
Aletta sudah mulai tenang dipelukkan Alvaro dan sudah setengah jam pula mereka berpelukan karena drama gadis itu menangis histeris.
Dipelukan Alvaro pula mengalirlah sebuah cerita lebih tepatnya curcol insiden yang menyebabkan gadis itu berakhir dirumah sakit.
gadis itu menceritakan jika dirinya hendak pergi ke toilet karena kebelet, tapi ia yang terburu- buru tidak melihat lantai yang licin akhirnya terpeleset. lalu seseorang yang tak dikenal menghampirinya.
Aletta mengira orang itu akan membantunya, tapi ternyata justru orang itu malah balik menyerangnya hingga ia kehilangan kesadaran dan berakhir dirumah sakit.
"Kamu inget wajah orangnya?" Tanya Alvaro setelah gadis itu selesai bercerita
Aletta menggeleng, "yang pasti dia cowok dan pakai topeng"
"Kamu punya musuh?"
Aletta kembali menggeleng, selama ini hidupnya terlampau lurus ia tak pernah mengusik orang lain. Tapi yang namanya hidup tidak melulu semua orang harus menyukainya kan??
"Kamu yang sabar ya, kamu pasti kuat menjalani musibah ini, tapi kamu harus percaya pasti ada hikmah di balik semua ini." Ucap Alvaro sambil mengelus rambut Aletta
"Dokter,,"
"Iya.."
"Ngomong-ngomong dokter kaya gini kaya lagi nenangin istrinya mau lahiran deh." Celetuk Aletta
*****!!! Umat Alvaro dalam hati
Alvaro sontak melepaskan pelukannya dari Aletta, mencoba bersikap tenang dan berwibawa di depan gadis ini dan juga perawat yang sedari tadi sudah cekikikan karena mendengar percakapan dan kelakuan mereka.
Aletta tersenyum polos, "tapi makasih ya dok, udah nemenin, terus nenangin saya. Sekarang saya merasa jauh lebih baik." Kata Aletta tulus
Alvaro menghela nafas, mengapa gadis didepannya ini membuat perasannya serasa naik roller coaster, alias tidak karuan. "Syukurlah kalo kamu sudah lebih baik, nanti suster Intan akan membawa kamu untuk Rontgen dan keruang rawat inap."
"Kudu banget ya dok di rawat?" Tanya Aletta mencoba melakukan penawaran
"Kamu harus dapat penangan khusus kalo mau cepet sembuh." Ujar Alvaro tersenyum ramah
Aletta mematung untuk beberapa saat ia baru menyadari ternyata dokter yang menanganinya sungguh tampan.
Bahhh.. kalo dokternya kaya begini mah betah dah yang jadi pasien, batin Aletta
"Baiklah saya permisi dulu, nanti saya kembali kalo hasil rontgen kamu sudah keluar." Pamit Alvaro
Aletta mengangguk lalu berbaring perlahan, nikmat Tuhan yang mana yang harus ku dustakan. Sakit sih tapi berkahnya ketemu dokter ganteng.
Aku kudu bersyukur atau mengeluh??
💖💖💖💖
Alea tiba di parkiran rumah sakit, ia lalu bergegas masuk meninggalkan Nathan yang masih memarkirkan motornya.
"Woiii tunggu." Teriak Nathan
Alea menghentikan langkahnya yang sudah cukup jauh dari Nathan, "apa lagi sih, gue buru- buru?" Tanya Alea kesal
"Itu helm di lepas dulu." Sahut Nathan
Alea memegang kepalanya ternyata benar, ia belum melepaskan helmnya.
Duuh, tengsin gue gara-gara panik begini jadinya. Batin Alea
Alea menghampiri Nathan lalu melepaskan helmnya dan menyerahkannya pada lelaki itu.
"Makanya tungguin gue." Ucap Nathan tanpa berniat membahas insiden helm
Alea mengerutu sambil mengekor mengikuti Nathan masuk kedalam gedung rumah sakit menuju bagian informasi.
"Permisi sus, pasien atas nama Aletta Rinjani Ferdinan diruangan mana ya?" Tanya Alea
__ADS_1
"Sebentar ya mbak, kami cek dulu." Ucap seorang perawat di bagian informasi yang mulai berkutat menghadap komputer, "pasien sudah dipindahkan keruang rawat VVIP nomor 02 mbak di lantai dua."
"Makasih sus."
Alea bergegas menaiki tangga menuju ruangan rawat inap adiknya itu. Nathan masih setia mengikuti Alea yang mungkin karena panik gadis itu sudah melupakan dirinya.
"Alettaaaaaaaa" teriak Alea begitu masuk ruang rawat adiknya
"Aleaaaaa." Sahut Aletta dengan suara parau karena kebanyakan nangis
Alea memeluk saudarinya itu , ia sangat khawatir begitu mendapat kabar dari salah satu teman Aletta di Dojo yang mengabarinya bahwa Aletta masuk rumah sakit karena cedera.
"Loe kenapa bisa jadi kaya gini?" Tanya Alea berderai air mata
"Panjang ceritanya, nanti aja gue ceritain abis gue diobatin sama dokter." Jelas Aletta
"Lah emang belom di obatin?" Tanya Alea
"Ini masih pake penyangga sementara waktu sampe hasil pemeriksaan gue keluar baru deh di putuskan kalo parah di operasi kalo ringan cukup di gips."
"Sakit gak Al?" Tanya Alea
"Pertanyaan loe pinter banget Le."
