Jodoh Di Kejar Dateline

Jodoh Di Kejar Dateline
06


__ADS_3

Alvaro berjalan menuju bangsal Seruni untuk melakukan visit pada salah satu pasiennya yang baru saja selesai dioperasi dua hari yang lalu. ia berusaha tersenyum ramah setiap kali ada pasien atau perawat yang menyapanya.


Sebenarnya Alvaro tidak bertugas hari ini, tapi salah satu rekan kerjanya sakit mau tidak mau terpaksa ia mengorbankan hari liburnya demi pengabdiannya sebagai seorang dokter.


"Selamat siang dokter." Sapa beberapa perawat yang lewat


"Siang." Jawab Alvaro sambil tersenyum ramah lalu melebarkan langkahnya supaya lebih cepat tiba dibangsal


"Kyaaa dokter Alvaro ganteng banget, mau deh jadi istrinya."


"Ahh pesonanya itu loh makin hari makin ganteng duuh pengen minta dihalalin deh"


"Mau jadiin dokter Varo menantuku, nanti ku kenalin sama anak gadis ku"


"Dokter Varo udah punya pacar belom ya,, kyaaaa"


Alvaro hanya geleng-geleng kepala tiap kali mendengar kalimat-kalimat seperti itu, mungkin harusnya ia menikah jadi tidak ada yang mengganggunya lagi, Pikirnya.


"Selamat siang pak Joko, bagaimana keadaannya anda hari ini?" Sapa Alvaro dengan ramah sambil memeriksa keadaan pasiennya.


"Baik dok, tapi ini kaki saya sakit dok, cekot-cekot rasane." pak Joko menjelaskan kondisinya


Alvaro tersenyum mendengar keluhan si Bapak, "Bapak udah minum obat yang saya resepkan semalam?"


"Belum dok saya lupa." Jawab pak Joko sambil tersenyum polos


"Nah, kalo bapak ngerasa kaki bapak sakit, ada obat penghilang rasa sakit yang sudah saya resepnya di obat-obatan bapak, tapi bapak harus inget..." Alvaro menghentikan ucapannya


"Apa dok?" Tanya Pak Joko


"Obatnya diminum tiga puluh menit setelah makan ya pak." Lanjut Alvaro


"Permisi, Dokter maaf mengganggu, ada pasien gawat darurat yang mengalami cedera di UGD." Ucap salah satu perawat yang tiba-tiba datang, Alvaro mengangguk lalu berpamitan kepada pak Joko, kemudian bergegas menuju UGD.


💖💖💖💖


"Dokter, pasien ini atlet yang baru saja selesai bertanding dan mengalami patah tulang di bahu kirinya dok." Jelas Dokter Bima dokter umum yang berjaga di UGD menjelaskan keadaan pasien.


"Kalo begitu segera lakukan Rontgen untuk mengetahui kondisi seberapa parah cederanya." Pinta Alvaro lalu menuju ke ranjang pasien yang mengalami patah tulang tersebut


Seorang gadis yang masih menggunakan Dobok lengkap dengan sabuk yang masih melilit di pinggangnya sedang meronta-ronta menolak untuk disuntik bahkan sesekali ia berteriak karena kesakitan. Alvaro tersenyum tipis lalu menghampiri gadis itu, "biar saya saja sus, sekalian tolong ambil jarum yang baru yang ini sudah bengkok." Alvaro mengambil alih lalu duduk di tepi ranjang mencoba menenangkan gadis itu


"Saya mau pulang dokter, saya gak mau disuntik. saya cuma butuh obat aja buat nyembuhin tangan saya yang sakit. aww... sakiiit." Ucapnya di sela-sela tangis


Alvaro meraih salah satu tangan gadis itu yang tidak cedera lalu menggenggamnya perlahan mencoba menenangkan gadis didepannya itu, "disuntik gak sakit kok cuma kaya di gigit semut dan kamu harus tetap dirawat di sini buat ngobatin tangan kamu yang cedera."


