
Setibanya di rumah, Nio pun langsung meminta Rena untuk bergegas masuk ke kamarnya dan mengganti pakaiannya yang akhirnya juga jadi basah akibat pakaian dalam yang dipakainya.
Rena pun patuh dan langsung masuk lebih dulu ke dalam, meninggalkan Nio yang kala itu masih berada di dalam mobil.
Saat itu Nio juga langsung memilih masuk ke kamarnya, mengganti pakaiannya jadi lebih santai dan kembali turun menuju dapur untuk membuatkan minuman hangat untuk Rena terkasih.
Awalnya Nio sedikit terlihat bingung saat berada di dapur, maklum saja, selain mengambil minum ketika haus, Nio sama sekali tidak pernah mau berkunjung ke dapur apalagi sekedar untuk membuat minuman sendiri.
Biasanya, jika sedang ingin meminum sesuatu selain air putih, Nio pasti selalu meminta bik Inah untuk membuatkannya. Namun tidak kali ini, kali ini berbeda, Nio ingin membuatkan minuman special untuk Rena dari tangannya sendiri. Setelah beberapa saat berkutat di dapur, akhirnya Nio pun berhasil menciptakan segelas minuman hangat yang pas, yaitu segelas susu jahe merah, yang dipercaya bisa membantu mencegah masuk angin karena bisa menghangat kan tubuh.
Tak lama bi Inah tiba-tiba nampak keluar dari kamarnya yang berada di belakang, tak jauh dari dapur. Ia pun nampak sedikit terkejut saat mendapati Nio yang sedang membuat minuman sendiri di dapur.
"Ya ampun mas Nio?! Mas Nio sedang apa??"
Nio pun menoleh singkat ke arahnya sembari tersenyum tipis.
"Oh ini bik, hanya sedang membuat minuman hangat."
"Kenapa mas Nio membuatnya sendiri? Kenapa tidak meminta bibi yang membuatkannya seperti biasa?"
"Hmm tidak apa-apa bi, bibi istirahat saja."
"Mas Nio, bibi jadi merasa tidak enak hati." bi Inah pun nampak sedikit melesu.
"Hehehe tidak apa bi, bibi tidak perlu merasa tidak enak hati, aku memang sedang ingin membuat minuman ini sendiri." Jawab Nio yang kembali tersenyum hangat.
"Ya sudah, bibi istirahat saja ya, aku mau kembali ke kamar." Ucap Nio yang kemudian membawa minuman yang dibuatnya pergi.
Menapaki anak tangga untuk naik ke lantai dua, bi Inah pun patuh dan akhirnya kembali masuk ke kamar.
Di sepanjang langkahnya, Nio terus tersenyum memandangi minuman hangat yang dibawanya. Langkahnya pun terhenti saat sudah berada di depan pintu kamar Rena dan tanpa ragu langsung saja mengetuk pintu kamar itu.
*Tok,,tok,,tok*
Tak perlu menunggu terlalu lama, Rena pun membuka pintunya dan langsung mendapati Nio yang sudah tertegak di hadapannya.
"Nio??" Ucapnya sembari tersenyum tipis.
"Aku buatkan segelas susu jahe merah untukmu, ini, minumlah!" Ucap Nio lembut sembari menyodorkan minuman yang dibuatnya ke hadapan Rena.
Rena pun terdiam sejenak memandangi minuman itu tengah tatapan seolah penuh hari dan rasa tak percaya,
"Kamu membuatkan minuman ini untukku?" Tanya Rena lagi yang terlihat semakin mengembangkan senyumannya,
Nio pun mengangguk pelan.
"Dari air terjun sampai rumah kamu sudah basah-basahan, aku tidak mau kamu jadi masuk angin dan sakit karena hal itu, jadi minumlah, ini bisa membantu menghangatkan tubuhmu." Jelas Nio.
Rena pun meraih minuman itu, lalu mulai menyeruput minuman itu secara perlahan sembari kedua matanya terus menatap Nio dengan penuh rasa haru.
__ADS_1
"Bagaimana? Apakah enak?"
"Enak!" Rena pun mengangguk cepat sembari terus tersenyum.
"Benarkah? Jujur saja, ini pertama kali aku membuatnya, hanya bermodalkan resep dari google dan bahan-bahan yang ada di dapur." Ungkap Nio jujur sembari kembali tersenyum.
"Seharusnya kamu tidak perlu merepotkan dirimu seperti itu, bukankah sebelumnya, kamu sendiri sudah membantu menghangatkan tubuhku." Ucap Rena sembari tersenyum penuh arti.
Nio yang mendengar hal itu sontak mendengus pelan dan tertawa singkat.
"Setidaknya minuman ini juga bisa membantu menghangatkan tubuhmu dari dalam."
"Terima kasih banyak, Nio." Rena pun kembali tersenyum dan kembali menyeruput minumannya.
"Ini benar-benar enak."
"Ya sudah, kalau begitu kamu beristirahat lah dengan tenang, kamu pasti cukup lelah hari ini." Nio bersiap seolah ingin pergi, namun Rena dengan cepat menarik tangannya.
"Kamu mau kemana?"
