Kecanduan Ibu Tiri

Kecanduan Ibu Tiri
Kisah kelam masa lalu


__ADS_3

"Masa laluku tidaklah seindah masa lalumu, Nio." Ucap Rena lirih.


Namun, ternyata perkataan itu mendadak membuat Nio seketika jadi mendengus pelan sembari terkekeh.


"Kata siapa masa laluku indah??" Tanya Nio yang terus terkekeh, namun sorot matanya tidak bisa bohong, kalau saat itu kedua matanya juga menunjukkan kesedihan yang mendalam saat harus kembali mengingat masa lalu.


"Memangnya papaku ada cerita apa tentang masa laluku? Hingga kamu bisa berpikir jika aku memiliki masa lalu yang indah." Tambah Nio lagi.


Ucapan itu pun turut membuat Rena terdiam sejenak.


"Ok, anggaplah kamu juga memiliki masa lalu yang kurang menyenangkan, tapi masa laluku jauh lebih buruk dari pada itu, Nio! Masa laluki benar-benar kelam!" Ungkap Rena kemudian.


"Oh ya?"


"Iya!" Rena pun mengangguk cepat.


"Kalau begitu ceritakan lah, aku ingin mendengar seberapa kelamnya masa lalumu." Pinta Nio dengan tenang.


"Jika sebelum menikah dengan ayahmu, aku sempat bercerita sedikit tentang bagian masa laluku yang cukup menyenangkan, maka sekarang aku akan memberitahum tentang bagian lagi, bagian masa lalu yang setelah mendengarnya, aku tidak tau kamu akan tetap mencintaiku atau tidak." Rena pun mulai menatap Nio dengan tatapan sendunya.


Saat itu Nio hanya memilih untuk diam, seolah sedang menantikan Rena mulai menceritakan kisah hidupnya.


"Aku lahir dan besar di tengah-tengah keluarga yang secara perlahan berhasil merusak mentalku, ayahku suka berjudi dan sangat tempramental. Setiap pulang dalam keadaan kalah berjudi, ayah selalu melampiaskan kekesalannya pada ibuku dengan cara memukulinya hingga babak belur. Saat itu aku dan kakakku masih sangat kecil, jadi yang bisa kami lakukan hanyalah menangis saat melihat hal itu terjadi. Kebetulan aku hanya dua bersaudara, kakakku laki-laki dan usia kami terpaut tiga tahun. Hal semacam itu terus terjadi setiap hari, hingga akhirnya setelah beberapa hari kakakku lulus sekolah, dia memilih untuk pergi diam-diam dari rumah karena tidak tahan melihat sikap ayahku." Ungkap Rena yang mulai menceritakan latar belakang keluarganya dengan sorot mata yang mulai terlihat kosong.

__ADS_1


"Aku sudah sangat sering mengajak ibuku pergi dari rumah, meninggalkan ayahku yang sikapnya tidak pernah berubah. Tapi dengan bodohnya ibuku selalu menolak dan memilih bertahan hanya karena dia kasihan pada ayahku yang sudah tidak punya siapa-siapa lagi di hidupnya selain kami. Hal serupa terus terjadi berulang kali hingga aku juga lulus sekolah, hingga akhirnya hal itu sungguh membuatku muak dan akhirnya aku mengikuti jejak kakakku, yang pergi dari rumah."


"La,, lalu? Bagaimana nasib ibumu kalau kamu meninggalkannya pergi?" Tanya Nio yang menampakkan raut wajah kecemasan saat itu.


Pertanyaan itu, sontak membuat Rena perlahan mulai menundukkan kepalanya.


"Ya, langkah berani itu ternyata menjadi kesalahan terbesar dalam hidupku yang membuatku sangat menyesal seumur hidup," Ucap Rena lirih.


Tatapan Nio terlihat semakin serius, ia pun perlahan mendekati Rena.


"Apa yang terjadi Rena?" Tanya Nio yang mulai mengusap lembut lengan Rena.


"Hanya beberapa bulan setelah aku pergi dari rumah, kedua orang tuaku di temukan meninggal bersama di dalam rumah." Jawab Rena yang mulai meneteskan air matanya,


Nio sontak nampak terkejut.


