Kecanduan Ibu Tiri

Kecanduan Ibu Tiri
Pagi hari


__ADS_3

Halo pembaca terkasih, beberapa bab sebelumnya sudah di perbarui, tolong di baca ulang agar nyambung dengan part di bawah ini ya, luff. Terima kasih dan dukung author terus ya❤️🥰


Seperti tidak ada lelahnya, mereka lagi dan lagi kembali melakukannya di kursi kerja dengan posisi duduk, namun kali ini tidak sampai kembali menanggalkan seluruh pakaian, melainkan hanya bagian bawah saja.


Waktu terus bergulir, tidak terasa jam saat itu sudah menunjukkan pukul 04.55 pagi. Setelah kembali memastikan jika seluruh rekaman cctv yang menampilkan moment kebersamaan mereka telah dihapus, akhirnya Nio pun segera beranjak keluar dari ruangan kerja itu.


Rena kembali masuk ke dalam kamarnya dengan langkah pelan, saat itu Sonia nampaknya benar-benar sudah tertidur dengan begitu pulasnya hingga tidak tau menau apa yang terjadi antara Rena dan Nio di lantai bawah.


Rena akhirnya kembali membaringkan tubuhnya di sisi Sonia, kedua matanya menyorot kosong ke arah langit-langit kamarnya dengan senyuman yang terus terpancar nyata di wajah cantiknya kala kembali membayangkan bagaimana ketika ia dan Nio memadu kasih di ruang kerja suaminya.


Hingga tak terasa, pelan-pelan ia mulai merasakan jika matanya terasa berat, semakin lama semakin berat hingga susah untuk dibuka, dan akhirnya Rena pun mulai tertidur begitu saja.


Pagi hari yang cerah...


Rena seketika tersentak dari tidurnya saat seseorang terasa menyentuh pundaknya. Dengan matanya yang masih terlihat begitu sayu, Rena pun melirik ke arah sisi kanannya, dan ternyata seseorang yang menyentuh pundaknya itu adalah Sonia yang kala itu terlihat masih tertidur dengan sangat pulas.


Rena pun melirik ke arah jam dinding yang tergantung di kamarnya, saat itu jam sudah menunjukkan pukul 08.25 pagi, meskipun saat itu ia masih merasa sangat mengantuk akibat bergadang semalaman, namun hal itu tidak membuatnya berniat untuk melanjutkan tidurnya. Dengan sangat pelan dan hati-hati, Rena berusaha memindahkan tangan Sonia yang kala itu masih memegang pundaknya.


Setelah memastikan Sonia tidak terbangun karenanya, Rena pun akhirnya mulai beranjak dari tempat tidurnya, dan membiarkan Sonia tetap tertidur tanpa berniat untuk membangunkannya.


Dengan langkah sedikit lesu karena rasa kantuk yang masih menguasai dirinya, Rena pun langsung berjalan menuju toilet untuk segera mandi agar bisa merasa lebih segar, di tambah mengingat apa yang ia lakukan semalam dengan Nio, tentu membuatnya ingin segera mengeramas rambutnya pagi itu.


Beberapa menit berlalu, setelah selesai mandi dan memakai pakaian, Rena langsung bergegas turun untuk menuju dapur. Saat itu bi Inah nampak sedang bersibuk menyiapkan sarapan untuk mereka pagi itu.


"Selamat pagi bi." Sapa Rena dengan sangat ramah.


"Selamat pagi bu." Jawab bi Inah yang tak kalah ramah.


"Pagi ini masak sarapan apa bi?"


"Pagi ini bibi masak kwetiaw goreng bakso bu,"


"Wah pasti enak, aku bantu ya bi." Rena pun bergegas menyiapkan piring-piring di atas meja makan.


Lalu membantu membuat susu untuk mereka semua.


"Sepertinya mas Nio dan teman-temannya bergadang semalam hingga pagi, karena bibi masih mendengar suara keramaian saat jam tiga pagi."


"Oh itu, iya bi, bahkan teman wanita Nio, Sonia, dia menginap disini semalam." Jelas Rena dengan tenang.

__ADS_1


"Hah?! Benarkah bu? Lalu dimana mbak Sonia tidur? Apa di kamar tamu?"


"Dia tidur bersamaku bi di kamar,"


"Oh ya ampun, bibi benar-benar tidak tau kalau teman mas Nio ada yang menginap. Lalu, apa sarapan yang bibi masak ini akan cukup?" Tanya bi Inah yang terlihat sedikit ragu.


"Sepertinya cukup bi, jadi bibi tenang saja ya, tidak perlu khawatir berlebihan seperti itu." Jawab Rena sembari tersenyum hangat.


