
"loe udah ngebuang berlian tau ga sih Angga... Loe inget ga Andin yang udah nemein loe dari 0 dari loe yang baru merintis karir sampe sekarang...." Nathan tak habis pikir dengan jalan pikiran Angga
"Nat, tenang dulu gue tau loe kesel gue juga.. lebih parah kalo Alea sama Aletta tau. Tapi gue yakin kalo loe atau gue diposisi Angga pasti kita juga bakal bingung harus gimana"
"Tapi caranya ga begitu Varo... Tapi terserah loe deh gue harap loe ga nyesel. Andin cewek baik, gue yakin dia bisa ngerti kondisi loe kalo loe jujur ke dia.. loe bilang loe sayang sama dia tapi loe malah nyakitin dia kaya gini" Nathan pasrah, ia hanya bisa mendoakan yang terbaik untuk sahabatnya itu.
Alvaro menepuk bahu Angga, lelaki hanya tertunduk lesu. Entah bagaimana ia menjalani hari- hari kedepan tanpa Andin.
Angga pulang setelah mendapat ceramah panjang kali lebar tanpa tinggi dari kedua sahabatnya itu. Entah bagaimana jadinya jika Aletta dan Alea tau apa yang telah Angga lakukan pada Andin.
Nathan sudah kembali ke apartemennya, tersisa Alvaro yang kini menyusul istrinya yang sedang fokus nonton di dalam kamar.
"Al..."
"Hmm" Aletta masih fokus menetap layar TV didepannya menyahut tanpa menoleh sedikitpun
"Aletta"
"iya?" jawabnya masih dengan tatapan lulur ke layar Tv dimana para pria berkulit putih tengah berjingkrak- jingkrak melakukan dance.
Alvaro berdecak kesal inilah yang terjadi kalau istrinya sedang menonton idolanya, maka dirinya akan diabaikan. ia mulai mengganggu Aletta memeluk gadis itu memberi kecupan di leher jenjang istrinya tak lupa memberi beberapa tanda di sana.
"Kak Varo ihhh nanti merah"
Alvaro tak menggubris ia kembali mengganggu istrinya itu dengan menangkup wajah istrinya agar menatapnya lalu mengecup semua bagian di wajah Aletta hingga gadis itu menyerah dan meraih remote TV di atas nakas lalu menekan tombol off dan layar yang tadinya dipenuhi pria tampan berubah menjadi gelap.
"Udah ku matiin..."
Alvaro terkekeh misi berhasil. Keduanya kini hanya diam dengan Alvaro yang masih memeluk Aletta, membenamkan kepalanya di leher sang istri menghirup aroma Vanilla yang menjadi candunya.
"Angga ngapain kak?"
"Pembahasan laki-laki Al." Alvaro sengaja tidak memberi tahu apa yang terjadi dengan Angga dan Andin ia takut Aletta akan marah.
"Hmm" Aletta tak lagi bertanya kalau sudah urusan laki-laki
"Al..."
__ADS_1
"Iya..."
"Kalo aku ga bisa ngasih kamu keturunan gimana?"
Aletta mengerutkan keningnya, sedikit menjauh agar dapat melihat wajah Alvaro yang sedari tadi ngedusel di lehernya., "Ya gak apa- apa"
"Kok gitu?"
"Hmm kamu sendiri yang pernah bilang ke papa kalo menikah itu ga melulu harus soal punya keturunan"
"Emang kamu ga mau punya anak?"
"Perempuan mana sih kak yang ga mau punya anak apalagi setelah menikah. Tapi kalo belom di kasih ya mau gimana, ada banyak cara kok kita bisa jadi orangtua asuh, program ini dan itu, lagian kamu dokter, mamy sama papy dokter pasti mereka juga bakal bantuin kita kalo misalnya ada masalah sama kesehatan kamu atau aku yang bikin kita susah punya anak"
"Kamu ga bakal ninggalin aku kan kalo seandainya aku ...?"
