
"kak Varo aku pulang bareng kakak ya" rengek Nadine saat acara birthday party Andin telah usai dan mereka semua bersiap untuk pulang
"Sorry Nad, kak Varo mau nganter Aletta" tolak Alvaro
"Ikhhh kenapa harus dianterin dia, kenapa ga ikut sama kak Nathan aja dia juga mau nganter pacarnya pulang" celetuk Nadine pelan
"Terus kenapa juga pacar gue harus nganter loe pulang? Kenapa ga sama Nathan yang jelas-jelas kakak loe dan tinggal serumah sama loe" balas Aletta yang sudah sangat kesal dengan kelakuan gadis itu sejak acara tadi namun ia tahan karena tidak ingin merusak acara ulangtahun sahabatnya
"Loe..." Nadine menunjuk Aletta dengan jari telunjuknya
"Apa?" Tantang Aletta
Melihat situasi yang sudah tidak bersahabat jika dibiarkan terlalu lama, Alvaro menggenggam tangan Aletta mengedipkan matanya agar gadis itu tidak meladeni Nadine.
"Udah malam Nad, kak Varo duluan."
Nadine tercengang, Alvaro berlalu begitu saja. Nadine bertambah kesal ketika gadis bernama Aletta itu menjulurkan lidahnya untuk meledek.
"Awas aja gue pasti bales nanti, jangan panggil gue Nadine kalo gue ga bisa menghancurkan hubungan loe sama Alvaro" geram Nadine dengan mata yang masih menatap kedua orang yang sudah menjauh itu dengan tatapan benci
Didalam mobil Aletta duduk membelakangi Alvaro, ia sengaja menghadap jendela. Ia masih kesal
"Al..."
Aletta tak menyahut
"Al ada yang mau omongin sama kamu, penting"
Aletta melirik sekilas, dilihatnya Alvaro menatapnya dengan wajah serius, "apa?"
Alvaro menarik nafasnya pelan, sedikit ragu untuk bicara , "aku harus ke Jerman"
Mata Aletta membulat, "ke Jerman?" Ulangnya dengan suara tercekat
Alvaro mengangguk, "aku punya om disana beliau sakit ada penggumpalan darah di kepalanya dan harus segera di operasi. Papy minta aku buat segera berangkat supaya aku bisa bantuin penelitian om aku biar lebih cepat selesai. Karena om Dito ga mau di operasi sebelumnya penelitiannya selesai"
Aletta merasa suasana hatinya menjadi campur aduk, disatu sisi ia tidak ingin Alvaro pergi disisi lain ia tidak bisa egois mengingat kondisi ada yang lebih membutuhkan Alvaro dan itu berhubungan dengan nyawa.
"Berapa lama?"
"Belum pasti berapa lama"
Aletta meremas ujung bajunya, ia menahan diri untuk tidak bersedih. Ia harus mendukung Alvaro.
Gak papa Al, LDR bentar aja. Loe bisa kok. sekarang manfaatin waktu loe sama dia sebelum Varo berangkat
Aletta memaksakan dirinya untuk tersenyum, "kapan berangkatnya?"
"Hari Minggu"
"Minggu besok?" Pekiknya
Alvaro mengangguk. Aletta mengigit bibir bawahnya.
Minggu.. itu tinggal beberapa hari lagi. Gue pengen nangis ga pengen ditinggal, tapi gue ga bisa egois. Gue... Gue...
Melihat kekasihnya hanya diam Alvaro menjadi serba salah, sebenarnya ia tidak ingin pergi tapi ia juga tidak bisa menolak permintaan ayahnya itu, Alvaro dilema.
"Al..."
Aletta tersenyum, "aku gak papa kok."
Bohong! Gue kenapa- kenapa
Alvaro tersenyum tipis, ia tau gadis itu sedang tidak Baik- baik saja.
"Aku gak papa kok, kamu mending berangkat ke sana kasian om kamu. Aku disini tetep nungguin kamu." Aletta tersenyum lebar
Alvaro melepaskan seat beltnya menarik Aletta ke pelukannya.