Rena dengan sigap terus membantu bi Inah dalam menghidangkan beberapa menu sarapan di meja makan, menuangkan susu ke dalam gelas, juga mengupasi aneka buah-buahan dan meletakkannya di tengah-tengah meja makan.


"Apa sudah semua bi?"


"Sudah bu."


"Ah baiklah, kalau begitu tinggal menunggu mereka bangun." Celetuk Rena pelan sembari tersenyum puas memandangi aneka makanan yang sudah terhidang rapi di meja makan.


"Oh ya bu, bibi hari ini mau izin untuk cuti, hanya sampai malam saja, dan besok pagi bibi sudah kembali ke sini, apakah boleh bu?"


"Cuti sampai malam? Memangnya bibi mau kemana?"


"Bibi mau pulang sebentar ke desa, desa bibi hanya 3 jaman dari sini bi,"


"Kakak saya yang paling tua sedang sakit, sudah satu Minggu tidak bisa bangun dari tempat tidur , jadi saya berniat untuk menjenguknya. Oh ya bu, dan saya juga berencana pulang ke desa bersama Eko, dia juga ingin menjenguk kakaknya. Apa boleh bu?"


"Boleh bi, bibi bisa siap-siap sekarang kalau ingin pulang, tidak usah pikirkan dulu urusan rumah, biar aku yang handle."


"Benarkah bu?" Bi Inah pun terlihat cukup senang.


"Iya bi, tidak perlu menunggu kami hingga selesai sarapan, nanti biar aku saja yang membereskannya."


"Aah terima kasih banyak bu Rena."


Rena pun hanya mengangguk sembari tersenyum.


Bi Inah pun bersigap untuk kembali ke kamarnya untuk bersiap-siap. Selama bi Inah bersiap, Rena pun bergegas kembali ke kamarnya untuk mengambil dompetnya.


Dan disaat yang sama pula, Sonia nampak mulai bangun dari tidur lelapnya.


"Astaga, tante sudah bangun lebih dulu?" Tanya Sonia yang nampak terkejut sembari langsung terduduk.

__ADS_1


"Iya, sudah." Jawab Rena sembari tersenyum tipis.


"Maafkan aku tante, aku benar-benar sangat tidak sadar jika tidur terlalu pulas disini sampai jam segini."


"Ah tidak apa-apa, wajar saja mengingat kamu yang tidur hingga pagi karena acara kejutan ulang tahun Nio semalam."


"Hmm ya sudah, kalau kamu sudah merasa lebih baik, segeralah turun untuk sarapan, ya." Tambah Rena lagi seolah bersiap untuk kembali keluar dari kamarnya.


"Tante mau turun sekarang?" Tanya Sonia.


"Iya, tante tunggu di bawah ya."


"Ta,, tapi tante, apa aku boleh mandi dulu? Akan sangat malu rasanya bila turun ke bawah dengan muka bantal seperti ini, apalagi kalau Nio sampai melihatnya hehehe."


"Hmm ya sudah tidak masalah, take your time."


"Terima kasih banyak tante." Sonia pun akhirnya kembali tersenyum.


Lalu Rena berlalu pergi dari kamarnya, menuruni anak tangga, dan tak lama bi Inah pun kembali keluar dengan sudah mengganti pakaiannya dengan membawa tas sandang yang berukuran cukup besar dan tak lama di susul pula dengan pak Eko.


"Bu, kalau begitu saya dan Eko langsung pamit ya bu, agar lebih mempersingkat waktu di perjalanan."


"Kalian naik apa?"


"Naik bis bu."


"Huh, andai mobil yang digarasi itu adalah milikku sendiri, tentu aku akan dengan mudah meminjamkannya pada kalian, tapi sayangnya bukan dan aku tidak berani mengambil keputusan sesukaku untuk barang yang bukan milikku."


"Aahh tidak apa-apa bu, lagian kami memang sudah sangat biasa jika pulang ke desa, memang selalu naik bis." Ungkap Eko.


"Hmm ya sudah, kalian hati-hati di jalan ya. Dan ini, ada sedikit uang untuk ongkos kalian, dan juga untuk tambahan biaya berobat keluarga kalian yang sedang sakit. Tolong sampaikan juga salamku untuk keluarga kalian disana ya, semoga kakak tertua bi Inah dan pak Eko bisa segera sembuh."


"Ya ampun bu, apa tidak berlebihan memberikan kami uang sebanyak ini?" Tanya bi Inah yang merasa tidak enak hati untuk menerima uang pemberian Rena.


"Ah tidak apa-apa, tolong terima ya."


Bi Inah mau tak mau akhirnya menerima uang itu, setelah berpamitan, mereka pun beranjak pergi, meninggalkan Rena seorang diri yang kala itu masih berdiri tak jauh dari meja makan.


...Bersambung......

__ADS_1


__ADS_2