"Enggak... Aku akan selalu ada di setiap apapun keadaan kamu baik suka maupun duka, kita akan melewati semuanya sama- sama, kalo kamu yang sakit kita bakal cari obatnya, kalo ga bisa sembuh juga kita bakal adopsi anak sebanyak- banyaknya supaya rumah kita rame sama anak- anak dan kita bisa jadi orangtua." Jelas Aletta sambil tersenyum
Alvaro mengecup kening Aletta, tidak menyangka pemikiran istrinya akan sedewasa ini.
"Geli ga sih denger aku ngomong kaya gitu?"
"Kenapa tiba- tiba bahas itu sih?" Tanya Aletta penasaran
"Gak apa- apa. Oh ya kamu mau lanjut kuliah lagi ga?"
Aletta menggeleng, " enggak"
" kenapa? Aku ga akan ngelarang kamu kalo misalnya kamu mau kuliah lagi, atau ada impian yang mau kamu kejar. Aku ga mau kamu nyesel nantinya karena ga bisa ngejar impian kamu."
Aletta menggeleng, "impian aku tuh ya sekarang yang lagi aku jalanin"
"Maksudnya?"
"Ya ini, jadi istrinya Alvaro William"
Alvaro geleng- geleng mendengar jawaban Aletta, "lalu?"
__ADS_1
"Apa?"
"Cuma mau jadi istri aku aja gitu?"
"Jadi ibu dari anak- anak kita" jawab Aletta dengan pipi merona
Alvaro mengeratkan pelukannya, "Al.."
"Iya?"
"Ayo kita buat first baby kita?"
Mendengar ucapan Alvaro kedua pipi Aletta kembali merona merah, meskipun malu tapi Aletta tetap mengangguk pelan.
*****
Nathan baru selesai melakukan tugasnya sebagai seorang suami. mereka kini masih terjaga dengan Alea yang menyandarkan kepalanya di dada bidang suaminya .
"Yank.."
"Apa?"
"aku mau bilang sesuatu tapi kamu jangan marah ya"
"apa?"
"janji dulu jangan marah"
Nathan mengangguk, "iya, aku janji"
"Aku boleh ikut balapan lagi gak?" Tanya Alea hati- hati ,sejak kemarin ia ingin mengatakan pada Nathan tentang niatnya itu tetapi ia menunggu waktu yang tepat dan Alea memilih mengatakannya setelah mereka melakukan hubungan suami istri karena Alea tau mood Nathan sangat bagus setelah melakukan itu.
"Yank kamu kan udah janji ga bakal mau ikut balap lagi. Kamu tau kan alasan aku ngelarang kamu apa."
"Ya aku tau kamu khawatir sama aku, tapi kemaren aku ketemu sama pak Tommy beliau minta tolong sama aku buat gantiin pembalap wanita yang cedera sementara kejuaraan terakhir tahun ini tinggal beberapa bulan lagi, ga mudah mencari pengganti apalagi yang udah professional. Boleh ya yank, please aku janji aku bakal hati- hati dan ini yang terakhir kali. Setelah itu aku pensiun"
Nathan meraup wajahnya, ia dilema di satu sisi ia tidak ingin Alea kembali ikut balapan tapi di sisi lain ia tidak tega bagaimanapun itu impian istrinya.
__ADS_1
"Kali ini aja ya yank, tapi kamu harus bisa bagi waktu karena sekarang kamu sudah berstatus jadi istri dan punya kewajiban utama yaitu melayani suami, kamu juga kan kerja di kantor papa kamu, aku ga mau kalo kamu sampe kecapean karena terlalu banyak kegiatan dan satu hal lagi janji kalo kamu hamil kamu ga boleh ikutan kejuaraan itu."
"Janji." Alea tersenyum lebar , "makasih ya sayang..." Alea mengecup bibir Nathan sesaat namun Nathan menahannya berganti dengan ciuman panas yang berujung melanjutkan kegiatan yang mantap- mantap.