
Anya pun memberanikan dirinya untuk menghampiri dua orang staff wanita yang berada tak jauh dari posisinya berdiri saat itu.
"Hei kalian, apa ada yang salah dengan penampilanku?" Tanya Anya.
"Ouh sama sekali tidak mbak Anya, mbak Anya hari ini terlihat cantik seperti biasanya." Jawab salah satu staff namun dengan sedikit kikuk.
"Sungguh?? Lalu kenapa para staff disini seperti menatapku aneh? Bahkan kalian berdua juga."
"Ka,, kami hanya sedang kasihan pada mbak Anya."
"Kasihan?? Hahaha memangnya alasan apa yang membuat kalian kasihan padaku?" Anya pun nampak terkekeh geli.
"Ouhh memangnya mbak Anya tidak sedang sedih?"
"Sedih? Kenapa aku harus sedih? Justru aku sangat senang hari ini." Jawab Anya sembari tersenyum manis.
"Aku senang karena hari ini Nio kembali masuk kantor." Celetuk Anya dalam hati.
"Oh maaf sebelumnya mbak Anya, kami pikir selama ini mbak Anya dan pak Antonio berpacaran."
"Berpacaran?? Kalian sungguh berpikir seperti itu? Kenapa bisa?" Senyuman Anya pun nampak semakin berkembang, bahkan nampak sedikit tersipu malu kala itu.
"Karena perlakuan pak Antonio selama ini pada mbak Anya nampak sangat berbeda di banding kepada staff wanita lainnya. Pak Antonio bahkan selalu tersenyum saat berbicara dengan mbak Anya dan mengistimewakan mbak Anya, itulah yang membuat kamu berfikir begitu." Jelas Staff itu lagi.
Mendengar hal itu, tingkat percaya diri Anya pun semakin membesar.
"Ah benar saja, ternyata ini semua bukan hanya perasaanku saja kan, itu berarti aku memang wanita special baginya, mungkin dia butuh sedikit waktu lagi untuk mengungkapkan isi hatinya padaku." Gumam Anya lagi dalam hati yang terus tersenyum,
"Oh begitu ya? Hehehe." Jawab Anya yang wajahnya nampak memerah karena malu.
"Iya, tapi ternyata dugaan kami selama ini salah, pak Antonio ternyata memiliki pacar lain dan itu bukan mbak Anya. Jadi maafkan kami mbak Anya."
Mendengar hal itu, kedua mata Anya seketika nampak membesar.
"Hah?!! Ap,, apa maksud kalian??!!" Tanya Anya yang nampak terkejut.
"Jadi mbak Anya belum tau??"
Anya pun menggeleng pelan.
"Memangnya mbak Anya tidak dapat undangan digitalnya??"
"Undangan digital? Undangan apa??" Dahi Anya pun nampak semakin mengkerut.
"Ya undangan pernikahan pak Antonio yang dikirim melalui email ke seluruh staff kantor."
"Hah?! Ap,,, apa??!!!" Kedua mata Anya benar-benar seakan nyaris keluar dari sarangnya kala mendengar hal itu.
Seluruh tubuh Anya mendadak terasa gemetaran,
"Jadi mbak Anya sungguh belum melihatnya??" Tanya staff itu lagi.
"Ak,, aku permisi!!" Ucap Anya yang justru memilih langsung pergi begitu saja.
__ADS_1
Meninggalkan dua staff wanita yang kala itu terus memandangi kepergian Anya dengan perasaan bingung.
Anya terus melangkah cepat menuju ruangannya sembari mulai merogoh isi tasnya untuk mengambil ponselnya.
"Tidak mungkin, ini pasti tidak benar!!" Gumam Anya dengan kedua tangan yang nampak masih gemetaran,
Dengan cepat, Anya langsung membuka email miliknya, dan ya, benar saja, sebuah undangan digital untuknya juga sudah terkirim ke emailnya dan hal itu membuat Anya semakin syok dan merasa lemas seketika. Kedua mata Anya tiba-tiba saja nampak meneteskan air mata, nafasnya mendadak jadi tak beraturan, bahkan tubuhnya mendadak seolah kehilangan seluruh tenaganya saat itu.
"Di,, dia,, dia sungguh akan menikah??!!" Gumam Anya seorang diri yang masih sangat tidak menyangka.
Anya benar-benar dibuat kaget setengah mati, hal itu wajar saja baginya mengingat selama ini Nio bahkan tidak pernah sekalipun membahas tentang adanya wanita special apalagi membahas tentang pernikahan. Juga mengingat jika selama ini perlakuan Nio pada Anya memanglah sangat berbeda, terkesan lebih lembut, lebih perhatian, lebih mengutamakan dia dibanding staff yang lain, hal itulah yang membuat Anya menganggap jika Nio menyukainya.
Anya pun dengan cepat menyeka air matanya, lalu melanjutkan langkahnya menuju ruangan Nio, namun saat itu tidak ada Nio di dalam ruangannya, melainkan seorang OB yang sedang membersihkan meja kerja Nio.
"Pak Nio belum datang?"
"Belum mbak."
"Oh ok, bisakah kamu mengabariku segera jika melihat pak Nio datang?"
"Bisa mbak."
