
"permisi boleh saya gabung disini, semua meja sudah penuh"
Aletta mendongakan kepalanya, "wah kamu yang waktu itu kan" Aletta ingat pria bule yang menolongnya waktu itu
Pria itu mengangguk, akhirnya ia bertemu lagi dengan gadis yang juga sudah menolongnya. Sudah dari beberapa hari ia mencari gadis itu dan hari ini adalah hari keberuntungannya bisa bertemu lagi dengan Aletta
"Silakan duduk."
"Terimakasih." Pria itu menarik salah satu kursi lalu duduk berhadapan dengan Aletta, "waktu itu terima kasih, karena kamu saya jadi punya kesempatan bisa interview dan diterima kerja disini. Kalo kamu tidak menolong saya hari itu saya tidak tahu harus mencari pekerjaan dimana lagi"
"Sama- sama. Kamu juga udah nolong saya waktu itu. Jadi kita impas"
Pria itu mengangguk, "saya Bryan" ucapnya sambil mengulurkan tangan
"Aletta" balas Aletta menjabat tangan Bryan
Tidak ada percakapan setelah itu karena Aletta mulai sibuk mengunyah sambil membalas chatting dari Alvaro.
"Oh ya kamu di bagian mana?" Tanya Bryan penasaran
"Keuangan. Kamu?"
"Marketing"
Aletta mengangguk dengan tampang bule milik Bryan bagian Marketing sangatlah cocok untuknya."Kamu asalnya dari mana?"
"London"
Mata Aletta membulat, "wah, ke sini karena?"
"Saya sedang mencari pacar saya yang kembali ke Indonesia."
"Semoga kamu cepet ketemu sama pacar kamu ya.."
Bryan mengangguk, "terima kasih Aletta"
*****
"Nad loe gak papa?" Tanya Nathan yang melhat wajah pucat Nadira
"Enggak Nat gue gak papa"
"Muka loe pucet banget, mending kita ke dokter" kata Angga yang sore itu main ke kantor Nathan
"Gue cuma..." Nadira belum menyelesaikan ucapannya seketika pandangannya buram dan ia tidak sadarkan diri
"Astaga Nadira!!!" Angga dan Nathan yang panik langsung membawa Nadira ke rumah sakit
Nadira langsung dibawa ke ruang UGD dan mendapat penanganan dari dokter sementara Angga dan Nathan menunggu.
"Varo!!!"
Alvaro yang baru saja lewat menghampiri kedua sahabatnya dengan kening berkerut," ngapain disini?"
"Nadira pingsan tadi. Untung aja si Angga ada di kantor gue tadi." Jelas Nathan
Alvaro mengangguk, lalu dokter Bima keluar dari ruang UGD
__ADS_1
"dokter Bima gimana keadaan teman saya?" Tanya Alvaro
"Pasien hanya kelelahan." Jawab Dokter Bima
Alvaro mengangguk paham, "makasih dokter Bima"
"Hayo loh Nat, pasti dah loe nyiksa si Nadira same dia kecapean" kata Angga
"Mana ada ya, gue itu bos paling baik se- kecamatan" sahut Nathan
"Apaan sih loe berdua ga jelas banget, mending loe liat keadaan Nadira di dalem gih. Gue masih ada kerjaan" kata Alvaro berlalu pergi
"ada modelan dokter kaya gitu ga ada akhlak, temen sakit di jenguk kek" cibir Nathan
"udah jangan kaya emak- emak deh ngedumel mulu"
Nathan dan Angga masuk ke ruang UGD mengikuti saran Alvaro melihat keadaan Nadira. Gadis itu tengah berbaring di atas brankar dengan tangan yang diinfus.
"Sorry ya gue ngerepotin loe berdua" kata Nadira dengan suara lemah
"Loe kecapean Nad, gue kasih loe libur dua hari biar loe istirahat di rumah" ucap Nathan
Nadira menggeleng, "gue gak papa Nat, cuma kurang tidur aja"
"Kalo ada masalah cerita Nad, jangan bikin loe sampe kaya gini." Ujar Angga
"Gue gak papa kok"
Setelah menunggu cairan infus habis Nadira diperbolehkan untuk pulang. Angga dan Nathan masih setia menunggu Nadira memastikan keadaan gadis itu baik- baik saja.
"Gue pulang ya" kata Nadira
Nadira menggeleng, "gue pulang naik taxi aja Nat, gue udah banyak ngerepotin kalian berdua."
