Jodoh Di Kejar Dateline

Jodoh Di Kejar Dateline
50


__ADS_3

bikin malu aja" kata Eyang setelah Reynar dan mamanya pulang


"Ada apa?" Tanya papa Ferdi yang baru saja pulang dari kantor


Eyang tak menyahut.


"Itu mas tadi ibunya Rey bawain masakan kesukaan Rey supaya di cicipin sama Aletta katanya biar nanti kalo udah nikah bisa masak makanan kesukaan Rey tiap hari" jelas mama April


"Terus?"


"Makanannya pedes banget mas, jadi baru nyicip dikit Aletta udah kepedesan"


"Kamu kan tau aku sama Aletta sama sekali ga bisa makan pedes" kata papa Ferdi


Mama April menghela nafas menatap suaminya seolah berkata 'ibu mu mas'


"Kamu terlalu manjain anak Fer" kata Eyang


"Bu, ini bukan soal manjain anak, Ferdi sama Aletta itu emang ga bisa makan pedes dan ibu tau itu"


"Assalamualaikum"


"Waalaikumsalam"


"Ini lagi satu jam segini baru pulang." Ucap Eyang


Alea yang baru pulang langsung kena semprot dari Eyang.


Ini kenapa lagi, gue kan ga salah. Batin Alea


"Dari mana aja kamu?" Tanya Eyang curiga, "pasti keluyuran ga jelas sama pacar kamu"


"Alea abis ketemu Ferel Eyang. Tadi pulang kantor Ferel ngajak ketemuan di cafe" jelas Alea


"Kamu ga bohongin Eyang kan?" Selidik Eyang


"Kalo ga percaya tanya aja sama Ferel" Alea tidak sepenuhnya bohong kan, dia benar- benar janjian dengan Ferel walaupun awalnya sama Nathan. Hehe


"Baguslah, masuk kamar" kata Eyang


Alea mengangguk, tak ingin berlama- lama disana takut di semprot Eyang makanya ia langsung kabur ke kamarnya.


****


Alvaro sudah bersiap untuk berangkat ke laboratorium om Dito, semalam ia pulang ke rumah orangtuanya.


Beberapa minggu yang lalu orangtuanya pindah ke Jerman untuk memantau keadaan sang paman yang tengah sakit. Sehingga disinilah mereka berada.


"Hai Sayang..."


"Hai mom" Alvaro mengecup sebelah pipi wanita paruh baya yang di panggilnya mamy itu


"Makan dulu baru berangkat" mamy Alda menghidangkan sepiring omelet untuk putranya


"Makasih my. Papy mana my?" Tanya Alvaro yang tidak melihat sang ayah


"Udah berangkat tadi, ada panggilan darurat"


Alvaro mengangguk paham sambil memakan omeletnya.


"Alice sama Alanna baik- baik aja kan Varo?"


"Baik mom, kak Alanna kayanya 2 bulan lagi melahirkan."


"Semoga segala urusan bisa cepet kelar jadi mamy bisa nemenin kakak kamu lahiran"


"Aamiin"


"Jadi, siapa gadis cantik yang udah berhasil mencairkan hatinya seorang Alvaro William?" Tanya mamy Alda yang ikut duduk menemani putranya untuk makan


Melihat putranya hanya tersenyum samar mamy Alda semakin penasaran, "ga mau cerita sama mamy?"


"Namanya Aletta mom, Varo ketemu dia di rumah sakit waktu itu tangannya cedera, dia gadis yang baik, periang dan sedikit tertutup."


"Apa yang bikin kamu tertarik sama dia?"


"Entahlah, Varo ngerasa nyaman aja. Mungkin kalo mamy ketemu sama Aletta mamy juga bakal suka sama dia"

__ADS_1


Mamy Alda menjawil hidung putranya, "mamy dukung apapun yang bikin kamu bahagia. Mamy duluan ya"


"Take care mom"


Alvaro bergegas kmenghabiskan makanannya


lalu berangkat menuju tempat om Dito.