"Kalo jarumnya tumpul ya gak sakit dok, tapi kan ini jarumnya tajem dok pasti sakit. Pokoknya saya gakkkk mauuuuuu. Sayaaaaaaa mauuuuuu pulanggg." Bantah gadis itu


Alvaro tersenyum lalu menepuk pelan tangan kanan gadis itu yang sedari tadi digenggamnya, "percaya deh, gak bakal sakit."


Seperti terhipnotis dan melupakan rasa takutnya gadis itu diam sambil menatap Alvaro yang balas menatapnya, "kamu atlet taekwondo?" Tanya Alvaro


Gadis itu hanya mengangguk tanpa mengalihkan pandangannya dari Alvaro. Merasa diperhatikan Alvaro tersenyum dan terus mengalihkan perhatian gadis itu agar ia melupakan tentang rasa sakit dan takutnya pada jarum suntik.


"Naaah selesai, gak sakit kan?" Tanya Alvaro setelah selesai memasangkan infus ditangan kanan gadis itu


Gadis itu membelalakan matanya tak percaya, lalu tersenyum lebar dengan sisa-sisa air mata dipipinya.

__ADS_1


Duhhh gemes banget sih, batin Alvaro


"Dokter pinter, ini beneran gak sakit." Ucapnya sambil tertawa seperti anak kecil yang kagum dengan kehebatan dokter didepannya itu.


"Oh ya keluarga kamu dimana?" Alvaro bertanya karena ingin menjelaskan keadaan pasien


"Saya sendirian dok, keluarga saya belum dikabarin. Ada apa dok?" Tanya gadis itu sambil meringgis kesakitan ketika Alvaro menyentuh tangan kirinya yang cedera


"Saya mau menjelaskan keadaan kamu." Jawab Alvaro


"Langsung sama saya aja dok, gak apa-apa kok." Ucapnya polos


"Beneran?" Tanya Alvaro dan gadis itu mengangguk yakin


"Nama kamu siapa?" Tanya Alvaro kembali


"Aletta Rinjani Ferdinan. Umur 20 tahun, pekerjaan masih mahasiswi, status singgle alias belum kawin." Jelas gadis itu dengan cepat dan lengkap


Alvaro menggeleng, pasiennya kali ini cukup unik bin ajaib, "baiklah Aletta, tangan kiri kamu sepertinya mengalami cedera patah tulang, saya belum bisa memastikan apakah patah tulang ringan atau berat, jadi kita lakukan Rontgen terlebih dahulu untuk mengetahui separah apa cedera yang kamu alami dan juga penanganan apa yang perlu dilakukan untuk penyembuhan seperti di operasi atau cukup di gips saja."


Gadis itu terdiam sepertinya ia shock mendengar penjelasan Alvaro, lalu sedetik kemudian tangisnya pecah.


Patah tulang, mendengarnya saja Aletta sudah ngeri-ngeri sedap gimana gitu, bagaimana kalo patah tulangnya parah, dan harus dioperasi? Disuntik saja dirinya ngamuk apalagi harus dioperasi menyebut namanya saja sudah membuat Aletta berteriak histeris memanggil keluarganya meminta untuk pulang


"Mama, papa, Alea kalian dimana??? Aku gak mau di operasi, aku mau pulang aja. MAMAAAAAAAAAAA"


Alvaro yang sedari tadi menemani gadis itu mulai bingung, lebih tepatnya mulai panik menghadapi gadis didepannya yang semakin parah tangisnya. Sementara seisi ruangan UGD menatapnya karena sedari tadi hanya dirinya yang bersama dengan gadis itu


Bukan gue yang bikin dia nangis, batin Alvaro membela diri


Tanpa berfikir panjang Alvaro langsung memeluk gadis dihadapannya itu mencoba menenangkannya.


💖💖💖💖


Alea baru saja menyelesaikan latihannya di sirkuit, ia gagal meminta ijin pada pelatihnya untuk libur hari ini, setelah memarkirkan motornya Nathan datang menghampiri Alea yang duduk diatas aspal dengan wajah kesal .