Aletta mengigit bibirnya, menahan diri untuk tidak menangis, "kamu tenang aja aku bisa jaga diri kok"
Alvaro tidak menyahut ia hanya memeluk erat kekasihnya itu.
__ADS_1
"Yuk pulang. Udah malem." Ajak Aletta
Alvaro mengurai pelukannya lalu mengangguk, ia nyalakan mesin mobilnya dan melaju membelah jalanan ibukota dimalam hari.
******
"Yank..."
"Hmmm" Nathan masih fokus menatap ke depan
"Aku ga suka sama temen adik kamu yang kecentilan itu tadi. Masa dia caper banget sama kamu."
Nathan terkekeh, "kan dia yank. Aku mah enggak"
"Oh jadi kamu seneng gitu di godain, huh"
"Enggak gitu maksudnya yank, maksud aku biarin ajalah lagian aku juga ga nanggepin dia"
"Tapi aku gak suka"
"Kan ga sering juga ketemu sama dia yank.."
"Iya sih..."
Mobil Nathan berhenti tepat didepan Mension keluarga Ferdinan, "udah sampe"
"Mau mampir ga?"
Nathan melirik jam tangannya, "udah malem yank, besok juga ketemu lagi.."
"Oh iya besok temenin aku ke hotel ya buat ketemu sama EO buat acara anniversary mama sama papa."
"Udah Nemu konsepnya?"
Alea mengangguk, "jadi nanti kita buat mereka mengucap janji cinta lagi. Terus kita jadi pengiring pengantinnya nanti. Hmm Aletta nyanyi mungkin Angga yang ngiringin pake akustik biar lebih uwaw.."
"Hmm boleh juga tuh yank idenya."
"Tapi besok kamu bisa kan nemenin aku ke sana?"
"Siap tuan putri"
"Aku masuk ya"
"Ehh.. bentar yank..." Nathan langsung keluar dari mobilnya berjalan mengitari mobil lalu membukakan pintu untuk Alea, "silahkan tuan putri"
Alea geleng-geleng kepala, " kamu nih..."
Nathan nyengir, " yaudah kamu masuk gih, mandi terus istirahat"
"Kamu pulangnya hati-hati, jangan ngebut. Nanti kalo udah nyampe kabarin aku ya"
"Siap tuan putri" hormat Nathan ala tentara
Alea tertawa pelan, sejak malam itu tingkah Nathan semakin absurd saja.
"eh itu mobil Varo" Nathan mengurungkan niatnya untuk masuk ke mobil dan menunggu sepupunya itu
Aletta keluar dari mobil Alvaro langsung masuk ke dalam rumahnya.
"Al.." panggil Alvaro yang baru turun
"Aku kebelet.. kamu hati- hati pulangnya." Teriak gadis itu yang sudah masuk ke dalam rumah
Alvaro menghela nafasnya, sepanjang perjalanan pulang Aletta hanya diam.
Alea dan Nathan yang menyaksikan keduanya merasa heran. Tidak seperti biasanya, pikir mereka
"Var, Aletta kenapa?" Tanya Alea yang menghampiri Alvaro
"Loe berdua berantem?" Nathan ikutan bertanya
Alvaro menggeleng, "tadi gue bilang ke dia kalo hari minggu gue harus ke Jerman"
__ADS_1
"Hah!!! Jerman" pekik Alea
"Ngapain Var kok tiba- tiba?" Tanya Nathan
Alvaro menghela nafas, " om Dito sakit Nat, papy minta tolong gue buat bantuin penelitiannya om Dito disana. "
"Sakit apa?"
"Ada penyumbatan di kepalanya, dokter menyarankan om Dito buat segera di operasi tapi om Dito bilang dia baru mau ngelakuin itu kalo penelitiannya udah kelar. Makanya papy maksa gue buat ke sana secepatnya supaya bantuin penelitiannya om Dito biar cepet kelar dan om Dito segera dioperasi."
