Kecanduan Ibu Tiri

Kecanduan Ibu Tiri
Aneh


__ADS_3

Beberapa hari kemudian...


Hari-hari berlalu begitu saja, kini baik Nio maupun Rena, keduanya nampak semakin dekat seolah tak terpisahkan lagi. Semakin hari, Nio bahkan merasa jika hubungan yang sedang ia jalani dengan Rena nampak semakin nyata dan benar-benar semakin tidak terkendali.


Begitu pula dengan Rena, yang semakin hari, semakin merasa nyaman dengan anak tirinya sendiri. Nio banyak memberinya warna baru dalam hidupnya yang sebelumnya terasa begitu monoton. Ada banyak hal-hal baru yang bisa Rena rasakan serta lakukan saat bersama Nio, dan itu membuatnya sangat bahagia, membuatnya merasa jadi wanita yang sangat dicintai karena perlakuan Nio yang selalu meratukannya.


Seperti biasa, pagi ini Nio nampak sudah berada di kampus yang sebentar lagi akan ia tinggalkan jika skripsinya berhasil.


Namun anehnya, kedua teman yang biasa sangat antusias menyambut kedatangannya, kini bersikap tidak seperti biasanya, mereka terkesan cuek bahkan mengabaikan Nio.


"Ada apa dengan kalian berdua ha?" Tanya Nio yang nampak terheran-heran serta merasa bingung dengan sikap kedua temannya itu.


Tidak ada apa-apa!" Jawab Aldy datar dan memilih untuk kembali fokus pada halnya dengan Rio.


Tak berapa lama, Sonia dan beberapa temannya juga nampak muncul dan menghampiri mereka yang kala itu tengah terduduk di depan loby kampus.


"Hei Aldy, Rio." Sapa Sonia dengan sangat ramah yang langsung melangkah melewati Nio begitu saja tanpa menyapanya sama sekali.


Nio pun terdiam dan jadi merasa semakin keheranan dengan perubahan sikap orang-orang yang ada di sekitarnya,


Sonia dan teman-temannya pun nampak bergabung dengan Aldy dan Rio, mereka terus berceloteh serta terus dibarengi dengan cekikikan tanpa melibatkan Nio sama sekali.


Sonia sempat melirik datar ke arah Nio yang kala itu juga kebetulan sedang memandangi ke arah mereka, lalu bergegas mengalihkan pandangannya dan bersikap seolah tidak melihat Nio sama sekali,


"Ada apa dengan orang-orang ini? Kenapa sikap mereka seolah seperti sedang bermusuhan denganku?" Gumam Nio dalam hati.


"Hahaha iya, iya, hal itu memang lucu sih, hahhaa." Ucap Aldy yang terus tertawa dengan teman-temannya yang lain,


Beberapa menit berlalu, tak lama Aldy beserta yang lainnya mulai bangkit dari duduknya seolah ingin beranjak pergi.


"Hei Bro, kalian mau kemana?" Tanya Nio datar.


"Hmm kami mau masuk duluan, ya sudah ya, bye!" Jawab Aldy yang hanya menatap singkat ke arah Nio dan kemudian langsung merangkul Rio, dan pergi meninggalkan Nio begitu saja.


"Aku juga mau ikut masuk sekarang deh," celetuk Sonia yang tanpa melirik sedikit pun ke arah Nio, langsung berlalu pergi begitu saja dan kemudian di susul oleh teman-temannya.


Meninggalkan Nio seorang diri yang masih terpaku memandangi kepergian mereka dengan perasaan yang semakin dibuat bingung. Nio pun mendengus pelan, lalu mulai kembali bergumam seorang,


"Benar-benar aneh orang-orang ini!" Celetuk Nio pelan sembari akhirnya ikut melangkah pelan untuk mulai masuk ke kelasnya.

__ADS_1


Waktu terus berjalan, Nio mengikuti beberapa kelas hari itu dan semua berjalan dengan cukup baik. Hingga waktu akhirnya telah menunjukkan pukul 03.00 petang, namun hari itu Nio tidak langsung pulang saat kelas berakhir. Ia justru memilih untuk pergi ke perpustakaan kampus, memilih beberapa buku yang pas demi mencari beberapa materi tambahan untuk skripsinya yang masih dalam proses pengerjaan.


Namun entah kenapa, setelah beberapa saat terduduk di perpustakaan dan fokus pada laptopnya, tiba-tiba Nio teringat akan Rena yang tengah berada di rumah. Hanya baru beberapa jam saja pisah dengan Rena, sudah cukup membuatnya terserang rindu. Nio pun bergegas meraih ponselnya yang berada di saku celananya, lalu tanpa pikir panjang, langsung menelpon Rena demi mengurangi rasa rindunya.


