Jodoh Di Kejar Dateline

Jodoh Di Kejar Dateline
104


__ADS_3

Alea berpapasan dengan Nathan saat ingin menjenguk Aletta. Sudah tiga hari mereka saling berdiam diri, rasanya ia sudah memberi Nathah cukup waktu untuk sendiri dan kini saatnya mereka harus bicara dari hati ke hati.


Alea pasrah akan nasib pernikahannya ia sadar ini semua kesalahannya, ia berjanji kalau Nathan memaafkannya ia akan melepaskan semua impiannya dan mengabdikan seluruh hidupnya menjadi istri yang baik.


Nathan yang melihat Alea hendak membalik tubuhnya tapi di tahan oleh Alea, "Nat, kita harus bicara"


Lelaki itu menghela nafas, ya mereka harus bicara menyelesaikan masalah yang terjadi. Sudah lebih dari cukup ia menghindar sekarang mungkin waktunya untuk menyelesaikan masalah mereka, "oke"


Alea mengajak Nathan ke taman rumah sakit, suasananya masih agak ramai mengingat ini masih sore.


Lama keduanya terdiam hingga akhirnya Alea membuka suaranya, "aku mau minta maaf sama kamu Nat, selama ini aku udah egois mikirin diri aku sendiri. Aku kira kamu bakal mendukung apapun keputusan aku, aku kira saat aku berhasil meraih impian aku kamu bakal ikut bahagia tapi ternyata aku salah. Aku salah langkah


Harusnya aku bilang sama kamu dari awal, izin sama kamu. Aku minta maaf Nat, aku nyesel.. aku nyesel udah egois, nyesel karena udah bikin kamu kecewa ..." Isak Alea


Nathan menghembus nafasnya, ia paling tidak suka melihat seorang perempuan menangis apalagi orang itu adalah orang yang dicintainya.


Jujur Nathan kecewa pada Alea dan semua yang sudah dilakukan istrinya itu tapi setelah menjalani hari tanpa Alea, Nathan tidak sanggup.


Ia melihat ada penyesalan dimata Alea, kata hatinya mengalahkan ego dirinya yang ingin terus mendiami Alea sebagai bentuk pelajaran supaya kedepannya nanti Alea tidak akan mengulangi kesalahan yang sama.


Nathan mengangkat tangannya menghapus air mata Alea, gadis itu langsung diam membeku, "Nat, kamu..."


"Jujur aku kecewa sama kamu Alea, tapi aku sadar mungkin aku belum bisa jadi kepala keluarga yang baik jadi-"


"Enggak Nat, kamu udah jadi suami yang terbaik, karena kamu terlalu bersikap baik makanya aku lupa batasan aku, aku lupa kalo kamu juga bisa marah dan kecewa sama aku. Maafin aku"


"Kamu udah nyesel sekarang?"


Alea mengangguk, "aku nyesel Nat, dan aku udah memutuskan buat ga ambil kontrak itu."


"Kamu yakin?"


"Aku yakin"


"Kamu ga nyesel, itu impian kamu loh"


"Aku lebih nyesel kalo aku ga bisa jadi istri yang baik buat kamu"


Nathan tersenyum semu sambil mengusap pucuk kepala Alea.


"Kamu mau kan maafin aku?"

__ADS_1


Nathan diam sejenak seperti sedang mempertimbangkan sesuatu.


"Nat"


"Aku udah maafin kamu"


Alea langsung memeluk Nathan, benar kata mama Nathan laki-laki yang baik , "makasih Nat, makasih aku janji ini yang terakhir kali aku ngecewain kamu."


"Aamiin"


"Makasih ya Nat"


"Iya. Oh ya kamu mau jenguk Aletta?"


Alea mengangguk lemah sebenarnya ia ingin sekali melihat Aletta tapi ia ingat kata-kata terakhir Alvaro padanya.


"Takut Varo marah?"


"Iya"


"Nanti kamu minta maaf lagi sama dia. Varo ga pendendam kok orangnya. dia marah karena lagi terluka, kalo kamu di posisinya Varo pasti kamu ngerti gimana hancurnya Varo saat tau Aletta koma, belum lagi keadaan si kembar yang lahir prematur "


"Aku ngerti Nat, ini semua salah aku andai aja aku ga dengerin kata- kata Sarah semua ini ga akan terjadi" kata Alea kembali menangis


"Iya Nat.."


"Yaudah, kamu mau liat si kembar ga? Mereka lucu banget.."kata Nathan mengalihkan pembicaraan


"Boleh?'


"Boleh, mereka ada diruang bayi. Ayo"


Nathan mengajak Alea ke ruang bayi dimana si kembar sedang dirawat didalam inkubator.


Air matanya menetes saat melihat sepasang bayi kembar yang masih begitu kecil tertidur dengan beberapa selang ditubuhnya, hatinya nyeri saat mengingat hari itu, hari saat ia mengatakan hal kasar pada ibu si bayi.


"Maafin onty ya sayang, gara-gara onty kalian harus lahir seperti ini. Onty yakin kalian kuat, kalian anak-anak yang kuat seperti mama kalian ya sayang" ucapnya sambil mengusap kaca


Alea membenamkan wajahnya pelukan Nathan, "mereka pasti kuat kan Nat..."


"Mereka bayi yang kuat. Kamu harus yakin itu. Mereka setangguh ibunya..."

__ADS_1


*****


Alvaro baru saja menyelesaikan pekerjaannya, ia sedang mengemasi barang-barang miliknya lalu pergi ke kamar rawat Aletta dimana ruangan itu kini menjadi kamar keduanya.


"permisi dokter Varo"


"ya" sahut Alvaro tanpa menoleh


"dokter Varo"


"to the point aja dokter Sarah saya ga punya waktu saya harus ke ruang rawat istri saya"


"Ehm begini Dokter, kalo dokter butuh ibu sambung-"


"Keluar"


Sarah tersentak kaget saat ucapannya disela Alvaro, "ma-maksud dokter?"


"Tau pintu keluar kan, sekarang keluar!" ucapnya dengan tatapan tajam yang membuat Sarah sedikit gemetar


"Ta-"


"KKELUAR!!!!"


Sarah yang ketakutan langsung keluar dari ruangan Alvaro tak menyangka akan dibentak oleh lelaki itu.


Alvaro mengusap wajahnya, mencoba menenangkan dirinya, meskipun Sarah tidak menyelesaikan ucapannya tapi ia tau kemana arah pembicaraan wanita itu.


Bisa-bisanya ia berkata seperti itu, Aletta masih hidup dan tidak ada seorangpun yang bisa menggantikan istrinya itu sekalipun Aletta sudah tiada.


Dengan cepat Alvaro keluar dari ruangannya menuju ruang rawat Aletta menemui istrinya.


"Al" lirih Alvaro memegang tangan Aletta, "bangun sayang, kenapa kamu betah banget sih tidur terus kaya gini.. aku butuh kamu Al... anak-anak kita butuh ibunya... aku mohon bangun Al..."


Alea ditemani Nathan sedang berdiri tak didepan pintu hatinya ikut perih melihat Aletta terbaring di tempat tidur.


ia membenamkan wajahnya didada bidang Nathan, tidak kuat melihat penderitaan Aletta juga Alvaro.


"ini semua salah aku Nat..."


"udah sayang... ga ada yang nyalahin kamu ini semua sudah takdir. jangan terus-terusan menyalahkan diri kita doain semoga Aletta cepet sadar dan kita bisa berkumpul lagi.

__ADS_1


Alea mengangguk, "loe harus bangun Al atau gue bakal menyesal seumur hidup


__ADS_2