Jodoh Di Kejar Dateline

Jodoh Di Kejar Dateline
42


__ADS_3

Keesokan paginya Aletta bolos ke kantor, matanya bengkak karena menangis semalaman.


Ia bertekad tidak akan menangis lagi dan akan mengikhlaskan kekasihnya itu untuk pergi. Demi pengabdiannya.


Tugas Aletta hanyalah berdoa agar urusan Alvaro segera selesai serta menunggu dan menjaga hatinya hingga lelaki itu pulang ke tanah air dengan selamat.


Siang ini ia ada janji dengan EO untuk acara anniversary kedua orangtuanya. yang diadakan besok malam.


Aletta sedang mengompres matanya yang bengkak, handuk yang dipegangnya jatuh ketika melihat Alvaro datang.


"Kamu...."


Alvaro berjongkok didepan Aletta, mengambil handuk yang jatuh dilihatnya kedua mata gadis itu bengkak seperti habis menangis.


"Kamu ga pengen aku pergi?"


Aletta menggeleng, "enggak kok, aku cuma sedih aja"


"Kenapa?"


"Kalo kamu lama disana gimana? terus gimana kalo kamu lupa sama aku karena ketemu sama bule- bule cantik disana ?"


Alvaro ingin tertawa tapi ditahannya, pacarnya benar-benar menggemaskan. Boleh di karungin ga sih? Terus dipacking masukin bagasi pesawat dikirim ke Jerman.


Tangan Alvaro menangkup pipi Aletta, "sayang,..."


Pipi Aletta langsung bersemu merah hanya dengan mendengar panggilan sayang dari Alvaro.


"Aku bakal kerja keras supaya bisa cepet pulang ke sini. Dan soal suka sama bule-bule cantik kaya yang kamu bilang kamu tenang aja, aku gak tertarik. Buat aku kamu udah lebih dari cukup. Ga ada yang sama kaya kamu. Only you.."


Aletta tersenyum kedua tangannya menangkup wajah Alvaro. Kening mereka menempel cukup lama hingga akhirnya saling menggesekkan hidung dengan gemas.


"Oh ya katanya kamu mau ketemu EO?"


Aletta mengangguk, "aku ganti baju dulu ya.. kamu tunggu bentar" Aletta langsung berlari masuk ke dalam rumah


Alvaro tersenyum sambil menunggu ia memainkan ponselnya membuka beberapa email masuk dari rekan sejawatnya yang memintanya memeriksa hasil diagnosa pasien.


10 menit kemudian Aletta keluar dengan baju kaos putih dengan jeans bekel miliknya.


"Yuk.."


"Kamu niru ihh"


"Ini bukan niru tapi couple outfit namanya"


Alvaro mengacak-acak rambut Aletta gemas, "bisa aja"


Aletta merapikan rambutnya, menggandeng tangan Alvaro menuju mobil.


*****


Alea dan Nathan sudah tiba lebih dulu di hotel. Mereka melakukan meeting singkat membahas konsep acara dimana mereka akan mengusung tema ikrar cinta


Dimana nanti kedua mempelai alias kedua orangtuanya mengucap janji cinta kembali.


Biar berasa nikah lagi gitu cuma gak pake penghulu. Hehe


Untuk hiburan mereka mengundang penyanyi papan atas seperti Judika, Rossa dan BCL. Maklum orangtuanya ngefans berat sama mereka. Tapi masih dalam konfirmasi karena jadwal sang artis yang padat merayap.


"Oke mbak jadi udah fix ya, nanti saya info kalo artis yang mbak request udah deal ya mbak" kata mas Satria selaku manajer EO


"Okeh kalo ga bisa kabarin ya mas jadi kita pake plan B" sahut Alea


Mas Satria mengangguk paham lalu mereka berjabat tangan. Meeting selesai


"Kamu balik ke kantor lagi yank?" Tanya Nathan selepas mas Satria pergi


Alea mengangguk, "iya kerjaan aku banyak. Aletta bolos"


"Lah tumben.."


"Matanya bengkak parah. Semalaman nangis dia.."


