
Alea baru saja merebahkan tubuhnya di kasur, ia tersenyum mengingat percakapannya dengan Alvaro di apotik tadi sore.
Flashback on
Alea sedang menunggu obat Aletta di apotek sedangkan Alvaro berpamitan untuk ke toilet sebentar.
Gadis itu menghela nafas menunggu lelaki berprofesi dokter itu segera kembali namun belum ada tanda- tanda kemunculannya , apanya yang pedekate pikirnya.
"Nih minum, biar gak bete" ucap Alvaro menyodorkan sebotol air mineral dihadapan Alea
Alea mengangkat wajahnya, menatap lelaki bermata abu- abu itu tersenyum menyodorkan sebotol minuman ditanggannya, dengan canggung Alea meraihnya , "makasih."
"Kamu , kuliah jurusan apa?" Tanya Alvaro yang memulai percakapan untuk memecahkan suasana canggung diantara keduanya.
"Management ." Jawab Alea
"Kalo Aletta?"
"Ekonomi."
"Mau jadi pembisnis?" Tanya Alvaro
Alea menggeleng, "Eyang yang nyuruh kita ambil jurusan itu"
"Jadi itu bukan passion kalian?"
Alea kembali menggeleng, "suatu saat kami harus bertanggungjawab jadi penerus perusahaan keluarga"
Alvaro mengangguk paham "Oh iya kata Nathan, kamu pembalap? kok bisa jadi pembalap gimana ceritanya?" Alvaro mengalihkan topik pembicaraannya tidak ingin membuat suasana tidak nyaman.
Alea tersenyum sambil menjelaskan awal mula ia tertarik di dunia balap itu karena ia sering menemani ayahnya menonton GP,Β lalu ia mulai mencari-cari informasi tentang dunia balap dan ternyata ada pembalap wanitanya juga, mulai dari situlah ia bercita-cita untuk jadi pembalap wanita profesional.
"Wow.. saya salut sama kamu. Kamu perempuan tapi kamu gak takut terjun kedunia yang sebagian orang beranggapan kalo itu dunianya laki- laki, tapi kamu bisa buktiin gak cuma laki- laki ya bisa kaya tapi perempuan juga bisa asal ada tekad yang kuat." Ucap Alvaro
Alea tersipu malu, mendengar ucapan Alvaro. Tiba-tiba salah satu petugas apotek memanggil namanya karena pesanan obat Aletta sudah siap.
Flashback off
"Coba aja tadi di apotiknya lama, mungkin bisa ngobrol lebih lama." Gumam Alea
Alea mulai menguap "Semoga masih ada kesempatan ngobrol lebih dekat lagi." Ucap Alea sambil memejamkan matanya untuk tidur
ππππ
Aletta menghentikan taxi yang ditumpanginya dari kampus menuju pemakaman umum, ia membayarΒ ongkos taxi yang ditumpanginya itu lalu turun setelah mengucapkan terima kasih.
Tangannya kanannya membawa sebuket bunga Lily yang masih segar, langkah kakinya terus menelusuri jalan setapak di pemakaman.
Aletta menyipitkan matanya begitu melihat sosok lelaki yang ia kenal dan ia hindari akhir-akhir ini. Baru saja dirinya hendak membalikan badan tapi lelaki itu sudah lebih dulu memanggilnya dan menghampirinya.
"Aletta"
Aletta memejamkan matanya lalu menarik nafas guna mengusir rasa gugupnya, "kenapa harus ketemu coba." Gumamnya
__ADS_1
Aletta membalikan badan, terkejut karena ternyata lelaki itu berdiri persis dihadapannya.
"Kenapa balik badan?" Tanya lelaki itu
"Saya salah jalan , dok." Jawab Aletta asal
"Kamu gak lagi menghindari saya kan?"
"hah, menghindar? Gak lah kenapa harus menghindar?" Tanya Aletta berusaha santai
"Baguslah kalo begitu, berarti cuma perasaan saya aja. Soalnya saya merasa kamu seperti menghindari saya. Apa jangan-jangan kamu.."
Aletta memotong ucapan lelaki itu, ia takut kalau Alvaro akan membahas insiden di ruang fisioterapi tempo lalu, "dokter ngapain di sini?"
Alvaro mengerutkan dahinya, lagi-lagi gadis itu mengalihkan pembicaraan, "mengunjungi seseorang. Kamu sendiri?"
"Sama"
"Kalo gitu boleh saya temenin kamu?" Izin Alvaro
Aletta menghela nafas, tak tahu harus mencari alasan apa lagi untuk menolak, ia sudah terjebak. "Boleh."
Aletta berjalan di samping Alvaro, matanya menatap makam yang berjejer rapi yang ditumbuhi rerumputan hijau yang terawat tapi tetap saja pemandangan yang lumayan bikin bulu kuduk merinding mengingat ini area pemakaman umum.
"Kelak kita semua akan berpulang." Ucap Alvaro
Aletta melirik lelaki disampingnya itu, menunggu kelanjutan ucapan Alvaro tapi sampai mereka tiba di tujuan lelaki itu tak mengeluarkan kata sepatah pun.
"Assalamualaikum Mama, Al dateng ." Ucap Aletta pelan
Kalo gak salah itu tanggal lahirnya Aletta kan, batin Alvaro sambil mengingat biodata gadis itu.