*****


Nathan baru selesai mengecek mobil salah satu pelanggannya ketika Nadine datang.


"Kak, kak Varo ke Jerman?" Tanya gadis itu


"Iya. Kenapa?"


"Gak papa sih, nanya aja"


Nathan mencium gelagat tak beres dari adiknya, "cari cowok lain aja sih Nad, masih banyak kok yang mau sama loe. Jangan sepupu sendiri"


"Loe ga usah ikut campur deh kak, urus aja tuh urusan loe" Nadine langsung pergi meninggalkan Nathan yang berdecak kesal


"Oii broooo" Angga menepuk bahu Nathan


"Elo ngagetin aja"


"Muke kenapa Bro, lecek amat kaya baju?"


"Biasalah"


"Tadi gue liat adek loe baru keluar dari sini. Tumben?"


"Nanya Varo"


"Sorry sebelumnya Nat, tapi elu jangan tersinggung ya,,, adek loe itu terobsesi sama Varo apa gimana sih? Soalnya tiap ketemu Varo tingkahnya beda aja. Yang gue tau loe sama Varo sama- sama kakak dia tapi kok beda gitu. Kaya ada something. Loe paham kan maksud gue?"


"Gue paham kok dan emang dia suka sama Varo."


"Serius loe? Nadine suka sama Varo? suka dalam artian cinta gitu?" Tanya Angga


"Gue takut dia nekat ke Jerman"


"Kita berdoa aja semoga Nadine ga senekat itu"


"Semoga aja, oh ya katanya elo punya ide buat bantuin gue sama Alea.


Angga lalu membisikan sesuatu ditelinga Nathan yang membuat lelaki itu tersenyum, "gimana?"


"Sumpah loe emang sohib gue yang paling dabest"


"Gue gitu loh"


Keduanya beradu tos lalu tersenyum evil. Tak sabar untuk menjalankan rencana mereka.


****


Aletta tengah berkutat dengan laporan dimejanya sambil makan kebab yang dipesannya tadi lewat babang ojek.


"Al, kantin yuk laper" ajak Alea yang masuk keruangan Aletta tanpa mengetuk pintu.


"Males gue, nih gue pesen kebab banyak ada burger juga.." Aletta menunjuk plastik berisi makanan yang dipesannya tadi


"Tumben?" Alea mengambil sepotong kebab dan langsung memakannya


"Males aja sih, loe tau kan tuh cowok suka gentayangan di jam- jam segini"


Alea mengangguk paham, untung Ferel tidak mengganggu seperti si Rey, bisa darah tinggi Alea menghadapinya.


Tok... Tok


"Masuk..." Sahut Alea


"Hai Al"


Stefani membuntuti dari belakang Reynar "Mbak, maaf saya udah ngelarang tapi..."


Aletta mengangguk paham, "gak papa"

__ADS_1


"Maaf ya mbak" kata Stefani tidak enak hati


Ngapain lagi sih, batin Aletta


"Mau apa loe?" Tanya Aletta datar, kali ini ia tidak akan berpura- pura lagi toh tidak ada Eyang di sini


"Mau ngajak makan siang"


"Gak bisa gue lagi sibuk"


"Kamu tenang aja aku udah bawain makanannya kok. Bentar ya.." Reynar langsung duduk di sofa mengeluarkan makanan yang di bawanya


Alea menatap Aletta yang ditatap hanya angkat bahu acuh


"Yuk dimakan Al, Alea juga makan bareng sini aku bawa banyak kok"


Kedua gadis itu mau tidak mau menghampiri Reynar yang duduk di sofa.


Aletta menaikan sebelah alisnya, semua makanan yang dibawa Reynar adalah makanan pedas bahkan salah satunya makanan yang di bawa ibunya semalam.


"Loe mau nyuruh gue makan ini?"


