Kecanduan Ibu Tiri

Kecanduan Ibu Tiri
Positive vibe


__ADS_3

Setelah merasa tenang, akhirnya Rena pun mulai menceritakan semuanya pada Milla yang sudah sangat dipercayainya kala itu. Ia menceritakan semuanya dengan sangati detail, bahkan tidak ada hal yang ingin di tutup-tutupinya lagi. Milla pun awalnya nampak begitu terkejut saat baru saja mengetahui sebuah fakta, yaitu fakta bahwa Rena pernah berselingkuh dengan anak tirinya sendiri.


Namun Rena yang kala itu terlihat nampak begitu menyesali perbuatan buruknya dan juga terlihat begitu jujur kala menceritakannya, perlahan membuat Milla mulai merasa iba padanya.


"Ya aku tau, setelah mendengar ceritaku barusan, kamu pasti jijik padaku, ya aku sadar hal itu." Ucap Rena lesu.


"Tidak, sama sekali tidak begitu Rena." Jawab Milla sembari menggelengkan kepalanya.


"Aku sangat paham setiap orang pasti memiliki sisi kelamnya masing-masing, dan kurasa ini merupakan sisi kelammu yang baru saja aku ketahui hingga hal itu cukup membuatku terkejut, aku terkejut karena selama ini aku mengenalmu sebagai sosok yang begitu positif. Namun terlepas dari itu, hal itu bisa terjadi juga karena beberapa alasan, dan aku sangat memahami hal itu. Juga tidak terlepas dari rasa cinta yang juga tidak bisa disalahkan, cinta itu anugrah dari yang maha kuasa, tidak bisa di cegah dan di atur." Ungkap Milla yang nampak begitu bijak dalam menanggapi cerita Rena.


Rena pun akhirnya mulai menunduk karena merasa sedikit malu pada Milla.


"It's ok Rena, it's ok! Aku paham dengan posisimu saat itu, lagi pula itu sudah menjadi bagian dari masa lalumu kan? Sudahlah, yang lalu biarlah berlalu Rena, kamu tidak perlu malu padaku lagi,"


Rena pun kembali memeluk Milla, entah kenapa perasaannya jadi sedikit lebih tenang saat ia telah menceritakan kesedihannya pada Milla.


"Dan sepertinya lelaki itu pergi karena salah paham, kurasa dia sudah salah paham dan mengira jika Rynto adalah pasanganmu." Ucap Milla sembari kembali melepaskan tautan tubuh mereka.


"Ya, kurasa memang seperti itu." Jawab Rena lesu.

__ADS_1


"Lalu? Kenapa kamu tidak coba untuk menjelaskan padanya?"


Rena pun seketika mendengus pelan, lalu kemudian mulai tersenyum lirih.


"Untuk apa lagi? Hubungan kami sudah lama berakhir, bahkan sudah berakhir sebelum aku dan papanya resmi bercerai." Ungkap Rena.


"Dengan dia kembali datang kesini, bukankah sepertinya masih ada hal yang belum berakhir di antara kalian?"


"Apalagi yang belum berakhir? Semuanya sudah berakhir." Jawab Rena pelan sembari kembali menunduk lesu.


"Hubungan kalian mungkin sudah berakhir, tapi bagaimana dengan perasaan kalian? Coba kamu tanya baik-baik pada hatimu Rena."


Mendengar hal itu, membuat Rena seketika jadi terdiam seolah mulai memikirkan kembali apa yang diucapkan oleh Milla sebelumnya.


"Tapi,,, apa benar aku sudah melupakannya?? Dan kenapa,,, mendadak aku jadi ragu." Rena pun terus bergelut pada pikirannya sendiri yang kala itu seolah sedang tidak sinkron dengan hatinya.


Di sisi lain, Nio akhirnya tiba di tempat tujuannya, tempat dimana kedatangannya langsung disambut oleh kesunyian, hanya suara air terjun yang jatuh dengan begitu deraslah yang terdengar. Nio terus berjalan pelan, dengan tatapannya yang begitu sendu ia menuju ke sebuah dermaga yang terbuat dari kayu di tepi kolam itu. Memandangi sejenak deburan air yang terhempas jatuh ke kolam yang menyambutnya seolah tanpa lelah.


