
Rena lagi-lagi kembali melirik ke sekitarnya untuk memastikannya lagi, lalu ia kembali menatap penuh kepercayaan ke arah Nio dan menghela nafasnya singkat, ia pun tersenyum tipis hingga kemudian perlahan mulai melepaskan pakaiannya dan hanya menyisakan bra dan CD yang masih menutupi dua bagian pentingnya.
Dengan sedikit menggigil, Rena mulai melangkah ke arah kolam, Nio yang saat itu sudah berdiri di tengah kolam mulai mengembangkan senyumannya sembari mengulurkan tangannya pada Rena. Rena terus tersenyum tipis dan meraih kedua tangan Nio, lalu dengan sedikit hati-hati ia pun mulai ikut masuk bergabung ke dalam kolam itu.
"Oghh hangat sekali." Celetuk Rena begitu masuk.
Nio hanya tersenyum manis dan mulai menyandarkan tubuhnya di dinding kolam.
"Duduklah, biarkan air hangat ini membuka pori-pori kulitmu dan rasakan betapa nikmatnya hal itu." Ucap Nio dengan lembut.
Rena pun patuh dan mulai duduk bersandar di sisi Nio.
"Ada banyak bintang malam ini." Celetuk Nio yang saat itu kepalanya terlihat tengah menengadah ke arah langit.
Rena pun sontak ikut memandang ke arah langit dan kembali tersenyum.
"Yaa, rasanya belakangan ini sangat jarang sekali aku melihat banyak bintang bertaburan di langit seperti malam ini." Ungkap Rena dengan sorot kedua mata yang seolah tak lekang memandangi keindahan langit saat itu.
"Bukankah ini terasa semakin menyenangkan, berendam air hangat dengan disuguhkan pemandangan langit yang indah bersama orang terkasih." Ungkap Nio.
"Kamu benar, ini sangat menyenangkan. Terima kasih lagi-lagi kamu sudah mengajakku ke tempat yang benar-benar membuat pikiran dan hatiku jadi merasa lebih baik."
"Aku akan terus melakukannya jika itu bisa membuatmu senang." Jawab Nio yang kembali tersenyum tenang.
Tak lama, kedua mata Rena kembali dibuat membesar saat tak sengaja melihat bintang jatuh.
"Hah, ada bintang jatuh!!" Serunya yang langsung menunjuk ke arah langit.
Nio pun kembali menoleh ke arah langit dan kembali tersenyum.
"Apa kita harus membuat permohonan saat ini juga?"
"Ayo lakukan!" Ucap Rena yang terlihat begitu bersemangat sembari langsung menutup kedua matanya.
Selang beberapa detik saja, Rena kembali membuka matanya dan kembali menatap Nio yang saat itu sedang menatapnya.
__ADS_1
"Apa kamu tidak membuat permohonan??" Tanya Rena seketika.
"Aku sudah selesai dan kali ini aku tidak akan memberitahukan apa yang jadi permohonanku, karena belajar dari pengalaman yang sebelumnya."
"Kenapa bilang begitu?? Memangnya permohonanmu sama seperti kemarin sehingga tidak ingin membahasnya lagi?"
"Ya! Akan selalu sama!" Jawab Nio singkat yang seketika berhasil membuat Rena akhirnya terdiam.
"Sekarang gantian, apa harapan yang kamu panjatkan barusan?" Tanya Nio.
"Kamu mungkin akan tertawa saat mendengarnya."
"Kenapa? Apakah lucu?"
"Tidak, tapi kurasa akan terasa konyol bagimu."
"Katakanlah, apa harapanmu?" Tanya Nio lagi.
Rena pun menghela nafasnya, lalu perlahan ia mulai berpindah posisi ke hadapan Nio.
"Apakah harapanku bisa terwujud??" Tanya Rena lagi dengan suara yang terdengar semakin pelan.
Nio pun seketika mendengus pelan lalu ikut tersenyum dengan sebelah tangannya yang mulai membelai lembut pipi Rena.
"Akan selalu ada cara untukku agar bisa mewujudkannya." Jawab Nio yang kemudian langsung mengecup lembut dahi Rena.
Rena pun terdiam memandangi Nio dengan tatapan lekat.
"Aku mencintaimu Rena, benar-benar sangat mencintaimu." Ucap Nio dengan nada begitu lembut dan sorot mata yang terlihat begitu tulus.
"Ya, kamu juga sudah membuatku jatuh cinta dan setiap hari cintaku semakin membesar padamu." Jawab Rena.
