Kecanduan Ibu Tiri

Kecanduan Ibu Tiri
Emosi meluap


__ADS_3

Namun lelaki itu mulai mengernyitkan dahinya saat mengamati Nio dari ujung kaki hingga rambut.


"Tapi tunggu, tunggu! Hmm bukankah yang ku dengar suamimu sudah tua?? Owh sorry, maksudku, kamu menikah dengan seseorang yang sudah paruh baya. Apakah berita yang ku dengar salah?? Atau...."


Mendengar hal itu, kedua mata Rena sontak mulai menajam menatap lelaki itu.


"Bukan urusanmu!!" Bentak Rena yang nampak sangat tidak senang,


"Wahh, ternyata kamu banyak berubah sekarang ya, selain sekarang menjadi lebih cantik dan tampil lebih berkelas dari sebelumnya, kamu juga menjadi lebih galak ya sekarang?? Hehehe."


Mendengar hal itu, tanpa disadari kedua tangan Nio mulai mengepal.


"Ingat Rena, akulah orang yang mengangkatmu dari kubangan sampah, menjadikanmu penyanyi yang banyak diminati orang, bahkan akulah yang banyak mengajarkanmu tentang banyak hal, termasuk mengajarimu,,,," Ucapan lelaki itu terhenti sejenak, lalu perlahan ia mulai mendekati telinga Rena.


"Tentang bagaimana caranya berhubungan badan." Tambahnya lagi dengan cara berbisik di telinga Rena.


Namun hal itu tentu saja bisa di dengar oleh Nio yang berada tepat di sisi Rena. Mendengar hal itu sontak membuat kobaran api emosi Nio menjadi tak terkendali dan ia pun langsung mencengkram kerah baju lelaki itu.


"Heh maksudmu apa bicara seperti itu padanya!!!!!" Bentak Nio yang seolah siap ingin meninju lelaki itu.


Namun Rena dengan cepat menghalaunya.


"Nio please stop!! Aku mohon!" Pinta Rena yang nampak panik, namun juga gemetaran.


"Kenapa kau begitu marah bung? Suka tidak suka, kau harus menerima faktanya, kalau sebelum kau, sudah ada lelaki lain yang merasakan bagaimana liarnya dia di atas ranjang."


"Brengsek!!!" Nio kembali tersulut emosi dan ingin kembali memukul lelaki itu.


Tapi lagi-lagi Rena menahan tangannya.


"Tolong jangan membuat keributan di tempat umum, please Nio!!"


"Tolong hentikan omonganmu, apapun yang terjadi antara kau dan aku, semuanya sudah menjadi masa lalu dan kau tidak berhak ikut campur atau mengganggu hidupku yang sekarang!!!" Tegas Rena pada lelaki itu dengan tatapan yang semakin menajam.


Ya, jika sebelumnya sudah ada yang menebak siapa lelaki itu, jika kalian menebak lelaki itu adalah mantan suami Rena, maka jawabannya adalah benar!

__ADS_1


Ia adalah mantan suami Rena, yang memiliki fetish gila, yang akhirnya Rena tinggalkan begitu saja dengan cara kabur dan tidak pernah kembali lagi padanya.


"Dengar!! Tidak peduli siapapun kau di masa lalunya!! Aku tidak akan segan untuk mengirimku ke rumah sakit atau bahkan hingga liang lahat sekalipun, jika sekali lagi ku tau kau berani mengusiknya!!!" Tegas Nio yang dengan kasar melepaskan cengkraman tangannya dari kerah baju lelaki itu dan kemudian langsung menarik tangan Rena untuk berlalu pergi.


"Kita langsung pulang!!!" Tegas Nio yang mengubur dalam-dalam niat sebelumnya untuk menunjukkan telaga air panas pada Rena.


Saat itu Rena hanya diam, dan memilih untuk patuh tanpa merespon ucapan Nio sedikit pun.


Sepanjang jalan menuju rumah, benar-benar dikuasai oleh keheningan yang sudah tercipta sejak mereka memasuki mobil. Nio benar-benar terdiam seribu bahasa dengan segala macam pikiran dan sisa rasa emosi yang masih menguasai dirinya, begitu pula dengan Rena yang juga nampak terduduk lesu memandang nanar ke arah kaca jendela mobil, juga terlihat diam seolah sama sekali tak berselera untuk berkata apapun.