"Kata mama aku, kamu itu cuma ga terbiasa. Jadi mulai sekarang kamu harus biasain makan- makanan pedas karena di keluarga aku semuanya suka pedas"


"Loe gila ya, adek gue tuh ga bisa makan pedes dan loe nyuruh dia untuk ngikutin selera keluarga elo. Cowok macem apa loe" kata Alea tak habis pikir dengan Reynar


Aletta memejamkan matanya, mengapa ada lelaki modelan begini, enaknya diapain coba.


"Maaf Reynar. Gue ga bisa"


"Ayolah Al coba dulu, nanti juga kami terbiasa" bujuk Reynar


"Kalo orang ga mau ya jangan di paksa kali." Cibir Alea


Reynar menghela nafasnya.


Sabar Rey, jangan emosi ngalah aja dulu. Kalo dia udah ada genggaman loe baru loe buat dia bertekuk lutut dihadapan loe, batin Reynar


"Yaudah kalo kamu ga mau aku ga maksa. Oh iya aku ada hadiah buat kamu" Reynar memberikan sebuah kotak beludru berwarna hitam yang cukup besar, "buka deh kamu pasti suka"


Aletta melirik Alea yang hanya mengangguk lalu dengan ragu membuka kotak itu, matanya langsung membulat.


Alea yang berada disebelah Aletta pun ikut terbelalak melihatnya. Satu set kalung berlian lengkap dengan anting, cincin dan gelang tangan tersusun rapi didalamnya.



"Kamu pasti suka, ini belom seberapa kalo kita nikah nanti aku bakal ngasih yang lebih dari ini."kata Reynar dengan senyum paripurnanya


"Sorry gue ga bisa terima, ini terlalu berlebihan buat gue." Aletta mendorong kembali kotak perhiasan itu pada Reynar


"Kenapa Al? Ini hadiah yang aku beli khusus buat calon istri aku. Kenapa kamu tolak? Apa ini kurang bagus? Iya? Kalo gitu kita ganti modelnya sesuai yang kamu mau"


Aletta menggeleng, "bukan itu, gue ga bisa terima barang semahal ini."


"Kenapa?bahkan mantan pacar aku aja selalu merengek minta di beliin perhiasan sedangkan kamu aku ngasih ini khusus buat kamu. Bukannya perempuan suka kemewahan? Kamu mau apa tas branded, atau mobil sport bilang aja sama aku, pasti aku kasih buat kamu bila perlu tokonya sekalian"


loe kira gue ga mampu beli sendiri gitu dan harus ngerengek ngemis minta di beliin ini itu sama loe, hei bung siapa elo? pacar bukan, keluarga bukan, sodara juga bukan, dumel Aletta dalam hati


"Sayangnya gue bukan mantan pacar loe atau koleksi cewek loe yang harus merengek ke orang asing cuma buat barang- barang kaya gini."


"Tapi aku calon suami kamu Al..." kata Reynar


Aletta menghela nafas, malas menyahut


"itu menurut loe,..."ucap Alea yang mulai gerah melihat Reynar ternyata begini wujud aslinya


"Apa sih bagusnya Alvaro? Dia cuma dokter biasa, gajinya juga biasa, aku yakin dia ga bakal mampu beliin ini semua buat kamu..." Reynar yang sudah tidak tahan lagi pun akhirnya berkata seperti itu.


"Terus bagusnya loe apa?" Tanya Aletta datar


"Aku sukses, mapan dan tampan, aku bisa bahagiain kamu, beliin apapun yang kamu mau. dan satu hal Eyang kamu milih aku jadi calon suami kamu itu artinya secara kwalitas aku lebih dibanding dia" jawab Reynar percaya diri


"Wow... " Alea bertepuk tangan, "sukses, mapan, tampan.. mungkin secara materi loe bisa bangga dan ngerasa lebih dari saingan loe, tapi sorry Rey loe sama Varo masih gantengan Varo" Alea tersenyum manis


Reynar mengepalkan tangannya hingga buku jarinya memutih menahan kesal. Hal itu tidak luput dari padangan Aletta.


gue pengen liat seberapa lama loe bisa pura-pura baik didepan semua orang, batin Aletta

__ADS_1


__ADS_2