"Hehehe ya maaf abis loe keliatan tenang banget, biasanya kan loe heboh kalo masuk rumah sakit." Ujar Alea
"Gue udah gede sekarang." Jawab Aletta percaya diri
Loe gak tau aja gue drama hospital gue tadi di ruang UGD, tapi loe gak perlu tau karena sebenernya gua juga udah cukup malu tadi. Batin Aletta
"Loe udah ngasih tau orang rumah?" Tanya Alea
Aletta menggeleng, "takut diomelin gue."
"Tapi Al Kalo gak dibilangin bakal lebih parah ."
"Astaga!!!, gue lupa." Alea menepuk jidatnya pelan
"Kenapa Loe??"
"Ini tadi gue kesini sama temen gue, karena gue panik gue ninggalin dia." Jelas Alea
"Parah loe, gak tau diri banget."
"Gue nyari dia dulu ya, loe gak papa kan di tinggal sendiri?"
"Gak, gue gak papa. Udah loe cari temen loe dulu gih, kasian dia ntar kalo dia nyasar gimana?" Ucap Aletta
Alea mengangguk, lalu bergegas keluar mencari Nathan. Alea sudah berniat akan kembali ke bagian informasi untuk mencari lelaki itu karena tadi ia meninggalkannya disana ternyata lelaki itu sedang duduk menunggu di kursi depan ruang rawat Aletta.
"Syukurlah, gue kira loe ilang." Ucap Alea bernafas lega
Nathan yang sedari tadi sedang bermian game di ponselnya beralih melirik Alea, dilihatnya gadis itu sudah lebih baik tidak secemas tadi.
"Napa loe?" Tanya Nathan
"Gue baru inget kalo gue ke sini sama loe, terus niatnya mau nyariin loe tapi ternyata loe ada di sini." Jelas Alea
"Ciee loe takut kehilangan gue ya??" Goda Nathan
Alea blushing seketika, "apaan sih loe."
"Ciee mukanya..." Nathan semakin menggoda Alea memuat gadis itu semakin salah tingkah
"Eh, masuk yuk gue kenalin sama adek gue." Ucap Alea mengalihkan pembicaraan
Nathan mengangguk mengikuti Alea masuk ke ruang rawat adiknya.
__ADS_1
"Al, kenalin nih temen gue...."
"Loh Aletta???"
"Nathan???"
"Kalian udah saling kenal??" Tanya Alea heran
"Udah, dia waktu itu nolongin gue pas mobil gue mogok." Jelas Aletta
"Jadi loe itu adiknya Alea?" Gantian Nathan yang bertanya
"Iya dia adek gue, kenapa?" Tanya Alea balik
"Gak, gak papa gue cuma speechless aja. Ternyata dunia sempit kaya daun kelor." Jelas Nathan
"Loe kenal dia dimana?" Tanya Aletta penasaran
"Dia itu montir gue di club." Jawab Alea
Aletta manggut-manggut lalu memperhatikan keduanya, "kalian pacaran ya?"
Alea dan Nathan saling pandang, "GAK" jawab mereka kompak
"Yakin loe berdua ga saling suka?" Tanya Aletta lagi
"GAK MUNGKIN" jawab mereka kompak
"Masa sih? Tuh Jawabnya aja kompak banget." Sahut Aletta terus menggoda keduanya
"Al, gue gak mungkin demen ama dia cowo nyebelin suka tebar pesona kaya dia. Ihhhh ogahh" Ucap Alea sambil bergedik ngeri
"Ehh, apa lagi gue, ogah kali suka sama loe cewek setengah jadi kaya loe, udah galak, judes, jutek lagi. Ihh amit-amit deh gue." Sahut Nathan sambil membuang muka
"Ehh, mulut loe ya ternyata lebih pedes dari netijen , lebih spekta dari emak-emak kalo nawar di pasar. Loe pikir gue mau sama loe, amit- amit." Balas Alea tak kalah sengit
"WOOOYYY RUMAH SAKIT INI KALO MAU BERATEM SONO DI LAPANGAN" teriak Aletta kesal melihat pertengkaran dua sejoli didepannya
Alea dan Nathan terdiam, keduanya saling memundukan kepala, hening seketika.
"Permisi" sebuah suara memecahkan keheningan yang tercipta.
"Iya" ucap Aletta
Aletta mendengar derap langkah kaki masuk keruangannya namun tatapannya tak terlepas dari dua sejoli yang masih saja cek cok tanpa suara itu.
"Aletta, hasil Rontgen kamu sudah keluar." Kata Alvaro sambil memegang sebuah amplop coklat besar hasil pemeriksaan Aletta
Alea mengangkat kepalanya merasa familiar dengan suara lelaki yang sedang berbicara dengan adiknya itu
Matanya terbelalak, "Dokter Alvaro??"
Nathan ikut mengangkat kepala lalu melirik Alea yang terkejut lalu beralih menatap dokter yang tengah menanggani Aletta didepannya.
"Varo" panggil Nathan
Aletta memandang ketiga orang di sekelilingnya secara bergantian, ini kok berasa reunian ya.
"Le, loe kenal Dokter Varo?" Tanya Aletta yang di balas anggukan oleh kakaknya itu
"Nathan loe juga kenal sama Dokter Varo?" Tanya Aletta pada Nathan
Natha berjalan menghampiri Alvaro lalu merangkul bahu lelaki yang mengenakan jubah dokter itu, "kenal lah pake banget malah, dia kan sepupu gue?"
"HAH???" Alea dan Aletta saling pandang tak percaya
Ajaib, semesta menuntun mereka bertemu dengam lingkaran orang yang saling mengenal. Apa semesta juga akan membuat mereka saling terkait satu sama lain???
__ADS_1
Bersambung..