Jodoh Di Kejar Dateline

Jodoh Di Kejar Dateline
62


__ADS_3

Rasanya ingin sekali meminjam pintu kemana saja milik Doraemon. Jadi pas buka pintu udah di apartemennya Alvaro


"Pak, bisa tolong lebih cepet ga?" Aletta melirik jam tangannya sudah satu jam berlalu tapi ia masih terjebak macet


"Macet neng, sabar ya.."


Aletta terus melirik jam tangannya, ia mencoba menghubungi Alvaro tapi ponsel lelaki itu tidak aktif.


Frustasi , itu yang dirasakan Aletta saat ini. apa Alvaro balas dendam karena kemarin Aletta pergi tidak memberitahunya.


Aletta mengigit kuku- kukunya, taxi yang ditumpanginya berjalan lambat.


"Pak, saya turun disini aja, kayanya udah ga jauh deh"


"Tapi hujan neng" kata si bapak yang tidak enak hati


"Gak papa pak. Ini ongkosnya kembaliannya buat bapak aja"


"Makasih neng,.. sebentar bapak ambilkan payung..."


Aletta sudah lebih dulu berlari menerobos hujan menuju apartemen Alvaro yang kira- kira masih satu setengah kilometer lagi jaraknya.


"Please jangan pergi...please..."


Dengan sekuat tenaga ia terus berlari, ia tidak peduli banyak orang yang melihatnya mungkin mereka pikir Aletta sedang syuting film karena berlari ditengah hujan deras.


Aletta tiba di Apartemen dengan keadaan basah kuyup, ia langsung masuk ke dalam lift menuju lantai 7 dimana tempat Alvaro berada.


Rasanya badan Aletta menggigil, ada sepasang suami istri yang berada didalam lift bersamanya mereka menatap Aletta sedikit aneh bercampur iba tapi ia tidak peduli tujuannya adalah menemui Alvaro.


Ting!


Begitu pintu lift terbuka ia langsung keluar. Dengan tidak sabar Aletta menggedor pintu apartemen milik Alvaro


"Alvaro buka!!!!"


sesekali Aletta menendang pintu apartemen itu, rasanya kesal bercampur menjadi satu dengan rasa bersalah dan takut. takut kalo Alvaro sudah pergi tanpa memberitahu dirinya


"Varo buka!!!!??"


Sambil mendekap tubuhnya, ia mencoba menekan bel pintu dengan tidak sabar, tapi tetap saja tidak ada sahutan dari dalam sana membuat Aletta semakin panik, jangan- jangan Alvaro benar- benar sudah pergi.


Tubuh Aletta merosot didekat pintu, ia mulai menangis. Kalau Alvaro pergi tanpa mengabarinya itu artinya lelaki itu marah padanya yang sudah menghilang tanpa kabar, pergi tanpa pamit. fix Alvaro marah.


Ia harus mencari Alvaro kemana lagi. Sambil memeluk lututnya Aletta menangis. Berharap Alvaro muncul didepannya.


Ia berjanji tidak akan bertingkah seperti itu lagi. Ia sudah di dateline untuk segera menikah dan ia hanya akan menikah dengan Alvaro. Titik


"Ya Allah Aletta janji, bakal jadi anak baik, tapi tolong buat Varo ga jadi pergi ke Jerman. Hiks.. hiks"


"Al"


Aletta mendongak, pandangannya kabur karena menangis tapi ia yakin itu Alvaro, ia hafal suara lelaki itu.

__ADS_1


Sambil menghapus air matanya Aletta bangkit, Alvaro berdiri didepannya dengan sebelah tangan memegang koper


Tuh kan!!! Dia mau pergi


Aletta menangis kencang didepan Alvaro, sambil memukul dada Alvaro "kamu jahat!!! Kamu mau bales dendam kan sama aku gara- gara aku pergi ga bilang sama kamu."