"Beberapa jam sebelum ketahuan, tetanggaku sempat mendengar pertengkaran hebat antara mereka berdua seperti biasanya. Tapi bedanya, sesaat setelah pertengkaran, tetanggaku mendengar suara tangisan ayahku yang terdengar seperti sangat terisak, lalu kemudian tak lama ayahku menjerit kuat seperti orang yang sangat frustasi. Setelah itu rumahku mendadak terdengar hening, membuatku tetanggaku mulai curiga hingga akhirnya memberanikan diri untuk mengintip dari jendela, dan betapa terkejutnya mereka saat melihat ayahku sudah tergeletak di lantai dalam keadaan tangan yang bersimbah darah." Ungkap Rena yang terus menangis.


"Astaga Rena, aku sungguh minta maaf telah mengingatkanmu soal itu, aku benar-benar tidak tau." Ucap Nio yang mendadak merasa bersalah.


Namun Rena tidak menjawab ucapan Nio, ia justru memilih untuk melanjutkan ceritanya yang belum usai.


"Lalu para tetanggaku beramai-ramai mendobrak pintu rumahku, mereka masuk ke dalam rumah berniat untuk menolong ayahku, tapi ternyata sudah terlambat, ayahku sudah terlanjur meninggal, ia bunuh diri dengan cara memotong urat nadinya hingga putus dan kehilangan banyak darah. Lalu mereka mulai mencari keberadaan ibuku, dan mereka menemukan ibuku yang sudah terbaring kaku di atas tempat tidur, juga sudah dalam keadaan meninggal dengan leher yang membiru. Dokter forensik mengatakan ibuku meninggal karena di cekik hingga membuatnya kehabisan nafas, jelas yang mencekiknya sudah pasti adalah ayahku, karena hanya ayahku yang berada disana sebelum dia meninggal, bahkan polisi juga mengidentifikasi adanya sidik jari ayahku di leher ibuku." Ungkap Rena yang terus menangis tersedu-sedu.

__ADS_1


"Astaga, aku sungguh minta maaf Rena, aku tidak menyangka jika separah ini." Nio pun mulai menegakkan tubuhnya, lalu langsung meraih kedua pipi Rena untuk mengusap air matanya.


"Tidak apa-apa, aku bisa saja untuk tidak menceritakan bagian itu, tapi aku memilih untuk menceritakannya padamu, itu berarti sudah bukan salahmu lagi." Jawab Rena yang mulai menarik nafas panjang.


Nio tanpa berkata apapun lagi, langsung saja memasukkan tubuh mungil Rena ke dalam dekapannya yang erat. Rena yang masih dengan tatapannya yang kosong, pun mulai menyandarkan dagunya di pundak Nio.


"Sejak saat itu, aku benar-benar sebatang kara, kakakku sudah tidak pernah ada kabar lagi semenjak pergi dari rumah. Entah dia tau atau tidak ibu dan ayah sudah meninggal, bahkan aku pun juga tidak tau kakakku masih hidup atau sudah mati!" Tambah Rena dengan nada bicara yang terdengar begitu lesu.


"Sudah Rena, jangan diteruskan jika itu hanya akan membuatmu jadi semakin bersedih!" Ucap Nio yang terus mengusap lembut punggung Rena.


"Biarkan aku meneruskannya Nio, sudah sangat terlambat untuk berhenti." Jawab Rena pelan.


"Sejak saat itu, aku berusaha dengan segala macam cara demi mendapatkan uang, aku tidur di tempat kumuh dan mendapat banyak teman baru disana. Mereka mengajakku mengamen ke warung-warung makan yang ada di pinggiran kota, dan itu cukup menghasilkan uang, sejak saat itu aku sering menyanyi, mereka bilang jika aku punya bakat dalam hal itu. Hingga pada suatu hari, saat sedang mengamen bersama teman-temanku di salah satu cafe yang baru buka di daerah itu, aku tidak sengaja bertemu dengan seseorang." Ungkap Rena lagi.


Mendengar kata seseorang, perlahan membuat Nio mulai melepaskan tautan tubuh mereka.


"Seseorang? Apa,, apa maksudmu seseorang itu adalah lelaki??" Tanyanya dengan dahi yang sedikit mengkerut.


Rena pun mengangguk pelan.


"Dia bilang dia tertarik dengan suaraku saat bernyanyi, ternyata dia adalah seorang leader sebuah band yang di kontrak di beberapa cafe untuk mengisi acara ketika cafe itu sedang beroperasi yang kebetulan saat itu mereka sedang mencari vocalist wanita, untuk menjadi teman duet vocalist laki-laki, yang tak lain adalah lelaki yang kutemui itu."


Mendengar hal itu, entah kenapa raut wajah Nio nampak sedikit berubah.

__ADS_1


"Apa setelahnya kalian menjalin hubungan?" Tanya Nio datar.


...Bersambung......


__ADS_2