"Berapa lama loe disana?" Tanya Alea
Alvaro menggeleng" gue ga tau "
Nathan menatap iba sepupunya itu, "loe yang sabar ya Ro, gue yakin Aletta bisa ngerti kok. Mungkin dia shock denger loe mau pergi"
Alvaro mengangguk, "gue juga baru dapet kabar tadi sore dari papy. Gue sebenernya ga pengen pergi tapi di satu sisi gue ga bisa nolak permintaan papy"
"Loe tenang aja gue yakin Aletta pasti ngerti. Dia cuma belum siap aja Ro harus LDR sama loe, jauh lagi.."
"Iya sih..." Kata Alvaro pelan "Yaudah gue pamit ya, Lea kalo ada apa- apa sama Aletta kabarin gue"
Alea mengangguk paham, "iya"
Alvaro langsung berlalu masuk ke dalam mobilnya meninggalkan Mension keluarga Ferdinan.
"Hati- hati Ro..." Teriak Nathan yang entah didengar atau tidak oleh Alvaro
"Kalo kamu yang ke Jerman aku pasti sedih yank.." lirih Alea membayangkan dirinya di posisi Aletta
"Aku belom ada rencana mau LDR sama kamu. Jadi kamu tenang aja ya.."
"Yaudah, kamu pulang gih aku mau masuk ngeliat keadaan Aletta."
"Jadi aku di usir nih?" Nathan memasang wajah sedih
"Bukan ngusir yank, kan tadi katanya mau pulang"
"Heheh aku bercanda sayang. Yaudah aku jalan ya. Bye" Nathan langsung masuk ke dalam mobilnya
"Bye kamu hati- hati ya"
*****
Tok.. tok
Alea mengetuk pintu kamar Aletta beberapa kali namun tidak terdengar suara kehidupan dari kamar adiknya itu.
Karena tak mendapat sahutan Alea memutuskan untuk langsung masuk "Aletta... Gue masuk ya..."
Alea geleng- geleng kepala melihat Aletta sedang menggulung dirinya dengan selimut. Keadaanya kini mirip dengan kepompong sayangnya tidak akan menjadi kupu-kupu
"Gue tau loe ga tidur..."
Aletta tak menyahut, hanya terdengar isak tangis gadis itu.
"Al.. gue tau loe sedih. Tapi kasian Alvaro juga dia khawatir sama loe, dia dilema pastinya satu sisi dia ga mau ninggalin elo, disisi lain om nya lagi sakit kalo dia ga berangkat dan bantuin penelitian omnya nanti om dia sakit tambah parah. Loe ga kasian nantinya dia disalahin keluarga besarnya, huh?"
"Jerman jauh Lea..." Cicitnya
"Iya gue tau, tapi kan loe berdua biasa video call..."
"Kalo dia ga pulang- pulang gimana? Kalo dia kelamaan disana terus jatuh cinta ama bule gimana?"
Alea menepuk jidatnya, kenapa jadi pikiran adiknya bisa melantur sejauh itu sih, "Al loe tau kan Alvaro dinginnya kaya kutub Utara, dia juga cinta sama loe ga mungkin dia berpaling. Lagian dia ke sana buat penelitian bukan cari pacar lagi.."
"Gue sedih..."
"Iya gue tau loe sedih. Tapi coba deh kalo loe jadi Alvaro loe pasti milih nolongin om nya.. apalagi dia dokter Al, dia udah disumpah buat nolongin orang."
"Gue ga ngelarang dia pergi, gue cuma ga siap aja. Kalo masih di sekitar Indonesia bagian mana gitu gue bisa ketemu dia kapan aja. Kalo di luar negeri ketemunya susah Lea..." Isaknya
Alea menghembuskan nafasnya mungkin jika dirinya diposisi Aletta sudah pasti ia galau gundah gulana hingga bermuram durja "Gue yakin loe bisa ya mungkin ga mudah tapi anggap aja ujian cinta kalian"
__ADS_1
"Gue doain biar Nathan pergi kemana gitu biar loe ngerasain jadi gue.." celetuk Aletta
Alea melotot mendengarnya, untung loe lagi galau jadi gue toleransi. Coba lagi normal udah gue ulek pake cobek mbok Sum, gerutunya dalam hati