
Pagi hari yang cerah...
Pagi itu, Nio yang sudah nampak rapi dengan sudah memakai tas ranselnya, menuruni anak tangga dengan langkah cepat, mendapati keberadaan Rudy yang kala itu sudah terduduk di meja makan, membuatnya sontak menghentikan langkahnya sejenak saat ia sudah berada tak jauh dari meja makan.
"Papa masih disini?"
"Iya, memangnya kenapa?"
"Owh tidak, maksudku belum berangkat lagi ke luar kota."
"Hmm ya, mungkin besok atau lusa."
"Owh ok." Jawab Nio singkat yang kemudian seolah ingin melanjutkan langkahnya.
"Hei Nio, kamu mau kemana?"
"Aku buru-buru pa, mau ke kampus."
"Lalu bagaimana dengan sarapanmu? Ayo sarapan dulu!"
"Sudah tidak ada waktu lagi, aku ingin segera menemui dosen untuk membahas masalah sidang."
"Ah kalau begitu biarkan ibumu membekalkan sarapan ini untukmu ya."
"Rena tolong...." Rudy mulai menatap ke arah Rena untuk meminta pertolongannya.
"Tidak perlu pa!" Namun Nio dengan cepat mencegahnya.
"Urusan sarapan pekara gampang, aku bisa sarapan di kantin kampus."
"Hmm ya sudah kalau begitu." Rudy pun akhirnya pasrah.
"Kalau begitu aku pergi!"
"Hati-hati mengendarai mobilmu Nio."
"Hmm." Jawabnya singkat yang terus melangkah tanpa menoleh sedikit pun lagi ke arah Rena dan Rudy.
Saat itu Rena lagi-lagi hanya bisa terdiam memandangi punggung lelaki yang baru saja ia patahkan hatinya itu. Meskipun bukan hanya Nio yang merasakan kesedihan dan kekecewaan kala itu, namun tetap saja saat itu Rena lah yang terlihat kejam karena mengakhiri hubungan mereka secara mendadak.
"Dia begitu, apa karena sedang berusaha untuk menghindariku? Apa benar-benar ingin melupakan aku??" Gumam Rena lirih dalam hati.
"Hmm, baguslah, dengan begitu juga akan semakin mudah untukku untuk bisa menjauh dan segera lupa dengannya." Tambah Rena lagi yang kemudian menghela nafas panjang.
"Ya sudah, ayo kita sarapan sekarang mas."
"Iya, ayo." Jawab Rudy yang bergegas membalikkan piringnya.
Satu jam kemudian di kampus...
Kala itu Nio sedang duduk seorang diri di bawah pohon rindang yang ada di taman kampusnya, ia duduk bersandar dengan kedua mata yang terpejam kala mendengarkan lagu-lagu kesukaannya melalui earphone yang ia kenakan.
__ADS_1
Namun tak lama, ia tersentak saat merasakan ada seseorang yang menepuk pundaknya dengan pelan. Ia pun seketika membuka mata dan langsung mendapati Sonia yang sudah berjongkok di hadapannya.
"Sonia???" Nio pun bergegas melepaskan earphone itu dari kedua telinganya dan langsung mematikan lagu yang sedang terputar dari ponselnya.
"Pagi-pagi sekali sudah melihatmu berada di kampus, apakah aku sedang bermimpi sekarang??"
"Oh hehe tidak, aku sedang menunggu dosen, mau tidak mau harus begini agar bisa bertemu dengan dosen yang kesibukannya mengalahkan seorang presiden." Jawab Nio dengan tenang.
"Hmm begitu rupanya." Sonia pun tersenyum dan langsung duduk di sisi Nio dengan tenang.
"Lalu kamu?? Kenapa pagi-pagi sekali sudah datang? Bukankah setauku hal itu juga jauh dari kebiasaanmu?"
"Hmm sepertinya kamu diam-diam juga memperhatikan kebiasaanku ya hehehe." Sonia pun mulai menggoda Nio.
Nio pun hanya mendengus pelan dan lagi-lagi hanya tersenyum tipis tanpa berkata apapun.
"Kebetulan aku bangun lebih awal hari ini, selesai memasak, aku memutuskan untuk langsung datang saja ke kampus karena berpikir untuk apa juga aku berlama-lama di rumah seorang diri."
"Ka,, kamu memasak?"
"Iya. Memangnya kenapa? Kenapa kamu nampak terkejut Nio?"
"Jelas saja, mengingat kamu yang..."
"Yang apa? Aku yang liar?? Suka bepergian kesana kemari?? Begitu?"
Nio pun terdiam, entah kenapa mendadak ia jadi tidak enak hati untuk mengakui hal itu.