Nathan geleng- geleng kepala, sebucin itukah Aletta pada Alvaro, pikirnya


"Kita makan siang yuk yank sekalian udah disini." Ajak Nathan


Alea menyetujuinya, mereka langsung memesan makanan.

__ADS_1


"Kamu ngundang berapa orang?" Tanya Nathan


"200an yank cuma keluarga sama kolega bisnis papa. Tapi ga tau deh Eyang bakal ngundang koleganya apa enggak"


"Lumayan juga yank"


"Tapi buat antisipasi aku pesen Catering buat 500 orang kalo nanti lebih bisa dibungkus buat anak- anak panti."


"Bagus yank.. indahnya berbagi"


Alea terkekeh pesanan makanan mereka tersaji diatas meja


"Selamat menikmati" ujar pelayan hotel


"Makasih mbak" Nathan menyahut sopan. Ia melirik kekasihnya yang tengah sibuk dengan handphonenya, "yank.. makan"


"Bentar ngechat Aletta dulu. Ngabarin jangan ke sini" Alea langsung meletakkan ponselnya meraih sendok dan garpu didepannya, "selamat makan "


Keduanya menikmati makan siang mereka sebelum akhirnya kembali pada kesibukan masing-masing.


****


"Ck! Bilang kek dari tadi kalo ga usah pergi" dumel Aletta didepan ponselnya


"Kenapa?" Tanya Alvaro yang fokus menyetir


"Alea chat katanya ga usah ke hotel "


"Terus kita kemana?"


Aletta mengangkat bahunya, "pulang aja deh kalo gitu"


Alvaro tidak menyahut, ia terus melanjukan mobilnya.


"Loh kita kemana?" Tanya Aletta yang baru sadar ini bukan arah rumahnya


"Nanti juga kamu tau"


Aletta mengangguk tak berkomentar, mungkin Alvaro mau mengajaknya jalan-jalan, pikirnya


30 menit kemudian mereka tiba di depan sebuah rumah besar bergaya Eropa klasik.


Aletta menatap Alvaro dengan bingung, "Rumah siapa?"


Mata Aletta terbelalak, ke rumah Alvaro. Aletta langsung melirik sekilas baju yang dikenakannya


Ini mah ga cocok buat di pake ketemu mertua, batinya


"Udah kamu cantik kok. Mamy sama papy ada di Jerman sekarang. Cuma ada kedua kakakku sama suami dan anaknya"


Aletta menggaruk rambutnya yang tidak gatal, bisa-bisa lelaki itu menebak isi pikirannya.


"Ayo"


Keduanya turun dari mobil Alvaro, lelaki berkulit pucat itu menggandeng tangan kekasihnya masuk ke rumah.


Aletta mendongak menatap Alvaro. Ini bukan karena Aletta pendek ya tapi karena Alvaro yang terlalu tinggi, sedangkan Aletta hanya sebatas dagu lelaki itu


"Rileks aja, mereka ga bakal gigit kamu kok"


Lagi- lagi Aletta berdecak, lelaki itu seperti bisa membaca pikirannya.


Alvaro menekan bel pintu rumahnya, niatnya mau langsung masuk tapi sayang pintunya terkunci.


Ceklek


"Aden Varo pulang" sambut wanita paruh baya berusia sekitar 50 tahun tersenyum ramah


"Assalamualaikum bi.."


"Waalaikumsalam aden.. eh non cantik.."


Aletta tersenyum kikuk, "iya bi"


"Namanya Aletta bi. Al ini bi Lastri kepala asisten dirumah ini tapi udah kita anggap kaya nenek sendiri soalnya aku sama kakakku dari kecil diurus sama bi Lastri."


Aletta mengangguk paham, ia jadi teringat mbok Sum di rumahnya mungkin usianya sama dengan bi Lastri


Selesai berkenalan Alvaro menggandeng Aletta ke taman belakang rumahnya. Bi Lastri bilang kedua kakaknya ada disana sedang menemani anak-anaknya bermain.