Nio benar-benar mengemudikan mobilnya dengan kecepatan penuh, sebagai pelampiasan rasa emosinya yang masih ia rasakan saat itu. Hal itu tentu saja membuat Rena merasa takut, namun lagi-lagi ia tetap memilih untuk terus bungkam dan memilih berpegangan erat pada pegangan pada sabuk pengaman yang saat itu tengah ia gunakan.


Nio menghentikan mobilnya saat mobilnya telah kembali terparkir di garasi. Saat itu Rena langsung membuka pintu mobil dan bersiap untuk berlalu lebih dulu tanpa berkata sepatah katapun.


"Jangan mengunci pintu kamarmu!! Aku ingin bicara!!" Ucap Nio datar.


Rena tidak menjawab, ia terus saja turun dari mobil, meninggalkan Nio yang kala itu masih terduduk memandanginya di kursi kemudi.


Nio pun seketika mengusap kasar wajahnya dengan kedua tangannya, lalu memukul keras setir kemudi sebagai wujud pelampiasan emosi yang masih saja sulit untuk ia bendung.


Selang beberapa menit kemudian, Nio pun akhirnya turun dari mobil dengan membawa wajah dinginnya, ia berjalan cepat melintasi ruang tengah untuk menuju ke arah tangga. Namun tiba-tiba saja bi inah muncul dari balik tangga dengan sebuah kemoceng di tangannya.


"Mas Nio sudah kembali?"


"Oh hai bi Inah, bukankah bi Inah yang baru saja kembali dari desa?" jawab Nio yang dengan terpaksa memasang senyuman di hadapan bi Inah.


"Hehehe iya, tapi bukankah mas Nio dan ibu juga baru kembali? Karena security mengatakan tidak ada orang di rumah sejak semalam."


"Owhh iy,, iya." Nio pun nampaknya mendadak jadi merasa cukup gugup.


"Aku dan ibu habis dari Villa, papa yang menyuruhku untuk mengajak ibu melihat-lihat Villa agar ibu tidak terlalu merasa bosan saat papa tidak ada di rumah." Jelas Nio berbohong.


"Oh benarkah? Wah seru sekali pasti ya bisa sekalian berlibur ke puncak hehehe."


"Hmm lumayan bi, refresh otak disaat cukup pusing dengan skripsi."

__ADS_1


Bi Inah pun ikut tersenyum sembari mengangguk-anggukan kepalanya,


"Hmm ya sudah bi, aku masuk ke kamar dulu ya!"


"Oh iya silahkan mas."


Nio pun bergegas melanjutkan langkahnya menaiki anak tangga, begitu juga dengan bi Inah yang memilih untuk melanjutkan aktivitasnya dalam berberes rumah.


Setelah memastikan jika tidak ada siapapun di lantai dua, Nio pun dengan cepat masuk dan menyusul Rena ke kamarnya dan langsung mengunci pintunya.


"Apa itu tadi Rena??!" Tanyanya pada Rena yang kala itu terlihat tengah terduduk di sofa.


"Jadi orang itu adalah mantan suamimu? Benar??!" Tanya Nio lagi.


"Iya." Jawab Rena pelan tanpa menoleh sedikit pun ke arah Nio.


"Hmm jadi orang itulah yang memiliki fetish gila, yang selalu menyiksamu demi kepuasan nafsunya??"


"Tentu saja dia, lalu siapa lagi? Bukankah mantan suamiku hanya ada satu." Jawab Rena lesu.


"Dia berani berbicara seperti itu padamu, lalu kenapa kamu tidak membiarkan aku memukulnya?!!"


"Tidak perlu, kamu tidak perlu mengotori tanganmu hanya karena ocehannya."


"Apa kamu sedang berusaha untuk melindunginya???! Apa kamu masih menyimpan perasaan pada mantan suamimu itu?"


"Niooo, kenapa kamu memiliki pikiran seperti itu??"


"Jelas saja, mengingat kamu yang langsung melepaskan pelukanmu saat melihatnya. Sangat terlihat jelas jika kamu masih mengharapkannya!!" Ungkap Nio sembari mendengus.


Mendengar hal itu, Rena pun seketika menatap Nio dengan tatapan yang sedikit menajam.


"Kamu serius berpikiran seperti itu setelah apa saja yang sudah kita lakukan bersama??"


...Bersambung......

__ADS_1


__ADS_2