"Ehh napa loe, tuh muka ga usah di tekuk kaya gitu loe tuh udah jelek ga usah ditambah- tambahin lebih jelek lagi" ledek Alea


"Kesel gue ama Loe, pake latihan segala, loe tau gue udah janji sama gebetan gue, malah batal gara-gara loe!!" Ucapnya kesal


"Yee bukan salah gue kali, gue juga pengennya ijin libur hari ini karena harusnya gue nonton pertandingan adek gue." Jelas Alea sedih


Nathan meperhatikan raut wajah Alea yang murung, ia merasa tak enak hati telah menyalahkan gadis itu.


"Lah, ngapa sekarang muka loe jadi yang jelek banget." Cibir Nathan


Alea mendesis lalu menonjok bahu Nathan pelan.


"Ehh gila loe, sakit." Ucap Nathan sambil mengelus bahunya


"Syukur alhamdulillah"


Nathan memperhatikan Alea, dilihatnya gadis itu sedikit cemas dan gelisah.


"Ehh, jangan diem aja loe ntar kesambet." Ujar Nathan


"Apaan sih loe." Sinis Alea

__ADS_1


"Lah loe dari tadi kaya orang cemas gitu, kenapa kucing loe lahiran?" celetuk Nathan


"Emang keliatan banget ya?" Tanya Alea


"Eeh nenek-nenek rabun juga bisa liat kali muke loe gak santai banget." Jelas Nathan


"Gue gak tau, tapi perasaan gue gak enak dari tadi."


"Istigfar neng, biar loe ngerasa lebih tenang." Ucap Nathan


Alea kemudian beristigfar, lalu berusaha menenangkan dirinya dengan menarik nafas lalu menghembuskannya perlahan. Ia mulai merasa sedikit tenang lalu diam-diam melirik lelaki disebelahnya itu


Nih anak gak seburuk dan senyebelin yang gue kira, pikir Alea


Ponsel Alea bedering membuat Alea terkesip dari kegiatannya memandangi Nathan secara diam-diam, diliriknya layar datar itu ada panggilan masuk dari nomor tak dikenal.


"Ehh angkat itu, berisik." Ucap Nathan


"Gak ahh males, nomor ga dikenal." Alea meletakan ponselnya sembarang


"Eehh angkat, itu kalo penting gimana?" Kata Nathan


Alea menggerutu, lalu tak urung menjawab panggilan tersebut.


"Halo"


"......."


"Iya saya Alea, ini siapa ya?"


"........."


"Hah? Apa? Adik saya masuk rumah sakit."


"............."


"Saya segera ke sana sus, terimakasih."


Nathan yang sedari tadi mendengarkan percakapan Alea melihat raut cemas kembali menyerang Alea


"Nat gue cabut." Pamit Alea


"Ehh, loe mau kemana??" Tanya Nathan menarik tangan Alea menahan langkah gadis itu


"Lepasin, gue harus ke rumah sakit sekarang, adek gue masuk rumah sakit." Alea meronta agar cekalan tangannya dilepaskan


"Gue gak bakal ngelepas loe." Ujar Nathan


"Tapi gue harus ke rumah sakit, adek gue butuh gue, loe tau dia itu paling takut sama yang namanya jarum suntik, apalagi sekarang dia dirumah sakit sendirian. Coba deh loe jadi gue pasti loe juga panik , please biarin gue pergi."lirih Alea kini mulai menangis


"Gue gak bilang ngelarang loe pergi." Ujar Nathan


"Terus kenapa loe nahan gue?" Tanya Alea


"Karena gue bakal nganter loe pergi kesana, gue gak mau loe ngebut bawa motor dalam keadaan panik, bahaya buat keselamatan loe." Jelas Nathan


Alea tertegun mendengar penjelasan Nathan, tanpa menunggu jawaban dari gadis itu Nathan langsung menarik tangan Alea naik ke atas motornya

__ADS_1


Bersambung... ,💕💕💕


__ADS_2