskan nafasnya ikut menyesal karena tidak mempunya solusi lebih ampuh untuk membantu mempercepat kesembuhan pasiennya, ia bukan Doraemon yang punya alat- alat ajaib ia hanya manusia biasa.
"Sorry Nat.." sesal Alvaro
"kenapa harus gue.... " Aletta berteriak sambil mukul bahunya yg cedera gadis itu bahkan melempar barang-barang yang berada di dekatnya, "kenapa harus gue!!!!!"
"dok...tolong..." pinta Alea yang sudah kewalahan menenangkan Aletta
"Nat, panggil suster Intan ke sini.." pinta Alvaro pada Nathan yang langsung berlari keluar sementara Alvaro membantu Alea menenangkan Aletta
"Aletta" Alvaro menangkup wajah gadis itu dengan kedua tangannya, "liat saya... kamu gadis yang kuat Aletta. kamu lebih kuat dari yang kamu duga. meskipun apa yang kamu rencanakan tidak berjalan sesuai keinginan kamu tapi percayalah semua ada hikmahnya.."
Suster Intan masuk bersama dengan Nathan langsung menyuntikan obat tidur kedalam infus milik Aletta.
"Kenapa harus saya dok..." ucapnya lirih
"karena kamu gadis yang kuat..." balas Alvaro
"Dok, adik saya?" tanya Alea
"Dia cuma tidur. kamu tenang aja.." jawab Alvaro
Nathan merangkul bahu Alea menangkan gadis itu yang masih terisak, "InsyaAllah Aletta gak papa Le..."
Alea mengangguk pasrah, ia ikut merasakan kesedihan Aletta. Bagaimanapun jika dirinya diposisi adiknya itu tentu ia akan sangat frustasi.
💖💖💖💖
Alea kini sedang duduk ditaman rumah sakit ditemani Nathan dan Alvaro sementara Aletta di temani oleh mama April dan papa Ferdi.
"Alea, udah dong jangan nangis terus." Ucap Nathan
"Loe tuh ya gak punya perasaan banget jadi cowok, gimana gue gak sedih adek gue terkapar dirumah sakit, yang bikin gue tambah sedih ini tuh kesempatan terakhir dia buat mengukir prestasi. Loe gak tau gimana perjuangan gue sama Aletta supaya dapet ijin buat bisa jadi atlet kaya sekarang. Dan sekarang saat kesempatan didepan mata Aletta malah dapet musibah kaya gini." Omel Alea
Nathan memilih diam membiarkan Alea yang sedang kesal meluapkan emosinya.
__ADS_1
"Alea, kalo kamu nangis kaya gini apa ada solusinya? Apa dengan kamu nangis Aletta bakal sembuh? " Alvaro menggeleng, "Gak, Alea. Justru sekarang Aletta butuh kamu buat support dia. Kamu harus kuat buat bisa menguatkan Aletta supaya dia ga menyerah sama impiannya" Jelas Alvaro yang kini sudah berbicara lebih santai karena sedang tidak bertugas
Alea terdiam mendengar ucapan Alvaro, yah,,, Varo benar sebagai kakak gue harus mensupport Al bukan malah nangis gak jelas kaya begini.,
"Makasih ya Al, loe bener gue gak boleh kaya gini, gue harus support Aletta biar gimanapun dia butuh dukungan dari kita semua supaya dia cepet pulih dan melupakan kesedihannya karena gak bisa ikut kejuaraan." Ucap Alea sambil menatap Alvaro
Nathan memperhatikan tingkah Alea, sepertinya gadis itu menyukai sepupunya yang dingin itu terlihat dari bagaimana Alea menatap Alvaro dan senyuman itu, selama ini Alea tidak pernah tersenyum kepadanya yang ada kalo ketemu bawaannya ribut mulu.
"Syukurlah kalo kamu udah bisa ngerti dan tau harus melakukan apa." Sahut Alvaro tersenyum samar
"Tapi gue masih bingung, kok bisa Aletta cedera?" Tanya Nathan penasaran karena tidak tahu kronologi sebenarnya
"Ehm. Sebenernya tadi pas di UGD Aletta sempet cerita katanya dia itu kebelet mau ke toilet karena buru- buru dia ga tau kalo lantainya licin jadilah dia jatoh."
"Lah .. masa kepeleset bisa bikin patah tulang sih?" sela Nathan tak habis pikir dibuatnya
"Gue belom selesai cerita!" Alvaro menyentil kening Nathan dengan geram pasalnya ia belum selesai cerita tapi lelaki itu sudah lebih dulu menyela.
"Hehe sorry ..Ro..." Cengir Nathan sambil mengusap keningnya yang sakit karena sentilan Alvaro yang sangat keras.
Sepupu laknat, kalo bukan dirumah sakit udah gue ajak gelud loe, batin Nathan
'"Terus ada orang yang Aletta pikir mau nolongin dia taunya malah melintir tangannya dan nginjek bajunya sampe tulang bahunya cedera"
Alea membulatkan matanya tak percaya setelah mendengar cerita Alvaro. Alea yang geram meremas kedua tangannya "apa!!!! gila banget tuh orang!!! Awas aja kalo gue tau siapa dalang di balik semua ini. Gue pastiin dia bakal gue bales yang lebih parah dari yang dialamin Aletta."
"Alea loe tenang dulu gak semua masalah harus di selesaikan secara emosi." Ucap Nathan
"Gimana gue mau tenang ade gue diperlakukan kaya gitu. Loe juga kalo jadi gue pasti bakal marah atau mungkin lebih parah kalo adek loe yang jadi korbannya." Omel Alea
Natha menghela nafas pasrah, susah ngomong sama Alea apalagi gadis itu tengah tersulut emosi bawaannya semua yang Nathan ucapkan selalu saja salah padahal kan maksud Nathan pengen Alea tuh tenang dulu terus kita cari jalan keluarnya sama-sama tapi... Dia... Ahh sudah lah..
Alvaro menepuk bahu Alea, "Alea maksud Nathan itu kamu tenang dulu, tahan emosi kamu. Sekarang ini kita fokus sama kesembuhan Aletta dulu baru setelah itu pelan-pelan kita cari tau siapa dalang dari semua ini dan apa motif dia bikin Aletta celaka kaya gini. Dan kamu gak perlu khawatir aku sama Nathan bakal bantuin kamu buat menyelidiki siapa pelaku yang sudah tega bikin Aletta menderita kaya gini."
Seperti terhipnotis dengan ucapan Alvaro, Alea langsung tenang dan entah terbang kemana emosinya yang meluap-luap tadi, ia mengangguk mendengar semua penjelasan Alvari
"Varo makasih ya." Ucap Alea tulus
Nathan terbelalak, semudah itu Alvaro menenangkan Alea???.. gila.. ini bener-bener gila
__ADS_1
Bersambung...