__ADS_1


"Uncle Varo" teriak seorang anak laki- laki berusia sekitar 5 tahun berlari menghampiri Alvaro


"Derril hati- hati." Ucap Alvaro menyambut anak laki- laki itu lalu menggendongnya


"Ehh ada tamu..." Kata seorang wanita cantik dengan perut buncit berkulit pucat mirip Alvaro versi perempuan berjalan sambil memegang pinggangnya


"Al itu kakakku yang nomor dua namanya Alanna. Kak ini Aletta" Alvaro mengenalkan keduanya


"Alanna panggil aja Anna" ucap wanita cantik itu tersenyum ramah


"Aletta kak " balas Aletta canggung


"Jadi ini calon adik ipar gue.." ledek Alanna menyengol Alvaro


Alvaro tidak menggubris, ia masih fokus dengan Derril keponakannya yang menggemaskan itu.


"Aletta ayo duduk.." Alanna menarik tangan Aletta menyuruh gadis itu untuk duduk, "kamu masih kuliah?"


"Baru lulus kak."


"Deriil... Mandi sayang!!!" Teriak seorang wanita dari dalam rumah keluar masih dengan menggunakan bathrope dan handuk yang bertengger dikepalanya, "ehh adek gue pulang..."


"Dia pulang bawa calon adek ipar" celetuk Alanna


"Oh ya... " Kata wanita itu antusias menghampiri Alanna yang duduk bersama Aletta, "lohh Aletta kan?" Ucapnya terkejut


Aletta pun sama terkejutnya, "mbak Alice.."


Alvaro dan Alanna saling pandang, "kalian saling kenal?" Tanya mereka bersamaan


"Ck! Loe inget ga sih cerita gue pas hamil Derril dulu gue sempet kecopetan di mall?"


Kedua kaka adik itu mengangguk masih dengan wajah bingung seolah bertanya 'terus hubungannya apa coba?'


"Terus gue di tolongin sama cewek cantik yang jago benget berantem sampe tuh copet dibuat ga babak belur. Nah cewek cantik yang gue nolongin gue itu dia, Aletta" tunjuk Alice


"Wah!!!." Alanna takjub mendengar penuturan kakak tertuanya itu


"Kamu pernah nolongin kak Alice Al?" Tanya Alvaro


Aletta mengangguk, "iya dulu udah lama banget"


"Iya gue inget dia masih pake seragam SMA waktu itu" tutur Alice


"Waktu itu aku baru pulang OSPEK terus nyari hadiah buat kating sama Alea sama Andin juga. Terus pas keluar dari tolilet ada yang teriak minta tolong ya udah karena pencopetnya lari ke arah aku ya gitu deh.." jelas Aletta


ia pun tidak menyangka jika wanita yang ditolongnya 5 tahun lalu adalah kakak dari kekasihnya.


"Langsung gue restuin kalo sama Aletta." Kata Alice menepuk bahu Alvaro


"Mamy sama papy pasti suka. Udah pulang dari Jerman langsung lamar aja." Timpal Alanna


"Tapi Aletta kenapa kamu suka sama Alvaro? Dia ganteng sih, ya ga malu-maluin lah kalo di bawa kondangan tapi kok bisa suka sama dia" Tanya Alice kepo bin penasaran


"Hmm udah gitu dingin, cuek, bikin kesel lah kalo ngomong sama dia" Alanna menambahkan daftar sifat buruk adiknya itu


Alvaro mendelik kesal, kedua kakak ini bukannya membangun image baik adiknya malah mencoreng nama baiknya.


"Hmm Aletta juga ga tau kak, sadar- sadar pas udah jadi pacarnya aja. Mungkin di pelet kali ya kak.." jawab Aletta dengan wajah polos


"Oh jadi gitu.. bukannya..." Belum sempat Alvaro berbicara Aletta langsung lari membekap mulut lelaki itu


"Aku cuma bercanda"


Alvaro melepaskan tangan Aletta lalu menggenggamnya, "jadi..."


"Apa?"


"Jawaban seriusnya apa?"


"Aku jawab nanti kalo kamu udah pulang dari Jerman" Aletta mengulum senyumnya


"Curang!!!"


"Enggak.."


"Jawab sekarang aja lah"


"Enggak mau"

__ADS_1


Kedua sejoli itu masih melanjutkan perdebatan mereka menyisakan Alice dan Alanna yang tertawa geli melihat tingkah keduanya.


Akhirnya gunung es telah mencair, pikir mereka


__ADS_2