"Di kepala Dokter pasti banyak pertanyaan kan?" Tebak Aletta setelah selesai berdoa
Alvaro memiringkan wajahnya menatap gadis cantik didepannya , "apa yang harus saya tanya?"
Aletta menghela nafas, "ini makam ibu kandung saya dok."
"Makam ibu kamu, lalu yang tempo hari?" Tanya Alvaro bingung
"Saya sama Alea memang adik kakak, kami seayah tapi beda ibu. Di tengah-tangah nama kami ada nama-nama ibu kami. Alea Aprilia Ferdinan, Aletta Rinjani Ferdinan." Jelas Aletta
Alvaro mengangguk paham, ia kini menjadi pendengar yang baik .mendengarkan Cerita gadis itu tanpa berniat bertanya ataupun menyela.
"Mama meninggal pas melahirkan saya kalo cerita mama April, mama saya meninggal karena mengalami pendarahan dan dokter hanya bisa menyelamatkan salah satu diantaranya dan mama memilih menyelamatkan saya." Air mata Aletta mengalir tanpa izin dari pemiliknya
Melihat gadis disampingnya tengah menangis Alvaro mengulurkan tangannya menghapus air mata Aletta lalu merangkul bahu gadis itu membawanya ke dalam pelukannya, tak ada penolakan dari Aletta hanya terdengar isakan tangis gadis itu.
"Menangislah kalo itu membuat kamu lebih tenang." Bisik Alvaro
Aletta tak menjawab, ia membenamkan wajahnya dipelukan lelaki itu bahkan kemeja hitam yang dikenakan Alvaro sudah basah dengan air mata dan ingus milik Aletta
Kenapa gue jadi ngerasa nyaman sih.. astaga Aletta sadar dia ini cowok yang di suka kakak loe!!!
__ADS_1
ππππ
Nathan sedang membandingkan record catatan waktu milik Alea selama latihan intens seminggu ini. Catatan waktunya benar- benar membuat decak kagum.
"Bagus Le, catatan waktu lo meningkat. Kalo catatan lo bagus kaya gini terus gue yakin lo bisa menang." Ucap Nathan
"Gue gitu looh." Sahut Alea jumawa
"Ehh, jangan sombong dulu." Kata Natha sambil menoyor kepala Alea pelan
"Sakit Nathan" teriak Alea berusaha membalas tapi lelaki itu berhasil menghindar
"Besok Aletta dateng nonton gak??" Tanya Nathan duduk diatas aspal meluruskan kakinya yang terasa pegal
"Katanya sih diusahain, soalnya dia ada kuliah besok udah gitu jadwalnya di check up juga." Jelas Alea
"Orangtua lo nonton?" Tanya Nathan lagi
Alea menghela nafas, "orangtua gue nemenin Eyang ke Jogja katanya mau ketemu sama calon mantu."
"Calon mantu??" Tanya Nathan ngegas
"Biasa aja dong... Budeg nih kuping gue" omel Alea yang balas cengiran oleh Nathan, "sebenernya gue sama Aletta itu udah di jodohin sama Eyang, karena tradisi keluarga ,kita berdua harus nikah sebelum umur 21." Jelas Alea
"Ebuset dah.. tahun berapa ini masih aja ada jodoh-jodohan" sahut Nathan sambil geleng- geleng kepala tak percaya
"Tapi ya itu kita udah berusaha nolak , eh malah jadinya Eyang bikin kesepakatan kalo misalnya gue sama Ale gak bawa calon jodoh pilihan kita ke Eyang dalam waktu 6 bulan. Kita harus siap nikah sama cowo pilihan Eyang."
"Terus lo berdua udah punya calonnya yang mau di bawa ke Eyang lo?" Tanya Nathan
Alea mendesah pelan lalu menggeleng, "udah lewat 3 bulan tapi nihil"
"Le, lo tenang aja. Jodoh, kematian, kehidupan, rejaki itu semua udah Allah yang ngatur. Lagian ya kalo menurut gue, kalo emang jodoh lo itu cowok pilihan Eyang lo, sekeras apapun lo mencari pilihan, lo bakal kembali ke jodoh yang sudah di tetapkan. Begitu pula sebaliknya kalo pilihan Eyang lo itu bukan jodoh lo, sekeras apapun Eyang lo maksa tetep ga akan bersatu, karena tulang rusuk tidak akan pernah salah mengenali pasangannya." Jelas Nathan
Alea tertegun mendengar ucapan lelaki dihadapannya itu, lalu memperhatikan lekat-lekat manik dimata Nathan
Pantesan aja Aletta suka sama lo Nat, ternyata lo beda banget, pemikiran lo bisa dewasa juga selama ini gue cuma berantem sama lo dan jarang ngobrol serius sama lo dan ternyata lo beda,Β batin Alea
"Ehh kenapa lo?" Tanya Nathan heran karena gadis itu hanya dia menatapnya
Alea tersigap, " kenapa apanya?"
"Lo ngeliatin gue segitunya. Kenapa? Naksir lo ama gue?" Tanya Nathan
"Apaan sih lo pede banget." Jawab Alea sambil meninggalkan Nathan yang masih pewe duduk
"Ehh mau kemana lo?" Nathan langsung bangkit dari posisinya mengejar gadis itu
"Balik." Jawab Alea dari kejauhan tanpa menoleh
Nathan hanya tersenyum menatap punggung gadis yang sudah berjalan semakin jauh itu.
Alea atau Aletta batinnya
__ADS_1
Bersambung