Kecanduan Ibu Tiri

Kecanduan Ibu Tiri
Penghilang lelah


__ADS_3

Nio akhirnya melangkah dengan tenang menapaki anak tangga, setibanya di lantai dua Nio kembali menoleh ke arah bi Inah dan pak Eko yang saat itu sudah nampak sibuk dalam membereskan meja makan. Memastikan jika situasinya sangat aman, Nio pun langsung saja masuk ke dalam kamar Rena yang pintu kamarnya tidak ia kunci.


"Apa kamu marah?" Tanya Nio begitu memasuki kamar Rena sembari langsung mengunci pintunya.


Saat itu Rena yang nampak sedang terbaring di atas ranjangnya sembari menonton televisi, hanya menoleh singkat ke arah Nio dan memilih kembali fokus menatap layar tv datar dan bersikap seolah tak terjadi apapun,


"Tidak!" Jawab Rena dengan begitu tenang.


Nio seketika langsung meletakkan tas ranselnya di sofa, lalu kembali melangkah mendekati Rena, ia duduk di tepi ranjang sembari mengusap lembut ujung kepala Rena.


"Aku sungguh tidak berbohong, aku benar-benar berada di perpustakaan hingga malam, tidak ada kemana pun." Ucap Nio yang mulai berinisiatif untuk menjelaskan lebih rinci pada Rena.


"Bahkan kalau pun kamu pergi ke tempat lain, seperti misalnya nongkrong di cafe bersama teman-temanmu, aku tidak akan marah dan tidak mungkin melarang. Tapi aku tidak suka dibohongi." Jawab Rena dengan suara pelan, namun dengan sorot matanya yang masih terlihar fokus ke arah televisi yang tergantung di dinding kamar yang ada di hadapannya.


"Iya, aku tau kamu bukan tipe pasangan yang posesif, tapi aku benar-benar sedang tidak bohong, aku berada di perpustakaan sampai malam. Saking fokusnya pada makalahku, aku benar-benar tidak sadar kalau hari sudah malam. Aku hanya ingin skripsiku cepat selesai agar membuatku merasa plong, itulah sebabnya setelah menelponmu, aku memilih untuk fokus hingga akhirnya aku kebablasan sampai malam." Jelas Nio lagi sembari meraih salah satu tangan Rena.


Saat itu Rena masih memilih diam, namun sorot matanya kini perlahan mulai menatap ke arah Nio dengan tatapan yang sulit dijelaskan.


"Aku tidak bohong! Lagi pula teman-temanku hari ini sikapnya sangat aneh, tanpa alasan yang jelas, mereka seakan seperti mendiamiku, aku juga tidak tau mengapa mereka begitu." Tambah Nio lagi yang mulai kembali memasang raut wajah sedikit lesu saat mengingat kejadian di kampus tadi.


"Hah?! Benarkah? Kenapa bisa begitu? Apa kamu membuat kesalahan pada mereka?"


"Aku tidak ada membuat kesalahan, lagi pula hari sebelumnya semuanya nampak normal dan biasa saja."


"Hmm, mungkin saja kamu tidak menyadari kesalahan yang telah kamu lakukan pada mereka. Coba kamu ingat-ingat lagi!" Ucap Rena.


"Tidak, aku sudah memikirkannya juga, tapi aku memang tidak ada membuat kesalahan. Lagi pula bukan hanya Aldy dan Rio, tapi Sonia dan yang lainnya, juga terkesan mendiamiku."


"So,, Sonia??"

__ADS_1


"Iya!" Jawab Nio cepat.


Namun ternyata hal itu membuat raut wajah Rena seketika jadi berubah. Dari yang tadinya mulai terlihat luluh, kini ia seakan terlihat kembali curiga.


"Owh, jadi hal itu cukup mengganggu pikiranmu saat ini?"


"Ya lumayan." Jawab Nio tanpa ragu.


"Ketika Sonia juga mendiamimu? Apa itu yang paling mengganggu?" Tanya Rena yang nampak seperti orang yang cemburu.


Namun hal itu seketika membuat Nio tercengang, karena sebenarnya bukan hal itu yang mengganggu pikirannya saat itu.


"What?? Kenapa malah fokusnya jadi ke Sonia??" Tanya Nio yang nampak terheran-heran serta terkejut dengan pemikiran Rena.


"Hmm sudah lah, kalau memang iya, kalau benar saat Sonia mendiamimu cukup membuat pikiranmu terganggu, juga tidak apa-apa. Wajar saja, mengingat kalian yang pernah berhubungan...."


