
Alvaro mengantar Aletta pulang setelah makan mereka keliling mengitari mall tanpa membeli apapun.
Bukan karena tidak punya uang. sama sekali bukan. mereka hanya ingin menghabiskan waktu bersama sambil bergandengan tangan apalagi dengan status mereka yang baru jadian
Rasanya dunia milik berdua yang lain di emperan saja, hehe. Bahkan wajah Alvaro yang bisanya datar kaya kanebo kering tak henti- hentinya tersenyum.
Emang ya efek merah jambu tuh bikin otot - otot di pipi pada olahraga narik sudut bibir buat senyum terus.
Sepanjang mereka berjalan, sebanyak itulah orang- orang yang mereka temui sedang berbisik sambil melihat ke arah mereka.
Cowoknya ganteng banget
Tapi ceweknya juga cantik, serasi deh. Aaaaa jadi iri
Masih cantikan gue dari pada tuh cewek
Begitulah suara - suara sumbang yang masuk ke telinga Aletta. Tapi karena dia lagi happy jadi terserah kalian deh, yang penting cowok ganteng di sebelahnya itu pacarnya.
Mobil yang dikendarai Alvaro berhenti tepat didepan pintu kediaman Ferdinan.
"Udah sampe..." Kata Aletta
"Hmm, kamu masuk gih mandi terus istirahat" ucap Alvaro sambil mengelus rambut Aletta
Pipi Aletta merona, "ehm.. kamu juga..."
Alvaro mengangguk , "jangan begadang, kamu udah mau sidang skripsi loh, ga lucu kalo kamu sakit pas hari H"
Aletta tersenyum ,"iya pak dokter.. aku masuk ya. Kamu hati- hati pulangnya, kabarin kalo udah sampe"
"iya"
"bye" pamit Aletta canggung ia langsung keluar dari mobil Alvaro dan melambaikan tangannya hingga mobil Alvaro hilang dari pandanganya.
"Dari mana lo?"
Aletta memutar badannya, ada Alea sedang bersandar di pintu, "jalan- jalan"
"Sama Varo?"
Aletta mengangguk, ia tidak akan memberi tahu kakaknya itu kalo ia baru aja jadian sama Alvaro. Ia tidak ingin di goda seisi rumah nantinya
"Kemana?'
"Kepo lo" jawab Aletta yang berlalu masuk
Alea yang tidak puas terus mengikuti Aletta masuk ke kamarnya. "Lo ngapain aja sama Varo?"
__ADS_1
"Dih kenapa jadi lo yang kepo sih."
"Hehehe penasaran aja lo udah jadian belom sama dia"
Aletta memutar bola matanya, "nanti juga lo tau."
"Al bantuin gue bikin tugas akhir dong.. masa tugas gue ga kelar- kelar sementara lo udah mau sidang" kata Alea
"Lah gimana ceritanya jurusan lo Ama gue aja beda. Setau gue Nathan anak management deh kenapa ga minta bantuan pacar lo aja" sahut Aletta yang tengah membuka lemari mengambil baju ganti
"Ehm.. gimana ya gue ga enak lah masa minta bantuan dia"
"Dari pada tugas lo ga kelar mending tukar pendapat sama dia. Barang kali Nathan punya masukan supaya tugas lo kelar, biar cepet lulus,.."
"Iya sih..." Alea menghela nafas berat. Selama ini ia fokus pada karir menjadi pembalap sehingga terlalu santai dengan urusan perkuliahan.
Ponsel Alea bergetar tanda panggilan masuk, ia langsung mengangkatnya begitu melihat nama sang kekasih tertera dilayar
"Iya yank... Oh oke aku turun..."
"Siapa?" Tanya Aletta
"Nathan, gue mau keluar bentar sama dia. Oh ya mama sama papa lagi pergi jenguk kolega nya yang sakit, lo bae- bae dirumah sendiri. Gue pergi ya" pamit Alea
"Hati- hati"
Nathan menghentikan motornya disalah satu cafe yang tidak jauh dari rumah Alea. Kedua sejoli itu langsung masuk dan memilih duduk di luar cafe sambil menikmati udara malam hari.
"Yank..."
"Hmm" sahut Nathan setelah memesan makanan pada seorang pelayan yang menghampiri meja mereka
hening
Nathan memperhatikan kekasihnya yang terlihat kurang bersemangat malam ini. bahkan suaranya ditelpon tadi siang terdengar tidak seceria biasanya.
"Kamu kenapa yank? ada masalah di kantor?"
Alea menggeleng "Enggak , aku gak papa kok"
"Yank kalo ada apa- apa cerita sama aku, apa yang kamu rasain, Apa yang bikin kamu ga nyaman. Ceritain semuanya sama aku... Bukannya kita udah janji buat saling terbuka apapun masalahnya?"
Alea hanya diam, hanya terdengar helaan nafas. Nathan menduga kekasihnya sedang banyak pikiran.
Apa mungkin karena ada masalah keluarga ya? Apa mungkin Alea dituntut harus cepet kelar kuliah? Apa dia dibanding- bandingin sama Aletta?
"Yank?"
__ADS_1
"Nat..." Lirih Alea dengan wajah sedih
Nathan merangkul Alea, "kenapa? hum"
"Seketika ngerasa insecure"
Nathan menghela nafas, ternyata dugaannya benar.
"Apa yang bikin kamu ngerasa kaya gitu?"
"Gimana ya,Aku ngerasa kaya gagal aja, Aletta udah mau lulus sementara aku tugas aja ga kelar- kelar... Aku tau mama sama papa ga nuntut aku.. tapi tetep aja rasanya ga nyaman.."
Nathan mengelus kepala Alea, ia harus berhati- hati bicara karena Alea sedang tidak percaya diri.
"Gini aja soal tugas akhir kamu gimana kalo aku bantuin kamu supaya tugasnya cepet kelar?."
"Kamu mau bantuin aku?" mata Alea berbinar
Nathan mengangguk, "iya, kita kerjain bareng- bareng yah.. " Nathan memutar posisinya agar berhadapan dengan kekasihnya itu
"tapi...."
"Udah ya jangan mikir yang macem- mecem.. kamu sama Aletta itu saudara. Ga boleh kaya gini, justru kamu harus jadiin ini motivasi buat prestasi kamu lebih bagus lagi."
Alea mengangguk, "maaf ya aku kekanakan begini."
"Gak papa sayang, wajar kok. Tapi jangan berlebihan dan bikin kamu jadi minder. Inget kamu juga punya kelebihan sendiri."
"Makasih ya"
"Iya... Udah jangan sedih- sedih.. ntar cepet tua" canda Nathan
Alea mencebik, "jadi kalo aku tua kamu ga mau lagi sama aku gitu?"
mata Nathan membulat, kok jadi mikir begitu sih "Gak gitu yank maksudnya"
"Jadi kalo aku ga cantik kamu ga suka lagi sama aku, gitu?"
Nathan menepuk bibirnya pelan, "makanya Nat jangan asal jeblak, repot kan jadinya"
"Iya kan, kamu ga suka lagi sama aku kalo aku jelek?" Alea melipat kedua tangannya kesal
"Yank, hei dengerin aku.. mau kamu gendut, ga muda atau kamu bilang kamu jelek sekalipun , dimata aku kamu tetep cantik sayang . gimana pun keadaan kamu aku tetep suka sama kamu. Karena aku suka sama kamu tanpa alasan"
Pipi Alea merona, Nathan emang paling juara prihal bikin anak orang baper.
"Dasar gombal!!!"
__ADS_1
Nathan menghela nafas. Salah lagi!!!!!