Nio yang mendengar hal itu kembali tersenyum, lalu perlahan mulai kembali mendekati Rena dan yaaaa,,,
Sebuah ciuman hangat langsung mendarat di bibir Rena yang kala itu terasa begitu sejuk. Nio mencium bibir Rena dengan waktu yang singkat, lalu perlahan kembali melepaskannya dengan nafas yang mulai tak beraturan, dan kembali menatap lekat ke arah Rena yang deru nafasnya juga mulai tak terkendali.
__ADS_1
Lalu tanpa berkata apapun lagi, Keduanya langsung saling menerkam bibir satu sama lain. Ciuman yang hangat mulai berubah menjadi semakin ganas dan penuh tuntutan.
"Katakan padaku jika kita hanya akan berciuman saja disini." Ucap Rena di sela ciuman mereka dengan nafas yang mulai putus-putus.
"Maaf Rena, aku tidak bisa memastikannya," jawab Nio yang terus menciumi rahang serta telinga Rena.
"Kita sedang berada di luar ruangan saat ini, dan ini bukan daerah yang sepi seperti di air terjun, semoga kamu tidak lupa." Jawab Rena dengan kedua mata yang terus terpejam merasakan kenikmatan sentuhan lidah serta bibir Nio pada permukaan kulit wajahnya.
"Tidak akan ada yang bisa melihatnya, Villa ini satu-satunya Villa yang berada di atas bukit ini."
"Ta,, tapi ak,, akuu.." nafas Rena semakin terengah saat bagian intinya mulai di sentuh oleh Nio dari dalam air.
"Akan selalu ada cara untuk mewujudkannya, sekarang hanya tergantung padamu, mau atau tidak." Bisik Nio yang kembali menyentuh daun telinga Rena dengan bibirnya.
"Aku,,, ak,, aku... aku menginginkannya, tapi bisakah melakukannya di dalam saja?" Tanya Rena yang sedikit menjauhkan dirinya dari Nio.
"Percayalah padaku Rena, akan lebih menyenangkan saat melakukannya disini, di bawah sinar bulan dan bintang-bintang."
Rena pun terdiam sejenak, saat itu sebelah tangan Nio perlahan mulai menyentuh pundaknya, lalu dengan gerakan pelan, mulai menurunkan tali bra Rena hingga talinya merosok hingga ke sikunya,
"Percayalah padaku, tidak ada yang akan melihatnya." Ucap Nio lagi yang lagi-lagi terdengar begitu lembut dan sangat meyakinkan.
Rena pun akhirnya kembali tersenyum tipis, dan membiarkan Nio melakukan apapun pada dirinya kala itu. Nio kembali mendekati Rena, lalu mulai menciumi pundaknya dengan penuh penghayatan, kedua mata Rena pun kembali terpejam kala merasakan hal itu. Tanpa mengalami kesulitan apapun, Nio dengan sebelah tangannya bisa langsung membuka pengait besi pada bra di bagian punggungnya, hingga membuat bra itu seketika terlepas begitu saja dan membiarkannya mengambang di atas air.
Nio terlihat menelan ludahnya saat melihat bagaimana kokohnya kedua gundukan daging milik Rena yang saat itu terpampang jelas tepat di depan matanya. Lalu dengan perlahan, kedua tangannya mulai menyentuh kedua gundukan daging itu dan dengan pelan mulai memainkannya.
Lagi-lagi hal itu kembali membuat Rena seketika melenguh dan nafasnya jadi semakin tak terkendali. Tanpa berkata apapun lagi, Rena kembali mengalungkan kedua tangannya di leher Nio, membuat Nio semakin tak kuasa menahannya lagi dan langsung menyambar gundukan daging itu layaknya bayi yang benar-benar sedang kehausan akan asi ibunya.
Beberapa puluh menit berlalu, suara cipratan air dari kedua benda yang sedang bermain di dalamnya santer terdengar, di tambah pula suara lenguhan Rena yang terdengar begitu mendayu, juga suara Nio yang terdengar begitu menggelegar, seolah mengimbangi suara-suara jangkrik di sekitar mereka.
Rena bahkan sudah tidak peduli lagi pada situasi, bahkan jika pun ada orang yang akan melihat adegan intim mereka, Rena sudah tidak memperdulikannya lagi. Yang ada di dalam otaknya saat itu hanyalah menyalurkan hasratnya dan mengekspresikan rasa nikmat yang diberikan oleh Nio lewat suara yang benar-benar sudah tidak bisa ia kontrol lagi.
Bersambung...
__ADS_1