"Kamu mau ninggalin aku ke Jerman lagi... Kamu bales dendamnya jahat. Aku cuma ke Jogja dua hari tapi kamu mau malah ke Jerman"


"aku tau aku salah, ga seharusnya aku kaya gitu. tapi....jangan pergi"


Alvaro menghela nafas lalu menarik tangan Aletta masuk ke apartemennya. Ia langsung mengambil handuk dan baju ganti, "cepet ganti bajunya, nanti kamu sakit"


Aletta menggeleng


"Kamu mau aku yang gantiin baju kamu? Oke.." Aletta melotot saat Alvaro mendekat


"Aku ganti sendiri. Tapi janji kamu jangan pergi"


Alvaro mengangguk menyodorkan handuk dan baju ganti pada Aletta. Dengan cepat Aletta masuk ke kamar mandi mengganti bajunya yang basah dengan baju milik Alvaro


Aletta keluar dengan baju kebesaran milik Alvaro. Lelaki itu duduk di sofa sambil memainkan ponselnya.


"Sini" Alvaro menepuk sofa disebelahnya menyuruh Aletta untuk duduk


Aletta menurut lalu duduk disebelah Alvaro dengan wajah tertunduk


"Minum ini" Alvaro menyodorkan segelas coklat hangat yang langsung diminum Aletta.


Hening


"Kamu mau pergi?" Tanya Aletta setelah cukup lama keduanya hanya diam


Alvaro menaikan sebelah alisnya tidak mengerti maksud Aletta


Aletta memutar badannya, kini ia duduk berhadapan dengan Alvaro, "kamu mau pergi lagi?"


"Aku ga kemana- mana"


"Bohong!! Kamu mau pergi ke Jerman lagi kan, kamu dapet beasiswa disana kan. Kamu mau pergi tanpa bilang sama aku, kamu dendam kan gara- gara aku pergi kemaren ga bilang sama kamu"


"Siapa yang mau pergi ke Jerman?'


"Kamu... "


"Kata siapa aku mau ke Jerman"


"Nathan"


Alvaro tertawa sambil geleng- geleng kepala, "dan kamu percaya?"


Aletta mengangguk, "aku langsung naik taxi dari Bandara tapi karena macet aku turun terus lari ke sini.. pas nyampe kamu nya ga ada"


Alvaro menyentil kening Aletta pelan, "lain kali jangan ceroboh. Hujannya tadi lebat kamu bisa sakit"

__ADS_1


"Hiks... "


"Kok malah nangis, sakit kah?" Alvaro memeriksa kening Aletta yang tadi ia sentil


Aletta menggeleng "Jangan pergi"


Alvaro tersenyum lalu menarik Aletta ke pelukannya, "aku ga kemana- mana."


"Tapi Nathan bilang..."


"Nathan bohong. Aku ga pergi kemana- mana"


"Tapi kopernya.."


"Oh itu koperku yang di pinjem sama dokter Fian waktu ke Surabaya dulu kopernya rusak."


"tapi Nathan bilang kamu dapet beasiswa kuliah di Jerman"


Alvaro mengangguk, "tahun depan."


Aletta mendongak , "maaf" cicitnya


"Buat?"


"Maaf karena aku pergi ga bilang handphone aku rusak terus.. aku..."


"Aku tau, Alea udah cerita semuanya..."sela Alvaro


"Kamu marah?" Aletta menatap Alvaro dengan puppy eyes-nya


"Lumayan"


"Maaf"


Alvaro diam tak menyahut, ia sibuk menyisir rambut Aletta yang belum kering dengan jarinya


"Kamu ga mau maafin aku?"


"Gak semudah itu..."


"Kenapa?"


"Karena kesalahan kamu kali ini lebih dari satu."


"Terus aku harus apa?"


Alvaro mengangkat bahunya," terserah kamu.."


Aletta mengeratkan pelukannya, ia merasa hidungnya mulai gatal, "aku janji ga bakal kaya gitu lagi"


Alvaro tersenyum sesekali mengecup kepala Aletta, ia ingin bertanya bagaimana perasaan gadis itu tapi ia urungkan, "Aku anter kamu pulang."


"Bentar lagi." Kata Aletta tidak mau melepaskan pelukannya, pelukan ini terlalu nyaman untuk dilepas

__ADS_1


Alvaro menghela nafas, jujur saja ini posisi ternyaman. Ditengah derasnya hujan dipeluk orang tersayang. Tapi, ia tidak ingin berlama- lama. ia laki- laki normal bagaimana jika ada setan jahil merasukinya dan berujung khilaf. Oh tidak!! Alvaro tidak ingin merusak Aletta sebelum waktunya.


__ADS_2