Dengan lesu, Nio akhirnya mulai terduduk di dermaga, ia menekuk kedua kakinya dan mulai melingkarkan kedua tangannya di kedua kakinya itu. Tatapannya perlahan mulai nampak kosong meski saat itu kedua matanya tengah menyorot ke arah air terjun, pikirannya juga mulai melayang-layang, seolah kala itu tengah terbang bebas sesuka hati.

__ADS_1


"Haruskah aku menjadi rusak karena semua kesakitan ini? Atau malah sebaliknya?" Pikirnya sembari perlahan mulai memejamkan kedua matanya dan membiarkan indera pendengarannya dimanjakan oleh suara air terjun serta kicauan burung yang banyak berterbangan di atasnya.


Tidak dipungkiri, Nio yang sekarang memanglah sudah sangat jauh berbeda dengan Nio yang dulu, tepatnya setengah tahun lalu. Dimana kala itu Nio masih menjadi pribadi yang begitu gampang terpedaya oleh rasa emosinya, namun tidak dengan Nio yang sekarang, yang sudah jauh lebih bisa mengendalikan emosi, dan semua terjadi juga berkat campur tangan Zayden yang selalu bisa menjadi pendengar yang baik untuk Nio, juga dapat memberi masukan yang masuk akal disaat yang tepat.


Setelah beberapa jam membebaskan segala macam pikirannya berkelana sesukanya, setelah merasa puas menangisi kesedihannya, setelah merasa jauh lebih tenang, Nio pun akhirnya perlahan mulai bangkit dari duduknya, kembali menghela nafas panjang sebelum akhirnya benar-benar pergi meninggalkan tempat yang sudah memberikan sejuta kesan baginya itu.


1 Minggu kemudian...


Nio sudah memutuskan untuk mengindahkan permintaan terakhir Rudy, yaitu mengambil alih pabrik di bawah kepemimpinannya dan tidak akan kembali lagi ke Qatar. Bahkan ia juga merekrut dua orang sahabatnya yang baru kemarin ia temui, yaitu Aldy dan Rio yang hingga saat itu masih menganggur.


Nio benar-benar ingin fokus saja pada kegiatan barunya, dan akhirnya ia pun tau bagaimana rasanya di posisi Rudy kala itu, yang memang mengharuskannya untuk menjadi orang yang sibuk. Dengan kesibukan barunya itu, jelas berhasil membuatnya melupakan semua kesedihannya yang sebelumnya begitu membuatnya terpuruk, melupakan semua tentang Rena yang benar-benar sudah bukan miliknya lagi. Bahkan sebaliknya, Rena juga kala itu nampak tidak berusaha untuk datang lagi ke kehidupan Nio karena ia pun cukup tau diri, meskipun kehadiran Nio tempo hari cukup mengganggu pikirannya.


Perkembangan Nio ke arah yang lebih positif sungguh pesat, ia tidak lagi menjadi seseorang yang pemarah, bahkan kini terlihat jauh lebih tenang kala menghadapi semua masalah. Tentu di tempat kerja, ada banyak karyawan pabrik maupun staf kantor yang mengagumi visual Nio yang ketampanannya bagaikan sosok yang ada di dalam buku cerita.


Hari hari pun terus berlalu dan terlewat begitu saja, banyak hal besar yang telah terjadi di hidup Nio dan itu berhasil membangunnya jadi pribadi yang jauh lebih dewasa, ya Nio benar-benar tengah menjadi versi terbaiknya saat ini.


3 bulan kemudian...


Hingga akhirnya setelah tiga bulan lamanya menjalani kehidupan dan aktivitas barunya yang begitu sibuk, tiba-tiba Nio mendapatkan sebuah panggilan luar negeri dari seseorang yang tidak asing lagi baginya, siapa lagi kalau bukan orang yang banyak berpengaruh pada perubahannya saat itu, yaitu Zayden.

__ADS_1


Senyuman Nio pun seketika nampak terukir nyata kala melihat nama Zayden terpajang di layar ponselnya. Bagaimana tidak, mengingat jika saat itu Zayden juga menjadi salah satu orang terpenting dalam hidupnya, karena banyak membuat perubahan positif baginya.


...Bersambung......


__ADS_2