"Itu dulu, tapi sekarang aku lebih banyak membatasi diriku, aku ingin mencoba untuk berubah jadi lebih baik."
"Iya. Bagaimana menurutmu?"
"Bagus." Jawab Nio yang kembali tersenyum singkat.
"Oh ya, kebetulan aku membawa hasil masakanku, kamu ingin mencobanya??" Tanya Sonia menawarkan sembari bergegas membuka tasnya dan mengeluarkan kotak bekal yang ia bawa.
"Ah jangan, bukankah kamu membawanya untukmu? Maka makan saja, jangan sampai kamu tidak konsen karena kelaparan!" Tolak Nio secara halus.
"Hmm sejujurnya aku membawakan ini memang untukmu, karena aku sudah sarapan di rumah."
"Untukku?? Benarkah??"
"Iya, untukmu? Apa kamu berkenan untuk mencoba masakanku?"
"Haish kenapa kebetulan sekali?"
"Kebetulan apanya?"
"Kebetulan karena aku juga belum sarapan?"
"Wah benarkah? Bukankah setauku tante Rena dan bibimu selalu menyiapkan menu sarapan yang enak setiap pagi?"
__ADS_1
"Iya, tapi tadi aku memilih untuk langsung pergi ke kampus dan melewatkan sarapanku."
"Wahh sepertinya semesta memang sudah mentakdirkan agar kamu bisa mencicipi masakanku hari ini hehehe." Sonia pun semakin tersenyum.
"Ini, makan lah, semoga kamu suka." Sonia pun langsung memberikan kotak bekal itu pada Nio.
"Terima kasih Sonia, hmm aku coba ya."
"Iya." Sonia pun semakin mengembangkan senyumannya dan terus memandangi Nio dengan penuh cinta.
Nio pun mulai melahap nasi goreng seafood special buatan Sonia.
"Bagaimana rasanya? Enak tidak?"
"Apa ini sungguh masakanmu? Ini jelas sangat enak, rasanya sama seperti masakan di cafe yang tidak jauh dari kampus."
"Haaissh, ini benar masakanku, aku mempelajari resepnya di internet."
"Hmm mungkin kalian menemukan resep yang sama, ini benar-benar enak." Ungkap Nio yang begitu lahap memakannya.
Sonia pun semakin tersenyum dan terus memandangi Nio.
"Haish, bagaimana dia bisa begitu mengenali rasa masakannya? Hmm untung saja dia tidak curiga." Gumam Sonia dalam hati.
Sonia benar-benar tau bagaimana cara memanfaatkan waktu untuk mengambil hati Nio, meskipun harus banyak melakukan berbagai cara, hal itu tidak masalah baginya asalkan bisa membuat Nio menyukainya.
Beberapa menit berlalu, kini kotak bekal itu sudah nampak kosong karena Nio menghabiskan makanannya tanpa sisa.
"Sekali lagi terima kasih banyak Sonia,"
"Sama-sama."
"Ini, minumlah." Sonia pun memberikan sebotol air mineral pada Nio.
Nio pun seketika terdiam sejenak saat memandangi botol minuman itu.
"Jangan ragu, ini baru, lihat saja masih ada segelnya."
"Ah ti,, tidak, bukan itu! Aku hanya speechless, kamu bahkan menyiapkan air minum ini juga untukku?" Tanya Nio lagi.
"Tentu saja, bagaimana mungkin aku sanggup memberikan makanan tapi tidak disertai minuman? Bukankah itu sama saja aku akan menyiksamu karena merasa seret hehehe." Sonia pun lagi-lagi tersenyum lebar.
Nio pun seketika ikut tersenyum dan langsung meraih botol minuman itu, lalu meneguk minumannya sembari mulai berpikir.
"Sonia benar-benar menunjukkan effortnya, dia bahkan menyiapkan hal-hal kecil yang bahkan tidak terpikirkan olehku." Gumam Nio dalam hati.
"Hmm kurasa tidak ada salahnya untuk mencoba membuka hati, mungkin saja dengan ini, aku juga bisa merubahnya menjadi wanita yang lebih baik. Lagi pula Rena sudah memilih untuk kembali setia pada papa, dan kurasa itu juga pilihan terbaik, meskipun aku sangat kecewa dan patah hati karenanya." Tambahnya lagi.
Setelah terdiam beberapa saat, Nio pun mulai menatap Sonia dengan tatapan yang sedikit lebih serius.
"Sonia, ada hal yang ingin aku bicarakan."
__ADS_1
"Oh ya? Tentang apa?" Tanya Sonia dengan tenang.
...Bersambung......