"Baik, terima kasih." Jawab Anya yang kemudian langsung pergi untuk masuk ke ruangannya yang ada di sebelah ruangan Nio.
Anya terduduk lemas di kursi kerjanya, biasanya hal yang pertama dilakukannya setelah duduk di kursi kerjanya adalah langsung membuka laptopnya, namun hal itu tidak terjadi hari itu. Anya benar-benar merasa sangat kacau hari itu hingga membuatnya hanya terdiam sembari memandangi lagi undangan digital itu.
"Sharena Alexandra?? Jadi itukah wanita yang akan menjadi istrinya? Siapa dia? Kenapa selama ini aku tidak pernah mendengar nama itu keluar dari mulut Nio?" Gumam Anya lirih.
"Kenapa?? Kenapa kamu bersikap manis padaku jika ternyata kamu memiliki kekasih?!! Kau benar-benar kejam Nio!! Kau lelaki yang sangat kejam!!" Gumam Anya lagi.
Berselang tiga puluh menit kemudian, OB yang dijumpai Anya dalam ruangan itu akhirnya mengetuk pintunya. Menyadari hal itu, membuat Anya bergegas mengusap air matanya sebelum akhirnya menyeruhnya masuk.
"Masuk!" Ucap Anya saat memastikan jika sudah tidak ada air mata di pipinya.
"Mbak, pak Nio baru saja masuk ke dalam ruangannya."
"Oh dia sudah datang? Hmm baiklah, terima kasih ya." Anya pun tersenyum tipis.
"Sama-sama mbak. Oh ya mbak, hari ini mbak Anya mau minum kopi, teh, atau greentea?"
"Tolong buatkan aku greentea."
"Baik mbak."
OB itu pun langsung keluar, Anya kembali menghela nafas panjang, fakta mengejutkan itu benar-benar telah berhasil membuat keberaniannya muncul.
Nio akhirnya mulai terduduk di ruangan yang sudah beberapa hari ia tinggalkan, namun saat baru saja beberapa detik terduduk, tiba-tiba ponselnya berdering yang menampilkan nama Rena. Hal itu membuat senyuman Nio kembali terukir nyata di wajah tampannya dan kemudian langsung menyambut panggilan orang terkasihnya itu.
"Halo sayang, selamat pagi."
"Pagi sayang, apa kamu sudah masuk kantor hari ini?"
"Iya, aku baru tiba di kantor."
__ADS_1
"Oh ok."
"Lalu kamu, apa kamu sudah di bandara?"
Ya, sebelumnya Rena memilih untuk tinggal lebih lama di Shanghai karena masih ingin berbelanja beberapa barang langka disana, juga masih ingin memperbanyak moment kebersamaannya bersama Zayden dan Meichan.
Namun tanpa sepengetahuan Nio, ternyata Rena sudah tiba sejak tadi malam, dan pagi ini ia berniat ingin memberi kejutan pada Nio di kantornya dengan membawakannya sarapan.
"Aku akan take off sebentar lagi."
"Ya sudah, safe flight sayang, tolong langsung kabari aku saat sudah landing ok! Aku akan langsung menjemputmu, karena aku sudah sangat rindu."
"Benarkah kamu sangat rindu padaku?"
"Tentu saja, tiga hari tidak bertemu seperti tiga tahun."
"Haiss, kamu berlebihan!"
"Ya, perasaan cinta dan rinduku memang berlebihan untukmu, aku bisa apa?"
"Hehehe ya sudah, kamu semangat kerjanya hari ini ok, dan ingat, jangan macam-macam dengan staff wanitamu di kantor, terutama dengan...."
"Hais, dengan siapa lagi sayang? Tidak ada wanita lain selain kamu!"
"Anya?"
"Hahaha tidak akan sayang, Anya hanya sekretarisku, tidak lebih."
"Ok, aku percaya padamu." Jawab Rena yang ternyata saat itu ia sudah tiba di loby kantor.
"Ya, kamu memang harus percaya padaku."
"Ya sudah, aku tutup duluya, I love you."
"I love you more sayang."
Panggilan telepon pun berakhir, dengan sisa senyumannya, Nio pun kembali meletakkan ponselnya ke atas meja dan secara bersamaan juga Anya tiba-tiba saja masuk ke dalam ruangannya bahkan tanpa mengetuk pintu terlebih dulu.
"Ouh Anya, hai." Sapa Nio dengan ramah yang kemudian langsung berdiri menyambut kedatangannya.
"Aku sudah kembali, dengan begitu kamu tidak akan kelimpungan lagi menghandle tugas-tugasku. Bagaimana? Apa kamu senang?" Tanya Nio seolah-olah tidak terjadi apapun.
Namun kala itu, Anya masih diam dan terus melangkah menuju ke arah Nio dengan memasang raut wajah datar.
"Oh ya, aku juga membawakan oleh-oleh dari Shanghai untukmu." Tambah Nio lagi sembari terus tersenyum.
Namun ekspresi Anya sama sekali tidak berubah, ia bahkan semakin melajukan langkahnya dan kemudian....
*Prraaakkk*
Sebuah tamparan yang begitu keras langsung mendarat di pipi kiri Nio.
...Bersambung......
__ADS_1