"Udah nurut aja ngapa sih Nad, jangan bikin kita cemas." Ujar Angga
Nadira pasrah akhirnya ia pulang diantar Nathan dan Angga tapi sebelum itu Nathan mampir sebentar ke Caffedia karena karyawannya menelpon ada sedikit masalah disana.
Mereka tiba di Caffedia dan bertemu dengan Alvaro yang sedang memesan kopi.
"Heh katanya ada kerjaan. Malah santuy di sini" Angga menepuk bahu Alvaro
"Gue masih ada kerjaan dan butuh sedikit kafein" jawab Alvaro kalem, "gimana Nad, udah mendingan?"
Nadira mengangguk, "udah Var"
Sambil menunggu Nathan mereka duduk disalah satu kursi sambil ngobrol nostalgia masa sekolah dulu.
"Btw kalian sering ngumpul ya?" Tanya Nadira
"Enggak juga, cuma kalo lagi ada waktu, ada yang dibahas sama ada pacar kita aja sih" jawab Angga
"Berarti ini ada yang lagi dibahas dong?" Kata Nadira
"Bahas masalah receh, saling tukar pikiran aja. Bentar lagi gue sama Alvaro mau nikah" kata Nathan yang baru bergabung
Alvaro tersedak mendengar ucapan Nathan, "siapa yang mau nikah sama elo"
__ADS_1
"Hah? Emang gue ngomong gitu?" Pekik Nathan
"Loe bilang bentar lagi gue sama Alvaro mau nikah" Angga mengulang ucapan Nathan sebelumnya
"Ishhh.. bukan gitu konsepnya Bambang!!!" Gerutu Nathan kesal
"Tapi arti omongan loe Kaya gitu..."
"Maksud gue.. gue sama loe mau nikah sama pacar kita masing-masing" ujar Nathan
"Nah gitu baru bener" kata Angga
Nathan menggelengkan kepalanya "Kenapa jadi ribet sih loe berdua?"
"Bahasa loe ambigu" sahut Alvaro
"Udah- udah.. kalian tuh ya ga pernah berubah dari dulu" lerai Nadira
"Si Varo tuh aneh" cicit Nathan
"Bahasa loe yang sesat tau ga.. " sahut Alvaro
"Emang omongan loe yang bikin salah paham Nat, gimana kalo orang ngira loe berdua pelangi" kata Angga yang langsung membuat kedua lelaki itu bergidik ngeri
"Udah ah loe makin ngaco" Nathan menepuk bahu Angga saking kesalnya bisa-bisa dia bilang Nathan pelangi jelas-jelas dia laki-laki normal. Mau bukti? Nanti kalo udah halal
"Oh iya Nad, loe masih singel apa udah punya pacar?" Tanya Angga penasaran
"Emm gue..."
"Nadira..."
Nadira langsung menoleh begitu ada yang memanggil namanya. mata Nadira langsung membulat, tubuhnya menegang begitu melihat orang yang memanggil namanya tadi, "Bryan"
Lelaki yang di panggil Bryan itu langsung menarik Nadira kepelukannya, "akhirnya aku bisa ketemu sama kamu lagi Dira" ujar Bryan dengan wajah bahagia
Berbeda dengan Bryan, Nadira justru seperti enggan bertemu dengan Bryan
Alvaro, Angga dan Nathan saling pandang mereka tidak tahu siapa laki-laki yang bersama dengan Nadira.
Nadira melepaskan pelukan Bryan lalu mendorong lelaki itu.
"Kenapa Dira?" Tanya Bryan bingung dengan sikap Nadira
"Urusan kita udah selesai Bryan"
"Enggak Dira, kita belum selesai"
"Aku minta mulai sekarang kamu jangan pernah ganggu aku lagi"
"Enggak, aku ga akan berhenti gangguin kamu sampai kita kembali bersama"
"Aku udah bahagia Bryan, aku akan segera menikah."
"Menikah?" Tanya Bryan dengan wajah kaget
Nadira menarik tangan Alvaro yang tak jauh darinya lalu menggenggam tangan lelaki itu, "dia calon suami aku"
__ADS_1
Alvaro membelalakkan matanya menatap Nadira dengan wajah kaget
Bryan, Angga dan Nathan juga tak kaget mendengar ucapan Nadira yang begitu gamblangnya menyebut Alvaro sebagai calon suaminya.