"Rena stop!!" Tegas Nio yang langsung memotong ucapan Rena.


Rena pun kembali terdiam dengan tatapan yang tak kalah serius saat membalas tatapan Nio.


"Rena dengar! Jika aku memang menyukai Sonia, maka saat ini aku akan memilih untuk menjalin hubungan dengannya, hubungan yang lebih instan dan sederhana. Tapi karena wanita yang aku cintai itu adalah kamu, maka aku rela menjalani hubungan yang sangat rumit ini, asal apa? Asalkan aku bisa tetap bersamamu. Apa itu pun masih belum cukup membuatmu mengerti jika rasa cintaku padamu ini bukan main-main!" Tambah Nio lagi.


Mendengar hal itu, akhirnya membuat Rena mulai menurunkan padangannya.


"Maaf jika ucapanku menyinggungmu." Ucap Rena dengan suara yang sangat pelan.


"Sekarang katakan, kenapa kamu bisa berpikir begitu?"


"Entahlah, tapi entah kenapa tiba-tiba saja aku merasa sangat kesal saat kamu menyebut nama Sonia. Apalagi aku juga mengetahui tentang kisah kalian berdua waktu itu." Jawab Rena masih dengan suara yang sangat pelan.

__ADS_1


"Apa itu berarti kamu cemburu?" Kali ini tangan Nio mulai mengarahkan dagu Rena, membuat wanita cantik itu kembali menatapnya.


"Hmm mungkin saja."


Nio pun perlahan mulai tersenyum tipis.


"Rena, aku senang saat mengetahui jika kamu merasa cemburu seperti ini, itu berarti kamu benar-benar mencintaiku. Tapi, aku juga tidak ingin kamu jadi salah paham karena hal itu, aku tidak mau kita bertengkar hanya karena hal yang tidak penting." Ungkap Nio sembari mengusap lembut sebelah pipi Rena.


"Percaya saja, satu-satunya wanita yang aku cintai itu adalah kamu, aku dan Sonia hanya berteman sekarang, tidak lebih, jadi tolong jangan salah sangka lagi. Ya, mungkin benar kalau aku dan Sonia pernah melakukan hubungan ranjang, tapi itu murni adalah kesalahanku yang tidak bisa mengendalikan diriku yang terlalu berhasrat denganmu saat itu, hingga menjadikan Sonia sebagai pelampiasan, jadi tolong lupakan soal itu." Jelas Nio lagi.


Penjelasan Nio saat itu nampaknya berhasil membuat Rena merasa lebih baik hingga ia pun mulai luluh. Rena pun perlahan mulai tersenyum tipis sembari memegangi tangan Nio yang saat itu masih berada di pipinya.


"Maafkan aku, sekarang aku tau bagaimana rasanya cemburu, benar-benar susah untuk dikendalikan." Jawab Rena.


Nio akhirnya ikut tersenyum dan mulai mengecup hangat dahi Rena.


"Baguslah, setidaknya sekarang kamu tau bagaimana berada di posisiku yang sempat cemburu buta padamu waktu itu."


Rena semakin mengembangkan senyumannya, membuat Nio akhirnya bisa merasa jauh lebih baik saat melihat senyuman manisnya itu. Nio pun mulai memeluk posesif tubuh mungil wanita yang begitu ia cintai itu, memeluknya dengan begitu erat seolah tidak ingin melepaskannya dalam waktu yang cukup lama.


"Apa kamu lelah hari ini?" Tanya Rena kemudian.


"Ya, jujur aku sangat lelah sekarang, tapi saat memelukmu seperti sekarang ini, rasa lelahku seakan runtuh begitu saja." Jawab Nio pelan sembari semakin mengeratkan pelukannya,


"Terdengar sangat manis, tapi apa itu tidak terlalu berlebihan?" Rena pun akhirnya terkekeh pelan.


"Tapi aku sungguh-sungguh saat mengatakan, dengan memelukmu seperti ini, itu bisa membuatku jadi jauh merasa lebih baik."


"Hmm baiklah, kalau memang benar begitu, maka peluklah aku seberapa lamapun yang kamu inginkan, asal itu benar-benar bisa menghilangkan rasa letihmu dan membuatnya merasa lebih baik." Jawab Rena dengan lembut, sembari mulai mengusap-usap lembut rambut Nio.

__ADS_1


"Ya, aku memang berencana untuk tidak melepaskan pelukanku dalam waktu dekat." Jawab Nio pelan, yang saat itu terlihat mulai memejamkan matanya.


...Bersambung......


__ADS_2