"Ya Nio?" Jawaban lembut Rena ketika mengangkat teleponnya.


"Kamu sedang apa? Dimana?" Tanya Nio dengan suara begitu lembut.


"Aku? Hmm aku baru saja selesai membersihkan kamar."


"Membersihkan kamar?"


"Iya. Entahlah, akhir-akhir ini kamarku jadi lebih sering berantakan." Ungkap Rena yang terdengar seakan sedang menyindir.


Nio yang mendengar hal itu pun sontak tersenyum namun masih berusaha untuk bersikap sok polos.


"Oh ya? Kenapa bisa begitu?" Tanya Nio yang terus berusaha menahan tawanya.


"Hmm mungkin kamu lebih tau jawabannya, kenapa sekarang kamarku jadi lebih sering berantakan. Seolah seperti ada yang sengaja membuat tempat tidur dan sekitarnya menjadi berantakan seperti kapal pecah." Jawab Rena dengan tenang.


Nio pun akhirnya tertawa kecil, perkataan dan sindiran Rena yang ia tentu tau arahnya kemana, benar-benar membuatnya tidak bisa menahan tawanya lagi saat itu.


"Hehehe iya iya. Itu makanya aku memilih untuk membereskan sendiri kamar ini, tidak mau melibatkan bi Inah sedikit pun."


"Hmm baiklah, tolong buat kamar kita jadi tampak rapi dan bersih ya sayang, agar saat aku pulang kita bisa kembali membuatnya berantakan lagi hehehe." Goda Nio.


"Memangnya jam segini kamu masih di kampus?"


"Iya, aku masih di perpustakaan, dan sepertinya akan pulang lebih sore dari biasanya." Jawab Nio pelan.


"Owwhh begitu ya?" Suara Rena pun seketika terdengar melesu.


"Lalu kenapa kamu menelponku? Apa terjadi sesuatu?" Tanya Rena lagi.


"Tidak ada, hanya sedang merindukanmu."


Mendengar hal itu membuat Rena sontak kembali mengutas senyuman.


"Kalau rindu, kenapa tidak pulang sekarang?"

__ADS_1


"Aku tidak akan bisa konsen melanjutkan makalah skripsiku kalau aku berada di rumah. Makanya aku lebih memilih untuk tidak pulang dulu, tapi tetap saja, ternyata aku sudah merindukanmu." Ungkap Nio dengan nada sedikit manja saat mengungkapkan hal itu pada Rena.


Membuat Rena lagi-lagi semakin mengembangkan senyumannya.


"Hmm kalau memang demi kepentingan skripsi, maka semangat lah, jangan terlalu memikirkan aku, aku akan menunggumu pulang."


"Hmm ya, aku memang harus semangat agar skripsiku cepat selesai." Ucap Nio sembari menghela nafas panjang.


"Iya, semangat sayang, I love you. Apa perlu aku kirimkan makanan untuk menyemangatimu disana? Aku bisa memesankan makanan dari online untukmu."


"Ah tidak perlu, itu sama saja akan membuatku jadi semakin ingin cepat pulang nantinya."


"Hmm ya sudah, tolong kembali fokus pada skripsimu, ok. Aku akan menutup teleponnya."


"Apa kamu mau pergi keluar?" Tanya Nio tiba-tiba.


"Aku? Hmm tidak!"


"Sungguh?"


"Iya, aku hanya ingin mandi, membereskan kamar membuatku cukup berkeringat."


"Ya sudah, tunggu aku pulang, ok? Dan aku tidak mau saat aku pulang, kamu tidak ada di rumah, sesuai dengan apa katamu, kalau kamu sedang tidak ingin keluar hari ini."


"Iya." Jawab Rena yang kembali tersenyum.


"Hmm, I love you so much." Ucap Nio lembut.


"Ya, I love you too."


"Haissh, sudah ku katakan jangan pernah mengatakan I love you too, itu seolah kamu hanya sedang ikut-ikutan saja.


"Hmm baiklah, I love you more Antonio, I love you more than world ever."


"Hehehe begitu lebih baik." Nio pun akhirnya bisa tersenyum puas saat mendengar kata-kata manis itu keluar dari mulut Rena.


Akhirnya Nio pun menutup telponnya setelah ia merasa jauh lebih baik dari sebelumnya saat sudah mendengar suara sang pujaan hati.


...Bersambung......

__ADS_1


__ADS_2