"Aku?? Hmm aku, tentu saja akan kembali ke kamarku."
"Owhh, ok!" Rena pun mengangguk pelan, seolah sedikit merasa kecewa.
Namun Nio ternyata adalah lelaki yang cukup peka, ia bahkan bisa membaca raut wajah Rena yang kala itu terlihat seolah tidak menginginkannya pergi, meskipun saat itu Rena tidak mengatakannya langsung.
"Kenapa?" Tanya Nio lembut.
"Aku melihat adanya raut wajah kekecewaan saat mendengar aku ingin kembali ke kamar. Apa kamu mau aku tetap disini?" Tanya Nio yang kembali tersenyum hangat.
"Kalau aku jawab 'iya' apa kamu akan tetap disini?"
"Tentu saja, apapun yang kamu mau, selama aku mampu, akan ku lakukan!"
"Benarkah?"
"Hmm!" Nio pun mengangguk.
"Kalau begitu, tolong tetap disini! Hujannya masih sangat deras, petir juga sesekali muncul dengan begitu menggelegar, jujur aku takut!"
"Baiklah, aku akan menemanimu." Nio pun semakin melebarkan senyumannya dan mulai melangkah memasuki kamar Rena.
Tak lupa Nio menutup dan mengunci pintu kamar itu, hanya sebagai bentuk antisipasi saja agar keberadaannya di dalam kamar Rena lebih aman.
*Gleduarrrr*
Petir kembali menggelegar kuat seolah menggetarkan ruangan itu, membuat Rena kembali terkejut dan langsung berhambur ke dalam pelukan Nio.
"Aaaghh!" Pekiknya saat terkejut dan takut.
__ADS_1
"It's ok Rena, tenang ya, ada aku disini." Ucap Nio sembari terus mengusap-usap punggung Rena.
Nio terus melangkah membawa Rena menuju ranjang, mengajaknya berbaring bersama di tengah hujan deras beserta angin yang begitu kencang yang begitu terlihat jelas dari balkon kamarnya.
"Ayo berbaring dan beristirahat lah, aku akan tetap disini." Ucap Nio pelan.
Rena pun mengangguk patuh dan mulai berbaring di atas ranjang, Nio pun ikut menyusul berbaring di sisinya, sembari mulai menyelimuti tubuh Rena dengan selimut tebal.
*Gleduarrrr*
Lagi-lagi petir dan kilat seakan menyambar, Nio dengan sigap langsung memeluk Rena dengan erat, menyembunyikan kepala Rena di dada bidang miliknya.
"Jangan takut lagi, ok! Ada aku!" Ucapnya lagi yang terus berusaha membuat Rena tenang.
Setelah merasa sedikit lebih baik, dan petir pun tak lagi terdengar, Rena akhirnya kembali menatap Nio dengan tatapan begitu lekat.
"Nio, terima kasih banyak karena saat ini sudah berada disini, disisi ku. Sebelumnya aku merasa tidak pernah setenang ini saat ada petir, tapi saat ada kamu di sisiku, setidaknya aku tidak terlalu merasa ketakutan sampai histeris seperti biasanya." Ucap Rena lembut.
"Mulai sekarang kamu tidak perlu takut lagi, semuanya akan baik-baik saja, kamu akan tetap baik-baik saja selama ada aku disisimu." Jawab Nio dengan suara yang tak kalah lembut, dan kemudian mengecup lembut dahi Rena.
Rena pun tersenyum dan mulai memeluk hangat tubuh Nio.
"Apa aku boleh bertanya?" Tanya Rena kemudian dalam keadaan yang kepalanya yang terus bersandar manja di dada bidang Nio.
"Tanyakan saja semua padaku apapun yang ingin kamu tanya!" Jawab Nio lembut, sembari terus mengusap-usap ujung kepala Rena.
"Apa yang paling kamu takutkan saat ini?" Tanya Rena pelan.
"Kehilangan cintamu!" Jawab Nio cepat.
"Kehilangan cintaku??" Tanya Rena yang seketika menoleh ke arah Nio dengan dahi yang mengkerut.
"Ya!" Nio pun mengangguk.
"Selama kamu masih mencintaiku, maka selama itu pula aku tidak akan pernah merasa cemas kamu akan meninggalkanku. Tapi jika aku sudah kehilangan cintamu, maka secara otomatis aku juga akan kehilangan dirimu. Kita bisa bersama saat ini, menjalani hubungan yang rumit dan penuh tantangan, bukankah itu semua bisa terjadi karena adanya rasa cinta?"
"Hmm ya, masuk akal." Ucap Rena yang kembali tersenyum.
"Lalu, apa yang paling kamu inginkan saat ini?" Tanya Rena lagi.
"Jawabannya juga cuma satu, yaitu kamu!" Jawab Nio tanpa ragu.
"Bukankah kamu sudah memiliki cintaku? Bahkan kamu sudah mendapatkan semua dariku."
"Akan lebih baik rasanya jika kamu bisa menjadi istriku kelak."
Mendengar hal itu, membuat Rena pun seketika jadi terdiam.
__ADS_1
...Bersambung..:...